Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
47


__ADS_3

Erfan kelimpungan saat mendapat kabar Hira pergi dari rumah. Gps yang sengaja ia pasang di jam Hira, ditinggal di kamar gadis itu. Dengan pintar gadisnya itu membuat dua pengawal tertidur lalu pergi saat orang-orang sibuk beraktivitas di pagi hari.


Ia sudah mengirim orang untuk menyisir sepanjang jalan tapi tidak menemukan. Terminal, stasiun, bandara sudah dijajahi tetap saja tidak ada petunjuk. Hira tidak diculik tapi pergi.


Erfan tidak sabar menunggu Ressa dan dua orang pengawalnya menghadap. Ia sudah begitu percaya pada Ressa dan yakin bisa menjaga Hira, tapi ternyata tak berguna.


Hira sudah lama ingin pergi, tapi Erfan tidak mengindahkan itu. Sampai gadisnya nekad untuk kabur dari pengawasannya. Hira bukan gadis polos yang tidak tau apa-apa. Gadis itu sudah mempersiapkan dengan matang, sampai ponsel pun ditinggal. Dasar gadis licik, Erfan menyeringai.


"Lo membuat kepercayaan gue hilang Sa, gue mengirim lo untuk menjaga Hira bukan liburan." Erfan berucap datar tanpa ekspresi, Ressa menunduk tidak dapat melakukan pembelaan.


"Kenapa bisa terjadi, ibu tirinya mengatakan itu Sa. Kalau lo selalu ada di sampingnya itu tidak akan terjadi." Erfan mendapatkan rekaman dari pengawalnya, segala hal yang berkaitan dengan Hira harus selalu ada buktinya. Itulah kenapa Erfan tetap mengirim dua pengawal untuk mengikuti kemana pun Hira pergi.


"Lo terus diam gak akan membuat Hira ketemu, Ressa!" Suara Erfan terdengar sedikit meninggi, ia meninggalkan Ressa di ruangan kerjanya. Tidak sepenuhnya semua salah Ressa, Erfan tau itu. Ia hanya terlalu khawatir dengan keadaan Hira. Ia khawatir Hira mengetahui kalau Erfan yang sudah memberikan uang pada ayah Hira, lebih kasar membelinya. Apa Hira pergi karena benci dengan apa yang sudah dilakukannya.


Kenapa pergi sendirian Ra, padahal kita bisa pergi bersama. Kemana ia harus mencari Hira, tidak ada berita baik dari orang-orang suruhannya. Membuat Erfan sangat frustasi.


"Perempuan memang lebih suka memilih pergi dari pada bicara baik-baik. Padahalkan semua bisa diselesaikan dengan musyawarah." Ken berujar, malam ini Erfan lebih memilih tidur di rumah abi Nazar. Kalau sendirian pikirannya akan semakin runyam.


"Mereka ajaib, hal sederhana pun bisa dibikin rumit. Tidak seperti matematika yang rumit bisa disederhanakan." Adnan tersenyum miring, Erfan memutar rekaman dan mengeluarkan sebuah kwitansi. Ken dan Adnan menganga melihat apa yang ada di meja.


"Mungkin dia tau itu makanya memilih pergi. Padahal gue gak ingin memanfaatkan ini untuk mendapatkannya. Gue hanya ingin membebaskannya dan hidup bahagia. Semua begitu rumit." Erfan membaringkan tubuhnya di sofa dengan tenang menghirup napas panjang.


"Seperti itukah bahagianya, dengan nekad pergi tanpa tau resikonya bagaimana. Gue takut dia kenapa-kenapa di luar sana."


"Hira perlu waktu untuk sendiri Fan, siapa yang tidak terluka harga dirinya jika menyadari dia ditukar dengan uang." Ken berkata bijak, matanya menatap Erfan yang terbaring seperti orang depresi.


"Apapun yang gue lakuin akan tetap terlihat salah dimatanya Ken, dia menganggap gue merebut kebebasannya padahal gue ingin dia selamat. Dia menganggap gue memperlakukannya seperti pelacur mungkin dengan cara membelinya."

__ADS_1


"Itu semuakan karena kalian tidak pernah duduk bersama mengatakan alasan dibalik lo melakukan semua ini. Mungkin bagi lo tidak penting, asal ada bukti nyata. Beda dengan Hira yang menganggap penjelasan itu sangat penting." Ujar Adnan


"Ngantuk, males mikir." Erfan bangkit dari sofa melenggang ke kamar. Adnan geleng-geleng kepala.


