
Erfan menarik rambutnya frustasi. Sejak Hira datang ke kantor, istrinya tak pernah mengubungi lagi. Ia rindu, terlampau rindu. Tapi Erfan benci dikhianati.
Bayangan dua orang itu selalu muncul dalam kepalanya ketika melihat Hira. Ia ingin mendekap hangat tubuh mungil itu lagi.
Melihat istrinya kesakitan itu sangat menyiksa. Tapi mengingat bayangan itu membuat Erfan lebih tersiksa.
Mendengar suara pilu itu Erfan tak sanggup ia ingin memeluk erat dan mengucapkan rindu yang sama. Tapi Erfan tak kuat.
Ia sudah kehilangan anaknya sekarang Erfan juga kehilangan istrinya. "Kenapa kamu harus mengkhianatiku begini Ra. Kenapa? Itu sangat menyakitkan Sayang. Sampai menatap wajahmu pun aku sudah tak sanggup lagi."
"Aku ingin memakimu, ingin memarahimu. Tapi tak bisa. Aku terlalu mencintaimu. Lebih baik aku menjauh daripada kamu terluka oleh kata-kataku Ra."
Akhir-akhir ini Erfan benar-benar susah untuk memejamkan mata. Ia terbiasa tidur mendekap hangat kesayangannya. Apa Hira sudah makan atau belum, ia tak tau.
Apa Hira sudah bosan dengannya jadi memilih bersama Guntur. Erfan juga tak pernah bertemu lelaki itu lagi. Mama papa memintanya pulang, tapi Erfan enggan ke sana. Ia juga sudah tak peduli dengan mami papinya. Terlebih orang yang sudah melukai Hira. Tak berniat Erfan mencarinya lagi. Hatinya terlanjur terluka.
***
Setelah pulang dari rumah sakit Hira mengemasi barang-barangnya. Ia akan pergi ke sebuah desa di daerah Bandung. Entah kenapa pikirannya jadi ke sana. Ia hanya ingin menenangkan diri.
Hira mencabut simcard mengganti dengan yang baru. Semua media sosial ia nonaktifkan. Hidup susah bukan masalah. Hira sudah terbiasa, hidup di kota ini akan semakin membuatnya susah. Berkuasanya orang-orang berduit membuat ia semakin repot.
Hira melajukan mobilnya dengan santai. Ia sangat menikmati perjalanan. Setelah memakan waktu berjam-jam Hira sampai ke tempat tujuan. Tiba di sana hari sudah gelap, ia mencari penginapan untuk sementara waktu.
"Alhamdulillah." Lirih Hira setelah membaringkan badannya. Besok ia akan mencari rumah yang bisa disewa.
"Aku liburan Bee, seperti yang kamu mau. Walau kita gak liburan bareng." Ucapnya sambil tersenyum, apa yang mau ditangisi kalau semua sudah terjadi.
Paginya Hira berkeliling di sekitar penginapan. Menikmati udara di pedesaan yang masih segar. Hidup sendiri tidak terlalu menyedihkan.
Diabaikan oleh keluarganya Hira sudah kebal, tapi kenapa diabaikan Erfan membuat paru-parunya terasa sesak untuk sekedar menghirup udara pagi.
Beberapa bulan ini ia sudah ketergantungan dengan perhatian dan kasih sayang Erfan. Lelaki yang entah mengapa berubah menjadi dingin. Seperti awal mereka bertemu dulu, Erfan jadi menyebalkan.
***
Guntur marah dengan dirinya sendiri, benar saja Hira tidak datang ke rumah sakit lagi. Di apartemen pun tidak ada. Ressa juga tidak tau kemana perginya anak itu. Nomornya tidak bisa dihubungi, keberadaannya tidak bisa dilacak. Guntur sudah mencari semua data orang bepergian tapi Hira tak ditemukan.
Ia sudah tak bisa tinggal diam. Guntur mendatangi kantor Erfan ingin mengacak-acak habis tempat itu.
"Bod*h, bangs*t."
__ADS_1
Guntur menarik Erfan untuk berdiri dan menghajarnya berkali-kali. Ia sudah tau penyebab Erfan marah pada Hira. Ressa memberitahu perihal foto yang ada dalam laci Erfan. Ia yang meminta Ressa menyelidiki ruangan itu mencari hal yang mencurigakan.
Pria itu membongkar laci meja Erfan dan mengambil foto yang ada di sama.
"Lo bisa tanya kebenaran foto ini sebelum lo diamkan istri lo, bod*h."
Maki Guntur, ia sudah tak tahan lagi melihat kebodohan Erfan. Lelaki yang dimaki Guntur itu tersenyum miring dengan bibir berdarah. Belum sempat melawan, karena Guntur membabi buta.
"Gue pikir lo pintar, bangs*t. Kalau ada yang mengirim begini sudah tentu jebakan. Lo membiarkan istri lo sekarat sendirian. Yang dikandungnya itu benih lo bego, bukan gue." Sarkas Guntur kasar, entah kenapa ia sangat kesal dengan kebodohan temannya itu.
"Nyesel gue biarin lo nikahin dia." Guntur belum puas menghajar Erfan. Ia kembali menyerang tapi sekarang lelaki yang di serangnya itu tak tinggal diam.
"Cukup!" Teriak Ghani sebelum Erfan melayangkan pukulannya juga. "Sama-sama bodohkan?" Sindirnya.
"Orang yang tiap hari ngajak lo makan diluar yang ngirim foto ini bego." Lagi, Guntur mengumpat. Ingin rasanya ia mengeluarkan segala umpatan kebun binatang pada Erfan.
