Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
38


__ADS_3

Perjalanan menuju rumah Abi Nazar di tempuh dalam waktu tiga puluh menit dari rumah Ringgo. Ressa memarkirkan mobil, tadi melihat rumah Ringgo ia berdecak terkagum-kagum. Ternyata tidak ada apa-apanya dibanding rumah Abi Nazar.


Jiwa misquen Ressa meronta-ronta.


Ressa melirik bosnya menggendong Hira, gadis itu masih betah terlelap dalam pelukan Erfan. Pelukan bos Erfan memang senyaman itu ya.


Ia memencet bel beberapa kali sesuai perintah bosnya. Tak lama seorang pria tampan gagah dan berani membuka pintu. Wow masih ada pria titisan malaikat ternyata di dunia. Tatapannya begitu teduh dengan wajah yang tak bisa Ressa definisikan dengan kata-kata. Sungguh lebay jiwa jomblonya meronta-ronta sekarang.


Mata Adnan menelanjangi Erfan yang menggendong perempuan ke rumahnya.


"Nanti gue jelasin, boleh masuk gak nih. Berat tau!" Geram Erfan, Adnan menyingkir memberi jalan dan mempersilahkan Ressa masuk. "Gue pinjam kamar."


Pria itu hanya mengangguk mengikuti Erfan sampai ke depan pintu kamar tamu. Abi dan Ummi terbangun mendengar suara ribut di rumahnya, tidak lama Ken juga menyusul. Mereka bertiga bingung melihat Adnan yang berdiri di depan pintu kamar tamu. Ressa sudah masuk ke dalam kamar mengikuti Erfan. Ia membantu melepaskan sepatu Hira, kemudian menyelimutinya.


Adnan baru menyadari kalau yang dibawa Erfan itu Hira, dokter kandungan yang membantu Elvina melahirkan.


Erfan meninggalkan kamar menuju ruang keluarga. Abi Nazar dan keluarga sudah menunggu di sana.


"Why?" Satu kata yang keluar dari mulut Ken.


"Tadi Hira berangkat ke rumah dr. Ringgo mau dikenalkan dengan keluarganya. Sepertinya dia mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dan kumat di sana. Ringgo tidak mampu menenangkan, makanya menghubungi seketaris gue."


"Lalu lo apain jadi tenang?" Ken tambah penasaran, pesona seperti apa yang dimiliki Erfan.


Erfan mengendikkan bahu, menjawab dengan santai. "Gak ada, cuma gue angkat dia yang meringkuk di lantai dan histeris."


"Wooww, pesona seorang Erfan tidak diragukan lagi." Ken berujar penuh semangat.


"Tapi tetap kalah sama lo 'kan?" Erfan tersenyum kecut.


Ressa menyusul ke ruang tamu, ia tidak enak di kamar sendirian. Belum bertegur sapa dengan pemilik rumah.


"Setiap hati memiliki tempat ternyamannya masing-masing. Seperti Hira, dia memilih bos dibanding Ringgo atau Guntur." Ressa berujar santai dengan tersenyum smirk, Erfan terkejut Ressa ikut nimbrung juga. Anak itu mulutnya bisa membawa petaka.


"Betul sekali." Adnan menyetujui ucapan Ressa, Ressa berkenalan dan menyalami abi dan ummi.


"Kenapa dibawa pulang ke sini Fan bukan ke rumahnya?" Tanya ummi bingung.

__ADS_1


"Kalau dibawa pulang ke apartemen nanti Erfan gak bisa mengawasi Mi kalau dia histeris lagi, Erfan gak mungkin nginap di rumah perempuankan." Goda Erfan, Ressa undur diri lebih dulu. Ia tau pasti ada hal pribadi yang mau dibicarakan bosnya. Malam ini ia cukup memperkenalkan diri dulu.


"Bi, aku bingung harus apa. Hira lengketnya sama aku. Takut terjadi fitnah lagi." Erfan menggaruk tengkuknya, ia mau minta dukungan sekarang.


"Abi tau, saat kamu mengatakan itu kamu sudah tau jawabannya. Apa kamu yakin siap?"


"Apa tidak terlalu cepat, aku tidak ingin dia dihujat karena skandal itu seolah benar. Aku hanya mempertimbangkan psikisnya."


"Bagaimana hatimu Nak?"


"Belum tau Bi, saat ini hanya ingin bisa melindunginya. Melihatnya menangis histeris itu sangat menyakitkan. Walau aku tidak melakukan apa-apa dia akan tenang sendiri dalam pelukanku."


Hening


"Kalau aku menikahinya secara agama dulu gimana, sampai keadaan membaik. Selain psikisnya yang harus kujaga, dia juga dalam bahaya. Seperti mereka membunuh Bilqis, itu juga bisa terjadi pada Hira."


"Bagaimana orang tuamu Nak? Ummi menduga yang membuat Hira kumat lagi itu karena perlakuan orang tua lelaki itu. Bagaimana Mami dan Papimu." Erfan menarik napas berat, sudah tentu Mami pasti tidak setuju.


"Mereka sudah merencanakan pernikahanku dengan adik Bilqis kembali Mi." Erfan menutup mata, menyandarkan tubuhnya yang lelah di sofa.


"Lo gak bisa mempertemukan orang tua lo sama Hira sekarang Fan." Ya, apa yang dikatakan Adnan benar, itulah kenapa ia ingin melakukan pernikahan siri dulu.


