Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
120


__ADS_3

"Sayang kamu harus dengerin aku, jangan percaya ucapan Salwa." Mohon Erfan dengan sangat, karena tidak nyaman bertengkar di kantor Erfan membawa istrinya pulang.


"Ucapanmu yang mana yang harus aku percaya? Semua kebohonganmu itukah? Aku capek." Jawab Hira lalu berbaring di tempat tidur.


"Aku harus apa biar kamu percaya Sayang?" Tanya Erfan frustasi, dia tidak dapat berpikir jernih sekarang. Kepalanya seperti berisi benang kusut.


"Nikahi Salwa dan ceraikan aku, aku tidak sudi bekasan orang lain."


"Sweety, jangan bicara seperti itu. Mas gak akan menceraikan kamu dan Mas tidak sudi menikah dengan Salwa." Erfan memohon, menyatukan lututnya dengan lantai. Netranya menatap nanar sang istri yang tidak menangis tapi tatapannya penuh kebencian.


"Mas membuangnya seperti itu setelah menyicipi tubuhnya." Sentak Hira marah, lelaki selalu ingin enaknya saja tanpa mau bertanggung jawab.


"Astaghfirullah, Mas gak pernah menyentuhnya Sayang. Tolong percaya sama Mas." Mohon Erfan sampai lelah menjelaskan pada sang istri.


"Mas, aku capek. Tinggalin sendirian dulu."


Erfan menyerah, meninggalkan istrinya sendirian. Ia kembali ke kantor dengan pikiran yang berserabut.


"Argh, awas kau Salwa. Tidak akan aku lepaskan, apalagi kalau sampai rumah tanggaku berantakan." Desisnya dengan tatapan membunuh.


"Bos, Salwa membuat laporan kalau dia mengalami pelecehan." Lapor Galih saat Erfan baru sampai kantornya, lelaki itu menggeleng tak percaya.


"Gimana bisa Lih, sedang dia buronan atas fitnah dan pencemaran nama baik itu." Geram Erfan, kenapa semuanya menjadi kacau. Kenapa semuanya terasa janggal, tidak semudah itu menggulir laporan yang ia buat di kepolisian.


"Uang yang berbicara bos, hanya dengan sumpalan uang jeruji besi tak berfungsi." Erfan menghela napas kasar, keluarganya diambang kehancuran. Kehamilan istrinya beresiko kalau stress seperti ini.


"Aaarggh!" Erfan menjambak-jambak rambutnya frustasi.


"Hei-hei santai, itu kepala aset berharga." Tegur Tian, "gimana keadaan Hira?" Dia sudah curiga sejak Erfan minta di jemput Galih dan lelaki itu tidak mengingat kejadian apapun.


"Dia gak mau bicara sama gue, kemaren malam dia udah percaya sama gue. Tapi sekarang terpengaruh ucapan Salwa." Erfan mendesah berat, "rekaman cctv sudah dapat Lih?"

__ADS_1


"Cctv hotel diretas, kita tidak menemukan kejadian apapun saat bos di hotel." Lanjut Galih menjelaskan.


"Hahh, gue bakal tidur di luar ini." Ucapnya frustasi, Tian ingin tertawa mendengar kalimat itu. Tapi urung saat melihat kondisi temannya yang tidak sedang bercanda.


"Lo ikuti aja permainan Salwa," saran Tian.


"Salwa mau gue nikahin dia, gile aja gue nikah sama manusia iblis itu." Berang Erfan pada Tian, temannya itu memberi saran tidak dipikir dulu.


"Ya gak papa, kouta lelakikan ada empat." Ujar Tian dengan gelak tawa, membuat Erfan tambah murka.


Mengabaikan teman dan assistennya yang seperti sangat bahagia melihat ia tersiksa. Erfan menyalakan laptop. Lebih baik dia bekerja perusahaannya diambang kehancuran karena berita sialan itu.


Argh, Erfan jadi ingat perempuan iblis itu lagi. Hidupnya susah gara-gara ulah satu manusia itu, pasti gadis itu bekerja sama dengan sang mami.


Huft, mengingat itu Erfan jadi susah bernapas. Dia bagai anak yang tak tau balas budi, sudah dibesarkan tapi malah membuat keluarga angkatnya itu mendekam di penjara karenanya.


Sampai sore Erfan menyibukkan diri dengan kerjaaan melupakan jam makan. Ia meluapkan segalanya pada pekerjaan, marah, benci dan terluka karena Hira tidak mau percaya padanya.


