Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
91


__ADS_3

Sebuah rumah sakit swasta menjadi tempat bekerja Hira saat ini. Ia pindah ke kota Bandung, rencananya akan menetap di sani. Melepaskan diri dari masalah yang menghampirinya. Ia sudah tidak peduli pada ayahnya. Toh tanpa kiriman uang dari Hira mereka pasti bisa bertahan hidup.


Sudah saatnya Hira membahagiakan dirinya sendiri. Melepaskan beban berat yang menumpuk di bahunya. Libur bekerja kali ini ia gunakan untuk mengunjungi wisata kebun strawberry. Hira jatuh cinta melihat lahan hijau yang dihiasi buah merah merona itu.


Sepertinya ia memang mengalami masa kecil kurang bahagia. Melihat anak-anak yang tersenyum bahagia memetik buah merah itu hatinya ikut bahagia. Hira senang melihat senyuman anak-anak di sana.


Momen itu bisa menghapus kerinduannya akan kehadiran seorang anak. Hira telah gagal menjadi calon ibu, bahkan ia juga gagal menjadi seorang istri. Bulan demi bulan ia lalui sendirian tanpa lepas dari kerinduan.


"Adnan?"


Dari jalur yang berbeda Hira melihat sosok yang sangat dikenalnya. Lelaki itu tengah menemani putrinya memetik buah strawberry bersama Attisya. Gadis kecil itu sangat riang dengan celotehan yang masih bisa Hira dengar.


Di belakangnya ada Ken yang sedang menggendong Key berjalan beriringan dengan Elvina. Hira segera menjauh dari lokasi, saat Elvina menatap kearahnya.


"Hira!" Pekik Elvina, "Bang itu Hira." Perempuan itu menepuk bahu suaminya. Ken mengikuti arah pandang istrinya tapi orang yang disebutkan Elvina tidak ada di sana.


"Aku yakin itu Hira, Bang." Jelasnya lagi dengan perasaan kecewa. Karena perempuan yang dilihatnya sudah menghilang dari pandangan.


"Salah lihat kali El."


"Enggak, itu beneran Hira." Kekeuh Elvina.


"Nanti kita kasih tau Erfan biar dia selidiki sendiri." Ujar Ken menenangkan istrinya, lalu mendekati sang kakak. Sedang Elvina masih penasaran mencari-cari sosok yang ia lihat tadi.


Setelah Elvina lengah, Hira keluar dari persembunyian. Ia bergegas meninggalkan tempat itu. Tadi Hira masih bisa mendengar dengan jelas suara Elvina menyebutkan namanya. Wanita itu bernapas lega setelah bisa keluar dari kebun strawberry.


Persembunyiannya ketahuan. Eh, tapi Erfan mana mungkin mencarinya. Hira tersenyum kecut mengingat itu. Keluarga mereka terlihat sangat bahagia dan akur. Apakabar keluarga kecilnya yang entah bagaimana akhirnya.


Hira mampir ke swalayan sebelum pulang. Ia perlu menstok bahan makanan biar tidak repot. Perempuan itu tinggal di sebuah kost dekat rumah sakit, hemat bahan bakar.


Bukan Hira tidak punya uang. Ia hanya khawatir kalau Erfan sampai tau tempatnya berada hanya dari riwayat penarikan dana yang terdeteksi. Tapi sekarang sudah ketahuan, jeritnya dalam hati.


Eh, sekali lagi tolong ingatkan Hira. Erfan mana mungkin mencarinya. Suaminya itu sudah bahagia bersama perempuan lain. Ia kualat gara-gara menggunakan soundtrack sinetron ikan terbang sebagai nada dering. Sungguh menyedihkan, Hira terkikik sendiri mengingat itu.

__ADS_1


Sudahlah, walau Erfan mencarinya pun semua sudah berbeda. Perempuan itu membersihkan badan dan segera beristirahat. Waktu libur digunakannya dengan benar untuk istirahat dan merefresh otak. Hari ini bukan fresh, otaknya jadi tambah mumet.


Di tempat lain Erfan sedang menghadiri acara ulang tahun anak sahabatnya, Zaky. Ia terpaksa hadir malam ini dan bertemu Guntur meski masih dalam keadaan canggung.


"Dahlah kalian jangan pada membisu, tuh mulut diciptakan untuk bicara." Tegur Zaky yang jengah berada diantara Erfan dan Guntur. Dua orang itu masih betah saling diam.


"Dari pada diam, nih momong Arraz." Ghani bergabung langsung memberikan putranya pada Guntur. "Masih belum tau keberadaan Hira?" Ghani menatap Erfan yang duduk di sofa depannya. Mereka mengasingkan diri di ruang keluarga setelah acara selesai. Biar para emak-emak yang sibuk di depan.


"Tadi siang Ken bilang Nana melihat Hira di Bandung. Besok gue cek sendiri ke sana." Ucap Erfan mengambil Arraz dari pangkuan Guntur. Menimang bayi mungil itu dengan gemas. "Gue pengen kaya gini satu." Ujarnya seraya menciumi pipi gembul Arraz.


