
Hira merasakan ada hal yang aneh, ini sudah akhir bulan tapi ayah tidak ada menghubunginya untuk pulang. Pernikahan harusnya diadakan lusa, apa mungkin ayah sudah membatalkan niatnya karena sadar itu akan menyakiti putrinya sendiri.
Seminggu sudah Erfan pergi ke London, ia tidak tau apa sebenarnya pekerjaan pria itu di sana. Hira dipaksa tinggal di rumah abi Nazar bersama Ressa. Pihak rumah sakit juga mengeluarkan surat pembebasan tugas. Semua kejadian yang tidak bisa ia mengerti.
Campur tangan Erfan sudah pasti, seberapa besar kekuasaan pria itu sampai bisa melakukan banyak hal sesuai kehendaknya.
Memikirkan kejadian-kejadian yang sangat rumit membuat Hira pusing. Ia harus tinggal di rumah orang semua gara-gara Erfan. Hira tidak boleh keluar sebelum dapat izin Abi Nazar, juga harus bersama pengawal. Bagaimana sebenarnya jalan pikiran Erfan itu.
"Mikirin apaan?" Ressa muncul dibalik kursi taman, "bos Erfan? Jangan dipikirin, nanti juga balik orangnya." Celetuknya.
"Gue gak enak Sa tinggal di sini, kita kabur aja yuk. Ketempat yang jauh tidak terjangkau oleh makhluk hidup."
"Ke planet Mars maksud lo? Bego banget sih, kemanapun lo pergi pasti bisa mereka temukan. Emang lo punya banyak uang buat bertahan hidup nanti, belum lagi emak tiri lo yang ngoceh minta dibeliin inilah, itulah." Kalimat yang diucapkan Ressa memang gak enak buat di dengar telinga, tapi semua ada benarnya juga.
"Nelangsa banget sih hidup gue." Hira memain-mainkan kakinya di atas tanah. Mengingat perjuangan hidupnya yang berat sekarang harus berakhir ditangan orang yang punya kuasa. Kenapa ia harus kenal Erfan kalau akhirnya terpenjara batin seperti ini.
"Lo tau Sa, tiga setengah tahun gue jalanin buat dapat gelar sarjana kedokteran. Entah cuma berapa jam sehari gue bisa tidur demi bisa tetap bertahan hidup. Satu setengah tahun gue habisin buat koas, belum lagi buat dapetin STR perlu satu tahun Sa, ditambah ngambil spesiallis empat tahun. Sepuluh tahun Sa, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar gue jalanin sendirian. Dan sekarang berakhir di sini. Sesuka hati rumah sakit memberikan gue surat seperti itu." Curhat Hira, sekarang ia merasa tidak berguna. Segala usahanya selama ini sia-sia.
"Hm... maaf..."
Sejak kapan suara Ressa berubah jadi berat, Ressa gak bertukar roh secepat inikan. Hira menoleh, lalu meneguk ludah. Erfan memberikan senyuman yang paling manis padanya. Pria yang sudah seminggu tidak dilihat Hira, ada rasa rindu saat mereka tidak bertemu.
__ADS_1
"Kok Ressa berubah, dia pakai sulap apa?" Kata Hira untuk menetralisir jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.
"Mau pergi dari sini?" Pria itu bertanya dengan sangat lembut. Erfan tidak pernah berkata-kata kasar lagi pada Hira. Entah malaikat apa yang merasukinya, jadi bisa berubah drastis.
"Emang boleh?" Tanya Hira balik.
"Boleh, asal perginya sama gue. Tapi kita menikah dulu sebelum pergi, mau?" Hira menggeleng cepat, ia tidak bisa menikah dengan Erfan. Pasti sebentar lagi ayah akan menikahkannya dengan duda itu.
"Kenapa menggeleng? Gak mau pergi apa gak mau menikah?" Erfan memainkan alis turun naik dan tersenyum miring.
"Gak mau menikah sama lo!" Tegas Hira dengan judes, kemudian meninggalkan taman. Lama-lama duduk berdua dengan Erfan bisa membuat pertahanannya lumpuh. Pria itu menatap punggung Hira yang menghilang.
Kenapa judes lagi, Erfan baru merasakan bahagia karena bisa melepas rindu. Seminggu berlalu sangat lama karena selalu terbayang wajah Hira. Wajah yang sendu ketika sedang menangis dan tidak mau lepas dari pelukannya. Ia rindu itu, sekarang Hira sudah lebih baik. Tidak akan ada kesempatan bisa memeluk Hira lagi, Erfan tersenyum kecut.
