Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
77


__ADS_3

"Sweety..." Erfan membenamkan wajah di ceruk leher istrinya setelah melihat hasil test DNA. Ia tak tau apa yang dirasakan hatinya saat ini bahagiakah atau justru sedih. Semua campur aduk begitu sulit untuk ia jelaskan.


Hira paham dengan apa yang dirasakan suaminya. Ia hanya bisa memberikan pelukan untuk menenangkan Erfan.


Erfan mengurai pelukan setelah diam cukup lama, mereka masih berada di rumah sakit. Ia menggenggam tangan istrinya untuk meninggalkan tempat itu. Hira tak bisa menebak ekspresi yang prianya tampakkan.


Pria itu melajukan mobilnya kembali menuju gedung Digitech. Erfan masih betah dalam diamnya, Hirapun tidak mengganggu. Cukup berada di samping lelaki itu sampai suasana hati suaminya membaik.


Jam dua kurang sepuluh menit mereka sudah ada di tempat. Hanya Guntur dan Zaky yang datang ke Digitech, sesuai pembicaraan terakhir mereka. Apa yang Guntur katakan tadi waktu virtual meeting hanyalah bercanda.


"Kenapa suami lo Ra, kusut banget. Kayak kaset rusak." Tegur Guntur mereka bersama-sama menuju ruangan Hardiyata. Hira hanya mengendikkan bahu.


"Tadi oke aja deh. Gak kucel begini." Zaky meneliti Erfan dari ujung rambut sampai ujung kaki saat mereka berada dalam lift.


Erfan tak bergeming sampai mereka berada di ruangan Hardiyata. Lelaki paruh baya itu sudah menunggu di sana. Padahal Erfan tidak ada mengabari kalau mau ke sana.


"Zaky, Guntur. Lama tidak bertemu, bagaimana kabar Emran dan ibu kalian?" Hardiyata menyambut hangat menantu dan keponakan Emran itu. Mereka berbincang-bincang hangat sebelum membahas inti permasalahan.


"Baik Om, sehat juga. Kapan-kapan main ke rumah." Ujar Guntur.


"Si kembar gimana kabarnya? Istri Ghani baru melahirkan ya." Tanya Hardiyata lagi, ia lama tak melihat si kembarnya Emran itu.


"Sehat juga Om," jawab Guntur, "anak dan istri Ghani juga sehat."


"Syukurlah, kalian sudah makan siang? Kalau belum kita makan sama-sama dulu." Lelaki paruh baya itu seperti tidak memiliki beban. Padahal perusahaannya sedang mengalami masalah besar.


"Kami sudah makan siang, gak tau kalau Erfan sama Hira." Ujar Zaky melirik ke arah dua orang yang masih saling diam.


"Kamu sudah enakan Nak?" Hardiyata yang duduk di samping kiri Hira mengusap lembut kepala wanita itu. Sungguh ia memiliki harapan yang sangat besar dengan pasangan suami istri di depannya ini.


"Sudah Pak." Jawab Hira diikuti anggukan kepala.

__ADS_1


"Bee!" Hira menggenggam tangan suaminya, mengisyaratkan untuk bicara. Erfan berdehem sebelum mengeluarkan kertas yang dibawanya. Lalu meletakkan di atas meja amplop dengan logo rumah sakit yang sangat Zaky kenali.


Hardiyata membuka amplop itu dan membukanya dengan harap-harap cemas. Tidak ada yang tau perasaan pak tua itu selain tetesan bening yang terjatuh dari matanya. Kerinduan selama tiga puluh dua tahun itu kini usai sudah.


"Kamu benar masih hidup Nak?" Hardiyata mendekati putranya. Memeluk buah hatinya dengan penuh kerinduan, Erfan membalas pelukan itu. Sekali lagi Erfan tidak tau apa yang hatinya rasakan sekarang. Semua campur aduk, walau sudah tau kemungkinannya.


Zaky dan Guntur akhirnya mengerti akan hal yang sudah membuat Erfan diam sejak tadi. Mereka ikut terharu dengan perjumpaan ayah dan anak yang sudah lama terpisah.


"Papa gak tau harus bicara apa, Nak." Ujarnya sambil menyeka air mata. "Ini hadiah yang sangat indah, Allah mengembalikan anak Papa sekarang dengan bonus menantu dan calon cucu." Ucapnya lagi masih dalam pelukan putranya. Hira mendonggakkan kepala agar tidak ikut menangis. Ada luka yang suaminya rasakan. Apalagi setelah mengetahui orang yang sudah membesarkannya selama ini yang menjadi penyebabnya.


