Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
57


__ADS_3

"Mas, besok aku mau ketemuan sama teman lama sekalian ngasih undangan boleh?"


"Boleh, maaf gak bisa nemenin kamu ya Qis, aku besok baru bisa libur."


"Iya, aku ngerti kok kalau calon suami aku ini orang sibuk." Bilqis tersenyum sangat manis pada Erfan.


"Makasih, udah mau mengerti kesibukanku." Erfan balas tersenyum manis.


"Bagaimana keadaan gadis yang Mas tolong itu?" tanya Bilqis tanpa ada perasaan cemburu dan terluka seperti sebelumnya.


"Kata Ressa sudah lebih baik, gak sering mimpi buruk dan histeris lagi. Maaf ya kalau membuatmu gak nyaman."


"Gak papa Mas, aku paham dia perlu pertolongan Mas."


"Jadi gak cemburu nih, calon suaminya disentuh perempuan lain." Goda Erfan, Bilqis tergelak.


"Kalau dia sadar mana mau nyentuh kamu Mas, aku dengar dari Ressa kalau dia galak." Erfan hanya tersenyum, dia memang galak tapi sudah membuat hatinya berada dipersimpangan jalan. "Mas jemput di cafe depan taman. Ingat ya, cafe depan taman. Aku mau Mas yang jemput nanti."


Erfan bimbang, ia ada meeting besok seharian bagaimana menjemputnya.


"Mas!" Pekik Bilqis cemberut, kemudian menghentak-hentakkan kaki meninggalkan Erfan. Tidak pernah Bilqis bersikap merajuk seperti itu.


"Bilqiiiiss!" Panggil Erfan nyaring, namun gadis itu tak menghiraukan.


"Bilqiiisss!!"


"Bee...!!" Hira terbangun mendengar teriakan Erfan, suaminya bermimpi sampai keringat membasahi keningnya. Ia menepuk lembut pipi Erfan sampai matanya terbuka.


"Sayaangg!!" Erfan bangun langsung memeluk Hira. Sekarang masih jam dua pagi.


"Mimpi apa Bee, kenapa memanggil Bilqis." Hati Hira sedikit tersentil, tapi melihat Erfan seperti orang linglung ia abaikan perasaan liar itu.


"Bilqis minta jemput di cafe depan taman. Dia bilang harus aku yang jemput. Aku gak ngerti maksudnya. Bilqis gak pernah bicara seperti itu." Hira mengurai pelukannya mengambil air putih lalu memberikan pada Erfan.

__ADS_1


"Mungkin ada sesuatu yang Mas lupakan."


"Sesuatu, gak ada Sayang. Kami jarang bertemu dan bicara." Hira mulai berpikir, apa ini petunjuk sampai sekarang belum ada titik terang perihal kecelakaan Bilqis.


"Pembicaraan terakhir kali dengannya?" tanya Hira, ia memang tidak pernah menanyakan lebih jauh perihal Bilqis. Hira anggap itu sudah berlalu. Erfan juga tidak pernah membahasnya lagi.


"Sebelum kecelakaan terjadi. Bilqis memang memberitahu ingin pergi ke sebuah cafe di dekat taman untuk bertemu temannya, sekaligus memberikan undangan. Tapi sebelum temannya datang kecelakaan terjadi." Jelas Erfan, hanya itu pembahasan terakhir mereka lewat telpon.


"Bukankah Mas bilang tidak ada cctv di depan taman, mungkin ada cctv di depan cafe yang terlewatkan. Karena jaraknya cukup jauh jadi para polisi tidak menyelidikinya."


"Ini sudah empat bulan berlalu apa mungkin rekamannya masih ada Sayang."


"Bisa dicoba dulu Mas, mungkin ini petunjuk untuk menemukan pelaku."


Erfan membenarkan perkataan Hira, mungkin ini petunjuk dari Bilqis agar ia punya bukti menangkap Fany. Sudah lama ia tidak bertemu dengan adiknya itu.


"Nanti aku minta orang buat selidiki ke sana. Sekarang lanjut tidur Sweety. Besok Mas banyak kerjaan." Hira mengangguk kembali berbaring di samping suaminya. Baru kali ini ia mendapati Erfan bermimpi sampai seperti itu. Kalau dia jangan ditanya lagi hampir setiap malam mengganggu tidur Erfan.


Seminggu ini Erfan habiskan untuk persiapan peresmian EXTNET Indonesia. Hari ini EXTNET Indonesia resmi dibuka, banyak rekan bisnisnya yang datang. Karangan bunga berjejer di depan gedung sampai ke sisi jalan raya.


Xeon terbang jauh-jauh dari London tidak ingin ketinggalan pada acara peresmian EXTNET Indonesia. Erfan, Xeon dan Tian merupakan pendiri EXTNET yang diawali dengan keisengan hanya karena hobby bermain game.


