
Sampai siang Hira tidak mendapati Erfan mengunjunginya lagi. Pagi tadi juga tidak datang. Hira berusaha melakuan semuanya sendirian. Makan sendiri, hanya ke kamar mandi ia minta bantuan perawat.
"Papamu kenapa sih Nak, masa ikutan pergi juga." Lirih Hira seolah berbicara dengan anaknya yang sudah tidak ada. "Kalau mama ada salah papa bisa kasih taukan. Gak didiemin gini."
"Sendirian, Sayang?" Pertanyaan Btari, menyentak Hira dari lamunannya. Ayah dan ibu mertuanya baru datang.
"Iya Mah."
"Erfan mana?" Hira menggeleng, ia juga tak tau Erfan kemana. Sejak semalam tidak ada kabar.
"Kamu sendirian dari tadi malam?" tanya Hardiyata memastikan, melihat ruangan yang berantakan. Sampai ada buah yang terjatuh.
"Iya Pah, Erfan banyak kerjaan." Bohong Hira, suaminya itu tak memberi kabar apa-apa.
"Walau banyak kerjaan gak sampai nelantarin istri juga." Kesal Hardiyata, "bantu Hira bersih-bersih Mah."
"Ayo, Sayang biar Mama yang jaga kamu." Btari menuntun Hira ke kamar mandi. "Kalian berantem?" Tanya Btari lembut setelah membantu menantunya sampai kamar mandi.
"Enggak Mah, sore kemaren Erfan datang sebentar langsung pulang. Aku minta peluk juga bilangnya capek." Lolos sudah air mata yang Hira tahan sejak semalam. "Aku gak tau salah apa, Mah."
Btari memeluk menantunya dengan sayang. Ia juga belum mengenal dekat putranya, jadi tidak tau apa yang terjadi.
"Sabar ya Sayang, ada Mama yang jagain kamu." Hira hanya bisa mengangguk.
Setelah bebersih dan berganti pakaian badan Hira lebih segar. Mama papa mertuanya pamit pulang, katanya nanti kembali lagi.
Lagi-lagi Hira hanya berteman sepi sendirian. Bicara sendiri dan melakukan semuanya sendiri dari tempat tidur.
Sampai sore Erfan tak kunjung datang menjenguk. Hira cemas, ponselnya habis baterai. Tak biasanya Erfan bersikap seperti ini.
"Kamu kenapa sih, Sayang. Kalau aku salah dikasih tau dong."
Jadilah Hira hanya menatap langit-langit kamar seharian. Mama papa juga belum ada datang.
"Sudah makan?" Suara yang sangat Hira kenal terdengar juga. Suaminya itu berdiri di depan pintu.
"Sudah, Bee kamu marah?" Erfan tidak mau mendekat padanya, langsung duduk di sofa. Lelaki itu tak bergeming, sungguh membuat Hira bingung.
"Kenapa sih Bee? Kalau gak mau ngurusin aku ya gak papa." Hira pasrah sajalah, bicara juga akan memperkeruh suasana. Ia cuma butuh dipeluk dan disayang seperti biasa.
Lama dalam diam, Hira melihat Erfan keluar ruangan. Suaminya itu benar-benar pulang. Hira menggeleng pelan, tidak mengerti dengan keanehan suaminya sendiri.
__ADS_1
Beruntung mertuanya datang menemani malam ini. Jadi Hira tidak kesepian sendirian.
"Mama Papa gak papa nginap di sini? Aku gak papa kok sendirian kayak kemaren." Ucap Hira sambil tersenyum, ia tak boleh terlihat lemah.
"Gak papa, siapa lagi yang kami jaga kalau bukan kamu." Ujar Btari duduk di kursi samping brankar menantunya.
"Erfan ada datang?"
"Ada tadi bentar Mah, gak ada ngomong langsung balik lagi." Hira masih berusaha menyunggingkan senyumannya.
"Ya sudah gak papa, nanti baik sendiri."
Semoga saja, kalau Erfan tidak mau bicara sampai ia sembuh. Hira akan kembali ke apartemen saja. Gak enak menyusahkan mertuanya. Nanti dikira Hira mau warisannya.
Dua hari tidak mendengar suara lembut Erfan rasanya sangat rindu. Hira tersenyum mengingat bagaimana Erfan mendandaninya. Ia tak tau apa yang membuat Erfan jadi berubah dingin.
***
Dua malam sudah Erfan tidur sendirian. Istrinya itu seolah tak punya salah membuat ia jijik melihatnya. Sudah ketahuan selingkuh masih saja pura-pura polos.
"Pagi Mas, sudah sarapan?" Sapa perempuan cantik yang duduk di depannya.