"Mama pasti senang, Nak. Mama yang paling terpukul atas kehilanganmu. Mamamu hampir gila saat tau kamu hilang." Ujar Hardiyata sendu, mengingat saat-saat di mana istrinya menangis dan histeris setiap saat.


"Aku sudah pulang, Pah." Erfan menyeka air mata yang jatuh di pipi renta itu. Hardiyata mengangguk, bukan saat yang tepat untuk melepas rindu sekarang.


"Kalian ke sini ada keperluan apa?" Tanya Hardiyata pada Zaky dan Guntur setelah berhasil mengendalikan dirinya. "Maaf, kalian jadi nonton drama kami." Ujarnya sambil tersenyum. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa.


"Kami mau mencek bagian IT, Om. Kalau diizinkan." Jawab Zaky.


"Tunggu di sini ya Sweety." Erfan mengecup kening istrinya sebelum beranjak.


Hardiyata membawa tiga pemuda itu menuju Divisi IT yang berada di lantai lima.


"Siang Pak." Semua karyawan yang ada di ruangan itu menyapa Hardiyata. Pertama kali bos besar mengunjungi tempat kerja mereka.


"Siang, bagaimana? Sudah ada perkembangan?" Tanyanya, yang mendapat gelengan kepala. Hardiyata tetap tenang tersenyum menanggapinya.


"Kalian bisa kembali bekerja, tolong siapkan tiga meja untuk mereka," lanjutnya.


Tiga pemuda itu duduk di tempat dengan menatap layar komputer masing-masing yang ada di depannya. Bersinggungan dengan dunia bisnis membuat tiga orang itu harus mengerti dengan sistem keamanan. Walau bukan ahlinya sedikit banyak mereka mengerti.


"Perkuat keamanan, Zak." Titah Guntur, jemarinya sudah bermain di atas keyboard memasukkan kode-kode yang berasal dari angka dan huruf. Zaky mengangguk, mengakses cyber security.

__ADS_1


"Fan, tau apa yang harus lo lakukan?" Erfan hanya menyeringai licik sebagai jawaban atas pertanyaan Guntur. "Jangan ambil bagian gue," lanjutnya.


Setelah berjam-jam berada dalam ruangan itu melakukan uji coba. Situs resmi perusahaan berhasil dipulihkan. Guntur tersenyum puas, tapi ada yang mencurigakan dengan senyuman itu.


"Lo kenapa?" Desis Erfan, seolah bisa membaca isi kepala Guntur.


"Gue habis retas balik Wijaya Corp." Sahutnya sambil menyeringai licik.


"Gila.." gumam Zaky menoyor kening iparnya.


"Sekali-sekali kasih pelajaran." Ujarnya santai sambil melenggang pergi dari ruangan. "Thanks you, semuanya." Guntur melambai-lambaikan tangan pada semua karyawan yang ada di sana.


Hardiyata sudah lama kembali ke ruangan karena istrinya datang menemani Hira di sana. Sekarang hampir maghrib, tadi mereka hanya break saat sholat ashar. Itupun bergantian.


"Bisa miskin Papi gue Tur, gara-gara ulah lo." Erfan berdecak, si empunya hanya mengendikkan bahu tak peduli.


"Ngapain banyak harta, nanti masuk penjara juga." Jawabnya santai, sungguh seperti bayi yang tanpa dosa.


"Mereka tetap perlu mendatangkan pakar IT Fan, yang kita lakukan tadi hanya pertolongan pertama." Ujar Zaky, mengabaikan Guntur yang sudah hilang kewarasannya.


"Iya, bisa saja yang mereka lakukan besok-besok lebih mengerikan." Ujar Erfan menanggapi.


"Gimana nasib Mami lo?"


"Entahlah Zak, gue bingung mau bersikap gimana." Erfan mendesah berat, mereka bertiga memasuki lift. Ia memikirkan istrinya yang pasti bosan menunggu. "Makin ke sini gue makin gak ngerti."


Zaky menepuk bahu Erfan untuk memberikan kekuatan, kalau ia yang jadi Erfan mungkin juga akan bingung dihadapkan situasi yang seperti ini.


"Lo punya kami Fan, jangan sungkan kalau butuh bantuan."


"Thanks Zak."

__ADS_1


__ADS_2