"Dia yang curhat, dia yang kabur," Ken bergumam.


Selama kenal Hira, Erfan tidak pernah bertukar kabar melalui telepon ataupun chating. Sampai nomor itu sudah tidak bisa Erfan hubungi lagi. Huh, cinta selucu ini. Erfan memejamkan netranya berharap bisa bertemu Hira walau hanya dalam mimpi.


Hiruk pikuk jalanan yang padat di hari weekend membuat Erfan jengah. Ia melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Emran. Erfan belum pernah bertamu ke rumah mewah ini. Ia sudah menghubungi Zaky, bukannya mengatur jadwal bertemu, sahabatnya itu malam menyuruh datang ke rumah.


Ia bukan tamu spesialkan di sini, kenapa para pelayan begitu sibuk melayaninya.


"Masih pagi bro, keliatan banget jomblonya." Goda Zaky dengan kekehan.


"Gue mau ngamen di sini buat bangun rumah." Sahut Erfan tak ramah, "rumah tangga." Sambungnya, Zaky mengernyit. "Gue perlu bantuan!"


"Sangat. Tolong lacak keberadaan Hira! Gue sudah menyerah, kemampuan gue tidak sekuat kalian."


"Ada masalah serius rupanya. Ayo ikut gue." Zaky mengajak Erfan ke ruang rahasia papa mertuanya. Ia juga memanggil Guntur, masalah seperti ini Gunturlah jagoannya.


"Lo gak mau cerita penyebabnya apa?" Guntur sudah hadir di sana diikuti Tomi. Tiga orang itu tinggal satu atap. Erfan menggeleng malas.


"Oke, sepertinya privasi." Guntur memainkan jarinya di atas keyboard. "Anak pintar, sampai meninggalkan semua hal yang bisa dilacak." Guntur tersenyum miring.


"Dia tidak tau kalau kita bisa meretas semua identitas kependudukan yang sedang melakukan perjalanan," Zaky menyeringai.


"Lo pasti membuat kesalahan yang menurutnya fatal." Tomi menebak, "setelah dapat mau diapakan?" Lanjutnya.

__ADS_1


"Gue bisa apa?" Erfan mendesah pasrah, Zaky menggaruk tengkuknya. Ekspresi Erfan sangat mengkhawatirkan.


"Gue liat tampang lo gitu pengen jadiin samsak tinju Fan."


"Apa yang salah dengan tampang gue Zak, gak kalah ganteng dari kaliankan. Cuma nominal yang gue punya aja gak sepanjang milik lo."


Pluk


Sebotol air mineral mendarat di kepala Erfan, si empunya tak bergeming.


"Patah hati bikin manusia jadi sedungu itu ya, gak heran sih. Gue sudah sering melihat orang jadi bego gara-gara cinta." Guntur berceloteh ria, tangannya sudah sibuk main game. Itu anak memang sesantai itu, suka bikin kakak-kakak tetuanya naik darah.


"Kalau gue minta tolong kalian gini bayar gak sih?" Erfan sok polos, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan yang di dudukinya dengan tatapan takjub. Beberapa monitor ada di sana. Monitor besar terpampang di dinding, ruangan kedap suara. Beberapa senjata juga ada di sana.


"Di dunia ini gak ada yang gratis, kalau kayak gini bayarnya pakai pengabdian seumur hidup." Ucap Guntur asal.


"Gue jadi pengen diangkat anak sama Pak Emran kalau gini." Erfan tersenyum smirk mengalihkan kesedihannya.


"Lo kayak anak yatim piatu aja asal ada orang kaya mau dijadikan anak angkat. Kurang lo jadi anak Abi Nazar, sampai pengen menggaet papa Emran." Decak Guntur


"Lho kok lo yang sewot Tur." Erfan terkekeh geli, "kalau gue diangkat anakkan bisa tidur di sini juga. Jadi gue bisa hidup dimana gue mau."


"Senelangsa itu hidup lo Fan, Mami Papi lo gak diakui lagi." Sindir Zaky


"Haha, bukan hanya nelangsa hidup gue Zak." Erfan tertawa penuh arti. "Gue sampai nyaman hidup ditengah-tengah keluarga orang. Dari pada keluarga gue sendiri."


Yah, itu benar adanya. Ia lebih nyaman bersama keluarga abi Nazar. Erfan lebih suka berkumpul sama sahabatnya, dibanding sepupunya sendiri. Sejak dulu jarak mereka antar keluarga begitu jauh.

__ADS_1


__ADS_2