Salwa hanya tersenyum sebagai jawaban. "Kita sarapan bareng, mau?"
"Ayo."
Kebetulan Erfan belum ada makan dari semalam. Kalau ada teman makan mungkin nafsu makannya bisa kembali.
Gadis itu mengangguk mengikuti Erfan berjalan keluar ruangan. Ternyata tidak perlu susah payah menarik perhatian lelaki itu. Cukup buat berjarak dengan istrinya, batin Salwa.
"Gimana kabar istri Mas?" Tanya Salwa basa-basi.
"Baik." Jawab Erfan singkat, ia akan mengikuti peran yang dimainkan Salwa dan Mami Reny. Sejauh mana mereka akan berusaha. "Mau sarapan di mana?"
"Apa aja deh yang dekat sini."
"Makan di samping gedung ini aja, ada nasi kuning enak. Kamu suka nasi kuning?" tanya Erfan.
"Suka, boleh deh." Jawab Salwa antusias, ia pikir Erfan itu susah ditaklukkan. Ternyata segitu saja pertahanannya melihat perempuan cantik. Gadis itu menyeringai licik.
***
__ADS_1
Seminggu dirawat, luka di perut Hira sudah mengering. Dokter sudah memperbolehkannya pulang. Hira pulang ke apartemen, tidak ke rumah mertuanya.
Erfan ada satu kali mengunjunginya sebelum Hira pulang. Itupun tak ada bicara apa-apa, ya sudah ia tak bisa memaksa orang bisu bicara.
Hira memanggil cleaning service online untuk membersihkan apartemennya. Tempat ini sudah lama tidak ditinggali, sejak ia menikah. Ia juga minjam Bi Atun untuk membantu di rumah. Nyari asisten rumah tangga butuh waktu, jadi pinjam yang ada sajalah.
"Bibi gak papa bantu Hira di sini?" Hira memastikan kembali, jangan sampai ia di marahi Erfan gara-gara mengambil asisten rumah tangga milik suaminya.
"Gak papa Non."
"Bi, jangan panggil gitu dong. Hira gak enak. Aku bukan orang kaya." Ujar Hira terkekeh geli.
"Non Hira sudah sehat?"
"Alhamdulillah sudah Bi. Aku istirahat dulu ya Bi. Bibi kalau mau tidur di sini juga gak papa." Ujar Hira, Bi Atun berapa kali dikasih tau tetap saja manggilnya begitu, terserah bibi sajalah.
"Iya Non, Bibi masak dulu."
Hira mengangguk lalu beranjak ke kamar. Seminggu ini Hira berusaha kuat sendiri, ia tidak ingin saat menangis ada yang melihatnya.
"Kangen banget Bee. Dipaksa berpisah itu berat ya, Bee. Memang dari awal aku tidak pantas mendampingimu." Hira menatap foto liburan bersama Erfan waktu di pantai Derawan.
"Kesalahpahaman bisa selesai kalau saling bicara. Kalau kamu memilih diam, aku bisa apa Bee." Hira menarik napas berat lalu menghembuskannya. Ia ulangi berkali-kali sampai dadanya terasa lebih lega.
"Kamu marah kenapa sih, Bee." Hira menekan nomor Erfan lalu menelponnya.
"Ya. Apa?" Terdengar suara Erfan setelah telepon tersambung. Alhamdulillah dijawab, batin Hira.
"Aku sudah pulang, Bee. Boleh aku ketemu?" Pinta Hira harap-harap cemas, ia tetap berusaha mendekati Erfan walau suaminya terus menjauh.
"Aku sibuk."
"Oh, ya sudah. Jaga kesehatan Bee." Sambungan telepon langsung terputus. Sudah tidak ada lagikah perasaan sayang Erfan padanya.
Kenapa sakit banget, dengar suami sendiri ngomong judes begitu. Hira tersenyum lalu berusaha memejamkan mata.
Setiap hari Hira berusaha menelpon Erfan, kadang dijawab, kadang dicueki. Kalau dijawabpun hanya sepatah dua patah kata yang keluar dari mulut suaminya.
Hira berusaha mengingat-ingat kesalahannya. Ia beneran tidak ingat apa, tidak tau apa salahnya. Terakhir Erfan menyuapinya makan sebelum berangkat kerja. Tapi mereka tidak bertengkar hari itu.
Yang Hira ingat suaminya itu berkata, "Cinta banget sama istriku ini, gak mau jauh-jauh." Hira tersenyum miris, nyatanya mereka sekarang semakin menjauh. Tak ada lagi pelukan hangat, sapaan dan ucapan cinta.
__ADS_1