
"Suka lihat bintang, Sayang?" Erfan memeluk Hira dari belakang, meletakkan dagu di atas bahu Hira.
"Suka, mereka cantik."
"Kamu enggak kalah cantik Sweety, malahan kamu bintang yang bersinar paling terang." Goda Erfan, menciumi pipi Hira dari samping.
"Hm, dari zaman kapan aku termasuk tata surya?" Hira terkikik geli, Erfan cemberut gombalannya layu sebelum mekar. Hira yang sudah mematahkannya.
"Sweety, lagi mau romantisan nih malah jawabannya gak enak didengar." Rajuk Erfan
"Eh, ada yang ngambek. Cup cup cup sayang." Hira membalik badan menepuk-nepuk pipi Erfan.
"Harus tanggung jawab!"
"Aku gak bikin kamu hamil, Bee!" Hira tertawa gelak, suaminya semakin cemberut. "Uh, tayang-tayang. Cini tium duyu." Ia berucap seperti membujuk anak kecil, menggoda suami enggak berdosakan. Erfan diam tak bergeming, ia mengikuti permainan Hira. Ini bisa jadi kesempatannya minta jatah, tawa licik terbit di hatinya. Duh, salahkan Hira yang sudah membangunkan si junior.
"Bee, kok diam? Aku cuma bercanda." Hira takut suaminya benar-benar marah.
"Bee!!" Panggilnya lagi, Erfan tak menjawab mengurai pelukan Hira lalu masuk ke kamar. Ia ingin tertawa puas melihat reaksi istrinya.
"Bee, maaf." Cicit Hira, mengikuti Erfan masuk. Setelah menutup pintu balkon ia memeluk Erfan dari belakang. "Aku cuma bercanda."
Erfan menyeringai setelah membalikkan badan, mengangkat bayi kangurunya ke tempat tidur. "Kamu harus dihukum." Katanya lalu menciumi istrinya dengan nakal. Hira memukul-mukul dada Erfan sampai tautan mereka terhenti.
"Bee, kamu jahat!!"
"Enggak jahat kok, Sayang." Erfan tertawa puas lalu membawa Hira berada di atasnya. "Cium lagi!" Pintanya, Hira menolak malah menggigit telinga Erfan.
"Sayang, kalau telingaku sobek gimana? Nanti gak bisa dengar ******* sexy kamu kalau kita lagi ***-***." Muka Hira merah padam, hidungnya kembang kempis menahan malu. Membenamkan wajah di dada Erfan.
"Kenapa malu Sweety." Erfan tersenyum geli, makanya jangan bikin ulah. "Sayang, kamu sudah bikin dedek bangun lho." Ia menuntun tangan Hira.
"Beeeee..!!" Pekik Hira berang karena kaget menyentuh sesuatu yang pernah membuatnya kesakitan sekaligus menggila.
"Ayo Sweety, dedek sakit kalau gini. Dia harus muntah biar bisa sehat lagi." Belum sempat menjawab, Erfan sudah pindah posisi menindih Hira. "Boleh?"
Mana bisa Hira menolak kalau ia juga kebanjiran. Huh, suaminya nakal. Salahnya sendiri sudah main-main dengan Erfan. Jadinya gak kuat iman sendiri 'kan.
__ADS_1
Gara-gara pergulatan subuh tadi mereka kesiangan. Erfan merengek minta obat buat dedek yang lagi demam katanya, ada-ada saja. Hira sampai kehabisan tenaga harus memberikan terapi tadi malam, tidur hanya beberapa jam. Subuhnya diminta siaga lagi, Erfan memang keterlaluan. Untung ia masih libur praktek, meliburkan diri lebih tepatnya.
"Sweety sarapan dulu!" Erfan membawa sarapan ke kamar, Hira malas keluar kamar. Ia kesusahan berjalan karena kenakalan si junior Erfan.
Hira beranjak dari meja rias menuju balkon, mereka makan sambil menikmati cahaya yang mulai bersinar.
"Makan sendiri apa disuapin?"
"Yang sakit gua kesayanganmu Bee, bukan tangan." Ketus Hira mengambil sepiring nasi goreng, Erfan tertawa gelak.
"Sebelum makan itu baca doa Sweety, bukan marah-marah." Goda Erfan nakal dengan senyuman jahil.
"Tanganku tiba-tiba lemes Bee." Hira mengembalikan nasi goreng ke meja, Erfan geleng-geleng kepala. Sesendok nasi goreng beralih ke mulut Hira, sesendoknya lagi masuk mulutnya. Mereka makan bergantian.
