Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
95


__ADS_3

Hira menarik tangan yang masih dalam genggaman Erfan lalu menyisir lembut rambut sang suami dengan jari jemarinya.


"Sini." Perempuan itu menepuk sisi ranjang mengisyaratkan untuk Erfan naik. Dengan senang hati lelaki itu berbaring di samping Hira. "I love you." Ujarnya lalu mengecup seluruh kening, mata, pipi dan bibir Erfan singkat.


Netra yang tadinya sayu itu sekarang berbinar cerah. Dengan perasaan bahagia yang membuncah.


Hira melepaskan segala ego yang dimilikinya. Ia akan memaafkan, belajar berdamai dengan diri sendiri. Mendengar curahan hati sang suami cukup membuat hatinya ikut merasakan sakit.


"Kamu maafin aku Sayang?" Tanya Erfan tak percaya.


"Gak ada alasan buat aku gak maafin kamu, Bee." Ujar Hira tersenyum seraya menjawil hidung Erfan yang mulai nakal.


"Terimakasih Sweety." Erfan membenamkan wajahnya dalam pelukan Hira. "Aku jahat banget sama kamu ya Sayang. Tadi beneran anak kecil itu ngerjain aku Sweety, setelah kamu pergi dia ketawa cekikikan. Kamu harus ketemu dia dan kasih pelajaran."


Hira terkekeh geli mendengar pengaduan sang suami. "Ngapain pagi-pagi nemuin istri orang, hm?"


"Gak gitu Sayang, aku merasa bertanggung jawab karena aku yang bawa dia ke rumah sakit. Masa aku tinggalin dia gitu aja."


"Keluarganya kemana?" Tanya Hira penasaran, bukan tidak percaya. Ia percaya kok sama suaminya.


"Katanya diusir dari rumah Sweety karena ketahuan nakal. Pacarnya gak mau tanggung jawab."


"Kok sedih ya Bee. Terus dia pulang kemana?" Tanya Hira, ia merasa iba. Hatinya itu sangat lembut, sangat mudah tersentuh dan terluka.


"Gak tau, tanggung jawabku sampai dia keluar dari rumah sakit aja Sweety. Nanti ada yang salah paham kalau aku peduli sama orang lain." Goda Erfan jahil sambil mengendus-endus leher Hira.


"Bee, geli ah." Hira menjauhkan kepala Erfan dari lehernya.


"Kamu sakit kenapa Sayang, sekarang juga kurusan. Mau pulang sama aku apa di sini dulu?" Tanya Erfan hati-hati, takut menyinggung perasaan istrinya lagi.


"Kamu lah Bee, siapa lagi yang bikin aku sakit gini. Udah tau kemaren badan aku gak fit malah dikuras tenaganya."


"Maaf Sayang, jangan minum pil KB lagi yah. Aku mau ada anak kita di sini." Bujuk Erfan seraya mengelus lembut perut Hira lalu menggelitikinya.


"Bee!" Pekik Hira, "ranjangnya sempit aku bisa jatuh. Berhenti, Bee." Perempuan itu mengeratkan pegangannya pada Erfan. Si empunya malah tertawa gelak.


"Aku gak minum pil KB, Bee." Jujur Hira setelah suaminya berhenti usil.


"Syukurlah, pengen cepat pula lagi Sweety. Udah boleh hamilkan Sayang."


"Boleh Bee."


"Asyiikk. Kalau itu boleh juga dong Sweety."


Hira membuang muka kesal, baru juga baikan sudah minta lagi. Dasar suami mesum.

__ADS_1


"Kamu mau aku langsung berhenti napas, Bee." Ujarnya dramatis, lebay sekali Hira.


"Gak bakalan berhenti napas Sayang, kalau kehabisan napas bisa. Aku mau bikin kamu gak berhenti keenakan."


"Bee, malu." Rengek Hira, "kamu mesum banget."


"Kebutuhan Sayang, bukan mesum." Elak Erfan disertai tawa kecil. Hatinya menghangat dengan kembalinya Hira seperti dulu lagi. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Erfan akan menjaga istrinya dengan baik untuk menebus semua kesalahannya.


"Bee, aku mau jenguk saingan aku."


Erfan mengernyit, "saingan?" Tanyanya.


"Itu, yang kamu bilang anak kecil," jelas Hira.


"Mau sekarang, Sayang. Kamu masih lemah loh."


"Aku tadi cuma pingsan Sayang, bukan lumpuh." Sarkas Hira galak, Erfan tertawa geli.


"Kok ketawa sih, aku lagi marah loh Bee."


"Kamu lucu Sweety, bikin gemes aja." Godanya sambil mengunyel kedua pipi sang istri. "Ayo," ajaknya setelah bangun dari kasur. Membantu istrinya untuk turun.