Setelah menyampaikan sambutan dan ucapan terimakasih pada karyawan, teman serta rekan bisnisnya Erfan mengenalkan istri cantiknya. Mereka tidak heran kalau Hira yang jadi istri Erfan. Karena Hira pernah diberitakan media sebagai scandal Erfan. Meskipun sekarang masih ada desas-desus miring begitu Erfan dan Hira tidak ingin ambil pusing.


Ia juga mengenalkan Xeon dan Tian. Karena kekompakan mereka bertigalah EXTNET sampai bisa menembus ranah dunia. Wijaya, papi Erfan sampai tidak percaya kalau putranya sehebat itu. Sama seperti yang dirasakan Abi Nazar.


Tidak ada yang tau kalau Erfan sudah punya perusahaan sendiri selain Ilmi, Ken dan Adnan. Setelah kejadian direbutnya Wijaya Corp oleh ibu suri barulah Erfan mengepakkan sayapnya kembali.


Malamnya Erfan menghadiri perayaan ulang tahun Emeral Corporation di hotel Emeral sendirian. Hira tidak bisa ikut karena sedang kurang sehat, ia terpaksa meminta Ressa menemani istrinya.


Erfan menarik Ressa kembali dari perusahaan sang papi. Selain jadi seketaris Ressa bisa menemani Hira saat ia sibuk, walau bayaran seketaris tengil itu lebih mahal. Ia tak masalah selagi kerjanya bagus dan bisa menghibur sang istri.


"Sendirian, dr. Hira mana?" tanya Khalisa istri Ghani, saat Erfan bergabung bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Lagi kurang sehat." Erfan tersenyum pada bumil yang perutnya sudah membuncit. Kalau Hira melihat pasti akan sedih lagi. Padahal mereka baru menikah, istrinya itu sangat sensitif melihat perempuan hamil. Khalisa hanya berohria kemudian meninggalkan suami bersama teman-temannya.


"Gue baru peresmian EXTNET, kalian sudah dua puluh tahun aja bersama Emeral." Goda Erfan pada Ghani, Tomi dan Zaky. Entah Guntur kemana sekarang.


"Baru resmi tapi milik sendiri." Ghani berdecak, "ranah dunia lagi." Ia tidak suka dengan sikap Erfan yang selalu merasa hina dibanding yang lain.


"Lo juga Gha, cuma gak ada nama patennya aja. Restoran dan supermarket dimana-mana." Kesal Tomi, sepupunya itu sok miskin sejak memilih undur diri dari perusahaan sang papa.


"Hahaha," Ghani dan Erfan tertawa bersama.


"Nasib kami sedikit sama." Ucap Ghani kemudian.


"Sama-sama anak konglomerat." Sambung Adnan yang baru datang. "Yang satu tidak mengakui kalau anak konglo dan yang satu tak dianggap." Lanjutnya walau hanya bercanda, sepenuhnya itu tidak benar.


"Apakabar kalian yang sok sederhana!" Zaky tak mau kalah. Walau ia tak pernah mengekspos latar belakang keluarganya. Ia nebeng nama sama mertuanya saja.


"Kami takut sok kaya, tapi kenyataannya kalah kaya sama Erfan." Sahut Ken dengan senyuman khasnya, yang bisa membuat para jomblo terpana.


Obrolan mereka terjeda kala ada pelayan membawakan mereka minuman. Membagikannya satu-persatu, mereka langsung meminumnya. Obrolan unfaedah lumayan menguras kerongkongan.


Ditengah-tengah acara Erfan pamit ke toilet. Ia merasakan aneh pada tubuhnya ada rasa panas yang sangat mengganggu. Tidak ada minuman beralkohol di sini, jadi tidak mungkin ia mabuk.


Segera ia menghubungi Guntur untuk mengantarnya pulang. Perasaannya tidak enak, ia tak bisa mengabaikan perasaan yang mengganggu.


Saat ingin keluar toilet ada perempuan sexy menghampiri.


"Mas kenapa? Pusing." Perempuan itu bergelayut manja di tangannya sambil meraba-raba dada Erfan.


Erfan memejamkan mata, ada rasa aneh dalam tubuhnya yang tak bisa ditahan. Tapi aroma itu bukan aroma tubuh istrinya.


"Mas, ayo saya antar ke kamar." Erfan tak bisa menolak. Ia butuh sentuhan sekarang, walau tau itu bukan istrinya. Perempuan sexy itu membawanya keluar dari toilet.


"Lepasin!" Sentak Tomi pada perempuan yang bergelayut manja dipelukan Erfan.

__ADS_1


Perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya meraba-raba dada Erfan agar pria itu menolak dilepaskan. Tomi menarik paksa tangan perempuan itu, "antar Erfan pulang, Guntur!" Titahnya.


Guntur membawa Erfan meninggalkan hotel. Dengan cepat melajukan mobilnya, ia tau apa yang sedang Erfan alami jadi tidak banyak bicara. Untung pria itu sangat waspada langsung menghubunginya saat ada yang janggal. Walau sekarang tampangnya sudah kacau.


__ADS_2