Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
84


__ADS_3

"Assalamualaikum." Erfan mengurai pelukannya, teman-teman Hira datang membawa bunga dan hadiah.


"Wa'alaikumsalam." Sahut Erfan dan Hira bersamaan. "Kalian bawa hadiah banyak banget, kayak aku habis lahiran." Ujar Hira sambil tersenyum geli.


"Sayang banget sama pasien aku satu ini." Erika mengecup kening Hira, "sudah hebat sekarang gak penakut lagi."


"Makasih pujiannya, berkat kamu jugakan." Hira memberikan senyuman manisnya.


"Gue pikir lo bakalan nangis guling-guling Ra. Lo gak kena kutukan rujak curian gue 'kan sampai masuk rumah sakit gini." Seloroh Ringgo, meletakkan buket bunga di atas nakas. "Gue pengen peluk lo juga, pasti gak dibolehin sama pawangnya." Pria itu menunjuk Erfan yang hanya memberikan senyumannya.


"Kalau datang gak bikin ribut kayaknya bukan Ringgo deh." Kesal Hira.


"Sstt, gak boleh marah-marah. Nanti luka lo tambah besar. Susah bikin baby lagi." Hira mendelikkan matanya, banyak orang loh ini. Ringgo mulutnya gak di filter.


"Kayak lo pernah coba bikin baby aja," sarkas Hira.


"Hei, kalian ngapain berantem. Gak ngerti peraturan rumah sakit?" Lerai Erika, yang ditegur mah hanya cekikikan menahan tawa. Hira jelas belum bisa tertawa lebar lagi.


"Sudah ya, kalian jangan ganggu pasien di rumah sakit ini."


Semua mata tertuju pada orang yang berbicara di depan pintu. Nyali mereka langsung menciut lalu pamit undur diri. Siapa yang berani sama pemilik Emeral Hospital, walau cuma anaknya.


Ghani langsung datang ke rumah sakit saat mendapat kabar dari Zaky. Ia merasa seperti dejavu, istrinya juga pernah mengalami hal seperti ini. Tapi bedanya perempuan yang sedang terbaring itu terlihat sangat kuat, tak ada tangisan di sana.


"Satu kalimat yang keluar dari mulut lo bisa bikin nyali orang ciut Gha." Erfan terkekeh kecil.


Ghani mengendikkan bahu, "padahal bukan gue yang punya rumah sakit." Katanya santai, "kalian kuat banget. Ini pasti berat buat kalian."


Hira hanya tersenyum menanggapinya. Ia baru ingat, setahun yang lalu pernah mendapat pasien keguguran karena obat penggugur kandungan. Tapi suaminya bersikeras mengatakan istrinya tidak pernah mengkonsumsi obat apapun. Ternyata orang itu ada di depannya sekarang.


"Aku baru ingat, ternyata kita pernah ketemu jauh sebelum ini." Ujar Hira, Erfan mengernyitkan kening menatap Ghani dan Hira bergantian.


Ghani mengangguk, "ya, kamu dokter yang aku marahi karena mengatakan istriku mengkonsumsi obat penggugur kandungan." Jawabnya dengan tersenyum, sekarang Erfan baru mengerti.


"Sekarang aku baru sadar, dunia kalian ternyata benar-benar kejam." Ucap Hira miris, dulu ia tak percaya kalau pasiennya itu tidak pernah meminum obat penggugur kandungan. Hira pikir apa untungnya membuat orang lain menderita. Sekarang ia mengalami sendiri, tanpa tau alasan pasti kenapa orang-orang itu menyakiti keluarga kecilnya.


"Ya, selamat datang di dunia kami." Sahut Ghani lugas.

__ADS_1


"Gue benci banget dengar berita ini, gue benci berteman dengan Erfan." Guntur masuk ke ruangan dengan marah-marah membuat seisi ruangan bingung termasuk Tomi dan Zaky yang datang bersamanya.


"Gue benci kejadian yang sama berulang terjadi. Kejadian Anindi yang juga dialami Hira, kejadian yang menimpa Kha sekarang juga terjadi pada Hira. Gue benci lo, Fan."


"Gara-gara kalian gue jadi takut nikah." Guntur meluapkan emosinya, padahal ia selalu jadi orang yang paling santai diantara yang lain.


"Tapi gue gak ngalaminkan Tur?" tanya Zaky pelan, Guntur mengangguk. "Itu artinya gak semua orang akan mengalami seperti ini. Lo gak perlu takut nikah karena alasan ini."


"Bilang aja lo takut nikah gara-gara gak ada yang mau sama cowok tengil kayak lo." Lanjut Zaky.


"Lo bisa bikin hati gue senang gak sih Zak. Gue habis marah-marah nih."


"Kita ke sini buat jenguk orang sakit. Bukan buat dengerin kalian berdebat." Sarkas Tomi, membuat dua orang itu terdiam.


