Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
64


__ADS_3

Beres pekerjaannya Erfan langsung meluncur ke rumah sakit. Rindu dengan kesayangannya itu. Setelah permisi pada perawat yang jadi asisten Hira. Erfan nyelonong masuk, istrinya itu sedang melamun.


"Awas kesambet!"


Erfan menarik kursi yang bersebrangan dengan Hira. Memberikan senyuman yang paling manis pada istrinya.


"Bee!"


Hira beranjak dari kursi menghambur kepelukan Erfan. Pria itu menyambutnya dengan senang hati memberikan kecupan hangat di kening.


"Kenapa, hm?"


"Kangen." Ucapnya dengan nada manja, duduk di pangkuan Erfan dengan tangan dikalungkan pada leher pria itu. Erfan mengangkat alis bingung. Tumben manja di tempat seperti ini.


"Ayo pulang, kalau kangen."


Hira memajukan bibir menatap arloji di tangannya. Dengan senang hati Erfan menggunakan kesempatannya untuk menyesap bibir ranum itu. Tapi terhenti karena notifikasi di ponsel Hira. Wanita itu segera membuka ponselnya dan melompat dari pangkuan sang suami.


"Bee, aku tinggal dulu ya. Ada pasien pendarahan, baru masuk." Ucapnya dengan bergegas mengambil sneli dan stetoskop lalu mengecup pipi Erfan. Pria itu hanya tersenyum kecut, gagal rencananya membawa sang istri pulang lebih awal, yang ada telat pulang.


Bosan menunggu Hira di ruangan Erfan menuju kantin rumah sakit. Cukup lama ia berada di kantin sampai matahari mulai tenggelam. Istrinya belum ada memberi kabar, Erfan kembali ke ruangan Hira. Gadisnya belum ada di sana. Huft, tau gini Erfan memilih menunggu di kantor.


"Bee!"


Pelukan dari belakang Erfan rasakan. Tangan mungil itu melingkar di leher, dan mendusel-dusel pipi Erfan.


"Tangannya sudah di cuci?" Canda Erfan, gadisnya itu merengut memutari kursi dan duduk di pangkuannya dengan menyandarkan kepala di bahu Erfan.


"Sudah."


"Capek?"


"Banget."


"Ayo kita pulang, istirahat di rumah." Ajak Erfan setelah mengecup kepala istrinya. Hira menurut beranjak dari pangkuan Erfan, lalu mengikuti pria itu meninggalkan rumah sakit.


Kalau tidak banyak orang rasanya Hira ingin minta gendong, lelah setelah menangani pasien pendarahan karena mengalami abrupsi plasenta tadi. Huhh.


"Lelah banget ya Ra?" Hira hanya mengangguk, Erfan sudah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai rumah.


"Mau di gendong?" tawar Erfan yang sudah berada di depan pintu mobil, lagi-lagi kepala Hira hanya mengangguk. "Ayo." Erfan merentangkan tangan sambil tersenyum.


Hira menyingkap roknya, ia menggunakan lapisan celana panjang seperti biasa jadi tidak masalah jadi bayi kanguru.


"Berat Sayang." Goda Erfan, Hira tak menanggapi nyaman berada dalam gendongan suaminya. "Nanti kalau sudah punya anak jangan minta gendong gini lagi ya."


"Gak mau, mau di gendong terus."


"Mas bisa encok, Sweety." Erfan tersenyum geli menurunkan istrinya di ranjang. Gendong Hira itu berat. Apalagi harus menaiki anak tangga, yang di gendong mana peduli.

__ADS_1


"Sekarang mandi sana, baru kita sholat bareng."


"Gendoongg!" Rengek Hira manja.


"Kamar mandi dekat Sweety." Hira menggeleng dengan wajah masam. Terpaksa mengalah lagi deh Erfan.


"Mandi bareng sekalian ya Sweety." Goda Erfan setelah sampai di depan pintu kamar mandi.


"Ogah!!" Hira menutup pintu dengan kasar.


"Kenapa sih Sayang jadi jahat gitu."


Ada apa dengan dokter juteknya itu, tadi manja sekarang garang. Erfan geleng-geleng kepala.


"Bee!" Teriak Hira nyaring.


Kenapa lagi dengan istrinya ini, lagi anteng nonton drama Korea malah teriak-teriak. Erfan meletakkan laptopnya ke atas nakas lalu menyusul sang istri duduk di sofa.


"Kenapa Sweety?"


"Rara mau minum." Rengeknya manja, mata Erfan melotot. Gelas air minum ada di atas meja kenapa harus teriak. Sabar, Erfan sabar. Dengan penuh kesabaran Erfan mendekatkan gelasnya sampai ke depan bibir Hira.


"Kenapa mau minum aja pakai teriak Sayang."


"Bee!" Teriak Hira lagi setelah selesai minum, Erfan sampai menepuk jidat.


"Kenapa Sayang, kenapa? Hm."


