
Kraakkk
Dengan gerakan cepat Erfan memelintir tangan Fany sampai gadis itu mengerang kesakitan. Lalu mengambil pistol di tangan adiknya itu dan mendorong tubuh Fany hingga tersungkur ke lantai.
"Aarrggh, Kakak!" Pekik Fany kesakitan, sampai meneteskan air mata karena menahan sakit tangannya yang patah.
Erfan tak pedulikan teriakan itu lagi. Ia tak rela istrinya disentuh bajingan gila bernama Azmi.
"Bangs*t!"
Ia menarik Azmi, memojokkannya ke dinding. Erfan menghajar dengan brutal tanpa jeda. Orang yang menyentuh istrinya harus mati sekarang juga di tangannya. Ia sudah dibutakan amarah, tidak memberikan Azmi kesempatan untuk melawan.
"Bee!!"
Pekik Hira, ketika Erfan ingin menembak kepala Azmi yang sudah tidak berdaya. "Jangan!" Ucapnya dengan berderai air mata. Hira bangun menghambur kepelukan Erfan. Ia tak dapat membayangkan kalau suaminya menjadi seorang pembunuh.
"Kalian selamat malam ini karena masih bisa hidup!" Kalimat dingin penuh penekanan yang keluar dari mulut Erfan. Ia tak akan segan-segan membunuh orang yang sudah menyakiti kekasihnya.
"Kak maaf." Fany menarik kaki Erfan dengan tangan kirinya yang tidak cidera, tapi Erfan malah menendangnya kuat.
"Bee!!"
Hira meringis iba melihat Fany, tak jauh beda dengan Azmi yang sudah tak berdaya. Erfan mengambil jilbab kaos untuk Hira lalu menggendong bayi kangurunya. Beberapa menit kemudian para polisi datang mengamankan dua orang itu.
"Bi Atun dimana Sayang?" tanya Erfan cemas. Ia menggendong Hira menuju kamar bawah.
"Aden tolong!" Teriak Bi Atun saat Erfan membuka pintu kamar pembantunya.
"Astaghfirullah!" Pekik Hira melompat dari gendongan Erfan, melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Bi Atun.
"Bibi gak papa?" tanya Erfan mensejajarkan tubuhnya lalu mengambil sapu tangan. Mereka dibius, batin Erfan. Adiknya segila itu.
"Gak papa Den, Non Hira ada luka?" Bi Atun menatap sendu pada majikannya, Hira menggeleng lemah.
"Bibi istirahat aja ya malam ini, besok aja rumahnya diberesin." Bi Atun hanya mengangguk lemah. Majikannya sebaik itu, sedih rasanya melihat berkali-kali orang luar ingin merusak rumah tangga mereka.
"Ayo Sayang, mau jalan sendiri apa digendong?" tawar Erfan, Bi Atun hanya senyum-senyum mendengarnya. Senang kalau melihat mereka akur begitu lagi.
"Jalan aja Bee." Hira menggandeng tangan Erfan, di luar masih banyak polisi. Ia menunggu di ruang tengah saat Erfan sedang berbicara dengan beberapa polisi. Setelah para polisi pulang Erfan membawa Hira pergi. Mereka tidak menginap di rumah malam ini.
"Bee, kita mau kemana. Lukamu belum diobati." Hira baru menyadari tangan Erfan juga terluka. Dengan keadaan seperti itu suaminya masih menggendongnya tadi.
"Kamu mau kemana? Ke rumah Ummi?" Erfan tak menghiraukan Hira tentang lukanya. Luka ditangan tidak sesakit saat melihat Azmi menciumi istrinya.
__ADS_1
"Terserah kamu aja Bee, kenapa gak tidur di rumah aja?"
"Gak papa." Jawab Erfan dengan senyuman, tangannya mengelus pipi Hira dengan lembut. Dalam dadanya masih membuncah kemarahan. Ia harus menghapus jejak Azmi di tubuh istrinya.
Erfan memasuki komplek perumahan Abi Nazar.
Pintu dibuka setelah mereka mengucapkan salam, Ken meneliti Erfan dari atas sampai bawah.
"Boleh masuk gak?" tanya Erfan sensi, ada ya tamu datang malam-malam lalu marah sama tuan rumahnya.
"Bee!!"
Hira mengusap-usap lengan Erfan agar lebih tenang. Ia tau suaminya masih emosi. Ken hanya mengangguk, sebagai jawaban tanpa suara.
"Siapa Ken?" tanya Ummi lalu menyusul putranya ke depan pintu.
"Erfan, Hira kalian kenapa?" Ummi menarik tangan keduanya untuk duduk di sofa. "Kalian kenapa?" tanya Ummi sekali lagi, Ummi duduk diantara keduanya yang saling diam.
Entah kenapa sulit untuk Erfan membuka suara tidak seperti biasanya. Ummi mengelus kepala keduanya, Ken hanya diam mengamati sampai Abi dan Adnan datang. Mereka ikut bertanya-tanya namun Ken hanya mengendikkan bahu tanda tak tau.
"Ummi bikinin teh dulu." Ummi memang lebih suka mengerjakan semuanya sendiri walau di rumah ada ART.