***
Abi Nazar mengizinkan Hira pulang kampung asal ditemani Ressa dan pengawal. Mau tidur dimana nanti pengawal, rumahnya kecil. Tapi para pengawal tidak ambil pusing asal bisa istirahat walau tidur beralaskan lantai.
"Enak ya sekarang yang sudah punya pacar orang kaya. Pulang aja sampai bawa bodyguard segala." Hira tidak menanggapi ucapan ibu tirinya. Ayah masih belum pulang bekerja di pabrik. Dua adiknya masih sekolah. Ressa pulang ke rumahnya, mereka bertetangga dan jadi sahabat sejak Ressa pindah ke kampungnya.
"Emang pacar kamu tuh beneran sayang sama kamu, paling cuma mau tubuhmu saja sampai berani bayar mahal." Apa maksud mak lampir ini, Hira sampai menghentikan langkahnya yang hendak memasuki kamar.
__ADS_1
"Jangan sembarangan ngomong Bu, dua anak Ibu juga perempuan. Allah gak tidur." Ucapnya dengan senyuman penuh arti.
"Jangan sok suci bawa-bawa nama Tuhan kalau sudah puas tidur sama lelaki." Hira geleng-geleng kepala lalu melanjutkan langkahnya masuk kamar. Tidak ada habisnya meladeni mulut pedas ibu tiri. Untung jiwanya sudah lebih kuat sekarang setelah bolak-balik bertemu dr. Erika.
Dua pengawalnya sedang istirahat di ruang tamu, semoga saja mereka tidak mendengar semua ucapan ibu tirinya, sangat memalukan sekali.
Apa maksudnya berani bayar mahal? Apa Erfan membelinya sehingga ayah membatalkan perjodohan. Biasanya ibu paling gencar menghasutnya agar mau menikahi duda itu.
"Ingat umur, kamu itu sudah tua. Beruntung ada duda yang mau dan memberikan uang mahar yang gede. Kita bisa merenovasi rumah biar besar." Itu yang selalu ibu tirinya ucapkan dulu waktu Hira pulang, sampai telinganya panas.
Tapi tunggu, Hira keluar kamar meneliti rumah dari depan sampai belakang. Sekarang lebih besar dengan cat yang baru. Dari mana ayah dapat uang sebanyak ini. Uang yang ia transfer biasanya hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, biaya sekolah adiknya. Rumah ini berubah dari terakhir kali ia pulang.
Perkataan ibu sangat jelas, pacar? Siapa yang dimaksud ibu dengan sebutan pacar itu. Ringgo? Tidak mungkin, hanya ada dua nama yang jadi tersangka Guntur dan Erfan.
Ah, sehina itu ia sampai diperjual belikan seperti ini. Hira tidak butuh penjelasan, juga tidak perlu memastikan. Ia hanya tidak ingin berurusan dengan orang-orang kaya itu lagi. Biarlah mereka mau melakukan apapun. Sejak mengenal mereka hidupnya hancur berantakan, karirnya entah jadi apa sekarang.
Hira sudah menyiapkan segala sesuatu untuk melancarkan misinya. Malam ini ia harus tidur dengan cepat. Perlu pikiran jernih untuk melancarkan aksinya besok pagi.
Pagi ini Hira bangun dengan semangat setelah sarapan ia menemani dua pengawalnya nongkrong di depan televisi. Pisang goreng dan kopi menambah kenikmatan bersantai ria. Ressa pagi ini mau menemani mamanya ke pasar.
Dengan senang hati Hira berbaur dengan pengawalnya. Ayah sudah berangkat kerja, adiknya ke sekolah sedang ibu tirinya berangkat ke pasar. Tidak ada kegiatan membuat Hira bosan dan mengantuk. Berkali-kali ia menguap tidak jauh beda dengan dua pengawalnya.
__ADS_1
Gara-gara Hira pengawal bertubuh kekar jadi menganggur, lagian siapa suruh mengawasi Hira yang gak ada kerjaan, ia terkikik geli lalu beranjak ke kamar. Kamar yang memiliki banyak kenangan bersama sang mama.
Tidak ada lagi sisa kasih sayang di rumah ini. Semua yang tumbuh adalah kebencian. Benci yang mulai tumbuh di hati Hira. Tidak ada lagi surga yang menunggunya saat pulang. Surga yang sangat dirindukannya, yang penuh ketenangan dan rasa nyaman.