"Kalau kamu gemesin gini aku gak bisa jauh dari kamu Sweety." Erfan mengacak rambut Hira gemas disela menyendok nasi goreng.
"Bee, rambutku rusak. Aku sudah mandi." Rambut yang berantakan gak ada hubungannya dengan mandi kali.
"Aku bisa bantu kamu mandi Sweety kalau tangannya masih lemes."
"Mesum mulu deh kamu Bee." Mereka selesai makan, dua piring nasi goreng jumbo ludes. Maklum sedang masa pemulihan biar bisa berperang di gua lagi nanti malam.
"Bee, jangan bikin baper, ih."
"Juteknya gak berubah deh." Erfan mencubit pipi Hira sampai si empunya terpekik kesakitan. "Bee, pedas banget!" Hira mengusap pipinya. Erfan menarik tangan Hira, memberikan kecupan basah di pipi yang memerah ulah jari nakalnya.
"Jahat banget, sakit Bee."
"Ayo aku bikin nyaman!" Erfan mengedipkan matanya.
"Beee, gak ada puasnya deh. Kerja sana, nanti kamu gak bisa nafkahin aku kalau gak kerja." Terdengar kekehan dari mulut Erfan.
"Takut banget hidup kismin, aku rela susah asal bareng kamu terus Sweety."
"Aku yang gak rela Bee, aku cari lelaki lain kalau kamu miskin."
"Jangan dong Sayang, gua itu sudah hak milikku. Gak boleh ada yang bersarang di sana, selain ular cobraku."
__ADS_1
"Ogah, Guntur lebih kaya lho Bee." Goda Hira dengan senyuman maut.
"Sayang, kamu gak boleh keluar kalau gitu. Aku gak rela."
"Kalau aku rela gimana?"
"Sweety, nakal!" Erfan menggelitiki Hira sampai sudut matanya berair menahan geli. "Bee ampuuunn!" Gelitikan nakal berakhir dengan pelukan hangat diawal pagi.
"Wangi rambutmu bikin aku gila, Sweety." Hira tersenyum geli mengeratkan pelukannya.
"Jagoanku yang garang ini ternyata lemah, mencium aroma sampo aja udah klepek-klepek."
"Makanya jangan dekat-dekat sama cowok Sayang, nanti ada yang tergoda dengan wangimu."
"Bee, udah jam delapan. Kamu hari ini ada meeting di kantor barukan?"
"Bentar lagi, kalau boleh satu ronde dulu buat penyemangat." Kerlingan jahil terbit dari mata Erfan.
"Bee, ini masih sakit."
"Iya Sayang, bercanda kok." Erfan mengecup puncak kepala Hira. "Maaf ya udah bikin kamu kesakitan, habisnya bikin ketagihan. Aku gak bisa menyudahinya." Pipi Hira memerah menahan malu, mengingat kegilaan mereka tadi malam.
Acara bermanja-manjaan pagi ini Erfan akhiri. Ia harus berangkat ke kantor mengawasi pembukaan kantor EXTNET Indonesia. Hidupnya sekarang lebih berwarna, emosinya sudah tidak meledak-ledak lagi. Benar kata Adnan, menikah bisa membuat tekanan hidup menjadi biasa saja.
Tian datang jauh-jauh dari London, bersama orang-orang yang sudah ekspert dibidangnya. EXTNET London akan dipegang Xeon.
"Akhirnya lo nyerah juga Fan." Tian merupakan asli Indonesia, ia menetap di London sejak lulus kuliah. Sedang Xeon berdarah campuran yang terlahir di London, kakek buyutnya orang Indonesia.
"Dulu gue malas debat sama Mami Papi, sekarang sudah pengangguran jadi bebas," Kekeh Erfan. Mereka sedang melakukan perekrutan besar. EXTNET merupakan sebuah perusahaan teknologi informasi yang berkecimpung di industri game.
"Gak mau ngenalin istri, takut gue tikung." Goda Tian.
"Berani nikung, lo gue bunuh di tempat."
"Hahaha, sadis. Gue senang bisa balik ke sini lagi, kalau gak gini bisa pindah kewarganegaraan."
"Lo hidup sebatang kara aja bisa jadi sultan gimana kalau ada keluarga."
__ADS_1
"Justru karena sebatang kara gue bisa kaya, gak perlu berbagi harta. Gak kayak lo pakai drama dilengserkan ibu suri," gelak Tian diikuti Erfan.
Disibukkan banyak hal membuat Erfan lupa istrinya sendirian di rumah, sekarang sudah jam lima. Ia tidak sempat menghubungi Hira karena meeting sampai sore bersama tim yang dibawa Tian.