Erfan menarik Hira untuk mendekat, memeluknya erat. Seperti orang yang tidak ingin melepaskan lagi. Ia menciumi puncak kepala Hira berkali-kali. Dadanya sesak belum bisa mengungkapkan isi hatinya.
"Siapa?" Satu kata yang Adnan ucapkan mampu membuat Erfan membuka suara. "Azmi dan Fany."
"Obati dulu luka lo!" Ken mengintrupsi pembicaraan. Hira mengambil kapas dan alkohol untuk mengobati tangan Erfan yang luka lebam.
"Bee, tangannya jangan dipakai buat bunuh orang ya." Ucap Hira saat mengusap luka suaminya dengan kapas. Kalimat itu cukup membuat tiga orang lelaki di depannya membeku.
"Gak janji, Sayang. Kalau mereka menyakitimu lagi aku gak bisa hanya diam." Jawab Erfan dengan senyuman.
"Jangan Bee, jangan! Aku takut." Setelah selesai mengobati Erfan, Hira melompat kepelukan suaminya seperti bayi kanguru. Memeluknya dengan kuat, melepaskan tangisnya di dada sang suami.
"Jangan membunuh karena aku Bee, jangan." Erfan membenamkan kepala di bahu Hira, mengusap punggungnya penuh sayang. Ummi datang membawakan enam buah teh hijau dan cemilan.
Mereka yang ada di ruangan hanya diam mengamati. Tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi dengan pasutri itu.
"Takut kenapa Sayang?" tanya Erfan lembut. Mereka belum sempat bicara, Erfan sengaja meninggalkan rumah tidak ingin Hira trauma berada di kamar itu.
"Aku takut kamu pergi, Bee. Aku takut mereka mengambilmu. Aku takut!"
"Tidak ada yang mengambilku Sayang, aku baik-baik aja di sini. Maaf sudah membuatmu ketakutan."
__ADS_1
"Kalian mau ke kamar?" tawar Ummi, dengan cepat Erfan menggeleng.
"Ada yang sakit, Sayang?"
"Gak ada Bee, aku cuma kotor, gak ada yang sakit." Sakit hati Erfan saat istrinya mengucapkan itu. Ia belum bisa menjaga kehormatan istrinya, sampai ada orang lain yang ingin merenggut paksa.
"Maaf Sweety, maaf tidak bisa menjagamu dengan baik." Lolos air mata Erfan yang penuh kesakitan. Dadanya terbakar kobaran api amarah, ia ingin membunuh orang yang sudah menyakiti istri. Tapi tidak bisa.
"Bee, janji jangan bunuh siapa pun!" Erfan diam tak berani menjawab, "kenapa diam Bee?" Teriak Hira keras.
"Sayang, jangan berteriak. Ada Abi dan Ummi di sini." Bujuk Erfan, Hira menangis histeris. "Iya, janji." Ucap Erfan akhirnya, janji kalau bisa menahan diri, sambungnya dalam hati.
"Janji jangan diingkari Bee."
"Iya Sayang." Lama akhirnya Hira lebih tenang, walau tidak tidur. Tangan Erfan masih betah memberikan ketenangan.
"Dimana kalian diserang?" tanya Abi saat suasana mulai tenang. Erfan sudah tidak menangis lagi.
"Di rumah Bi, Azmi dan Fany datang saat aku tidak ada. Azmi hampir..." Erfan tidak sanggup mengatakan, mengeratkan pelukannya pada sang istri. Semua orang paham apa maksud yang diucapkan Erfan.
"Mereka sekarang sudah ditangkap?"
Erfan menjawab dengan anggukan.
Sampai malam Erfan tidak mau masuk ke kamar. Lebih memilih tidur di sofa ruang keluarga. Saat ini ia tidak ingin masuk dalam kamar. Itu mengingatkannya dengan kejadian di rumah tadi.
Erfan memeluk tubuh istrinya yang tidur di sofa. Dua sofa panjang disatukan, agar Hira bisa tidur dengan nyaman.
"Bee!" Hira terbangun, tapi mereka masih tidur di sofa. Tidak tau sekarang jam berapa, ia membangunkan suaminya.
"Bee!"
"Yes Sweety." Erfan mengerjapkan mata, berkali-kali mendapatkan kecupan di mata. "Kita dimana Bee?"
"Kita di rumah Abi Nazar, Sayang."
"Kenapa tidur di sini Bee, aku takut!"
"Ada aku di sini Sayang, jangan takut." Erfan mengeratkan pelukannya.
"Bee, aku kotor. Kamu masih mau memelukku?"
Erfan menghela napas panjang, ingin ia memaki Azmi puas dan membunuhnya di tempat.
__ADS_1
"Hira gak kotor Sayang, aku akan selalu memelukmu, Sweety. Kamu gak salah." Erfan mengecup puncak kepala Hira berkali-kali, menyalurkan ketenangan untuk istrinya, sampai gadis itu tertidur kembali. Hatinya sangat terluka sekarang, karena perbuatan orang yang pernah dianggapnya sebagai keluarga.