"Bikinlah kalo mau juga."


"Nanti Gha, kalo udah ketemu Hira gue ajak bikin baby gini juga." Ucapnya asal tak berhenti menciumi Arraz dengan gemas.


"Emang Hira masih mau?" Ejek Zaky, Erfan mengendikkan bahu. Ia akan memohon sampai Hira mau memaafkannya.


"Gue minta maaf Tur, sudah menuduh lo yang bukan-bukan." Ucap Erfan tulus pada lelaki yang duduk di sampingnya.


"Ya gimana lagi, paksa gue maafin kalau lo melas gitu minta maafnya." Sahut Guntur dengan menyeringai jahil, membuat Erfan berdecak kesal.


"Eh, jangan bicara sembarangan. Bundanya ngamuk ntar." Sergah Ghani tidak terima anaknya dapat pengaruh buruk dari orang-orang dewasa itu.


"Gue ikut ke Bandung besok."


"Ngapain? Lo mau bikin gue beneran cemburu." Erfan menatap tajam Guntur yang mengejeknya.


"Iya sekalian gue doain lo cepat pisah," ucap Guntur asal.


"Heh, jangan asal bicara kalo diaminkan malaikat berabe gue."


"Kasian ponakan gue telinganya ternoda." Zaky merebut paksa Arraz dari Erfan. Bayi mungil itu menangis ketakutan.


"Kalian jadikan anak gue rebutan. Ayo sayang kita cari bunda." Ghani mengambil Arraz dari Zaky. Lelaki itu menenangkan putranya yang menangis lalu beranjak dari ruang keluarga.

__ADS_1


"Lo gak bisa ikut ke Bandung besok Tur, kan ada meeting sama Tomi. Lusa baru gue yang ke Bandung meeting di sana." Zaky mengingatkan iparnya itu.


"Oh iya lupa." Guntur menepuk jidatnya sendiri. Ia harus bisa memaksa Ghani kembali memegang perusahaan agar tugasnya tidak banyak.


"Lo lupa karena kebanyakan godain seketaris Erfan sih," sarkas Zaky. Mata Guntur membola, "eh, jangan buka kartu. Baru pdkt juga,."


"Jadi lo pdkt sama Ressa?" Erfan menaik turunkan alisnya menggoda Guntur.


"Gak Hira sahabatnya juga boleh, lebih bohai lagi." Sahut Guntur nyeleneh.


"Serah lo, asal jangan istri gue. Gue numpang tidur di sini boleh?" Erfan menggeser Guntur lalu membaringkan tubuhnya di sofa.


Guntur menimpuk Erfan dengan bantal sofa. "Suka-suka hati lo ya mau tidur dimana aja. Rumah dimana-mana masih betah numpang tidur di rumah orang."


"Gak bisa tidur di kamar sendiri, kebayang wajah Hira terus. Kangen banget gue." Curhat Erfan sendu, mengabaikan omelan Guntur yang tak berfaedah itu. Terhitung sejak Hira kecelakaan sudah enam bulan mereka tidak baikan. Itu waktu yang sangat lama untuk Erfan yang sibuk merindu.


"Sungguh nelangsa hidup lo Fan, gue ikut prihatin," ejek Guntur sembari memainkan ponselnya. Lelaki itu sedang mengecek perkembangan rumah sakit di Bandung. Ia penasaran apa benar Hira sedang berada di kota itu.


"Bodoh banget gue yang kemakan cemburu. Lo juga gak bilang kalau nemuin istri gue."


"Lo aneh, curhat sama orang yang bikin cemburu."


Erfankan jujur biar tidak ada salah paham lagi. Walau semakin jelas hidupnya terlihat sangat merana.


"Zak, lo punya daftar karyawan baru rumah sakit di Bandung gak?" Pertanyaan konyol yang Guntur ucapkan. Jelas Zaky punya, semua laporan rumah sakit di bawah pengawasan lelaki itu.


"Ada di laptop, ambil sana sendiri."


Dengan kecepatan kilat Guntur beranjak dari sofa mengambil laptop di kamar Zaky lalu kembali.


"Nyari apaan sih serius banget." Ujar Zaky penasaran ikut mendekat, sedang Erfan sudah memejamkan mata tak mempedulikan dua orang yang ada di sana.


"Jauh-jauh kabur malah kejebak dia." Guntur tertawa geli diikuti Zaky. "Lakinya aja hampir gila, istrinya santai tanpa beban." Sindir Zaky, membuat Erfan menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kalian ngomongin apaan sih?" Erfan ikut mendekati Guntur yang asyik dengan laptopnya.


"Istri lo lah, siapa lagi?" Sarkas Guntur yang semakin membuat Erfan penasaran. Sedikit demi sedikit jalan pencariannya dimudahkan.


__ADS_2