
Adnan kembali ke kamar tamu membaringkan diri di ujung ranjang sambil menatap langit-langit. Menunggu Erfan keluar dari kamar mandi.
"Kak, sesakit apa ditinggal pergi dan tidak bisa bersama selamanya?" Tanya Ken, ia memang pernah ditinggal pergi tapi akhirnya Allah menyatukan mereka kembali. Berbeda dengan kakaknya yang rela melepaskan cinta hanya untuknya.
"Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata Ken." Adnan menjeda kalimatnya. "Semua kehilangan itu sakit, tapi semua penyakit ada obatnya. Entah cepat atau lambat rasa sakit akan menemukan obatnya dengan caranya sendiri." Ken menatap lekat Adnan yang masih menerawang ke arah langit-langit. Erfan berdiri di depan kamar mandi tanpa kakak adik itu sadari.
"Semua makhluk yang akan menemukan cinta sejatinya harus mengalami luka dulu ya?"
"Sangat beruntung mereka yang merasakan luka lalu menemukan cinta sejatinya Ken. Mungkin ada jutaan manusia yang merasakan patah tapi tak menemukan cintanya dari sang makhluk. Mereka mendapatkannya dari sang Pencipta."
Ken menarik napas panjang, menutup kedua netranya. Merasakan setiap hembusan udara yang mengisi rongga hidungnya untuk mengaliri paru-paru.
"Tak ada takdir buruk yang Allah berikan, hanya kita sebagai hamba yang belum bisa menerima setiap takdir dari Allah dengan baik. Bukan begitu?" Ujar Erfan mengambil piyama di ranjang lalu memakainya.
"Right!" Sahut Adnan, lalu membawa diri untuk duduk, Ken membuka mata mendengar ucapan sahabatnya.
"Seseorang bilang begitu." Erfan tersenyum, mengambil bagian duduk di samping Ken dengan bersandar ke kepala ranjang.
"Siapa?" Tanya Adnan dan Ken berbarengan. "Seseorang." Jawan Erfan singkat, kembali tersenyum.
"Bilqis?" Tebak Ken. Erfan menggeleng, mengingat kembali ucapan Hira yang masih tersimpan di kepalanya dengan baik. Gadis itu sudah menghiburnya di saat terpuruk.
"Dia juga bilang, jangan pertanyakan takdir Allah. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Erfan menegakkan tubuh menatap lekat kedua sahabatnya.
Adnan meneguk ludah, tercekat mendengar kalimat yang disampaikan Erfan. "Begitu spesialkah seseorang itu, sampai bisa membuat seorang Erfan tersenyum di saat berduka seperti ini."
"Tidak bolehkah gue tersenyum walau hati sedang menangis." Erfan berdecak kesal.
"Tentu saja boleh, banyak orang bahkan menyembunyikan lukanya dibalik senyuman." Sahut Adnan tersenyum getir, "pura-pura bahagia padahal menyimpan banyak luka."
"Karena itu lebih baik, tidak perlu semua orang tau apa yang sedang hati rasakan. Agar tetap terlihat kuat di depan orang lain. Terkadang banyak orang yang ingin tahu tentang kita, hanya karena kepo, bukan benar-benar peduli." Erfan membenarkan ucapan Adnan, ia mengungkapkan kalimat seperti yang Hira sampaikan. Rasa bersalah pernah membentak dan membuat malu gadis mungil itu. Rasa bersalah karena sudah membuat Hira mengalami trauma sepanjang hidup.
"Ekhemm. Sejak kapan lo dapat merangkai kata seperti itu." Ujar Ken serius, Erfan hanya nyengir melihat dua sahabatnya yang bingung.
"Pertemuan dengan seseorang itu membuat pikiran gue lebih terbuka. Kalimat yang gue katakan itu adalah dari ucapannya." Masih bisakah ia bertemu dengan Hira lagi, atau ini juga hari terakhir pertemuannya dengan gadis itu. Jelas bisa, karena Hira masih dalam pengawasannya.
__ADS_1
"Seseorang, dari tadi hanya itu. Entah itu lelaki atau perempuan," Ken berdecak, Erfan hanya tersenyum menanggapi kekesalan sahabatnya.
"Saat gue sudah siap move on, Allah malah memberikan luka yang baru. Bilqis, dia pergi secepat ini."
"Mungkin seseorang itulah sebenarnya jodoh lo." Adnan menghibur Erfan. "Iya kalau seseorang itu perempuan Kak?" Ken mencebik.
"Erfan mana mungkin senyum-senyum sendiri kalau seseorang itu laki-laki Ken." Adnan mematahkan pemikiran adik kandungnya yang tidak peka.
"Siapa tau dia belok." Ujar Ken dengan memasang tampang jijik pada dua orang di sampingnya.
