
"Sayang, mau jalan-jalan dulu sekalian belanja di kantor gak ada cemilan." Erfan membawa mobil keluar dari kediaman Hardiyata menuju kantornya.
"Boleh, untung aku gak pake piyama tidur, Bee."
"Emang kalau pake piyama, kenapa?"
"Muka bantalnya ketahuan, Bee. Malu diketawain kalong, baru jam sembilan sudah tidur." Sahut Hira asal.
"Kan bikin anak, Sweety." Erfan mengerling manja. Tuh lihat setelah keluar dari kediaman Hardiyata, Erfan bisa bicara santai lagi.
"Bee!" Pekik Hira menutup kedua telinga dengan tangan, "jangan nodai telingaku." Katanya lalu tertawa geli.
"Tapi enakkan Sayang?" Erfan melayangkan senyuman jahil, pipi Hira merona merah menahan malu.
"Cukup Bee. Malu!" Pekiknya menutup wajah dengan kedua tangan.
"Sudah jadi ini loh Sayang, kenapa masih malu. Aku sudah hapal semua juga, bikin ketagihan lagi." Erfan mengusap perut istrinya lalu tertawa jahil.
"Cukup, Bee. Cukup!" Geram Hira, mencubit keras perut Erfan. Suaminya ini gak ngerti kalau Hira itu malu, apa.
"Iya-iya, Sayang." Ucap Erfan masih dengan tawanya menghindari cubitan maut sang istri. "Jari lentiknya ngeri juga, Sweety. Kecil-kecil, tapi nyubitnya pedas banget." Pria itu menangkap tangan Hira lalu mengecup telapak tangannya.
"Kecil-kecil bisa bikin puaskan, Bee!" Hira mengerling jahil, diikuti tangannya yang berkeliaran kemana-mana. Erfan melotot tajam. Nah loh, Erfan kalah sendirikan kalau digoda balik.
"Cukup Sweety!" Erfan menepis tangan mungil itu.
"Kenapa Bee, katanya kamu sudah hapal semuanya, aku juga loh, Bee." Hira tersenyum licik, rasain pembalasan istrimu, Erfan.
"Kita gak jadi belanja, langsung pulang masuk kamar." Erfan menambah kecepatannya menuju gedung EXTNET, bisa gila kalau kelamaan dipancing.
Hira tertawa gelak, perempuan itu duduk manis seperti semula. "Cuma segitu, Bee," ledeknya.
"Ampun Sweety, gak lagi godain kamu di luar kamar." Ucap Erfan dengan memelas. Setelah memarkirkan mobil mereka langsung menuju lantai lima, gagal belanja dan jalan-jalan malam ini.
"Gedungnya ngeri gini kalau malam ya, Bee. Sepi banget."
"Takut Sweety?" Erfan membuka pintu ruangannya, "kalau malam cuma ada cleanimg service yang bersih-bersih, Sayang."
"Nggak sih, cuma ngeri aja. Aku bayangin kalau ada penjahat yang ngejar-ngejar di sini. Capek banget buat nuju jalan raya dan ketemu orang yang nolong."
__ADS_1
"Ngapain bayangin yang enggak-enggak sih Sayang." Erfan meletakkan ransel ke atas nakas lalu melepaskan jaket.
"Keingat film horor aja, Bee."
"Kebanyakan nonton yang aneh-aneh sih." Erfan mendudukkan Hira di sisi tempat tidur lalu membantu melepaskan alas kaki, jaket dan jilbabnya. "Makanya jangan nonton aja, belajar kek."
"Ya kali, aku kalau baca buku tebal harus ngomong sama kamu, Bee. Btw buku-buku aku gak kamu jual kiloan kan, Bee."
Erfan mendelik menatap istrinya.
"Kamu pikir aku ini miskin banget, Sayang. Sampai jual kiloan barang-barang kamu." Gemas, Erfan mengunyel pipi istrinya.
"Takutnya kamu sudah jatuh miskin, buktinya kita sampai tidur di kantor." Hira cekikikan lalu beranjak ke kamar mandi mencuci muka dan sikat gigi. Erfan memutar bola mata jengah.
"Kamu lagi hamil, Sweety. Ngomong yang baik-baik. Doa orang hamil cepat Allah ijabah." Erfan mengikuti istrinya ke kamar mandi.
"Semoga suamiku semakin kaya, semakin dermawan, semakin berkah hidupnya." Hira mengusap rahang tegas Erfan. Lalu mereka tertawa bersama di depan cermin besar. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
"Kamu itu aneh banget, Bee. Kalau di rumah Papa gak bisa ngomong bebas begini, kenapa?" Hira duduk bersandar di bahu bidang suaminya.
