
"Kenapa Sa?"
"Infonya Salwa diserang bos, dia ada di sini bersama pengawal yang babak belur. Tapi Salwanya gak kucel tuh." Jelas Ressa dari seberang telepon, walau mereka sedang berada dalam satu gedung. Anehkan, katanya di serang tapi masih tetap cantik. Emang apa yang diicar, batin Ressa.
"Bawa keruangan Sa, kecuali pengawal suruh istirahat dulu." Ujarnya lalu mematikan sambungan telepon.
Erfan merengkuh pinggang Hira, membawanya keluar kamar. "Jangan ada yang boleh masuk, Sa." Pesan lelaki itu, istrinya masih memakai piyama. Ia tidak ingin ada lelaki lain yang menikmati kecantikan istrinya. Seketarisnya itu mengangguk mengerti.
"Berapa banyak?" tanya Erfan, menatap Salwa yang masih ketakutan. Ia malas basa-basi dengan orang lain, Ressa pengecualian selain teman-teman dekatnya.
"Lima orang," jawab Salwa gemetar. Erfan merasa terjebak, kenapa harus ia yang bertanggung jawab. Padahal yang membuat kekacauan mami. Andai mami tidak mengikutsertakan Salwa dalam kerumitan hidupnya.
"Nanti ada yang menjemputmu pulang. Jangan berkeliaran kalau tidak ingin kejadian ini terulang." Erfan berucap dingin, dia sudah minta Guntur untuk meminjamkan pengawal lebih banyak.
"Bee, gimana caranya dia keluar rumah kalau gak dibolehin berkeliaran." Hira berdecak sebal pada suaminya, Erfan menggeleng mengisyaratkan Hira untuk diam. Ia tidak ingin Salwa mengambil kesempatan karena kepedulian Hira.
"Sa, nanti anak buah Guntur ke sini."
"Oke Bos." Ressa sudah paham apa maksud sang bos.
"Ayo istirahat Sweety." Erfan membawa istrinya kembali ke kamar. Semua perhatian Erfan pada Hira tidak terlepas dari pengamatan Salwa.
***
Erfan baru selesai menghadiri persidangan adiknya. Sanksi hukuman terhadap pelaku pembunuhan berencana diatur dalam Pasal 340 KUHP yang ancamannya adalah pidana mati. Selain pidana mati pidana penjara juga merupakan pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa baik penjara seumur hidup maupun penjara dalam waktu tertentu paling lama 20 tahun.
Tidak hanya satu kali Fany melakukan percobaan pembunuhan berencana. Erfan tau setelah hari ini akan semakin banyak ancaman untuknya. Karena ia mengindahkan peringatan peneror misterius itu.
"Gimana respon mami papi lo?"
"Ya gak gimana-gimana, mau gimana lagi anaknya terbukti bersalah." Erfan menanggapi pertanyaan Ilmi dengan santai. Sembari menyesap secangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul. Cafetaria dekat kantor Ilmi yang menjadi tempat pilihan mereka sekarang.
"Om Wisnu?"
__ADS_1
Erfan mengendikkan bahu, "mana peduli, hadir juga enggak." Erfan menerawang ke arah jalanan, "kemaren gue dapat surat lagi yang berisi salinan surat adopsi, entah asli atau palsu." Pria itu tersenyum miring, menyedihkan sekali hidupnya. Hampir tiga puluh dua tahun hidup di bumi pertiwi ini, baru mengetahui kalau ia hanyalah anak pungut.
"Berguna?"
"Enggak, gak ada info apapun bisa di dapat. Sebenarnya malas nyari tau siapa orang tua kandung gue. Biarlah gue hidup begini tanpa tau siapa orang yang sudah ngebuang gue."
"Mereka pasti punya alasan melakukannya Fan, mungkin saat itu sedang terdesak."
"Gue juga punya alasan dong buat gak mencari mereka." Erfan tersenyum miring, Ilmi berdecak. Dimana-mana orang pasti penasaran dengan orang tua kandungnya, ini anak malah gak peduli.
"Lo ingat Salwa?"
"Adik almarhum Bilqis?" Ilmi bertanya balik.
Erfan mengangguk, "Perusahaan tempatnya bekerja salah satu klien EXTNET, dia minta perlindungan gue katanya di teror. Ada yang aneh, setau gue peneror itu Fany. Tapi Fany di penjara, gue sudah selidiki Fany gak punya anak buah."