"Iya maaf." Ujar Zaky, meletakkan kotak kado yang dibawanya ke atas nakas. "Dari istri-istri kita, kecuali Guntur. Belum punya istri soalnya." Tuhkan Zaky bikin ribut lagi, padahal itu jatah Guntur yang bikin keributan.


"Bilangin makasih. Kalian jenguk orang sakit kayak datang ke acara nikahan aja." Ucap Hira sambil tersenyum.


"Assalamualaikum, Ya Allah Sayang." Btari datang langsung memeluk menantunya hati-hati. "Mama nunggu Papa jemput dulu jadi baru bisa ke sini." Sesalnya karena terlambat datang.


Hardiyata menepuk pundak putranya untuk menguatkan. "Polisi belum bisa menemukan persembunyian Wijaya dan Ikbal." Ujar pria paruh baya itu dengan sendu.


"Perusahaan aman Pah?" tanya Erfan.


Hardiyata mengangguk, "Alhamdulillah, sudah pulih." Ia beralih pada menantunya. "Masih sakit, Sayang?"


"Nyeri sedikit, Pah." Jawab Hira, tak lupa tersenyum. Ini hari ia paling banyak mengeluarkan senyuman manis yang penuh luka.


"Nanti sembuh, anak Papa kuat." Ujar Hardiyata mengelus kepala menantunya. Lalu beralih menatap teman-teman anaknya. "Baru beberapa hari yang lalu, Om nanyain kamu Gha, eh ketemu di sini. Sibuk ngurus perusahaan ya sekarang?"


"Gak Om, saya udah gak ngurus perusahaan. Jatah mereka berdua." Ghani menunjuk ke arah Tomi dan Guntur dengan senyuman jahil.


"Pantesan gak pernah keliatan. Mah, masih ingat si kembar?" Hardiyata bertanya pada istrinya.


"Ingat, yang suka momongin gadis kecil itukan Pah. Kemana-mana gak mau pisah. Sekarang anaknya di mana Gha?" tanya Btari penasaran.


"Ada di rumah Tante lagi jagain anak." Sahut Ghani sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu nikah sama dia?" Kaget Btari, lagi-lagi Ghani mengangguk. "Ya Allah, jodoh memang gak kemana." Takjub Btari.


"Jodoh memang gak kemana Tante, ributnya yang kemana-mana." Celetuk Guntur, Btari dan Hardiyata tertawa bersama. Sedang Erfan dan Hira kebingungan.


"Om cuma taunya anak Emran menolak dijodohkan. Itu aja. Gak tau siapa perempuan yang dimaksud." Jelas Hardiyata, ia juga tidak ingat wajah gadis kecil yang dimaksud istrinya itu lagi.


"Ya itu Om, yang ditolak itu yang jadi jodohnya. Sekarang kalau bisa diketekin terus," timpal Zaky.


"Om jadi penasaran, pengen memastikan sendiri, Zak."


Ghani garuk-garuk kepala, dari awal datang tadi ia jadi pusat perhatian. Apa salahnya.


"Papa kenal mereka dari kecil?" tanya Erfan penasaran.


"Iya Fan, rumah kita masih satu komplekkan. Kabar-kabar angin masih dapatlah walau ditutup rapat," seloroh Hardiyata.


"Aku jadi bersyukur Pah, dulu jadi anak hilang. Kalau enggak, dari bayi aku kenal mereka." Sarkas Erfan yang mendapatkan pelototan tajam. "Berteman dari jaman kuliah aja aku pusing."


"Gue gak ikut-ikutan kalau itu masalah kalian." Ujar Guntur angkat tangan.


"Wah sudah banyak tamu Mi. Kita dapat kabar belakangan." Ujar Abi Nazar setelah mengucapkan salam.


"Kenapa jadi reunian di sini, Bee." Bisik Hira, yang mendapat gelengan dari suaminya.


"Kamu mau istirahat?" tanya Erfan pelan agar tak terdengar yang lain.


"Enggak Bee, lagi banyak tamu."


"Ternyata cuma kita yang histeris Bi, mereka santai aja. Apalagi yang lagi sakit." Keluh Ummi Ulfa, hatinya lega melihat wanita yang terbaring itu tidak bersedih berlebihan. Wanita paruh baya itu mendekati Hira dan memeluknya erat.


"Ummi sampai kejer dengar kamu terluka, Nak." Ujar Abi menggoda istrinya. "Apalagi istri-istri mereka, maksa pengen ikut ke sini." Abi menunjuk Ken dan Adnan.


"Nanti kalau sudah pulang ke rumah bisa di jenguk kok Bi," ujar Erfan.


"Bee, kita gak punya rumah." Hira mengingatkan sambil tertawa kecil.


"Oh, iya." Erfan menepuk jidatnya lalu tertawa.

__ADS_1


__ADS_2