"Nggak tau Sayang, aku gak bisa jadi diriku sendiri di sana. Sungkan, segan, entah apalah itu. Aku juga gak ngerti."
"Makasih Sweety, udah ngerti aku."
***
"Sweety, kita sarapan bubur dekat rumah sakit aja ya." Erfan baru keluar dari kamar mandi, segera ia menggunakan pakaian yang sudah di siapkan istrinya.
"Iya, Bee. Kamu ada meeting pagi?" Hira memasangkan satu persatu kancing kemeja Erfan. Lalu merapikan kerah baju dan dan memasang dasi di sana.
"Gak ada, Sayang. Kenapa? Mau sesuatu?" Erfan mengelus rambut kesayangannya itu.
"Mau ditemani aja sih, Bee." Ujar Hira sambil memakaikan jas di tubuh tegap Erfan, lalu merapikannya. "Dah, Ganteng." Hira menepuk bahu suaminya dua kali sambil tersenyum manis.
"Dah dari dulu gantengnya." Erfan memutar tubuh Hira jadi menghadap cermin. "Ya ayo, kalau mau di temani." Katanya setelah mendudukkan sang istri di depan meja rias. "Sweety, aku mau coba dandanin kamu ya."
"Jangan!" Pekik Hira, mau jadi apa nanti wajah cantiknya kalau Erfan yang memoleskan lipstik. "Aku bisa sendiri, Bee. Biar cepat ya."
"Enggak, aku mau nyoba." Paksa Erfan, tak boleh ditolak.
__ADS_1
Ya udah deh pasrah aja, mungkin bawaan baby. Suaminya jadi aneh akhir-akhir ini.
"Ini yang mana duluan?" Ujar Erfan sembari mengeluarkan peralatan skincare Hira dari pouch.
Hira menunjuk botol serum. Ia hanya menggunakan serum dan cream pagi ditambah sunscreen untuk menghindari paparan sinar lampu dan radiasi layar ponsel.
"Dikit aja Bee, jangan banyak-banyak." Erfan menurut, mengoleskan serum di pipi mulus istrinya.
"Mau ke salon, perawatan Sweety. Nanti kalau baby sudah lahir susah punya waktu."
"Anak kita perempuan kali ya Bee. Papanya sampai perhatian begini." Erfan hanya terkekeh mengoleskan cream pagi. Ia hanya ingin memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Hira.
"Tunggu kering dulu ya baru ditambah ini." Erfan menunjuk tube sunscreen, Hira hanya mengangguk.
"Gak lama banget juga, Bee. Bisa karatan nunggunya."
"Kalau tau ribetnya gini aku jadi sayang nyium pipi kamu Sweety. Skincare-nya bisa hilang."
"Makanya jangan suka nyosor sembarangan." Kekeh Hira. "Bedaknya dikit aja, jangan tebal-tebal."
"Iya, tau Sayang. Selesai." Ujar Erfan senang, setelah berhasil membantu istrinya jadi lebih segar. "Lipstiknya pakai sendiri, nanti salah sasaran. Bukan lipstik yang nempel di sana, tapi bibirku."
Hira melotot mendengar kejujuran suaminya itu, biasanya juga langsung nyosor gak peduli harga lipstiknya mahal.
"Iya aku selesaikan sendiri." Hira mengambil ciput lalu memasang pashmina. Terakhir mengoleskan lipstik warna bibir. Jadi tampangnya tidak seperti ondel-ondel.
Setelah selesai mereka keluar kamar, karyawan EXTNET sudah berdatangan.
"Kalian nginap di sini?" Selidik Ressa melihat pasangan suami istri itu keluar dari ruang istirahat bosnya.
"Iya Sa, lo sudah sarapan?"
"Sudah Ra. Kalian baik-baik ajakan?" Tanya Ressa penasaran. Ada apa gerangan jadi sampai menginap di kantor bosnya ini.
"Baik Ressa, kami sehat gak ada yang cacat." Jawab Erfan, kenapa malah seketarisnya cerewet banget sih.
"Syukurlah, gue gak enak hati aja." Jujur Ressa hatinya jadi tidak tenang padahal tadi baik-baik aja.
"Perasaan lo aja, gue berangkat dulu Sa." Hira memeluk sahabatnya sebelum pergi. "Lo kerja yang benar kalau gak mau dipecat Erfan." Godanya lalu menarik tangan sang suami. Mereka mau sarapan di bubur ayam Mang Udin.
__ADS_1