Huhh, Erfan berusaha memaklumi kemarahan Hira. Ia hanya kasihan dengan kondisi ibu hamil yang tak bisa jauh darinya itu.


Pulang kerumah Erfan tidak menemukan sang istri menyambutnya. Dalam kamar istrinya asik sendiri dengan ponselnya.


"Sweety, masih marah sama Mas?" Tanya Erfan lembut, Hira tak menjawab melengos meninggalkan kamar. Lelaki itu mengusap dada, mengingatkan dirinya untuk bersabar.


Perempuan marah dalam keadaan biasa saja mengerikan. Apalagi saat hamil begini, huuhh haahh huuhh, Erfan menarik ulur napasnya dengan kasar. Ia segera mendinginkan kepala dengan berendam dalam bathtub seraya memikirkan langkah selanjutnya.


Sampai malam istrinya tidak kembali ke kamar. Erfan mencari ke ruang tengah tidak ada, di kamar tamu juga tidak ada. Lelaki itu menyisir kamar di lantai dua. Hira tertidur di salah satu kamar.


Pasti belum makan, gumamnya. Tadi tidak mau ikut diajak makan malam. Sekarang Erfan harus bagaimana. Apa ia minta Mama Btari dulu untuk mengurusnya. Ia kasihan dengan keadaan ibu hamil itu.


Tanpa bersuara Erfan mendekati istrinya, menatap lekat wanita yang tertidur pulas itu. Ia duduk di lantai setelah menyelimuti sang istri. Erfan tidak berani menyentuh, takut istrinya terbangun. Karena lelah ia berbaring di lantai asal bisa dekat dengan istri dan calon anaknya.

__ADS_1


Erfan merasakan sangat lelah, saat terbangun Hira sudah tidak ada di tempat tidur. Semalaman ia tidur di lantai tanpa selimut.


Lelaki itu menuruni anak tangga dengan lesu, ia kembali ke kamar langsung beranjak ke kamar mandi. Entah kemana istrinya sekarang. Setelah sholat subuh Erfan melanjutkan tidur, ia malas berangkat ke kantor.


Dicueki itu ternyata rasanya sangat menyakitkan seperti ini. Hira tidak mempedulikannya lagi, mengabaikan sarapan Erfan betah terlelap.


***


"Sayang, berhenti mengharapkan Erfan. Aku bisa lebih memuaskanmu." Di dalam kamarnya seorang gadis sedang berduaan dengan sang kekasih.


"Aku tidak mengharapkannya, aku hanya ingin membuatnya hancur seperti debu yang terombang ambing." Jawabnya dengan tersenyum devil, matanya mendongak ke arah sang kekasih yang memeluknya dari belakang. Tangannya membelai lembut wajah lelaki itu.


"Aku tidak mau kamu masuk penjara, Sayang."


"Hei, kamu tidak lihat. Sekarang aku yang melaporkan dia. Jangan takutkan apapun."


"Kalau dia benar-benar menikahimu, aku akan kehilanganmu."


"Kamu tidak akan kehilang aku, aku tetap milikmu. Aku hanya ingin membuat dua orang itu menderita, percayalah." Salwa meyakinkan kekasihnya.


"Apa kamu tidak mengerti ke khawatiranku."


"Jangan khawatirkan apapun, sebentar lagi mereka akan hancur bersama dalam tanganku."


"Sayang!" Lelaki itu tidak tau harus bagaimana mengingatkan Salwa, ia sangat takut kehilangan kekasihnya ini. Kenapa harus mengumpankan diri pada seorang Erfan. Erfan tidak akan tinggal diam jika Salwa terus berulah.


"Hei, sudah kukatakan jangan pikirkan itu. Sekarang saatnya kita bersenang-senang Sayang, bukan untuk memikirkan Erfan sialan itu." Desis Salwa geram pada sang pacar yang selalu memperingatkannya. Ia tidak perlu mengkhawatirkan itu, semua kelemahan Erfan ada di tangannya.


Salah jika Erfan menganggap ia akan berhenti hanya dengan menjadi buronan polisi. Salwa akan tambah bermain-main dengan lelaki itu.


"Kamu ini susah banget dikasih tau." Geram pacar Salwa, dia gemas sendiri melihat kelakuan gadis yang tak takut apapun ini.

__ADS_1


__ADS_2