Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
78


__ADS_3

Erfan, Zaky dan Guntur memasuki ruangan Hardiwijaya. Pasangan suami istri paruh baya itu menemani Hira di sana. Zaky dan Guntur pulang duluan setelah berpamitan.


Hira merentangkan tangan minta di gendong. Dengan senang hati Erfan melakukannya.


"Rewel gak ditinggal lama?" Erfan mencubit hidung istrinya dengan manja, Hira lekas menggeleng. "Pintar," puji Erfan membenamkan kepala bayi kangurunya dalam pelukan.


"Pamitan dulu sama papa, mama, Sayang. Kita pulang."


Hira menurut turun dari gendongan suaminya lalu menyalami Hardiyata dan Btari. "Hira pulang dulu ya Mah, Pah," pamitnya.


"Kalian gak mau menginap lagi?" tanya Btari yang tak rela terpisah lagi dengan anak menantunya.


"Nanti aja Mah, malam ini kami tidur di rumah dulu ya." Bujuk Erfan lalu menyalami dan memeluk ibu kandungnya kemudian beralih pada sang ayah.


Pria itu menggenggam erat tangan istrinya sampai masuk ke mobil. Seakan sangat takut kalau pegangan tangannya lepas, Hira akan kabur.


"Senang ketemu mama, papa?" Tanya Erfan, ia bersyukur akhirnya bisa memberikan kasih sayang orang tua pada Hira.


"Banget, aku seperti ketemu ibu lagi, Bee."


Erfan tersenyum, tangannya yang tidak memegang setir membelai lembut pipi istrinya. "Kayaknya kamu deh yang baru ketemu orang tua yang hilang, Sweety. Bukan aku." Goda Erfan, Hira mengerucutkan bibirnya. "Makasih ya sudah melakukan hal yang sangat berharga untukku." Ucapnya tulus.


"Apa?" Hira mengerjapkan mata tak mengerti suaminya bicara apa.


"Kalau kamu tidak cepat bertindak, mungkin sekarang aku belum percaya kalau mereka orang tua kandungku."


"Cepat sampai, pengen peluk." Ujarnya, tak menanggapi ucapan Erfan. Suaminya itu memberikan kekehan kecil.


***


"Shiitt, mereka menggagalkan rencanaku lagi." Geram Wijaya, "kenapa aku membesarkan anak yang akhirnya menyusahkanku sendiri."


Baru beberapa jam yang lalu ia mendapat laporan sistem keamanan perusahaannya sedang dibobol. Ini terlalu cepat berbalik padanya. Ia belum sempat bermain-main malah sudah kena getahnya.


Di tempat persembunyiannya Wijaya membuat rencana licik lagi untuk menghancurkan orang-orang itu. Hardiyata yang sudah membuatnya menderita dulu. Kali ini ia tidak akan tinggal diam menerima kekalahan kembali.

__ADS_1


"Ikbal, di mana mereka malam ini?"


"Di rumahnya Pak."


"Bagus. Apa ada pengawalan di sana?"


"Hanya ada dua security di sana." Ujar Ikbal, ia sudah mengirim mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-gerik Erfan.


"Istriku baik-baik saja?"


"Ibu baik-baik saja Pak."


"Okey, kamu urus dua orang itu malam ini," desis Wijaya. Ikbal mengangguk lalu meninggalkan pria paruh baya itu.


"Kamu sudah membuat anak-anakku masuk penjara Erfan. Aku membesarkanmu untuk menyerang Hardiyata. Bukan untuk membangkang padaku."


***


"Sweety, kita gak bisa tidur di rumah malam ini." Bisik Erfan pada istrinya lalu mengambilkan jilbab kaos juga jaket.


"Kenapa Bee?"


Ia tak bisa mengambil resiko tetap berada di rumah. Tidak ada pengamanan dalam rumahnya, yang lebih Erfan khawatirkan kondisi kandungan Hira.


"Gimana caranya kita keluar Bee."


"Kamu tenang, Sayang. Mobilku anti peluru." Ujar Erfan menenangkan. Tenang definisi Erfan itu bagaimana sih. Ini masalah nyawa manusia. Hira tidak mengerti bagaimana jalan pikiran suaminya ini. "Kita keluar dari pintu garasi, security sudah standbye di sana, Sayang. Tidak perlu takut."


