
"Kamu bukan anak Hardiyata yang hilangkan, Nak?" tanya ummi pada Erfan, si empunya mengendikkan bahu lalu tertawa keras. "Maunya sih Mi, biar jadi pewaris tunggal Digitech Indonesia."
"Kebanyakan ngarep yang ada gila, jadi pewaris Wijaya Corp aja gagal. Malah bikin adiknya mendekam di penjara." Ken berdecak lalu ikut tertawa.
"Siapa tau jadi doa." Sahut Erfan santai, padahal pikirannya sudah dipenuhi banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Jika benar dia anak Hardiyata yang hilang, berarti mereka selama ini sangat tersiksa saat kehilangan. Sungguh Erfan menyesal pernah mengatakan tidak peduli orang tua kandungnya siapa.
Mulai sekarang ia akan menyelidikinya. Apalagi menyangkut keselamatan orang tuanya.
"Kalau itu benar, berarti sudah ada yang siap meledakkan bom saat kalian bertemu." Ujar Hira yang membuat suasana ruang keluarga jadi menegang.
"Maksudnya Nak?" tanya Abi Nazar tak mengerti.
"Ancaman Abi, mungkin setelah ini akan ada berita besar." Kata Hira sambil menghirup aroma teh untuk menenangkan pikirannya yang terganggu setelah mengetahui fakta dan ancaman itu. "Mereka sudah mengancam Erfan ingin mencelakakan orang tua kandungnya kalau Azmi tidak dibebaskan," lanjutnya.
"Benar begitu, Erfan?"
Erfan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Abi Nazar.
***
"Bagaimana?" tanya seorang pria paruh baya pada seorang anak muda.
"Tadi siang mereka sudah bertemu." Jawab anak muda itu, dua orang lelaki beda usia itu sedang berada di sebuah cafe ternama.
"Apa anak itu curiga?"
"Tidak, malam ini mereka menginap di rumah Nazar."
"Bagus, jadikan Btari sebagai sandra. Sebelum aku meruntuhkan Digitech Indonesia. Aku ingin melihat Hardiyata tumbang kehilangan istrinya."
"Siap Bos." Anak muda itu berlalu meninggalkannya sendirian di cafe. Lelaki itu menerawang kembali ke masalalu yang begitu menyakitkan.
"Hardiyata, dulu kamu tertawa di atas kekalahanku. Lihat, nanti kamu akan menangis melihat kemenanganku. Waktu tak pernah menghapus lukaku, mungkin kamu lupa dengan semua itu. Tapi aku tidak."
***
Erfan mengantarkan Hira ke rumah sakit. Tadi pagi mereka pulang ke rumah terlebih dahulu untuk berganti pakaian.
"Jangan kelelahan, Sayang. Kalau mau ke kantor minta antar supir. Gak boleh naik ojek lagi." Pria itu melepaskan istrinya sampai ke depan pintu ruangan.
"Siyaap Bee, siang ini aku mau keluar boleh."
"Boleh." Erfan mengecup kening istrinya lalu beranjak pergi. Erfan tidak tau saja istrinya itu mau izin ke mana.
__ADS_1
Pria itu tidak berangkat ke kantornya, tempat lain yang ia tuju. Erfan memarikirkan mobilnya di basemen lalu masuk ke lift menuju ruangan Tomi. Cukup cari Tomi, maka Guntur akan ada di sana.
"Wow, ada karyawan baru!" Guntur berdecak keras saat Erfan menapakkan kaki di ruangan itu. Namun si empunya tak bergeming, seperti sedang memasuki istananya sendiri.
"Woy, masuk rumah orang yang sopan!" Guntur menimpuk kepala Erfan dengan budelan kertas yang di pegangnya. Pria itu masih tak acuh duduk di depan meja Tomi.
Tomi seolah tak terganggu dengan keributan yang biasa Guntur ciptakan. Ia sudah kebal dengan segala ocehan anak itu.
Erfan menggeser ponselnya di depan Tomi. "Kenal orang ini?"
"Hardiyata, pimpinan Digitech Indonesia yang tak memiliki keturunan. Siapa yang akan menjadi pewarisnya masih diperdebatkan. Perusahaannya sudah di kenal dunia." Jawab Tomi enteng, setelah melihat sekilas foto yang Erfan tunjukkan.
"Apa bedanya saat lo melihat dia sama ketika melihat gue." Erfan menarik turunkan alisnya. Tomi mengambil ponsel Erfan lalu mengamatinya lekat-lekat.
"Hampir gak ada bedanya." Desis Tomi, yang mengundang jiwa kepo Guntur. "Jangan bilang lo putranya yang hilang."
"Mungkin gue harus test DNA secepatnya." Erfan terkekeh geli.
"Sultan mana lagi yang mau lo gaet jadi orang tua." Guntur duduk di samping Erfan, merebut ponsel yang masih berada di tangan Tomi. "Lo benar-benar gila, anak sultan woy."
