
"Iya Non, Non Hira perlu apa?" Ujar perempuan paruh baya itu saat sudah berada di kamar majikannya.
"Gak perlu apa-apa Bi. Ini buat Bibi." Hira memberikan paper bag di tangannya, Erfan melongo. Itu harga ponsel puluhan jete dikasih sama Bi Atun, kasihan banget nasib ponselnya bakalan terabaikan.
"Ini apa Non?" Bi Atun membuka isi paper bag, "Ya Allah ini hp mahal, Bibi gak bisa terima Non." Kaget perempuan paruh baya itu, harga ponsel yang dipegangnya setara beberapa bulan gaji yang ia dapat.
Hira cemberut masam pemberiannya ditolak.
"Tolong Bibi terima ya, kami ikhlas." Ujar Erfan, melihat reaksi istrinya hampir menangis ia tak tega.
"Bukan gitu Den, Bibi gak bisa gunain ini." Sesal Bi Atun merasa bersalah karena sudah membuat majikannya sedih, "yang lain aja ya Non, yang bisa Bibi gunain gitu. Bibi beneran gak bisa pake ini." Bujuk perempuan paruh baya itu, ia tau majikannya ini tidak bisa ditolak.
"Sayang, kasih Bibi yang lain aja ya. Bibi gak bisa gunain smartphone." Bujuk Erfan pada istrinya.
"Kan bisa diajarin, Bee."
"Sayang!" Erfan memeluk istrinya, "hargai Bi Atun, kasih yang lain aja. Kamu mau ngasih apa, biar Galih belikan."
"Maaf, Bibi sudah bikin Non kecewa." Ucap Bi Atun.
"Gak papa Bi, kalau Bibi gak mau buat Hira aja ini." Ujarnya setelah melepas pelukan sang suami.
"Sekali lagi maaf Non." Hira mengangguk lalu memberikan senyuman manisnya. Perempuan itu mendesah berat setelah Bi Atun meninggalkan kamar.
"Yah, gak jadi ngasih surprise buat Bi Atun deh." Ucapnya kecewa.
"Kalau mau ngasih jangan cuma Bi Atun, Sayang. Yang bantuin kita bukan cuma beliau." Jelas Erfan dengan lembut.
"Terus kasih apa buat mereka?"
"Bisa kasih motor, itu lebih bermanfaat dari pada hp." Saran Erfan, Hira mengangguk senang setelah mendapatkan pencerahan.
Apapun itu asal bisa membuat istrinya bahagia, Erfan akan lakukan. Selama masih dalam jalur kebaikan.
***
__ADS_1
Diruangannya Erfan menyidang Tian, atas tindakan temannya kemaren.
"Minta maaf sekarang sama Ressa atau gue gak bisa mempertahankan dia berada di sini." Ujar Erfan dingin, menatap tajam Tian. Ia tidak ingin akibat kesalahan temannya itu berimbas pada yang lain.
"Iya," Tian berdecak kesal, temannya itu salah satu tipe pemaksa. "Lo gak bisa memberhentikan Ressa sekehendak lo Erfan!" Ujarnya tidak terima.
"Gue gak memberhentikannya, tapi gue bisa membuat lo tidak pernah bisa bertemu dengannya lagi." Tegas Erfan, Tian menggeleng sangat tidak setuju dengan ulah temannya itu.
"Di depan gue aja lo bisa sebrengsek itu Tian!" Argh Erfan mulai terpancing emosi lagi, dia sangat tidak suka mendengar perempuan dilecehkan.
"Gue minta maaf." Sesal Tian, saat memeluk Ressa kemaren itu membangkitkan jiwa liarnya kembali.
"Gue gak yakin lo bisa mengendalikan diri setelah memulai." Erfan tersenyum miring, "lo tau gak sih sesusah apa menyembuhkan trauma."
"Gue gak ngapa-ngapain dia Erfan!"
"Lo nyium dia di depan gue, lo pikir dia gak punya malu. Lo atasan di sini Tian, di mana lo naroh harga diri kalo semua karyawan tau perbuatan tidak senonoh lo itu!" Sentak Erfan, "banyak perempuan yang bisa lo bayar untuk muasin belalai lo itu."
"Argh, gue bisa gila kalo ngurusin lo juga di sini!" Ucap Erfan frustasi, "apa yang lo lakuin itu termasuk pelecehan. Kalo dia lapor, perusahaan kita akan terseret juga. Ini Indonesia, bukan luar negeri Tian. Kalo lo menganut *** before married itu tidak masalah, terserah lo. Gue udah capek ngingetin lo, tapi jangan sekali-sekali dilakuin di wilayah perusahaan."
"Gue harus apa kalo liat lo gitu lagi?" Lirih Erfan dengan mata yang terpejam. Tian jadi merasa bersalah karena sudah menambah beban sahabatnya.
