Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
39


__ADS_3

Hira terbangun dalam keadaan linglung, di sampingnya ada Ressa. Tapi ini bukan kamarnya. Hira merapikan jilbab lalu beranjak keluar kamar. Ini bukan rumah Ringgo yang terakhir ia pijak. Hira terus berjalan hingga sampai di dapur. Ia melihat Ummi Ulfa sudah sibuk memasak padahal belum azan subuh.


"Ummi..!" Sapa Hira kaget lalu menyalami ummi, "kenapa Hira bisa ada di rumah Ummi?" Tanyanya bingung, ia menarik kursi mengikuti ummi, beliau hanya tersenyum.


"Kamu lupa kenapa bisa ada di sini?" Ummi bertanya lembut, Hira mengangguk.


"Erfan yang membawamu ke sini. Katanya kamu sedang kumat. Ummi juga gak ngerti maksudnya." Kata ummi pura-pura tidak tau, Hira hanya berdehem. "Kamu kenapa, mau cerita sama Ummi?" Hira mengangkat kedua sudut bibirnya lalu tersenyum manis, bingung apa yang harus ia ceritakan.


"Aku gak tau Ummi, saat seperti itu hanya Erfan yang bisa menenangkanku. Kadang aku sadar tapi tidak bisa mengendalikan diri. Sebelum kejadian itu aku tidak pernah seperti ini." Ummi mendekat, mengusap lembut kepala Hira.


"Ummi paham, semua tidak bisa kamu kendalikan. Spontan terjadi ketika kamu merasa terancam." Hati Hira menghangat dengan usapan itu, ia sudah lama kehilangan kasih sayang seorang ibu. Sudah lupa bagaimana rasanya pelukan ibu.


"Hira merasa jadi orang yang paling hina Ummi, merasa tenang memeluk lelaki yang tidak halal untukku. Memalukan sekali 'kan Ummi, kata mama Ringgo aku hanyalah perempuan gila yang tidak pantas bersanding dengan anaknya." Hati berusaha tersenyum walah hatinya sakit saat mengatakan itu, cairan bening lolos dari dari matanya. Ummi menggeleng, menarik Hira dalam pelukan.


"Hira berharga Sayang, sangat berharga. Tidak semua orang tau kalau berlian itu mahal Nak. Bukan manusia yang pantas menilai kehinaan seseorang."


"Aku tidak pernah berharap bisa dekat dengan Ringgo, Guntur atau Erfan, Ummi. Aku tidak pernah terpikir dikenal oleh pemilik rumah sakit itu. Tidak pernah terlintas dibenakku bisa kenal keluarga Ummi. Semua terjadi begitu saja, bukan karena aku menginginkan harta."


Erfan yang sudah rapi mau berangkat ke mesjid langkahnya terhenti saat mendengar suara Hira menangis. Ia menangkap semua kalimat yang Hira ucapkan.


"Ummi tau Nak, kamu tidak serendah itu memanfaatkan orang lain demi uang. Ummi tau kamu berharga." Ummi mengapus air mata Hira dengan sangat lembut.


"Kalau aku berharga tidak mungkin Ayah menjualku Ummi." Ummi tersentak mendengar ucapan Hira, Erfan yang berdiri di belakang mereka dengan jarak yang cukup jauh juga tidak kalah kaget.


"Maksudmu apa Nak? Tidak ada orang tua yang tega menjual anaknya."


"Buktinya Ayah tega Ummi." Ucap Hira sesenggukan, "Ayah menjodohkanku agar bisa mendapatkan banyak uang." Fakta baru yang Erfan temukan, bagaimana Hira melewati hari-harinya yang penuh dengan luka. Ummi mengeratkan pelukannya, tidak sanggup berkata apa-apa.


"Bos, Hira hilang!!"

__ADS_1


Teriak Ressa menggelegar, Erfan membalikkan badannya menepuk jidat. Subuh-subuh begini seketarisnya bikin keributan. Erfan menatap tajam Ressa, mengarahkan telunjuknya ke meja makan.


"Maaf...!!" Cicit Ressa, "tadi panik banget Hira gak ada di kamar."


Hira mengusap sisa air mata membalikkan badan. Sahabatnya itu bikin onar di pagi buta, ia beranjak dari kursi mendekati Ressa.


"Lo bisa bangunin baby Key dan Nasya Sa, teriak-teriak gak jelas di rumah orang." Ia menjitak jidat sahabatnya, Erfan meringis melihat tingkah Hira. Ummi hanya geleng-geleng kepala, baru habis menangis sekarang sudah bar-bar.


"Kalian kenapa?" Adnan baru keluar kamar keheranan.


