
Usai meeting Erfan tenggelam dalam kesibukannya memeriksa laporan. Pasar merespon baik game online yang mereka luncurkan bulan lalu. Begitu juga ERP EXTNET yang diterima baik oleh para pebisnis online tanah air.
"Demo online ERP gimana responnya Lih?"
"Lebih efisien demo langsung bos. Kita bisa langsung membimbing di tempat. Dibanding online, sering delay karena responnya lambat."
"Bukannya kalau online bisa dihandle satu orang untuk satu perusahaan?" Tanya Erfan.
"Memang, tapi membutuhkan waktu yang lebih banyak. Kalau demo langsung kita bisa selesaikan dalam dua jam dan selesai saat itu juga. Beda kalau online, waktu dua jam itu tidak cukup." Jelas Galih, Erfan mengangguk mengerti.
"Kalau begitu agendakan untuk demo langsung, tapi tetap ada pelayanan online."
"Siyap Bos."
"Kamu bisa istirahat dulu."
Galih mengangguk, meninggalkan ruangan sang atasan. Bekerja dengan Erfan tidak terlalu mengerikan. Walaupun terlihat dingin, lelaki itu sangat ramah kalau sudah kenal dekat.
Selesai memeriksa semua berkas yang ada di meja dan menandatangani, Erfan menemui istrinya di kamar.
Istrinya itu meringkuk di atas ranjang dengan televisi yang masih menyala. Pasti sangat bosan ia kurung setengah hari di dalam kamar.
"Sweety, bangun Sayang sholat dulu." Erfan menepuk pelan pipi Hira. Perempuan itu menarik tangan Erfan memeluknya erat.
"Bangun Cinta." Panggil Erfan lembut, menyelipkan rambut Hira ke belakang telinga.
Perlahan Hira mengerjap lalu membuka mata sempurna. Senyuman manis Erfan sudah menyambutnya.
"Sudah lama tidurnya?"
"Lumayan Bee, bosan di sini." Ujar Hira bangun dari tidurnya, bersandar dengan nyaman di bahu Erfan.
"Cuci muka dan ganti baju kita makan di luar Sayang, tapi sholat dulu."
"Bentar, masih ngantuk Bee."
Setelah mengumpulkan nyawa Hira beranjak ke kamar mandi kemudian berganti pakaian. Usai sholat mereka makan siang di sebuah restoran.
"Kenapa Bee?"
Raut wajah Erfan berubah sendu usai menjawab panggilan telepon. Mereka masih menikmati makan siang yang ada di depan mata.
"Papa sama Mama nunggu di kantor Sweety. Aku bingung harus bersikap bagaimana pada mereka." Ujar Erfan disela makannya, mereka makan dengan cepat.
"Seperti biasa Bee, mereka tetap orang tua kamu. Kita juga gak butuh warisan mereka kan?"
Erfan mengangguk membawa Hira meninggalkan restoran.
"Aku gak mau test DNA ulang Sweety." Erfan tak melepaskan genggamannya dari tangan Hira. Kini mereka sudah berada di mobil menuju gedung EXTNET.
__ADS_1
"Iya aku ngerti, Bee. Kita lalui ini sama-sama."
Dalam ruangan Erfan pasangan paruh baya itu sudah menunggu. Erfan dan Hira langsung bergabung setelah menyalami kedua orang tuanya.
"Erfan, pulang ke rumah ya. Jangan pedulikan keluarga Papa. Kami sepenuhnya percaya sama kamu." Ujar Hardiyata dengan tatapan sendu, ia tak bisa melihat istrinya yang berubah jadi murung.
"Maaf Pah, aku gak bisa pulang. Walau aku gak ada di rumah itu, Erfan tetap anak kalian." Ujar Erfan tenang tanpa bermaksud menyinggung kedua orang tuanya.
"Kamu pulang ya Sayang, temani Mama di rumah." Bujuk Btari, "Mama kesepian kalau sendirian."
"Mah, Pah. Aku gak mau jadi pemicu keluarga kalian terpecah dan jadi perang antar keluarga. Kami akan selalu mengunjungi rumah kalian. Dan kalian bebas bertemu kami." Jelas Erfan lembut agar tidak menyakiti hati orang tuanya.
"Aku gak mau cuma karena masalah harta ini bisa berimbas pada keluarga kecilku. Papa paham maksudku kan?"
Iya, Erfan tidak mau hanya karena bersaing masalah warisan. Istrinya mendapatkan ancaman. Ia lebih baik memilih cara aman.
"Iya Papa paham. Kamu bisa tinggal dimanapun kamu mau Nak."
"Pah," sela Btari. Ia tidak suka suaminya mengambil keputusan seperti itu.
"Biarin mereka membangun rumah tangga seperti yang mereka mau Mah, kita masih bisa bertemu kapanpun." Jelas Hardiyata, mengulur tangannya untuk merangkul sang istri. "Mau dapat cucu cepatkan?" Bujuknya, Btari mengangguk.
"Tapi gak biarin mereka tinggal di kantor juga Pah."