"Menurut lo?"
"Pewaris tunggal Digitech Indonesia, Founder EXTNET Indonesia, mantan Presdir Wijaya Corp, maksa diri biar jadi pewaris PT. Aydan Jaya Abadi." Sahut Guntur, "satu lagi pembeli dr. Fakhira Shakira SpOG dengan nilai satu Miliyar." Lanjutnya yang mendapat bogeman mentah di perut.
***
Dalam gedung putih rumah sakit swasta Emeral Hospital Hira baru selesai visite pasien. Sekarang masih belum ada pasien lagi, jadwal operasi caesar jam dua siang nanti.
"Lela, kalau ada urgent telpon ya. Aku mau keluar sebentar." Pamit Hira pada asistennya.
"Siap dok."
Hira melangkahkan kakinya menuju basemen. Supir sudah menunggunya di sana. Ia harus nurut atau tidak boleh keluar sama sekali. Kuda besi membawanya menuju gedung bertingkat Digitech Indonesia. Ia sudah menutup mulut supir agar tidak memberitahu kemana Hira pergi siang ini.
"Selamat siang Mbak, ruang Pak Hardiyata di mana ya?" tanya Hira pada resepsionis.
"Sudah buat janji?"
"Belum." Jawabnya diikuti gelengan.
"Kalau belum ada janji, maaf Bu tidak bisa bertemu."
"Boleh hubungkan saya dengan asisten Pak Hardiyata, bilang saya dr. Hira istri Erfan Bumi Wijaya." Katanya dengan penuh percaya diri, Hira yakin ia tidak akan di tolak.
__ADS_1
"Sebentar Bu." Mbak-mbak resepsionis itu menelpon seseorang yang Hira duga Ikbal. "Mohon tunggu di sini Bu, Pak Ikbal akan menjemput." Hira menjawab dengan anggukan lalu tersenyum. Beberapa menit kemudian Ikbal menjemputnya.
"Pasti sangat mendesak sampai langsung ke sini." Ujar Ikbal membuka percakapan, mereka memasuki lift khusus.
"Sangat penting lebih tepatnya." Sahut Hira, lalu tidak menanggapi pertanyaan Ikbal yang lainnya. Sampai lift mengeluarkan bunyi ting.
Ikbal membawanya menuju sebuah ruangan, di sana seorang pria paruh baya sudah menunggunya dengan ramah.
"Selamat datang dr. Hira istri Erfan Bumi Wijaya." Goda pria itu, Hira mengangguk ramah lalu menyalaminya.
"Boleh saya bicara, tapi hanya berdua." Ujar Hira to the point.
"Ikbal, kami perlu privasi." Tegas Hardiyata, Ikbal mengangguk segera meninggalkan ruangan. "Silahkan duduk putriku."
"Sepertinya Bapak sudah tau apa tujuan saya datang ke sini," Hardiyata mengangguk.
"Bisakah kita langsung melakukan test DNA, ini sangat penting demi keselamatan nyawa kalian." Tanpa basa basi Hira mengatakannya.
"Apa yang sudah kamu tahu, Nak?"
"Saya tahu Bapak mengajak EXTNET kerjasama karena ada misi lain. Saya juga tau Bapak sudah menyelidiki tentang kami. Saya tau Bapak pernah kehilangan seorang putra. Tapi ada hal yang tidak Bapak tau?"
"Apa itu?"
"Ada yang sedang mengincar nyawa kalian."
"Kalian?"
"Bapak Hardiyata dan Ibu Btari."
"Ternyata kamu juga sudah menyelidiki kami, Nak." Hira menggangguk.
"Apa Bapak setuju dengan usul saya, jika Bapak pikir saya melakukan ini agar suami saya menjadi pewaris tunggal Digitech Indonesia. Itu sama sekali tidak. Tak penting harta untuk saya. Saya hanya peduli keselamatan kalian."
Hira mengeluarkan amplop yang berisi surat dan foto. Hardiyata menatap lekat surat dan foto itu.
"Kalau setuju silahkan masukkan di sini." Hira mengeluarkan plastik klip yang berisi dua helai rambut Erfan. Tak menunggu lama Hardiyata mencabut rambutnya dan memasukkan di sana.
"Saya akan segera urus ini." Hira memasukkan kembali benda berharga itu, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. "Bapak bisa hubungi saya di sini," lanjutnya.
"Tolong jaga diri Bapak dan istri baik-baik." Pesan Hira sebelum pamit pulang. Ia segera masuk mobil. Kuda besi itu dilajukan menuju rumah sakit.
Segera Hira melakukan test DNA di rumah sakit tempatnya bekerja. Dengan sistem orang dalam ia bisa mendapatkan hasil lebih cepat dari seharusnya. Walau tetap harus menunggu juga. Semoga bisa selesai 1 x 24 jam, batinnya.
__ADS_1