
"Mami sudah siapkan pernikahanmu dua minggu lagi dengan Salwa." Erfan meletakkan dokumen yang dipegangnya. Mami pagi-pagi datang ke kantor hanya untuk membahas hal yang tidak penting seperti ini.
"Terserah, aku tidak akan datang. Akad itu tidak akan pernah terjadi. Semua akan terjadi dalam mimpi Mami saja." Erfan menatap datar sang mami yang duduk di sofa.
"Jaga sikap kamu Erfan, selama ini Mami tidak pernah minta apapun dari kamu. Mami hanya ingin kamu menikahi adik mendiang Bilqis. Mami mendidik kalian dengan baik bukan untuk jadi pembangkang."
Erfan menarik napas sebelum berucap, berusaha setenang mungkin agar tidak kelepasan berbicara kasar pada ibu yang sudah mengandungnya.
"Saking baiknya Mami mendidik kami sampai menjadikan Fany seorang penjahat bahkan pembunuh berdarah dingin." Sesantai mungkin Erfan mengeluarkan kata-katanya tanpa ekspresi, yang mampu membuat mami membeku. "Aku akan tegaskan sekali lagi, aku tidak akan menikahi Salwa, atau wanita pilihan Mami."
Mami tercekat mendengar ucapan Erfan. Baru kali ini putranya berujar seperti itu. "Kamu tidak bisa membantah Erfan!" Teriak Mami geram.
"Sayangnya Erfan bisa Mi." Erfan tersenyum kecut.
"Mami akan minta Papi menarik perusahaan darimu." Tegas Mami, lalu tersenyum penuh kemenangan. Erfan tampak berpikir mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. "Kamu tidak bisa menolakkan sekarang." Mami Reny tersenyum sangat puas.
"Sekarang aku baru tau sikap Mami yang sebenarnya." Erfan tersenyum, "tidak perlu pikir panjang Erfan akan pergi dari perusahaan ini. Itu akan sangat menyenangkan. Bukankah Papi yang memohon-mohon agar aku meneruskan perusahaan ini." Erfan beranjak meninggalkan mami. Sebelum keluar pintu ia berucap. "Selamat menjadi egois Mi, Mami tidak akan pernah mendapatkan apa yang Mami mau. Malah akan membuat kehilangan apa yang sudah Mami punya." Senyuman paling manis ia suguhkan buat sang mami tercinta.
Setragis itulah kisah hidupnya. Ia salah, salah sudah minta papi mencarikan calon istri yang membuatnya terjebak dalam masalah ini. Kehilangan Bilqis membuat mami terobsesi menikahkannya dengan siapa pun.
Erfan melajukan mobilnya menuju kantor Ilmi, ia akan menghabiskan waktu seharian untuk mengganggu sahabatnya itu. Lalu malam tidur di rumah Abi Nazar. Sangat menyenangkan bukan? Hidup bebas seperti ini.
Tanpa mengetuk pintu Erfan langsung menyelonong masuk dan berbaring di sofa. Ilmi berdecak, geleng-geleng kepala melihat Erfan yang uring-uringan.
"Ada masalah apa gerangan sampai nyolonong masuk kantor orang, gak ada sopan santunnya sama sekali?"
"Berisik!"
"Lo yang ganggu!" Ilmi mendekat, duduk di single sofa.
"Gue di usir Mami, gara-gara menolak nikah sama adik Bilqis. Masa gue dipaksa nikah dua minggu lagi." Curhat Erfan sambil main game di ponselnya, itu akan menjadi hobby baru untuknya mulai saat ini.
"Lalu?"
__ADS_1
Erfan bangun menuju kulkas, mengambil minuman soda lalu kembali duduk di sofa.
"Mami menarik perusahaan dari gue, lucukan? Dulu mereka yang maksa gue megang tuh perusahaan. Andai gak mikirin Hira gue udah balik ke London lagi."
"Lo gak lagi mikirin masalah duit 'kan Fan, kayak orang miskin aja." Ilmi tergelak, Erfan menatap sahabatnya itu sinis. "EXTNET di London masih jalan walau tanpa gue ada di sana. Jadi gue gak semiskin itu Mi."
EXTNET perusahaan yang Erfan rintis bersama dua temannya Xeon dan Tian saat ia kuliah di London. Berawal dari hobby main game yang berakhir dengan cuan. Erfan hanya memantau, sejak dua tahun terakhir ia hanya mengunjungi sebentar itupun dilakukan diam-diam agar tidak ketahuan orang tuanya.
"Kali aja lo frustasi dan putus asa, akhirnya menikah dengan pilihan mami lo." Erfan melempar kaleng soft drink ke tubuh Ilmi yang puas mengejeknya.
"Lucknut lo memang, puas banget lihat gue menderita."
"Cepat banget lo move on, tanah kuburan Bilqis masih basah. Sehebat itu pesona dr. Hira." Ilmi mencibir.
"Malas gue ngomong sama lo, gue ke sini mau numpang tidur!"
