Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
96


__ADS_3

"Bee kamu gak pulang ke Jakarta?" Hira terlanjur nyaman bersandar di bahu Erfan. Malam ini suaminya itu ikut bermalam di kamar kecilnya.


"Aku pulang, kalau kamu pulang Sayang."


"Aku kan kerja di sini Bee, emang kamu gak kerja?"


Erfan menatap istrinya dengan wajah masam, "LDR itu gak enak Sweety, gak bisa minta jatah. Ayo kita pulang sama-sama Sayang."


"Kan kita gak punya rumah," goda Hira.


"Apartemen aku ada Sweety, nginap di kantor juga bisa. Atau mau tinggal di apartemen kamu." Leleki itu bergelayut manja di lengan Hira. "Kita beli rumah aja deh." Lanjutnya, masih menunggu respon sang istri.


"Aku nyaman di sini Bee."


"Ya sudah, kita beli rumah di sini." Putus Erfan, agar tidak bertengkar lagi dengan dokter juteknya ini.


"Gak bisa gitu dong, kamu kerja Sayang." Bujuk Hira, menangkup kedua pipi suaminya gemas.


"Bisa dong, suka-suka aku. Aku gak mau dipisahin dari kamu lagi, gak enak. Susah tidur juga."


Tanda-tanda bakalan Hira lagi yang harus mengalah sekarang.


"Kamu istirahat kerja dulu ya Sayang, biar ini cepat isi." Erfan menciumi perut Hira dengan manja. Hira bisa apa selain menurut, demi memenuhi keinginan suaminya. Agar tidak ada pertengkaran lagi.


"Iya."


"Iya nya jangan cemberut gitu dong Sweety, senyum." Hira menarik kedua sudut bibirnya paksa. "Jelek Sweety, sini aku kasih vitamin dulu biar cantik."


"Ogah ih, modus."


"Boleh minta jatah Sayang." Erfan mengerling jahil.


"Aku masih sakit loh, Bee."


"Iya-iya, sini tidur Mas peluk." Ujar Erfan mengalah, istrinya harus sehat biar produksinya lancar.


Katakan lah Erfan egois karena membatasi ruang gerak istrinya. Ia hanya ingin Hira tidak kelelahan.


"Selama sendirian kamu ngapain aja Sayang?" Tangan Erfan masih setia memberikan pelukan hangat dan kenyamanan untuk kesayangannya.


"Di rumah aja Bee, paling sesekali ke kebun strawberry. Minimarket, rumah sakit, tidur."

__ADS_1


"Jadi bener dong Ken lihat kamu di kebun strawberry."


"Bukan Ken, tapi Nana yang lihat," Jelas Hira. Pantas saja suaminya ada di sini sekarang. Orang ada yang ngelaporin. "Jadi mereka yang kasih tau kamu?"


"Nggak sepenuhnya sih, Zaky punya data karyawan yang kerja di rumah sakitnya. Apes aja kemaren aku nolongin Oliv yang jatuh dari motor."


"Gak boleh gitu Bee, kalau bukan kamu yang nolong, dia bakalan bingung bayar biaya rumah sakit."


"Aku nyari kamu kemana-mana Sweety. Kamu kalau kabur pintar banget."


"Kali ini kalau aku kabur kamu gak bakal bisa nemuin Bee. Ngapain juga dicari, orang kamu yang gak peduli sama aku."


"Sweety, katanya udah dimaafin. Kok dibahas lagi."


"Aku cuma meluruskan Bee, biar kamu gak nyalahin aku yang pergi. Seolah aku yang jahat banget ninggalin kamu." Ucap Hira sewot.


"Iya maaf, kamu gak salah Sayang. Aku yang banyak salah."


Jangan sampai salah berucap, Erfan bisa-bisa diusir malam ini.


"Kamu tuh kalau ada masalah ngomong, jangan diam. Kaya orang bisu aja kalau ditanya diam, bikin kesal tau gak sih Mas," omel Hira.


"Iya sayangku, cintaku, pujaan hatiku. Kamu tuh kalau ngomel bikin gemas dan makin cinta deh."


"Iya, aku juga serius Sayang. Dah tidur biar besok pagi kamu udah segar bisa diajak tempur."


Apah? Derita punya suami mesum susah dikendalikan.


"Mending tidur di luar sana gih, mesum terus otaknya." Usir Hira, mendorong dada Erfan dengan kedua tangannya.


"Eh, enggak Sayang. Aku langsung tidur gak godain kamu lagi." Ujarnya lalu mencuri satu kecupan baru memejamkan mata. Mereka tertidur saling berpelukan memberikan kehangatan satu sama lain.