"Mau ke mana Sayang?" jawab Erfan lembut, tangan Hira menunjuk-nunjuk ke arah balkon.


Ingin Erfan lenyap sekarang juga. Ia belum selesai mengirim email. Tubuhnya juga lelah setelah menunggu Hira berjam-jam di rumah sakit tadi.


"Ayo." Erfan membawa tubuh mungil itu dalam gendongan. Si bayi kanguru lagi rewel.


"Bee...!!"


"Apalagi, hm?"


"Rara mau ke sana di gendong."


Erfan melotot, saat bangunan yang dimaksud adalah mall. Naik mobil saja perlu lima belas menit, berapa jam baru sampai kalau menggendong Hira jalan kaki ke sana. Bakalan patah tulang punggungnya. Bisa-bisa pulangnya jadi tulang rusuk Erfan.


"Itu jauh Sayang. Kita tidur aja ya, Rara 'kan capek hari ini." Bujuk Erfan.


"Gak mau, gak mau. Rara mau ke sana di gendong." Rengeknya, perlukah Erfan suntikkan obat penenang pada Hira sekarang juga.


"Rara berat Sayang, ke sana jauh."


"Jadi Rara gendut?" Katanya memukul-mukul bahu Erfan.

__ADS_1


"Enggak Sayang, enggak. Rara gak gendut cuma berat aja."


"Sama aja, Mas bilang Rara gendut."


Ya Allah, tolong Erfan sekarang juga. Ia ingin menghilang dari bumi ini.


"Enggak Sayang, Rara tidur di sini ya. Sambil Mas gendong." Erfan menempelkan kepala Hira ke dadanya. Semoga mau tidur, batin Erfan. Kakinya sudah pegal membawa beban empat puluh lima kilo lebih.


Lama tidak ada suara, tiba-tiba suara isak tangis terdengar di telinga Erfan.


"Hira, Sayang kenapa menangis?"


Tidak ada jawaban, lama... tangisannya berhenti, tidak ada suara lagi. Erfan membawa Hira masuk membaringkannya di tempat tidur.


"Kamu kenapa Sayang jadi rewel. Aku jadinya bingung." Erfan mengecup kening istrinya lalu kembali fokus pada laptop, mumpung Hira sudah tidur. Ia memeriksa beberapa laporan dan membalas email Xeon.


"Bee...!!" Teriak Hira, membuat Erfan melepaskan laptopnya kembali. "Rara gak mau tidur di sini, gak mau. Rara takut. Rara mau di gendong. Rara mau di gendoooong..." teriaknya diikuti suara tangisan.


"Sweety, tenang." Erfan bergegas membawa tubuh Hira dalam pangkuannya. "Sweety, kenapa begini?" Dipeluknya Hira erat.


"Rara takut Bee, Rara takut. Tadi ada yang buka pintu."


"Gak ada Sayang, Mas dari tadi menemani Rara di sini."


"Rara takut, Rara gak mau tidur di sini," teriaknya histeris.


"Kita tidur di rumah Abi ya, Sayang?" Hira mengangguk, Erfan memasangkan jilbab kaos ke kepala Hira dan jaket, lalu menggendongnya.


"Non Hira kenapa den?" tanya Bi Atun yang mau menaiki tangga. Tadi ia mendengar suara teriakan majikannya berkali-kali. Jadi berinisiatif menengoknya, takut terjadi sesuatu lagi.


"Gak tau Bi, dari tadi rewel gak mau tidur di kamar. Aku nginap di luar ya Bi."


"Iya den, hati-hati." Bi Atun mengikuti Erfan sampai ke depan pintu utama.


"Rara takut kenapa Sayang?" Hira tidak mau di lepas duduk sendiri di mobil.


"Aku mau di gendong Bee." Dengan sangat terpaksa Erfan minta antarkan salah satu security, ia tidak punya supir. Sepanjang jalan Hira tidak mau lepas, lama-lama Erfan yang gila nih.


Setelah sampai Erfan memencet bel, disambut ummi dengan tatapan bingung.


"Sudah sampai Sayang, mau ke kamar apa mau ngomong sama Ummi?" Erfan membawa Hira masuk ke ruang keluarga.


"Rara mau tidur di sini, Rara mau tidur di sini." Hira menepuk-nepuk sofa.


"Oke, Rara duduk dulu ya, kita satukan sofanya."


"Gak mau, Rara mau di gendong, Rara mau di gendong."


Huuhh, Erfan menghembuskan napas kasar. Ummi memanggil Adnan dan Ken untuk membantu menggeser sofa.

__ADS_1


"Jangan rewel Sayang." Erfan sampai frustasi, istrinya sedang kesurupan setan apa. Akhirnya mereka mengungsi di rumah Abi Nazar dengan tidur di sofa. Tanpa memberikan penjelasan pada pemilik rumah. Erfan sudah lelah, saat Hira tenang. Ia langsung tertidur.


__ADS_2