Tian tau, Erfan hanya ingin melindungi harga dirinya dan nama baik perusahaan. Lelaki itu tidak menjawab, ia keluar dari ruangan temannya.
"Sa, ikut gue sebentar." Pinta Tian serius, Ressa mengangguk. Meskipun ada rasa takut tapi dia tetap menurut. Perempuan itu duduk di sofa samping Tian sesuai permintaan lelaki itu.
Ressa cemas berada di samping Tian, tapi juga merasakan nyaman saat aroma parfum lelaki itu merasuk ke hidungnya. Menghadirkan rasa tenang, beginikah cara Tian menghipnotis para wanitanya.
"Gue minta maaf atas perbuatan yang gue lakuin kemaren. Gak seharusnya gue perlakuin lo begitu. Lo berharga." Ucap Tian tersenyum mengacak rambut Ressa pelan. "Gue serius dengan apa yang gue ucapin kemaren, tapi gak usah dipikirin. Lo pantas dapetin lelaki yang baik."
"Lo takut sama gue?" Tian memandang lekat gadis yang duduk di sampingnya.
"Iya," ucap Ressa seraya mengangguk.
"Jangan takut, gue janji akan belajar menahan diri biar gak nyakitin lo." Tidak tahan, Tian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Maafin gue Sa, maafin gue sudah bikin lo ketakutan."
__ADS_1
Ressa bergeming, merasakan detak jantung Tian yang dapat di dengarnya. Apa yang sudah ia lakukan bersama bosnya ini sungguh tidak pantas kalau ada yang melihat mereka, bagaimana.
"Gimana? Bisa bikin lo tenang gak kalo dipeluk gini." Goda Tian, entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga kala Ressa tidak menolak untuk dipeluk.
Ressa mengangguk pelan, Tian mengurai pelukannya seraya merapikan rambut gadis itu. "Kamu bisa keluar, nanti kalau Erfan lihat gue bisa dihajarnya lagi." Ujar Tian dengan kekehan.
Terasa aneh melihat Ressa yang biasanya bar-bar jadi pendiam. Tian menatap kepergian perempuan itu. Ada apa dengan dirinya, ia sudah biasa memeluk dan tidur dengan banyak perempuan. Tapi tidak pernah merasakan hatinya berbunga-bunga seperti ini.
Erfan memanggil Ressa yang baru keluar dari ruangan Tian.
"Tian berbuat aneh lagi?" Tanya Erfan pelan, saat seketerisnya itu sudah duduk di depannya.
"Enggak, bos Tian minta maaf aja." Jawab Ressa tenang, tidak seperti biasanya dengan celotehan ria.
"Kamu yakin, dia gak ngapa-ngapain kamu Sa?" Selidik Erfan, ia rasa ada yang berubah dengan raut wajah seketarisnya. "Kamu gak sedang berbohong dengan saya kan Sa, saya bisa akses cctv di ruangan Tian." Tegas Erfan, seketika Ressa mendadak lemas.
"Mau jujur atau saya cek sendiri. Kamu diapain Tian?" Tanya Erfan lagi.
"Peluk." Cicit Ressa pelan, Erfan berdecak dengan tangan yang sudah mengepal.
"Dia maksa kamu, lagi?" Tanya Erfan dengan intonasi meninggi. Cepat Ressa menggeleng, takut bosnya bertengkar karena salah paham. "Lalu atas kemauan kamu?" Lagi-lagi Ressa menggeleng. Erfan mendesah berat, apa maksudnya tidak dipaksa tapi tidak juga atas kemauan sendiri.
"Ressa, saya cuma mau melindungi kamu di sini. Saya tidak mau Tian berbuat tidak senonoh sama kamu. Saya tidak akan ikut campur kalau itu hal pribadi, asal dia tidak melecehkan kamu." Ucap Erfan serius.
"Terimakasih sudah peduli sama saya, bos." Ujar Ressa sambil mengangguk.
"Semua karyawan di sini tanggung jawab saya Sa, kalau kamu merasa Tian berbuat tidak senonoh laporkan ke saya," tegas Erfan.
"Siap Bos," ujar Ressa lalu meninggalkan ruangan bosnya. Erfan menggeleng pelan, kepalanya berdenyut nyeri. Lelaki itu masuk ke kamar mencari istrinya yang tadi tertidur.
"Kenapa Bee?" Tanya Hira yang sedang duduk di meja rias. Ibu hamil itu masih sibuk di depan layar laptop, memeriksa laporan yayasan.
"Sakit kepala, Sweety."
Hira melepas jemarinya dari keyboard lalu mendekati sang suami yang menghempaskan tubuh ke kasur.
__ADS_1