
Keesokan harinya Erfan tidak langsung membawa Hira pulang, tapi malah mengajaknya liburan ke Pantai Derawan. Tempat wisata yang berada di Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Agar bisa sampai ke Pulau Derawan lebih cepat, Erfan memilih jalur udara. Ia sudah menyiapkan tiket penerbangan ke Tarakan selanjutnya mereka akan menaiki speedboat. Hira akan sangat senang dengan kejutan ini. Ia belum memberi tahu gadisnya itu. Semuanya sudah Erfan rencanakan dengan matang sejak berpisah dengan Hira tadi malam.
"Hira sudah bangun?" Erfan mengetuk kamar hotel yang di tempati Hira. Ini masih pagi ia sudah mengganggu Hira. Gadis itu membuka pintu, sudah berpakaian rapi. "Ayo siap-siap!"
"Mau kemana?" Tanya Hira bengong.
"Kita akan melihat surga dunia." Erfan mengerlingkan mata, Hira mencebik mengambil tasnya. Saat kabur ia hanya membawa satu tas ransel. Erfan langsung menghentikan taksi untuk membawa mereka menuju bandara.
"Kita pulang sekarang?" Hira tampak kecewa, ia masih ingin berada di kota ini dan bertemu temannya. Karena Erfan rencananya jadi berantakan.
"Kenapa cemberut?"
"Masih mau di sini, belum mau pulang." Hira mengembungkan kedua pipinya. Bikin Erfan jadi tambah gemas.
"Pipinya kenapa digituin Sayang, mirip ikan buntal." Erfan terkekeh kecil.
Tunggu, tadi Erfan panggil apa? Sayang. Kata keramat yang sangat pasaran. Hira sering dengar Ringgo mengatakannya. Kenapa jadi terasa membahagiakan kalau Erfan yang mengatakan. Ini juga pipi kenapa jadi memanas gak bisa diajak kompromi banget, Hira jadi malu-maluin.
"Kita gak pulang, kita mau ke Pantai Derawan." Lanjut Erfan, sekarang mereka sudah tiba di bandara Sepinggan.
"Beneran?"
__ADS_1
Pekik Hira girang, Tidak salahkan Hira kabur ke kota ini, bisa dapat liburan gratis. Bukan gratisnya yang penting, siapa yang mengajak itu lebih penting. Hira merasakan sangat bahagia, menerima Erfan ternyata mampu membuatnya sebahagia ini.
"Ngapain bohong, nih!" Erfan menunjukkan ticket dan segera membawa Hira untuk check in. Hira melirik flight Balikpapan ‐ Tarakan jam tujuh pagi.
Pantai Derawan, mimpi apa Hira semalam. Kalau sendirian ia mana berani berangkat ke sana. Konon katanya, tempat itu adalah surga tersembunyi yang harus dinikmati dan dikunjungi. Pantas saja Erfan bilang mau lihat surga dunia.
Setelah satu setengah jam mereka tiba di bandara Juwata Tarakan. Dalam pesawat Hira terus mengoceh, Erfan hanya sesekali menanggapi celotehannya lebih banyak mendengarkan.
Kalimat yang membuat Hira mendadak memiliki sebuah taman di perut adalah 'kita akan menikahi sepulang pulang dari sini'. Ah, Erfan semengagumkan itu, bisa melakukan segala sesuatu dengan sesuka hati menurut Hira.
Sekarang mereka menuju Pelabuhan Tengkayu, yang ditemput selama setengah jam perjalanan dari bandara. Selanjutnya mereka akan naik speedboat ke Pulau Derawan yang menghabiskan waktu Empat jam perjalanan.
Erfan mengulas senyum melihat wajah Hira yang lelah saat sampai di Pulau Derawan. Lelah gadisnya itu terbayar sudah saat melihat sekeliling resort. Ia mengajak Hira makan dan istirahat sebentar. Sore nanti ia akan mengajak Hira berkeliling di sekitar Pulau Derawan.
"Bahagia?" Pertanyaan macam apa itu, jelas Hira sangat bahagia sekarang.
"Kalau jawabannya gak bahagia gimana?" Goda Hira dengan usil. Mereka sedang menunggu sunset yang turun sambil menikmati momen berdua. Mereka belum pernah bicara dari hati ke hati sebelum hari ini.
