Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
58


__ADS_3

Guntur memapah tubuh Erfan sampai depan kamar, lalu mengetuk pintu.


"Ra, buka pintu cepat! Erfan perlu pertolongan." Panggil Guntur nyaring. Hira bergegas bangkit dari ranjang mengambil jilbab.


"Bee, kenapa dia Guntur." Pekik Hira saat melihat Erfan sangat berantakan.


"Ra, kamu layanin dia ya. Tadi ada yang bikin onar." Jelas Guntur, aku pamit dulu. Hira mengangguk, memapah Erfan ke kamar


"Sweety!!"


"Sweety!!"


Lirih Erfan lalu menubruk tubuh istrinya dengan lapar. Hira sampai bingung apa yang terjadi. Malam ini Erfan memakan istrinya dengan kasar untuk menuntaskan nafsunya. Sampai kesadarannya kembali, Hira meringis kesakitan di balik selimut. Perlakuan Erfan malam ini sangat berbeda dari biasanya.


"Sayang, maaf!" Erfan memeluk istrinya dengan penuh rasa bersalah.


"Ada apa?" Pertanyaan yang tak sempat ia ucapkan karena Erfan tidak memberinya kesempatan.


"Ada yang ingin menjebakku, memasukkan sesuatu dalam minuman." Jelasnya, beruntung ia langsung menghubungi Guntur. Kalau tidak entah apa jadinya.


"Kamu tidak kenapa-kenapa Bee?"


"Sekarang aku baik-baik aja Sayang, Guntur mengantarku pulang. Walau tubuhku masih panas."


"Minuman itu yang bikin kamu gini?"


Erfan mengangguk lemah.


"Astagfirullah, kamu sempat apa-apain perempuan?"


"Enggak Sayang, aku nelpon Guntur duluan sebelum ke toilet. Kamu percayakan? Kalau aku apa-apain perempuan mana mungkin bisa pulang saat begini."


"Kamu kasar banget, Bee."


"Maaf Sayang, maaf." Ia sudah menyakiti istrinya, memperlakukan dengan kasar. Hira mengusap punggung suaminya dengan sayang. "Sekarang masih panas, Bee."


"Masih." Lirih Erfan, ingin melanjutkan tapi tak tega melihat istrinya terluka karena kebuasannya. Ia berjanji akan memberikan pelajaran pada perempuan itu.


***


"Ressa, lo nginap di sini?"


Semalam Erfan memang meminta Ressa menemani Hira, tapi tidak tau kalau seketarisnya itu menginap.


"Hu'uh, bos tidak tau siapa perempuan di toilet itu?" tanya Ressa, ia sudah dapat kabar siapa orang yang menjebak bosnya dari Guntur.

__ADS_1


"Gue setengah sadar, Sa." Ressa manggut-manggut, ia kembali diam saat Hira bergabung di meja makan.


"Lo mau bareng gue atau Erfan, Ra. Mobil Erfan masih di hotel."


"Gue bareng Erfan aja Sa."


"Okeh, gue duluan kalau gitu." Ressa beranjak setelah menghabiskan sarapannya.


"Bee, masih gak enak badan?" Hira menempelkan punggung tangannya di kening Erfan. Tadi malam suaminya itu mengeluh kepanasan berkali-kali.


"Sudah baikan Sayang, Ra bisa gak kamu di rumah aja. Aku beneran khawatir." Erfan menahan tangan Hira di pipinya. "Ngerti ya Sayang, apalagi setelah aku ngenalin kamu sama semua orang kemaren."


"Bee, kerjaan ini mimpi aku."


Erfan tau menjadi dokter kandungan adalah mimpi Hira. Kalau boleh egois ia ingin menahan istrinya di rumah agar tidak kenapa-kenapa.


"Kamu janji hati-hati ya, kalau ada apa-apa telpon aku dan hubungi orang terdekat yang bisa nolong kamu." Masih pagi, tidak lucu kalau Erfan mencari keributan sekarang.


"Janji, akan jaga diri baik-baik."


***


Setelah mengantar Hira ke rumah sakit, Erfan berkunjung ke Emeral Corp untuk menemui Guntur. Ia ingin tau secara jelas kejadian tadi malam. Erfan sudah janjian saat Guntur mengantar mobilnya tadi pagi.


"Assalamualaikum." Erfan mengucapkan salam setelah mengetuk pintu, Guntur dan Tomi serentak menjawab salam. Ia duduk di sofa, Guntur dan Tomi mendekat.


"Refleks aja gue hubungin lo saat ngerasa aneh. Sudah tau siapa pelakunya, itu emang buat gue atau salah sasaran." Tanya Erfan to the point, "kalau emang tertuju buat gue berarti orang itu sudah jadi penguntit," lanjutnya.


"Sayangnya dalang semua ini adalah adik lo Fan." Guntur memberikan bukti pengakuan perempuan yang di toilet tadi malam. Tidak sulit bagi Tomi membuat gadis itu buka mulut.