"Loh kenapa dokter sama suami saya?" Tanya gadis yang bernama Olivia itu dengan wajah cemberut, Hira tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Nanti naik taksi online aja dok, dokter ngapain pinjam suami saya. Gak punya pasangan ya? Jomblo ya? Kasiah banget sih dok cantik-cantik jomblo." Oceh gadis itu, tidak sungkan mencubit pipi Hira dengan gemas.


"Bee, kamu selingkuh ya." Sandiwara Hira dengan wajah ditekuk.


"Enggak Sayang, istri aku cuma kamu." Erfan mengecup pipi sang istri.


"Ih dokter, jangan godain suami aku. Dokter mau jadi pelakor ya." Pekik Olivia histeris. Hira mengabaikan ocehan gadis itu, mengelus lembut rambut Olivia.


"Kalau mau nangis, nangis aja jangan ditahan." Ucap Hira lembut, ia dapat melihat kabut kesedihan dari mata gadis itu.


"Dokter sakit?" Tanya Olivia mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin terlihat menderita di depan orang lain.


"Cuma kelelahan," jawab Hira.


"Oliv, kenalin istri Om, dokter Hira." Ujar Erfan sambil memeluk Hira dari belakang kursi.


"Istri Om beneran? Malu dong Oliv udah ngaku-ngaku." Ucapnya histeris menutup wajah dengan kedua tangan. Hira dan Erfan tertawa geli.


"Gak usah malu, di sini ada istri aslinya." Goda Hira, Olivia hanya mengeluarkan cengirannya.


"Maaf dok, candaanku gak lucu ya. Jangan-jangan tadi Om sama dokter berantem." Katanya dengan rasa bersalah telah mengakui suami orang.

__ADS_1


"Aku maafkan." Ujar Hira dengan senyuman manisnya, "tapi gak boleh diulangi lagi."


"Janji." Olivia mengeluarkan jari kelingkingnya yang langsung disambut Hira.


"Jangan nakal lagi, jangan pacaran terus. Nanti Om yang antar kamu pulang dan jelasin sama orang tua kamu."


"Makasih Om, baik banget sudah nolongin Oliv. Makasi juga dokter, suaminya ganteng banget." Ucapnya lalu memeluk Hira erat, "aku mau juga dong punya suami yang ganteng."


Hira mencubit pelan perut gadis itu, "sekolah dulu yang bener nanti aja mikirin suaminya. Apalagi suami orang."


"Iya deh, aku sekolah dulu biar nanti bisa ketemu cowok yang ganteng, pintar, tajir dan baik hati." Ujarnya seraya melepaskan pelukan Hira.


"Kamu istirahat dulu nanti sore Om antar pulang."


"Makasih Om."


"Sama-sama, ayo Sayang kamu istirahat juga." Erfan menuntun istrinya kembali ke kamar. Lalu membaringkan di brankar.


"Bee, yakin orang tua Oliv mau menerima anaknya lagi."


"Pasti Sayang, semarah apapun orang tua sama anaknya. Pasti masih ada rasa sayang. Nanti kita bantu bicara sama orang tuanya."


"Emang beneran pacarnya yang buat dia hamil Bee?"


Erfan mengkerutkan keningnya, "maksudnya Sayang?"


"Kali aja dia dipaksa. Dan harus nanggung beban sendiri Bee. Kasihan banget."


"Kamu jangan mikirin orang lain dulu Sayang, pikirin kesehatan kamu."


"Bee, banyak anak-anak yang perlu dukungan. Kadang orang tua hanya bisa menghakimi tanpa bisa jadi teman cerita." Erfan naik ke atas ranjang berbaring di samping sang istri.


"Aku tau kamu peduli sama mereka Sweety. Tapi sekarang kesehatan kamu yang lebih penting. Masalah itu nanti kita pikirkan. Apa kamu perlu ke psikolog? Enam bulan ini pasti kamu capek banget gak ada aku yang meluk kamu ya." Lelaki itu melingkarkan tangan di pinggang Hira dengan wajah terbenam di bahu perempuannya.


"Capek banget, Bee. Tapi aku harus tetap bangkit biar gak terus terpuruk."


"Maafin aku ya Sayang. Banyak banget dosa aku sama kamu."


Hira membelai lembut kepala Erfan, menyalurkan rasa nyaman di sana.


"Aku udah maafin kamu, Bee. Jangan minta maaf terus, bosan dengernya."


Erfan mengangkat kepalanya, meneliti setiap lekuk wajah sang istri. Lalu menyesap benda kenyal yang selalu memabukkan itu. "Kalau gini gak bosankan Sweety." Ujarnya setelah berhasil mencuri satu dosis vitamin.


"Kebiasaan nyosorkan, aku belum siap." Kesal Hira mencubit perut suaminya dengan kekuatan penuh. Sampai mengeluarkan pekikan dari mulut si empunya yang dicubit.

__ADS_1


__ADS_2