"Bulan depan kami pindah Mah, di sini cuma sementara. Belum sempat beres-beres apartemen." Sergah Erfan sebelum mamanya berujar membelikan rumah.
Sebelum sang bunda melakukan sidak ke kantor. Erfan sudah pindah ke apartemennya. Kata Btari kantor terlalu sempit untuk ruang gerak Hira. Istrinya bisa stres, itu sangat mempengaruhi program kehamilan mereka. Erfan nurut sajalah.
Emak-emak memang selalu memiliki power besar untuk mempengaruhi orang lain. Dulu Mami Reny, sekarang Mama Btari yang merecoki hidup Erfan.
"Apa jadwal saya setelah ini Lih?"
"Jam dua nanti ada meeting dengan klien Pak."
"Oke. Ini berkas yang harus kamu pelajari." Ujar Erfan pada asistennya, Galih mengangguk mengambil berkas itu. "Oh ya, tolong carikan rumah yang aksesnya dekat rumah sakit umum Lih. Saya mau bikin rumah singgah."
"Perlu berapa rumah Pak?"
"Dua dulu deh, kalau ada yang berdekatan jadi mudah mengelolanya. Sekalian rekrut empat orang karyawan untuk sementara dan satu asisten untuk istri saya."
"Siap Pak, saya akan survey lokasinya." Ujar Galih lalu pamit dari ruangan sang bos.
Baru setengah hari ia sudah rindu dengan sang istri. Erfan bolak-balik menatap jam di tangan. Tadi Hira sudah berkabar sedang dalam perjalanan ke kantor. Tapi belum ada muncul juga batang hidungnya, padahal sudah lebih setengah jam.
"Sa, panggil Tian dan Galih kita makan bareng." Ujar Hira, ia baru sampai di kantor sang suami.
"Siyaap Bu bos."
Ah suara itu yang sangat Erfan tunggu. Hira langsung menghambur kepelukan suaminya setelah meletakan makanan yang ia bawa ke atas meja.
__ADS_1
"Kenapa lama Sayang?"
"Mampir dulu Bee. Mau di gendong." Rengeknya manja. Dengan senang hati Erfan membawa bayi kangurunya dalam pelukan.
"Mas khawatir tau, kamu gak sampai-sampai. Kalau telat itu kabarin Sayang."
"Sekarangkan aku baik-baik aja Bee." Ujarnya menenggelamkan diri dalam kehangatan sang suami.
"Kangen banget ih, gak bisa pisah dari kamu Sweety."
"Hm, pengen tidur di gendong gini boleh gak Bee."
"Boleh Sayang, tapi makan dulu."
"Masih belum puas, nanti dulu." Tolak Hira manja, Erfan tentu saja menyetujuinya.
"Ulu-ulu, yang baru datang langsung minta gendong." Goda Ressa, dia sampai bingung dengan tingkah sahabatnya yang sangat menggelikan itu. Bukan romantis, jatuhnya alay bagi Ressa.
Hira malas menanggapi ocehan Ressa. Kehangatan pelukan Erfan lebih mendamaikan.
"Mau juga, sini gue gendong. Terus gue lempar ke jendela," tawar Tian.
"Idih, gak ada manis-manisnya," sewot Ressa.
"Aku bawain red velvet khusus buat Ibu Bos." Ujar Galih membuka box cake yang baru dibelinya.
"Gue mau, enak nih. Bikin ngiler." Serobot Ressa, Galih menyingkirkan tangan itu dengan kasar. "Eh, bukan buat lo. Gak tau diri banget," omelnya.
Kepala Erfan rasanya mau pecah kalau tiga orang itu disatukan. Apalagi ada tambahan Guntur. Kantornya jadi ruang debat terbuka.
"Aku mau." Hira melompat dari gendongan suaminya, "Bee, mau beli ini yang banyak."
"Iya, nanti kita beli Sayang." Erfan membawa istrinya duduk di sofa. "Beli di Anincake kan Lih?"
"Kok bos tau?"
"Iyalah, itu toko punya istri Tomi." Jawab Erfan santai, walau ia belum pernah mampir ke toko itu. Galih tau Tomi itu siapa, tapi dia belum pernah bertemu langsung dengan orangnya.
"Bisa dapet diskon dong kalau beli di sana."
"Lo mikirnya diskonan melulu. Kalau gak nyari diskon, nyari yang gratis," Sarkas Tian. Ressa memutar bola mata kesal, ia selalu jadi bahan penistaan.
"Kalian gak pusing berantem terus. Gak mau makan, jadi dianggurin heh." Omel Hira, tangannya sigap membuka rantang.
"Mau dong, lumayan hemat lima puluh rebo buat makan siang." Celetuk Ressa sambil cengengesan menampilkan deretan giginya.
"Gak heran kalau lo suka gratisan. Makanya hidup lo melarat." Sarkas Hira, membuat Ressa melotot sempurna. "Mulut lo pedas banget Ra, kasian anak lo entar."
"Makan," titah Erfan dingin untuk mengakhiri perdebatan yang tak berfaedah itu.
__ADS_1