"Morning Sweety." Satu kecupan Erfan layangkan di kening kesayangannya. Mata Hira mengerjap lambat, masih terlalu pagi Erfan sudah menggodanya. "Selamat pagi ibu anak-anakku." Lelaki itu menciumi perut Hira.


"Pagi kesayanganku." Katanya lagi sebelum melabuhkan sentuhan hangat pada benda kenyal yang manyun itu.


"Bee, masih ngantuk jangan ganggu." Hira menyudahi aksi heroik suaminya. Kalau tidak dikendalikan bisa minta yang lain-lain juga.


"Kita olahraga dulu sebelum subuh Sayang. Nolak dosa loh."


"Badan aku masih gak enak Bee, beneran." Ujar Hira memelas, berharap masih bisa menghindari singa lapar.

__ADS_1


"Ya sudah tidur lagi, nanti sebelum subuh aku bangunin. Ada yang sakit, Sayang?" Lelaki itu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah perempuan tersayangnya.


"Pusing, Bee."


"Besok istirahat aja Sweety, mobil kamu aku kirim ke Jakarta ya sekalian."


"Gimana baiknya aja Bee." Pasrah Hira, jadi ibu rumah tangga yang hanya diam di rumah tidak terlalu buruk. Walau tidak sesuai dengan mimpinya.


"Kalau anak kita sudah lepas ASI dan bisa ditinggal. Aku buatkan tempat praktek."


Hira mendelik, belum juga hamil mikirnya sudah kejauhan suami tersayang Hira ini.


"Gak semua orang berani datang ke dokter praktek Bee, apalagi keluarga menengah ke bawah. Kalau gak bisa menggunakan jaminan kesehatan mereka gak akan berani periksa. Kalau cuma untuk kalangan elit, kapan bisa bantu orang."


"Kita bikin rumah singgah kamu yang ngelola gimana? Dengan catatan dibantu asisten, kamu gak boleh kelelahan. Aku pengen banget cepat punya baby, Sayang."


Hira mengangkat tangan, mengelus rahang tegas milik sang suami.


"Iya, aku gak capek-capek. Nanti minum vitamin juga. Bismillah, kita program ya Sayang."


"Makasih Sweety, maafin aku yang banyak kekurangan ini ya."


"Iya Sayang." Sahut Hira yang sudah tenggelam kembali dalam pelukan Erfan. Ia ingin membahagiakan suaminya dengan memberikan keturunan lagi.


Wacana Hira istirahat siang ini gagal sebab ada panggilan operasi dadakan. Erfan memasang tampang kecut di atas kasur. Hira tersenyum geli melihat ekspresi suaminya itu.


"Jangan cemberut gitu dong Bee, habis ini kan aku nemenin kamu kemana aja. Kamu urus resignku sama Zaky gih biar cepat." Hira membujuk suaminya yang bertingkah seperti anak kecil.


"Aku sudah bilang sama Zaky, Sweety. Aku gak mau ditinggal kalau belum dikasih jatah."


Hira membulatkan mata. Suaminya itu sangat keterlaluan, sekarang sudah jam setengah delapan masih pengen dilayani.


"Bee, aku harus ke rumah sakit Sayang." Ujar Hira lembut untuk meluluhkan hati suaminya yang bertingkah aneh.


"Hustt pergi sana aku mau ngambek aja." Erfan membaringkan badannya bersembunyi di balik selimut.


"Salim dulu." Rengek Hira, Erfan mengulurkan tangannya yang disambut sang istri. Sedetik kemudian tubuh Hira terjatuh di kasur karena ditarik Erfan. Si empunya tertawa jahat setelah berhasil mengungkung Hira.


"Bee, berantakan lagi ih. Ngeselin banget." Hira mendorong keras tubuh Erfan lalu bangkit. Setelah merapikan pakaian ia langsung berangkat, tak menghiraukan Erfan yang bahagia melihatnya sengsara.


Pagi yang menyebalkan karena dijahili suami sendiri. Hira menyapa asistennya lalu masuk ke ruangan. Usai meneliti jadwalnya hari ini ia melangkahkan kaki menuju ruang operasi.

__ADS_1


Mengingat keinginan Erfan yang sangat ingin memiliki anak. Ia harus bisa mengelola stress dengan baik. Hari ini badannya sungguh tidak enak. Perempuan itu tetap fokus pada pekerjaannya membantu melahirkan seorang bayi.


Operasi berjalan dengan lancar, kepalanya semakin berat. Ia segera kembali keruangan sebelum tubuhnya tumbang lagi.


__ADS_2