Brukk,
Erfan menghantamkan bantal ke kepala Ken. "Mulut diciptain buat ngomongin yang baik-baik bego."
"Lo sendiri ngomong bego dengan gampangnya, tanpa merasa bersalah." Ken tersenyum geli menyaksikan wajah Erfan yang mengeras karena kesal dengannya.
Erfan memikirkan kalimat yang diucapkan Adnan. Mungkinkah Hira itu jodohnya? Seperti yang Zaky inginkan. Apa ini kebenaran dari pikiran zaky yang sangat yakin jodohnya Hira, bukan Bilqis.
"Kenapa melamun?" Adnan menyentil kening Erfan, si empunya hanya menggeleng.
"Ya, gue lagi mikir mungkinkah seseorang itu jodoh gue, ah terlalu cepat gue move on kalau gini." Erfan terkekeh geli
"Kalau memang jodoh semuanya akan Allah permudah Fan?" Erfan memikirkan ucapan Adnan, waktu menuju pernikahan yang singkat. Banyak hal yang ia lalui sampai kepalanya hampir pecah. "Benarkah, dua minggu menjelang pernikahan bukannya gue senang. Kepala gue hampir meledak. Ada aja masalah yang datang."
Erfan menghela napas kasar, ia belum menceritakan tentang Hira pada sahabatnya ini.
"Lo dengar berita tentang dr. Hira?" Tanya Erfan, dua sahabatnya mengangguk cepat.
"Gue pengen lo klarifikasi berita itu, tapi keburu dapat kabar berita duka." Ken berujar, diangguki Adnan.
"Itu terjadi karena kesalahan gue, gue yang terlalu berambisi ingin menghukumnya."
"Menghukum, bagaimana maksudnya?" Adnan serius menyimak kalimat yang keluar dari mulut Erfan.
"Program CSR itu terjadi karena keinginan gue yang mau membuat Hira jera. Gue kesal dia selalu judes sama gue, sikapnya yang songong kalau di depan gue. Zaky merealisasikannya dengan program itu. Gue gak niat sampai bikin dia trauma seperti sekarang, dan gue menyesal. Sangat menyesal pernah bertindak bodoh dan melibatkannya dalam kehidupan gue."
__ADS_1
"Sekarang keadaannya bagaimana?"
"Sudah lebih baik Nan, gue masih pantau dan kirim orang buat menjaganya. Tapi kalau lagi kumat, dia cuma bisa merespon gue. Gak mau sama yang lain. Mungkin ini hukuman buat gue."
"Lo gak ada niat buat menjaganya selamanya?" Ken bertanya penasaran, kisah yang rumit.
"Kalau sebelumnya belum ada, tapi sekarang gue pasti akan melakukannya."
"Lalu seseorang itu?" Desak Ken, Erfan mengendikkan bahunya malas.
"Jangan bermain-main dengan hati Erfan, jangan hanya menikahi Hira karena merasa lo yang harus bertanggung jawab. Dan membuat pilihan yang salah lagi."
"Biarlah takdir yang menuntun gue selanjutnya." Erfan berucap asal, mereka saja yang tidak tau kalau seseorang itu Hira. Ia tertawa geli dakam hati.
"Apa kita harus nemenin lo begadang sampai subuh Fan. Besok gue harus ke kampus terus ke kantor Abi." Keluh Ken
"Wajib, gue gak bakalan bisa tidur sekarang."
"Nasib, gak bisa ngelonin El malam ini." Ken membaringkan tubuh di ranjang, menopang kepala dengan kedua tangan.
"Masih banyak malam-malam lain nanti. Lo sama sahabat masih itung-itungan. Lupa kalau gue pernah nemenin lo jaga Nana semalam penuh."
"Gue gak akan lupa Fan, kalau lupa lo gak akan liat gue di sini sekarang."
"Kalian berantem aja dulu, gue ke kamar bentar." Adnan mengintrupsi perdebatan antara Erfan dan Ken.
"Gue juga." Ken buru-buru bangun dari tidurnya, mengikuti jejak sang kakak.
"Kalian gak bisa menghargai gue banget." Erfan berdecih kesal dengan dua sahabatnya itu. Masih bisa mikirin bercinta saat ia sedang berduka.
"Bentar aja Fan, nanti Sya gak bisa tidur nyenyak kalau gak gue kelonin." Goda Adnan sambil tertawa kecil, Erfan mencebikkan bibirnya.
Erfan membaringkan badan setelah dua kakak beradik itu meninggalkannya. Berusaha memejamkan kedua netranya yang membengkak karena terus menangis.
"Dua hari lagi kita halal Qis, tapi kamu malah pergi duluan. Inikah jalan bahagiamu Qis, tanpa aku mendampingimu. Kita memang baru mengenal, aku sudah berusaha membuka hati untukmu. Apa memang Hira takdirku."
__ADS_1