
Gedung Digitech Indonesia dihebohkan dengan kabar diculiknya pemilik perusahaan besar itu. Juga kabar pengkhiatan asisten Hardiyata, yang sudah bekerja selama lima tahun di sana.
Berita itu muncul kepermukaan bersamaan misteri putra tunggal pemilik Digitech yang sudah ditemukan. Putra tunggal yang diganangkan sebagai pewaris tunggal salah satu pesohor negeri itu.
"Cyber security kita diretas." Laporan dari Divisi IT itu sudah sampai ke telinga Hardiyata. Ia melakukan meeting dadakan dengan jajaran direksi.
Dari awal merintis perusahaan dua puluh lima tahun yang lalu. Belum pernah mengalami kebobolan data perusahaan seperti ini. Sampai melumpuhkan situs resmi perusahaan. Team IT yang perusahaannya miliki belum berhasil melawan serangan makhluk tak kasat mata itu.
Hardiyata menggeleng pelan, memijat pelipisnya yang berdenyut. Satu nama muncul di otaknya Wijaya, yang memicu munculnya satu nama lain Ikbal. Asisten yang sangat dipercayanya selama ini.
Pria paruh baya itu menekan satu nomor yang baru saja terisi di ponselnya, Hira.
"Assalamualaikum Hira, kamu lagi di mana?"
"Di kantor Erfan, Pak."
"Bisa bicara dengan suamimu sebentar." Pinta Hardiyata, ia mulai berbicara serius setelah terdengar suara laki-laki dari seberang telepon. Hatinya bisa sedikit lebih lega, anak itu bisa diandalkan. Butuh waktu lama kalau hanya team IT-nya yang melakukan pemulihan. Ia perlu bantuan dari pihak luar.
Hira mengernyitkan kening, menatap sang suami yang duduk di depannya. Prianya itu sibuk menelpon sana sini setelah selesai berbicara dengan Hardiyata tadi.
"Ada apa, Bee?" tanyanya, Erfan sudah selesai menelpon.
"Digitech diretas, Sayang." Hira memberikan tatapan sendu pada suaminya, inikah bom waktu yang sudah siap meledak itu.
"Hei, tidak perlu khawatir seperti itu." Erfan memutari meja, memeluk Hira dari belakang. "It's okay, Sweety. Tak perlu cemas, nanti baby ikutan takut." Bisiknya lembut.
"Bee, ini nyata lo. Gimana caranya biar aku gak takut." Katanya dengan mata berkaca-kaca, ibu hamil ini sangat sensitif. Erfan memutar kursi yang di duduki istrinya, lalu menggendong Hira ke ruang istirahat. Kemudian membaringkannya di tempat tidur.
"Mas gak kemana-mana. Aku ada di sini, jadi berhenti ketakutan Sweety." Tubuh mungil yang lebih berisi itu Erfan bawa dalam pelukan hangatnya. Setelah Hira lebih tenang Erfan mengambil laptopnya, ia akan mengadakan meeting virtual untuk mencari pakar IT terbaik.
Erfan meletakkan laptop di atas bantal, tangannya masih sibuk mengelus rambut kesayangannya.
"Aku meeting dulu ya, Sweety. Kalau gak bisa tidur rebahan di sini." Erfan menepuk pahanya, lekas Hira mengubah posisi tidur berbantalkan sang suami. Membenamkan wajah pada perut suaminya.
__ADS_1
Baru tersambung ke layar virtual meeting itu, suara Guntur sudah menggema di telinga Erfan. "Eh lo ngapain ngajakin meeting kalau sibuk di kamar." Protesnya, Erfan mengabaikan ocehan Guntur menggenggam tangan istrinya lalu mengecup dengan sayang.
"Lagi manja," jawabnya yang mengundang umpatan dari seberang sana. "Jangan salahin gue, tuh Ghani sambil momong." Protes Erfan, menunjukkan Ghani yang sedang menggendong putranya. Pebisnis satu itu menjadikan rumah sebagai kantornya. Jadi setiap saat bisa kumpul dengan anak istri.
"So, Digitech yang sedang diretas kenapa lo yang sibuk?" Pancing Ilmi.
"Kalian belum tau siapa putra tunggal pemilik Digitech itu?" Goda Adnan dari tempat lain.
"Aha, yang mantan presdir Wijaya Corp itukan?" Sambung Guntur, pura-pura oon. Erfan geleng-geleng kepala, niat mencari bantuan malah serasa nongkrong virtual.
"Woy, yang lo ghibahin ada di sini." Erfan berdecak kesal.
"Serius hidup lo suram banget dari berantem sama ibu suri, berseteru dengan adik sendiri sampai berkahir di meja hijau, sekarang menggaungkan perang dengan Tuan Wijaya." Ujar Ken yang diiringi riuh tawa.