"Guntur, duduk." Titah Ghani, untung dia sempat mengejar Guntur yang mengamuk setelah mengacak-acak ruang kerja papa di rumah.
"Lo biarin istri lo malam-malam sendirian di rumah sakit gue tau Fan. Cuma gara-gara foto ini. Bego banget memang."
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Erfan. Ia duduk diam di kursi kebesarannya. Mendengarkan setiap umpatan yang Guntur lontarkan.
"Lo diemin dia cuma karena ini. Lo gila."
Guntur memejamkan mata, mengepal kedua tangannya dengan kuat. Dia sangat ingat foto itu, Guntur bukan mencium Hira. Walau terlihat dari jauh mereka sangat dekat seperti sedang berciuman.
"Guntur tolong, kelilipan." Hira mengucek-ngucek matanya. Guntur masih menyodorkan potongan apel ke mulut wanita itu. "Gara-gara makan sambil rebahan nih," keluhnya.
"Coba gue lihat." Guntur mencondongkan kepalanya untuk melihat mata Hira. Tidak terlalu dekat. "Ada bulu mata Ra yang nyempil, gue panggilin perawat ya."
"Jangan deh, malu-maluin. Cuma kelilipan minta tolong perawat segala. Cariin cermin aja."
"Mana punya gue cermin Ra, spion mobil ada." Ujar Guntur sambil cengengesan.
"Ih, rese amat. Dah gue cari sendiri aja."
"Iya-iya, gue cariin. Lo gak usah bangun. Jangan banyak gerak." Ujar Guntur akhirnya. Lelaki itu meninggalkan ruangan rawat. Mau cari cermin kemana, yang ada juga kaca jendela di sini, keluh Guntur. Kaki jenjangnya beranjak menuju meja resepsionis. Ia berhasil merampok cermin dari perawat yang jaga di sana. Untungnya benda keramat itu tak pernah ketinggalan dari tas perempuan.
"Nih, gue berhasil ngerampok di depan." Guntur memberikan cermin kecil pada Hira. Wanita itu tersenyum geli. Siapa yang menolak dirampok lelaki setampan Guntur, yang ada mereka baper.
"Thanks, dah lo pulang sana. Kerja yang bener, ntar saham merosot kalau kelamaan di sini." Usir Hira, ia memberikan cermin kembali setelah berhasil mengambil bulu mata yang nyelinap di mata.
__ADS_1
"Kalau gue pulang lo jangan kangen ya." Goda Guntur, mengerling jahil.
"Gak akan, gak ada kerjaan gue kangen lo. Dah pulang sono." Usir Hira lagi seraya tertawa kecil.
"Iya gue pulang." Ujar Guntur, dia paham kalau Hira tidak nyaman hanya berduaan dengannya. Apalagi di area rumah sakit. Lelaki itu beranjak meninggalkan ruangan rawat Hira.
Guntur beranjak dari sofa, ia sempatkan menendang pintu sebelum keluar dari sana. Lelaki itu duduk di depan meja Ressa dengan menelungkupkan wajah.
"Tenang Guntur," Ressa mengusap bahu pria itu untuk memberi ketenangan.
Ghani mendekati Erfan, duduk di depan lelaki itu. "Gue pernah merasa kehilangan karena mendiamkan istri gue Fan. Salah paham karena saling diam. Lo bisa cari tau kebenarannya terlebih dahulu. Guntur selama ini berusaha selalu ada membantu lo, apa mungkin dia melakukan itu."
Ya, Erfan salah karena terlalu percaya pada foto itu dan kecewa, tanpa berani mencari tau kebenarannya.
"Lo tau fase terberat Hira? Saat dia kehilangan anak yang sudah dikandungnya. Harusnya lo ada di sana untuk menguatkan. Saat dia butuh lo Fan. Hira cuma butuh lo peluk, bukan harta lo."
Erfan ingat bagaimana Hira minta di peluk sore itu, tapi ia tak peduli. Hira juga pernah bilang pelukannya tempat ternyaman istrinya itu.
"Hira juga bisa lelah Fan walau dia gak nangis di depan lo. Saat dia minta lo peluk, lo malah memilih keluar bersama perempuan lain."
"Sekarang lo tau Hira kemana?" Erfan menggeleng.
"Hira pergi!"
Dua kata yang membuat air mata Erfan langsung luruh karena rasa bersalah telah mendiamkan istrinya.
"Gue tau dia kuat Fan, terlampau kuat. Tapi dia juga bisa lelah. Dia perempuan biasa, bukan malaikat tanpa sayap." Setelah mengucapkannya Ghani meninggalkan Erfan.
"Tur, pulang." Ghani menarik adik sepupunya untuk pulang. "Sa, bos lo lagi galau, temenin."
Ressa mengangguk masuk keruangan bosnya. Erfan membenamkan wajahnya di meja menangis tersendu-sendu.
"Bos!"
"Sa, Hira pergi. Nomornya sudah gak aktif lagi." Erfan mengangkat wajahnya, Ressa hanya mengangguk.
"Guntur sudah mencarinya tapi belum ketemu bos."
"Gue bodoh banget Sa, bodoh banget gue biarin dia sendirian. Gue nyesel Sa. Kalau bisa mengembalikan waktu. Gue pengen memperbaiki kesalahan gue Sa."
"Kita pasti bisa nemuin Hira, bos. Sabar ya. Dia pasti baik-baik aja." Ucap Ressa agar bosnya bisa lebih tenang.
__ADS_1