Erfan membawa istrinya melalui pintu samping. Setelah sudah berada dalam mobil, ia memberitahu security untuk membuka pintu gerbang. Erfan tidak ingin mengumpankan diri sendiri tanpa pengamanan, seolah punya nyawa cadangan.


Bibirnya memberikan seringaian setelah pintu garasi terbuka bersamaan dengan pintu gerbang. Mobilnya melaju cepat meninggalkan komplek perumahannya.


Tak lupa ia menghubungi Ken untuk standby. Erfan tak bisa basa-basi pada security minta dibukakan garasi. Karena sekarang pun mobilnya sudah dikejar.


"Sayang, tutup mata dan tetap tenang ya." Ujarnya sebelum membanting setir memecah keheningan malam. Hira tak menjawab, yang ia rasakan goncangan dalam mobil semakin terasa. Erfan segera menghindar saat mobil di sampingnya ingin menyerempet. Terpaksa ia menaikkan kecepatan lagi dan berdoa agar anak istrinya baik-baik saja.

__ADS_1


Beruntung saat suasana semakin genting anak buahnya datang menghalangi laju mobil yang mengejarnya. Erfan bisa bernapas lega saat memasuki pintu gerbang rumah Abi Nazar.


"Sweety." Erfan menggendong istrinya masuk ke dalam rumah, "tolong bawakan tas gue." Pintanya pada dua orang yang menyambut di depan pintu, Adnan dan Ken.


"Bee, mau muntah." Keluh Hira yang menahan gejolak dalam perutnya sejak di mobil tadi. Kepalanya pusing karena Erfan membawa mobil seperti melayang di udara.


"Sabar Sweety."


Erfan langsung membawa Hira ke kamar mandi, memijat tengkuk istrinya yang muntah-muntah. Setelah tak ada yang keluar lagi Erfan kembali menggendong tubuh istrinya yang lemas. Mendudukkannya di atas tempat tidur. Ia melepaskan alas kaki dan jaket Hira.


"Minum teh hangat dulu." Ujar ummi, memberikan gelas teh ke tangan Hira. "Pusing, Sayang?"


"Sedikit." Jawab Hira, memberikan gelas kembali pada ummi setelah meminumnya kemudian membaringkan tubuh.


"Papimu masih buronan, Fan?" tanya Abi yang ikut bergabung di kamar tamu. Karena Erfan sering menginap, jadilah abi menambah sofa di kamar itu.


"Iya Bi, mungkin papi marah karena sore tadi keamanannya diretas Guntur. Kami yang jadi sasaran." Erfan berdecak, ia harus bikin perhitungan dengan Guntur. Tangannya memijat lembut kepala sang istri. Sedang ummi membantu memijat kaki Hira.


"Itu anak juga kenapa hobby main-main." Ujar Adnan tak kalah kesal, kalau bukan masalah nyawa ia masih bisa diam. Sekarang masalahnya ada ibu hamil yang nyawanya terancam.


"Kalian sudah makan malam?" tanya Ummi.


"Belum sempat Mi." Jawab Erfan dengan kekehan. Gimana mau makan, baru juga selesai sholat malah sudah kejar-kejar seperti di film action.


"Ummi ambilkan dulu." Ujar ummi beranjak dari kamar.


Erfan mengeluarkan laptop dari ransel. Ia harus mengamati keadaan rumahnya. Sayang kalau rumah pemberian mami itu diacak-acak orang tak dikenal.


"Mereka masuk?" Tanya Ken.


"Enggak, mereka ngejar gue jadi ninggalin rumah itu juga." Jelas Erfan, netranya masih menatap layar laptop yang terhubung ke cctv di rumah.


"Gue jadi penasaran sama yang nyulik lo saat bayi Fan?"


Erfan menoleh pada Ken lalu tertawa kecil. "Jangan buat otak gue mikirin itu lagi Ken."

__ADS_1


"Yakan itu misteri. Harus dipecahkan."


"Gue gak mau aja tau kebenarannya dan nanti jadi semakin membenci orang yang selama tiga puluh dua tahun membesarkan gue." Jelasnya, Hira hanya membisu. Ia tau bagaimana rasanya membenci orang yang berstatus keluarga. Sungguh tidak enak, ada yang mengganjal di hati.


__ADS_2