"Nyesel gue ngajakin kalian meeting." Kesal Erfan.
"Hira tidur Fan?" tanya Ghani, Erfan menggeleng. Ia menggunakan earphone jadi istrinya itu tak mendengar. "To the point aja, kasihan ada yang lagi manja." Katanya, menghentikan keusilan teman-temannya. Ghani sangat paham bagaimana manjanya perempuan yang sedang hamil.
"Dari berita yang gue dapat, baru beberapa jam diretas Digitech mengalami kerugian triliunan. Ada indikasi orang dalam, Fan?" tanya Tomi.
"Entah, gue masih bisa manggil Papi atau enggak. Gue rasa udah enggak deh." Jawab Erfan, yang mendapat teguran dari istrinya. "Bee!"
"Mampus!" Ucap Guntur dan Ken bersamaan dari tempat yang berbeda.
"Kita kirim team IT yang ada dulu ke sana, sebelum mendapatkan pakarnya. Siang ini kita bisa ketemu di sana?" Saran Adnan, Erfan melirik istrinya yang masih betah bersembunyi di perutnya.
"Jam dua ya Nan." Pinta Erfan, Adnan mengangguk. Sekarang baru jam sepuluh masih ada waktu untuk mengumpulkan team IT dan menemani istrinya istirahat.
"Gue sudah siap mengirim virus nih, lama gak main-main." Ucap Guntur sambil nyengir.
"Gue sudah ketemu pakarnya." Ujar Zaky baru buka suara. Erfan mengernyit, tau siapa yang dimaksud Zaky. "Guntur?"
"Siapa lagi yang bisa meretas data pemerintahan." Decak Zaky, Erfan baru ingat Guntur yang membantunya meretas data kependudukan yang melakukan perjalanan saat Hira pergi. Si empunya hanya terkekeh sambil makan kuaci.
__ADS_1
Melihat wajah tengil Guntur, Erfan serasa ingin menonjoknya langsung.
"Buang-buang waktu aja, ngomong kek dari tadi." Ilmi tak kalah kesalnya.
"So, kita dibutuhkan gak nih?" Ken ikutan kesal dengan tingkah polah Guntur.
"Datang aja rame-rame. Pasang tampang bego dulu. Gue gak mau datang kalau kalian gak datang." Ujar Guntur yang mendapatkan pelototan serempak di layar laptopnya. Tawanya pecah karena berhasil memancing keributan.
Erfan menutup laptop, menemani Hira sebentar sebelum mengunjungi kantor Digitech.
"Bee," panggil Hira, suaminya itu banyak bergerak mengganggu kenyamanannya saja.
"Iya Sayang." Erfan mengelus-elus surai hitam istrinya, "tidur yang benar yuk, nanti sakit badannya." Ia membenarkan posisi berbaring Hira jadi di atas bantal. "Mau ikut ketemu Pak Hardiyata?"
"Iya." Sahut Hira antusias.
"Kamu istirahat di sini, Mas kerja di depan dulu ya Sweety." Ujar Erfan yang diangguki Hira. Syukurkan ibu hamil itu sedang tidak rewel sekarang.
Satu kecupan Erfan berikan sebelum meninggalkan istrinya. Pria itu memeriksa berkas-berkas yang ada di meja. Lalu beralih memeriksa email. Ia berkutat dengan kerjaannya sampai terdengar azan dzuhur berkumandang.
Erfan menyandarkan punggungnya sebentar sebelum mengajak istrinya sholat dan makan. Setelah merasa istirahatnya cukup ia masuk ke ruang istirahat, pemandangan yang dilihatnya Hira yang tertidur. Sedang ponsel masih menyala, drama Korea tetap berlanjut walau si tuannya tertidur pulas. Erfan geleng-geleng kepala.
Terpaksa Erfan membangunkan istrinya untuk sholat. Usai sholat mereka makan di luar lalu menuju gedung Digitech.
"Bee, bisa putar balik ke rumah sakit sebentar." Pinta Hira, padahal mereka sebentar lagi sampai di gedung bertingkat itu.
"Ada urgent Sweety? Kamu gak jadwal prektekkan?" tanya Erfan heran. Tapi tetap membawa mobilnya putar haluan.
"Enggak, Bee. Baru dapat kabar kalau hasil test DNA kamu sudah selesai."
"Cepat ya kalau ada orang dalam," kekeh Erfan.
"Kalau bisa masuk surga pakai orang dalam, mau juga deh, Bee." Sahut Hira dengan kekehan.
__ADS_1
"Dah sogok aja malaikatnya kalau bisa." Erfan mengusap puncak kepala istrinya, seraya tertawa kecil.