"Restu orang tua itu penting Erfan terdapat keberkahan di dalamnya."


"Terus Erfan sekarang harus gimana Bi. Membiarkan Hira begitu saja sampai dia gila atau aku harus selalu menimbun dosa saat membantunya. Semua sama-sama sulit Bi, jalan terbaik Erfan menikahinya segera."


"Itu akan menimbulkan masalah baru dikemudian hari Fan." Ken berujar, semua ini sulit. Erfan tidak tau harus bagaimana sekarang.


"Kalau aku bilang sama Mami yang ada mereka akan mempercepat pernikahanku dengan adiknya Bilqis, Bi. Mami juga akan menyakiti Hira, itu akan memperburuk keadaan. Hira jadi terpuruk dan Mami menjauhkanku darinya."


"Mungkin kita bisa pertimbangkan Bi, apa yang dikatakan Erfan benar." Adnan berujar, abi mengangguk.


"Bicarakan dengan Hira, kami akan selalu mendukungmu Nak."


"Benarkah? Abi dan Ummi setuju?" Abi dan Ummi mengangguk bersamaan, Erfan memeluk Abi Nazar. "Makasih Bi, selalu mengerti aku. Tanpa kalian aku tidak tau akan jadi apa."


"Kita akan selalu ada buat lo Fan." Ken tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Nanti aku bicarakan ini dengan Hira kalau dia setuju." Erfan berucap lemas, ya kalau Hira setuju. Kalau Hira menolak bagaimana? Entahlah ia tidak tau jabawannya.


"Siap-siap membujuk dokter jutekmu itu Fan." Ken terkekeh


"Akan kulakukan dengan senang hati." Sahut Erfan dengan semangat.


"Bagaimana dengan Guntur, gue dengar keponakan Pak Emran itu sudah mendeklarasikan Hira sebagai calon istrinya." Erfan tertawa gelak dengan pertanyaan Adnan, "Zaky saja lebih memilih gue yang jadi suami Hira Nan."


"Jangan terlalu bangga, lo belum tau kelabilan perempuan 'kan?" Ken tersenyum mengejek.


"Mereka memang makhluk susah ditebak." Ujar Erfan akhirnya. Hatinya lebih lega setelah mendapat dukungan dari keluarga Abi Nazar.


"Mamaaa...!!"


Teriak Hira histeris. Ruang keluarga yang tadi penuh suara tawa mendadak hening menajamkan telinga. Teriakan itu berulang kali terdengar, Erfan berlari ke kamar tamu. Dilihatnya Ressa sibuk menenangkan Hira, dari menepuk pipi sampai memeluknya. Hira belum juga bangun. Erfan mendekat mengisyaratkan Ressa untuk mundur.


"Ra, Rara bangun..!" Panggil Erfan lembut, Hira masih berteriak memanggil mama dan minta tolong.


"Hiraa...!!" Erfan menepuk pipi Hira pelan, Ummi ikut mendekat sampai memeluk Hira. Tubuh Hira bersimbah keringat dan meronta-ronta, teriakannya semakin histeris.


"Ra, Rara... bangun yuk." Erfan berbisik di telinga Hira, "ayo bangun Hira." Ucapnya lagi, tidak berhasil juga. Erfan membawa tubuh Hira dalam pelukannya. Dielusnya lembut tangan Hira sambil berbisik. "Hira, tenang!" Ressa menghapus keringat yang membasahi wajah Hira.


"Tenang Ra, gue Erfan di sini. Lo aman." Bisik Erfan lembut, Hira mengerjapkan matanya. Beberapa detik kemudian matanya membuka, kamar ini asing untuknya. Hira melihat banyak orang di sana tapi tidak jelas. Yang jelas didengarnya hanya suara Erfan.


"Tenang ya tenang!" Erfan mengelus lembut pipi Hira sambil tersenyum manis. "Lo sudah bangun?" Hira mengangguk.


"Hiraa!!"


Panggil Ummi, Hira menutup telinganya dengan kedua tangan, meringkuk di pelukan Erfan.


"Maaf Ummi, dia masih takut." Ujar Erfan, khawatir ummi sedih, ummi menjauh dari tempat tidur. Ressa memberikan segelas air putih pada Erfan.


"Minum dulu ya Ra." Erfan membantu Hira minum, lalu membawa Hira duduk dipangkuannya. Ia memeluk tubuh Hira dari belakang.


"Sudah tenang?" Hira mengangguk lemah, "masih takut?" Hira mengangguk lagi. Erfan menatap abi dan ummi lekat, berharap mereka tidak salah paham dengan apa yang ia lakukan sekarang.


"Tadi mimpi apa?" Erfan bertanya dengan suara sangat lembut. Hira diam, membalik tubuhnya memeluk Erfan seperti anak kanguru. Ia takut melihat banyak orang yang melihatnya. "Hira tenang ya, itu Abi dan Ummi, lo kenal mereka. Mereka gak akan menyakiti Hira. Jadi jangan takut." Hira membenamkan wajahnya di bahu Erfan.

__ADS_1


Sekarang sudah jam dua belas malam, kapan bayi kanguru Erfan ini tenang. Erfan tidak banyak bertanya lagi membiarkan Hira tenang dalam pelukannya.


__ADS_2