
Sepulang dari rumah sakit sampai sekarang Hira tidak banyak bicara. Erfan tau istrinya itu punya cara tersendiri untuk mengatasi emosinya. Lebih sering diam kalau sedang banyak pikiran.
"Sweety..." Hira mengerjap menoleh ke arah suaminya lalau tersenyum.
"Iya Bee."
"Mikirin apaan sih, serius banget." Erfan beringsut ke sisi Hira ikut bersandar di kepala ranjang.
"Bee..."
"Hm..."
"Bee..."
"Hm..."
"Bee..." Hira memajukan bibirnya karena kesal Erfan sudah jadi limbad. Gak keren banget, ganteng-ganteng tapi berguru sama limbad. Kan Serem.
"Iya Sayang, mau ngomong apa sih." Erfan menyunggingkan senyuman menarik Hira dalam pelukan. Tadi ia sengaja menggoda Hira agar cemberut.
"Lagi bete..."
"Sama siapa?"
"Sama kamu, Bee!"
"Kok sama Mas sih Sayang, 'kan aku gak ngapa-ngapain." Erfan menyelami setiap detail wajah Hira yang menggemaskan. Gadisnya ini selalu bisa membuatnya jatuh cinta setiap hari. Terpisah sehari saja rasanya tak rela, ingin Erfan membawa Hira selalu dalam kantong ajaibnya.
"Mikirin apa Sayang, ayo cerita nggak boleh dipendam sendirian."
Hira menggelengkan kepala lalu tersenyum cengengesan, "cuma mau dipeluk aja."
Erfan membulatkan mata "bisa banget bikin orang khawatir ya." Ia mencubiti pipi istrinya dengan gemas.
Tidak ada hal yang membuatnya sebahagia ini selain saat bersama Erfan. Hira sangat beruntung memliki suami yang sangat pengertian dan perhatian seperti Erfan. Hanya Erfan yang bisa membuatnya merasa sangat di sayangi.
"Aku beruntung banget punya suami ganteng gini."
"Aku lagi dapat pujian nih dari istri sendiri." Erfan menggigit jari telunjuk Hira dengan gemas.
"Emang ganteng kok." Hira mengangkat tangannya membelai rahang kokoh Erfan dengan lembut. "Ganteng banget malahan," pujinya.
"Hm, iyain aja deh. Baru sadar kalau suaminya ganteng." Goda Erfan balik, senyumnya merekah melihat bibir yang dimonyong-monyongkan istrinya.
__ADS_1
***
Erfan memijat pelipisnya, ia sudah menyelidiki pengirim surat itu sampai minta bantuan Guntur cs, tapi belum ada hasilnya. Ia juga menyelidiki Om Wisnu tapi nihil.
Siapa yang iseng mengirim surat padanya? Dan darimana mereka dapat foto bayi itu. Argh, Erfan menghela napas panjang.
"Bos, sudah ditunggu di ruang meeting." Info Ressa, seketarisnya.
"Thanks Sa."
Erfan menutup laporan yang tadi diceknya. Ia beranjak menuju ruang meeting yang ada di lantai dua. Gedung EXTNET Indonesia hanya memiliki lima lantai. Ruangannya ada di lantai lima, khusus untuk para petinggi.
Ia tak pernah tersenyum kalau sedang berada di ruang meeting atau bertemu relasi bisnis. Ekspresinya dingin, sulit untuk disentuh. Erfan hanya akan berbicara seperlunya tak banyak basa-basi.
Erfan memaparkan presentasinya pada para perwakilan perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan EXTNET.
"Banyak perusahaan yang menawarkan ERP di Indonesia. Apa yang bisa menjadi nilai plus dari ERP EXTNET?" tanya salah satu perwakilan perusahaan lain. Tanpa senyum Erfan menjelaskan dengan lugas.
"ERP EXTNET bisa menargetkan dari yang kecil, medium sampai besar. Kami memberikan harga mulai dari Rp 1,5 juta. Ini termasuk harga yang standar, masih bisa di jangkau oleh para UKM di Indonesia."
"ERP EXTNET juga sudah disesuaikan dengan akuntansi Indonesia, dapat dikostum dan kami memberikan dukungan pelanggan. Tim kami juga akan memberikan pelatihan untuk user." Setelah tidak ada pertanyaan lagi Erfan mengakhiri meetingnya.
"Jika ada hal lain bisa hubungi seketaris saya." Ujarnya, ia beranjak dari ruang meeting setelah para relasi bisnisnya satu persatu meninggalkan ruangan.
"Ya."
"Bisa minta waktunya sebentar Mas?"
"Lima menit, Ressa tunggu di depan ya." Katanya pada sang seketaris.