"Hari itu gue kasih dia dua pengawal, gak sampai satu jam dia balik lagi ke kantor katanya di serang."
"Salwa ada lecet? Pakaiannya berantakan atau tanda-tanda orang di serang gitu." Tanya Ilmi untuk memastikan. Erfan menggeleng, Salwa masih dalam keadaan rapi seperti sebelum gadis itu pulang, pikirnya.
***
Takumi Resto, restoran yang tidak hanya menyajikan masakan Jepang tapi juga masakan khas Indonesia. Tempat yang selalu ramai di kunjungi. Di sini Reny sedang menunggu seorang gadis yang sangat diidamkannya menjadi menantu.
"Mami Reny, maaf terlambat." Sapa Salwa sopan, gadis itu tidak berhijab seperti mendiang kakaknya. Penampilannya bak seorang model, namun tidak terlalu terbuka.
"Gak papa Sal, kamu tambah cantik aja." Salwa tersenyum malu-malu di puji calon ibu mertua. Ia duduk berhadapan dengan Reny, perempuan yang masih tampak muda walau umurnya sudah lebih setengah abad.
"Mami bisa aja, oh ya ada apa Mi sampai ngajak Salwa ketemu di sini. Padahal Salwa bisa datang ke rumah Mami langsung."
"Sudah ketemu Erfan, Sal?"
Salwa mengangguk, "ketemu di kantornya Mi."
__ADS_1
"Bisa lebih sering ketemu dong nanti ya."
"Iya Mi, setiap meeting di sana pasti ketemu." Mereka memang ketemu bahas bisnis bukan hal pribadi, gumam Salwa dalam hati.
"Semoga kalian bisa semakin dekat, Mami banyak berharap sama kamu Salwa. Mami gak mau punya menantu dokter itu."
"Mami tenang aja, Salwa akan rebut hati Erfan dari perempuan itu." Katanya meyakinkan Reny. Perempuan paruh baya itu tersenyum manis, misinya kali ini pasti berhasil membuat Erfan menikahi Salwa. Dua orang perempuan beda usia itu larut dalam obrolan yang semakin jauh. Salwa mengakhiri perbincangannya karena harus kembali ke kantor, jam istirahat sudah selesai.
Tanpa Salwa sadari dua orang pengawal yang diberikan Erfan untuk melindunginya itu ternyata memata-matai setiap gerak-geriknya.
"Mami, mami masih belum menyerah ternyata." Erfan tersenyum smirk setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya.
"Aku tidak bodoh menyerahkan orang-orangku secara percuma padamu, dasar perempuan bertopeng." Ia akan dengan senang hati mengikuti permainan ini.
Setelah bertemu Ilmi siang tadi Erfan kembali ke kantor, karena sudah ada janji bertemu dengan pemimpin Digitech Indonesia, sebuah perusahaan teknologi yang mendunia. Suatu kehormatan bagi EXTNET yang masih seumur jagung di Indonesia ini kedatangan sang senior.
Tapi tunggu dulu, rencana Erfan bisa kacau karena kedatangan bayi kanguru kesayangannya dengan wajah sendu. Ibu hamil itu membuka pintu dengan malas, berjalan mendekati suaminya.
"Sweety, kenapa?" Erfan memberikan pelukan hangat untuk istri tercintanya.
"Guntur nakal." Adunya manja, "gendong, Bee." Dengan senang hati Erfan menggendong bayi kangurunya yang lagi manja.
"Guntur gangguin Rara?" Istrinya itu maunya di panggil Rara kalau sedang dalam mode begini.
"Guntur ngabisin rujak Rara yang dibeliin Lela." Adunya lagi sambil terisak, mood ibu hamil segitunya ya. Erfan ingin tertawa sekalian memaki Guntur yang suka sekali menjahili istrinya.
"Ressa belikan rujaknya lagi mau?"
"Gak mau, mau yang dimakan Guntur."
"Itu sudah gak bisa dibalikin lagi Sayang," bujuknya pelan. Tak ada jawaban. Merajuk lagi, batin Erfan. Lihat bos EXTNET dinistakan istrinya begini.
"Bos, Pak Hardiyata sudah di depan." Ressa masuk keruangan bosnya, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang tak mau dilepas.
__ADS_1
"Suruh masuk, Sa. Semoga beliau paham." Ujar Erfan lesu, kesempatan langka harus jadi seperti ini karena kedatangan bayi kanguru. Ressa mengangguk memanggil tamu istimewa itu untuk masuk.