"Kita menikah sekarang juga." Erfan balik menggoda, senyuman di bibir Hira tak berhenti terukir. Itulah kebahagian Erfan, bahagia melihat orang yang sudah merebut hatinya bahagia.
Malamnya Erfan membawa Hira berburu penyu hijau karena di sini ada penangkaran penyu hijau. Wisatawan bisa melihat bagaimana proses penyu hijau bertelur hingga telur itu menetas. Biasanya penyu-penyu ini akan menetas setelah 50 hari. Hira seperti tidak ada lelahnya, Erfan saja sudah sangat lelah. Padahal besok masih banyak waktu yang bisa mereka gunakan untuk bersenang-senang.
Setelah sholat subuh Erfan sudah mengajak Hira berkeliling sembari menanti sunrise. Harusnya Erfan mengajak Hira ke sini setelah menikah, tapi terlanjur Hira kabur duluan jadi momennya bukan bulan madu deh.
__ADS_1
Erfan menyewa speedboat untuk mengelilingi keindahan Pulau Derawan dari sudut ke sudut. Spot diving dan snorkeling menjadi salah satu spot yang tidak boleh mereka lewatkan. Erfan dan Hira tidak akan melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengan berbagai macam terumbu karang. Konon katanya ada terumbu karang yang langka di pulau ini.
Tiga hari rasanya kurang bagi Hira berada di pulau ini, hari ini mereka sudah harus kembali. Erfan bilang ada kejutan lain yang sudah menanti saat mereka kembali. Ia tak mau banyak berpikir. Pria yang bersamanya ini sudah terlalu banyak memberikan kejutan dihidupnya.
Hira sudah berburu oleh-oleh, kalau Ressa tau pasti akan marah karena ia gak ngajak-ngajak liburan. Semua souvenir yang ditawarkan di pulau ini merupakan hasil karya warga Suku Bajou. Warga Suku Bajou adalah warga yang sangat ramah-ramah. Hira dapat merasakan kentalnya persaudaraan meskipun mereka baru saling mengenal.
"Kok rasanya cepat banget, masih pengen di sana." Rengek Hira, mereka sekarang sudah berada di bandara Sepinggan. Bersama Hira selama tiga hari Erfan seperti baru mengenal gadis itu. Tingkahnya, manjanya sangat berbeda dari yang selama ini Erfan kenal.
Selama ini begitu banyak sisi lain yang Hira sembunyikan dari orang lain. Gadis itu hadir sebagai pribadi yang bukan dirinya sendiri saat menjalani hari-hari. Erfan baru mengetahui itu.
"Nanti kalau kita udah halal liburan lagi. Gak enak jalan-jalan tapi gak bisa meluk sesuka hati." Hira mencebikkan bibirnya. Erfan selalu gemas melihat wajah imut itu.
"Yakin bisa ke sini lagi?" Kata Hira seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"InsyaAllah, kalau ada waktu kita balik ke sini lagi rame-rame, pasti serukan." Bujuk Erfan
"Humm."
Bukannya Erfan gak mau berlama-lama di pulau itu bersama Hira. Ia takut khilaf karena tidak bisa menahan diri melihat kemanjaan gadis itu. Salah ternyata label Dokter Jutek yang Erfan patenkan pada Hira. Gadisnya itu sangat manja. Ingat seperti saat Hira sedang kumat, begitulah kurang lebih rengekannya kalau menginginkan sesuatu tidak mau berhenti sebelum dituruti.
Setiap hari minta diving dan berkeliling menggunakan speedboat. Kayak speedboat punya emaknya aja, untung Erfan kaya. Kalau gak, bisa pulang jalan kaki karena kehabisan modal.
Tuh masih ngambek karena diajak pulang. Gak tau gimana susahnya Erfan menahan diri agar tidak memakan tuh gadis manja saat mereka berduaan saja. Salah Erfan yang menyusul Hira sendirian. Kalau ia mengajak Ressa mungkin tidak sesulit ini menahan diri. Selama tiga hari mereka bersama setan sudah ambil bagian walau mereka tidak tinggal dalam satu kamar.
__ADS_1
Tekad Erfan sudah bulat untuk segera menghalalkannya. Sekarang Hira tertidur pulas di bahunya, sebentar lagi mereka sampai. Gadisnya kelelahan sehingga tak mampu berceloteh ria lagi.