"Soal permintaan Mami, Mas. Aku tau kamu gak pernah setuju dengan itu. Aku juga." Ujar Salwa, perempuan yang berusia lima tahun lebih muda dari Erfan. Adik dari mendiang Bilqis. Mereka sama-sama cantik, hanya saja fashion Salwa sangat berbeda dengan kakaknya.
"Lalu?"
"Aku ingin bebas tanpa paksaan."
Erfan menghela napas panjang, seolah ia telah menjerat perempuan itu.
"Salwa, aku tidak bisa membantumu apapun. Kamu harus berani memberontak jika tidak ingin dikekang. Dan satu lagi, aku tidak pernah menjeratmu."
"Bukan, bukan begitu maksudku. Aku mau minta tolong. Bisakah Mas membantuku untuk mendapatkan perlindungan. Maksudnya gini jangan salah paham dengan kata perlindungan yang kumaksud." Salwa mengisi paru-parunya dengan udara yang banyak. Ia harus melakukan ini agar bisa selamat. "Setiap hari aku diikuti orang dan mendapatkan surat-surat yang memintaku menjauhimu, Mas. Padahal kita tidak pernah dekat."
"Oke." Jawab Erfan tanpa pikir panjang, ia tau siapa pelakunya. "Ressa, siapkan dua pengawal untuk dia."
__ADS_1
"Yes Bos."
Erfan meninggalkan Salwa, kembali keruangannya. Kepalanya semakin pusing, satu masalah saja belum selesai malah nambah lagi. Padahal Fany dan Azmy sudah ditahan, lalu siapa yang melakukannya. Apa itu artinya Fany memiliki anak buah.
Pusing memikirkan masalahnya, Erfan kembali bergelut dengan laporan dan memeriksa proposal-proposal kerja sama. Tian sedang di panggil Xeon ke London. Jadi pekerjaannya bertambah sekarang.
"Bos, ini dokumen yang tadi diminta." Ressa meletakkan dokumen yang dibawanya ke meja Erfan. "Nyonya ada di depan, gak mau disuruh masuk." Lanjutnya dengan kekehan kecil.
"Sama supir?" Erfan sudah memberikan supir untuk istrinya itu. Agar bisa mengantar kemanapun kesayangannya itu mau, kalau ia sedang sibuk.
"Naik ojek."
Erfan geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya. Dikasih enak malah panas-panasan naik ojek. Ia beranjak keluar ruangan diikuti Ressa. Istrinya itu sedang santai duduk di kursi seketarisnya.
"Sweety, kenapa gak bilang, hm." Hira hanya tersenyum cengengesan, "Sa, gak ada meeting lagikan?"
"Nggak ada bos." Pria itu mengangguk, membawa istrinya masuk keruang istirahat.
"Kalau bilangkan Mas bisa jemput, atau supir yang jemput. Gak pake panas-panasan gini." Omelnya setelah mendudukkan sang istri di sofa, lalu mengambil tisu basah untuk membersihkan wajah Hira.
"Kangen." Cicitnya, Erfan bisa apa. Mau marah-marahpun tak kuasa.
"Taukan bahayanya kalau sendirian di luar, Sayang." Tegur Erfan lembut, hanya ia yang khawatir. Istrinya ini tenang-tenang saja. Apalagi yang diucapkan Salwa tadi, perempuan itu di teror. Bisa saja ada yang mengikuti Hira juga.
Hira hanya mengangguk, memeluk suaminya erat. Ia sangat rindu dengan suaminya, sampai meninggalkan rumah sakit lebih awal. Hari ini tidak ada jadwal operasi, pasien juga sepi jadi bisa Hira tinggal.
"Anak Papa lagi kangen banget ya." Erfan mengusap perut istrinya yang masih datar. "Cuci muka dulu Sweety, Mas temani istirahat."
"Kamu gak kerja, Bee?"
"Nanti, kerja dari sini bisa. Ayo cuci muka dulu, sekalian ganti piyama biar gak gerah." Sedetail itu Erfan memperhatikan Hira. Ia mengambil laptop di ruang kerja, setelah istrinya beranjak ke kamar mandi.
"Sa, gue ada di kamar ya. Telpon kalau ada urgent."
Ressa mengangkat jempol tangannya, "siyap bos."
Erfan kembali ke ruang istirahat yang sudah di sulap menjadi kamar hotel itu. Istrinya sudah duduk bersandar di tempat tidur.
"Tadi ada operasi, Sweety."
"Gak ada, Bee. Berasa lelah aja, pengen cepat-cepat ketemu kamu," ucapnya manja.
"Nyender di sini ya, Mas nyambi kerja." Erfan menarik kepala Hira untuk bersandar di bahunya. Baru saja Erfan membuat posisi bumil itu nyaman ponselnya berbunyi. Segera ia angkat, pasti urgent batinnya.
__ADS_1