"Hira hilang." Jawab Erfan santai, Ken yang baru muncul terkekeh geli hilang dari mana, orang lagi ribut begitu. "Abi mana?"


"Tuh."


Tunjuk Adnan lalu mereka berangkat ke mesjid bersama.


Hira dan Ressa kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan sholat subuh. Lalu mereka membantu Ummi di dapur. Cuma duduk-duduk berbagi cerita sih, bukan membantu.


"Tadi malam." Jawab Hira, tangannya sibuk mengupas bawang. Sedang Ressa, duduk santai jadi mandor.


"Cuma berdua?" Elvina tidak tau ada keperluan apa Hira datang ke rumah.


"Erfan yang bawa Na." Ummi menjawab lebih dulu, Elvina hanya ber-oh-ria.


Sepuluh menit kemudian geng bapak-bapak pulang dari mesjid, setelah berganti pakaian mereka santai di ruang keluarga.


Setelah sarapan Ressa pulang duluan, mumpung weekend ia akan menengok apartemennya yang sudah seminggu ditinggalkan. Erfan mengajak Hira berkeliling rumah Abi Nazar.


"Gimana perasaan lo hari ini Ra, lebih baik?" Erfan membawa Hira duduk di kursi taman.

__ADS_1


"Sedikit lebih baik, terimakasih selalu membantu gue." Hira berucap tulus.


"Jangan dipikirkan." Erfan beranjak menuju kolam ikan yang ada air mancur di tengahnya. Berbagai macam ikan hias ada di dalam sana.


"Ikannya cantik-cantik." Puji Hira yang mengikuti Erfan, pria itu hanya tersenyum. Mau bilang cantik seperti Hira, tapi mulutnya tak selancang itu.


"Ra, apa yang terjadi tadi malam?" Tanya Erfan lembut, ia duduk di sisi kolam menatap teduh mata Hira.


"Tidak ada." Jawab Hira bohong, ikut duduk di sisi kolam.


"Lo tidak berbakat untuk jadi pembohong Ra." Erfan menarik kedua sudut bibirnya, menepuk lembut kepala Hira tiga kali. Jantung Hira berdetak cepat, hatinya menghangat dengan perlakuan pria itu. Hira menggigit bibir untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Bibirnya bisa luka kalau digigit begitu." Tegur Erfan, menarik tangan Hira untuk kembali ke kursi taman. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung Erfan saat ini. Ia harus segera mendatangi dokter ahli jantung untuk memeriksa kondisi jantungnya masih berfungsi normal atau tidak.


"Ra, boleh gue ngomong?" Hira mengangguk


"Gue lebih suka lo yang cerewet Ra, kalau lo begini gue gak ada lawan debat deh." Erfan gemas melihat wajah Hira yang memasang tampang polos. "Gak seharusnya gue memeluk dan menyentuh lo sembarangan Ra, gue minta maaf sudah melakukan itu. Terlalu sering gue memeluk dan mencium kepala lo. Kalau gue mau mempertanggung jawabkan itu semua, lo mau nerima gue?"


Deg


Debaran di jantung Hira semakin menjadi-jadi. Ia tak menduga Erfan melakukannya. Ini terlalu cepat, Hira terlalu takut menghadapi amukan orang tua Erfan. Kejadian tadi malam masih belum hilang dibenaknya.


"Mungkin ini terlalu cepat Hira, gue nyaman sama lo. Gue sayang sama lo, izinkan gue menjaga lo ya. Maafkan kesalahan gue yang sudah menyakiti lo terlalu sering. Lo mau nikah sama gue?" Saking lembutnya suara Erfan membuat debaran di hati Hira membabi buta. Jangan salah, Erfan juga merasakan hal yang sama. Ia harus mengkondisikan diri agar tidak terlihat gugup.


Hira menggeleng cepat, bukan ia yang menolak Erfan tapi keadaan. Keadaan yang tidak memungkinkan membuat impiannya terhenti sekarang juga. Jika menjadi pendamping Ringgo saja ia tak pantas apalagi menjadi pendamping Erfan.


Semua ini salah, salah jika Erfan ingin menikahinya. Erfan memperlakukannya sangat baik, membantunya saat musuh dari dirinya itu hadir.


"Apa alasannya?" Erfan masih bersikap lembut, ia tau ketakutan Hira sangat besar. Ia tak boleh memaksakannya, Hira perlu diberikan pengertian pelan-pelan.

__ADS_1


Hira menundukkan kepala, tidak sanggup menatap mata Erfan yang teduh dan menenangkan. Kali pertama ia mendapatkan tatapan yang begitu tenang untuk dinikmati.


__ADS_2