"Astaghfirullah," Erfan baru ingat, ia belum sempat minta rekaman cctv di restoran depan taman.


"Ada masalah apa sama adik lo?" Tomi sejak tadi menatap Erfan dengan penuh selidik.


Erfan mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri menunjukkan catatan yang dibuat Fany.


Target :



Membuat Nana gila — gagal


Membunuh Bilqis — berhasil


Membunuh Hira — proses

__ADS_1


Salwa?



"Ini keinginannya." Guntur dan Tomi geleng-geleng kepala.


"Ternyata ada yang lebih parah dari keluarga kita." Guntur berdecak, musuh dalam selimut.


"Jadi kecelakaan calon istri lo merupakan pembunuhan berencana dan sampai sekarang belum terendus pelakunya." Tanya Tomi, Erfan menganggukkan kepala.


"Seminggu yang lalu gue dapat petunjuk, saat penyelidikan mungkin belum tersentuh. Sebuah cafe yang berada di depan taman, tapi gue belum sempat ke sana."


"Walaupun ada rekaman cctv di sana itu tidak akan menjangkau kejadian kecelakaan yang tepat di depan taman." Jelas Guntur


"Lo dapat petunjuk dari mana? Sedang dari rumah sakit saja tidak ada yang berguna." Tomi masih mengamati gerak-gerik Erfan yang sangat percaya diri.


"Dari mimpi, Bilqis bilang gue harus menjemputnya di depan cafe. Mungkin bisa saja ada kejadian yang gak gue tau sebelum kecelakaan, dan itu terekam jejaknya. Jadi bantu gue ambil rekaman cctv empat bulan yang lalu."


Tomi dan Guntur sama-sama diam, hal gila kalau masih percaya mimpi di jaman modern seperti ini.


"Setau gue gak ada cafe di depan taman." Guntur mulai berpikir, ia hapal daerah itu karena sering mengambilkan cake mama di toko Anindi.


"Ada, Anincake—toko cake yang sekaligus cafe." Jawab Tomi, Erfan juga belum terpikir kalau daerah sana tidak ada cafe, karena Anincake lebih dikenal cake-nya. Tomi memberikan laptopnya pada Guntur.


"Tanggal berapa kejadiannya?" tanya Guntur sembari memainkan jarinya, mudah saja kalau benar cafe yang dimaksud Anincake milik Anindi, istri Tomi.


"18, empat bulan yang lalu."


"Jamnya lo ingat?"


"Antara jam sembilan atau sepuluh." Erfan tidak tau pastinya jam berapa, ia datang saat Bilqis sudah ditangani.


"Gue lupa bentukan calon istri lo itu." Guntur memutar laptop memberikan pada Erfan. Sejurus Erfan melongo, "kalian meretas cctv cafe orang semudah itu?" Ucapnya takjub.


"Lo datang ke orang yang tepat, Anincake punya istrinya." Guntur menunjuk ke arah Tomi yang hanya diam. Erfan pun mengerti, matanya menatap rekaman itu dengan jeli. Tidak ada apapun di jam sembilan lewat di sana. Ia terus mempercepat sampai menemukan Bilqis yang sedang berjalan menuju ke dalam cafe. Gadis itu sedang menunggu seseorang di sana, panggilan telpon membuatnya kembali keluar dari cafe.


"Ada cctv yang mengarah ke jalan raya gak?" Tanya Erfan penasaran, ia ingin tau siapa yang membuat Bilqis meninggalkan cafe.


"Cari yang depan parkiran Tur, cctv di sana mengarah ke jalan raya." Ujar Tomi, ia hanya ikut mengamati rekaman, belum mengerti kejaadiannya. Guntur mencari rekaman lain di jam yang sama.


"Lo seprotektif itu sama istri Tom." Erfan pikir hanya dirinya yang sekhawatir itu dengan Hira.


"Anindi pernah mengalami hal yang lebih mengerikan dari Hira, beruntung traumanya tidak sama dunia luar." Jelas Tomi, "beda dengan Khalisa, dia hampir mirip dengan Hira." Lanjutnya. Erfan hanya manggut-manggut.


"Lo kenal mobil ini?" Pekik Guntur kaget, menunjukkan rekaman yang di dapatnya walau tidak terlalu jelas. Sebuah mobil menyerempet Bilqis, Erfan sangat hapal plat mobil itu. Kemudian setelahnya ada sebuah mobil tanpa plat yang melintas cepat membuat tubuh Bilqis terpental jauh. Erfan sampai meringis melihat kejadiannya setragis itu.

__ADS_1


Kejadian ini sama ketika Fany menabrak Elvina, untungnya Adnan cepat datang menolong istri Ken itu. Dari mana Fany dapat pemikiran sekeji ini.


Tomi dan Guntur masih menunggu jawaban dari Erfan yang terlihat syok.


__ADS_2