"Tidur di apartemen sana, ngapain tidur di sini." Usir Ilmi.
"Nanti Mami datang, males gue. Biarin gue nenangin diri di sini. Lo cukup diam dan dengerin kalau gue ngomong aja."
***
Hira baru keluar dari ruang bersalin, ia kembali ke ruangannya. Kata asistennya masih ada beberapa jadwal konsultasi ibu hamil. Sekarang ia sudah berteman baik dengan Ringgo, lelaki itu tidak menyebalkan seperti dulu lagi.
"Hira..!!" Tegur seorang pria yang berpapasan dengannya, Hira melihat ke arah suara sebelum menjawab.
"Guntur, ngapain di sini. Oh iya lupa, lo 'kan yang punya rumah sakit ya." Hira tertawa receh.
"Dasar lo yaa, mau kemana?"
"Mau berenang di pantai." Sarkas Hira, "lo pakai nanya ya keruangan 'lah."
"Ikut...!!" Ucap Guntur manja, Hira mencebikkan bibir. Sama sekali tidak cocok guntur berbicara seperti itu padanya, bikin geli saja.
__ADS_1
"Ayo, lo mau konsul masalah kelahiran, KB atau apa?" Guntur memutar bola mata malas tapi tetap mengikuti Hira.
"Gue mau konsul masalah bikin anak, tapi istrinya gak ada. Gimana caranya biar bisa jadi bayi yang lucu dan menggemaskan." Hira melotot, Guntur tertawa gelak. Sudah lama ia tidak bertemu Hira, apalagi melihat ekspresinya seperti ini.
Hira masuk keruangannya diikuti Guntur. Tubuh Hira membeku saat sadar ada seorang perempuan yang duduk di sofa menunggunya.
"Hira..!" Guntur menepuk bahu Hira yang terdiam. "Ya," Hira menetralisir perasaan berusaha melawan kecemasan.
"Lo duduk di sana dulu ya Tur," Hira menunjuk kursi di depan mejanya. Ia berjalan menuju sofa mendekati perempuan paruh baya dan mengucapkan salam.
"Dimana kamu sembunyikan Erfan?" Hira mengangkat alisnya tidak mengerti apa yang diucapkan Reny, ibunya Erfan. Ya, yang datang keruangannya adalah seorang ibu kandung yang telah melahirkan Erfan. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba menuduhnya menyembunyikan Erfan.
"Maksud tante, saya tidak mengerti?"
"Kamu 'kan yang sudah menghasut anak saya agar membenci saya."
"Tante bicara apa, saya tidak paham." Hira masih tenang, melawan segala pikiran yang berkecamuk mengganggunya. Guntur hanya menyimak, tidak ingin ikut campur.
"Anak saya jadi membangkang itu semua karena ulah kamu. Dasar perempuan tidak tahu diri. Harusnya kamu sadar kamu itu siapa? Kamu tidak pantas untuk anak saya."
Tidak, tidak. Hira tidak melakukan itu. Hira tidak membuat Erfan membangkang. Hira tidak tau dimana Erfan. Hira menggelengkan kepalanya. "Saya tidak pernah menghasut Erfan apapun." Jawabnya dengab gemetar, tak terima dituduh menghasut Erfan.
"Kamu jangan sok polos. Jangan merasa bangga karena anak saya sudah berbaik hati menolong kamu. Dasar perempuan sinting." Teriak Reny, Hira menutup kedua telinganya kuat-kuat, kepalanya menggeleng. Air matanya menetes dengan wajah tertunduk sayu.
"Tante cukup, jaga bicara anda." Guntur tidak bisa diam melihat Hira direndahkan.
"Oh jadi kamu sekarang lelaki yang ditidurinya hah." Reny menatap nyalang Guntur. "Enak kamu ya bisa bergonta-ganti pasangan sesuka hati." Sentak Reny dengan kasarsambil menunjuk wajah Hira.
"Mulut anda harusnya disekolahkan terlebih dahulu sebelum berucap." Teriak Guntur geram, tangannya mengepal. Ingin sekali ia menghajar perempuan tua tidak tau diri dihdapannya ini.
Hira menangis semakin kencang dengan keringat bercucuran. Kepalanya terus menggeleng. "Tidaaakk!" teriaknya.
"Perempuan gila seperti itu masih kamu bela." Setelah mengucapkannya Reny meninggalkan ruangan, ia puas sudah menghancurkan mental gadis ****** itu.
__ADS_1
Tidak sulit untuk membuat Hira kena mental, hanya perlu beberapa kali bicara saja sudah ambruk. Reny tersenyum bangga dengan dirinya sendiri.
"Anda tidak akan bisa lepas dari sini bangs*t." Amuk Guntur, ia meninggalkan Hira. Memerintahkan penjaga mengahadang si tua bangka. Ia kembali keruangan melihat Hira yang meringkuk di sofa dengan teriakan yang semakin histeris.