
Hira meringkuk di bawah selimut, setelah dikasih makan. Erfan menggempurnya habis-habisan. Laki-laki emang tidak berperasaan, bisa bertingkah sesuka hati.
Berharap Erfan pulang, tapi suaminya itu tak berniat beranjak dari kasur. Tidak taukah Erfan kalau hatinya semakin sakit diperlakukan seperti ini. Hira memejamkan mata, tubuhnya serasa remuk. Tangan lelaki itu masih setia mengelus kepalanya. Kalau begini terlihat sangat manis.
"Sakit Sayang?" Erfan merengkuh tubuh mungil itu dengan erat. Mereka masih bergelung dalam selimut yang sama.
"Hati aku sakit Mas." Lirih Hira pelan, Erfan memejamkan matanya menarik napas dengan gusar menyesali perbuatannya yang tidak bisa bersabar. "Tinggalin aku sendiri, aku butuh waktu buat nenangin diri."
"Enggak, aku akan tetap ada di sini menemanimu Sayang. Maaf sudah berulang kali membuatmu terluka dan kecewa. Jangan minta aku pergi Sweety."
"Kamu yang mengabaikanku, sekarang kamu juga yang datang mencariku. Apa aku ini hanya untuk memuaskan nafsumu saja Mas."
Kalimat itu menghujam tepat di jantung Erfan. Ia sungguh sangat mencintai Hira. Terlalu rindu membuatnya tak bisa mengendalikan diri.
"Sweety jangan bicara seperti itu. Kamu bukan hanya pemuas nafsuku, aku mencintaimu Sayang. Sangat mencintaimu, maafkan caraku yang salah ini." Pelukan itu semakin Erfan kuatkan, tidak rela kalau perempuan yang paling disayanginya pergi lagi.
"Aku tidak akan memaksamu lagi kalau kamu belum mau. Asal jangan meminta aku untuk pergi. Mandi dulu gih biar segar." Erfan mengurai pelukannya lalu beranjak ke kamar mandi, bahaya kalau juniornya minta lagi.
Huuhh. Erfan menghela napas dengan kasar. Belajar memahami apa yang istrinya inginkan. Terlalu lama puasa membuat nafsunya susah dikendalikan.
Lelaki itu berdiam lama dalam kamar mandi. Memikirkan cara agar Hira mau memaafkannya. Ia tidak bisa kalau jauh dari istrinya lagi.
Lebih dari setengah jam Erfan baru keluar dari kamar mandi. Istrinya terlelap di kamar, lelaki itu berbaring di lantai ruang tamu yang lenggang. Tidak ada sofa atau apapun di sana, hanya beralaskan karpet.
Hira terbangun masih dalan keadaan polos. Bagian bawah perutnya terasa nyeri dan agak aneh untuk dibawa jalan. Kalau biasanya aktivitas itu terasa menyenangkan tetapi sekarang malah menyakitkan. Erfan mencarinya hanya karena butuh tubuhnya. Apa ada hal yang lebih menyakitkan selain diperlakukan seperti itu.
Selesai mandi Hira tidak mencari suaminya. Mungkin Erfan sudah pulang, ia persis perempuan panggilan yang berstatus istri. Biarlah, Hira mau ke apotik dulu. Ia belum bisa hamil dalam keadaan keluarga yang masih seperti ini. Mengingat Erfan yang menghajarnya berkali-kali, ia harus minum pil kontrasepsi.
Hira berbalik ke kamar mengambil selimut kala mendapati suaminya tertidur di karpet. Lalu pergi ke apotik sebentar. Saat pulang suaminya sudah terbangun.
__ADS_1
"Dari mana Sayang?" Tegur Erfan dengan senyuman manis.
"Apotik Mas." Jawab Hira singkat lalu berlalu ke kamar.
"Kenapa gak bilang, Mas bisa belikan kalau kamu masih sakit." Erfan mengikuti istrinya ke kamar. "Beli obat apa, Sayang. Duduk dulu Mas ambilkan airnya." Hira menurut, meletakkan plastik obat di atas nakas. Erfan kembali dengan segelas air, menyerahkan pada Hira lalu mengambilkan obatnya.
Mata Erfan terbelalak sempurna, hatinya begitu kecewa. Sebegitu tidak ingin kah Hira memiliki anak darinya sampai harus seperti ini.
"Kamu gak mau anak dariku Ra?" Erfan melepaskan plastik obat di tangannya. Terduduk lemas di lantai. Harga dirinya terluka sekarang. Hira selalu punya cara yang membuat emosinya naik ke ubun-ubun.
Beberapa saat setelah berhasil menguasai diri, Erfan mengambil lagi obat itu memberikannya pada Hira. "Minumlah, gak papa kalau kamu gak mau punya anak dariku." Ucapnya dengan tersenyum, meletakkan sebutir obat di tangan sang istri.
Hira bergeming, masih belum bisa merespon. Kekecewaan sangat jelas terpancar di wajah Erfan.
"Kamu sehat-sehat ya. Aku pulang dulu." Lanjutnya lalu mengecup kening Hira lama kemudian meninggalkan kediaman istrinya dengan hati yang hancur berantakan. Ia mencari penginapan terdekat untuk menenangkan diri.
Sepulang suaminya Hira meletakkan kembali obat itu. Kalau sikap Erfan tidak aneh mana mungkin Hira menunda kehamilan. Namun sekarang hubungan mereka sedang rumit. Jadilah ia yang salah sekarang.
***
Mengabaikan masalah pribadinya Hira berangkat ke rumah sakit dengan semangat. Ia sudah memoles tipis wajahnya agar tidak terlihat menyedihkan.
Pagi ini ada jadwal visite pasien, besama asistennya Hira memasuki ruangan rawat. Argh, ia ketiban apes lagi. Di salah satu ruang rawat itu ada suaminya di sana. Sedang menunggu gadis yang katanya Erfan tolong karena kecelakaan.
"Permisi, kita periksa dulu ya Pak, Bu." Hira mengabaikan hatinya yang seperti diremas-remas. Lelaki itu masih menatapnya lekat. Ia melanjutkan pemeriksaan tanpa mempedulikan tatapan elang Erfan yang mampu meruntuhkan pertahanan dirinya.
"Alhamdulillah kondisinya sudah semakin baik, hari ini sudah boleh pulang." Ujar Hira sambil tersenyum setelah selesai memeriksa. "Suami ibu bisa langsung mengurus administrasinya." Tekannya lagi, seperti sedang mengusir pasien itu dari rumah sakit ini.
Erfan melotot mendengar kata suami yang diucapkan Hira.
__ADS_1
"Terimakasih dok, biar nanti suami saya yang urus." Kata gadis itu dengan tersenyum, Hira mengangguk lalu beranjak pergi. Ia hampir muntah harus berbaik hati pada pasien itu. Apa katanya? Suami? Apakabar Hira istri sah lelaki itu.
Argh, dunia ini sangat memusingkan. Membuat kepala Hira kliyengan. Belum sampai ruangannya Hira ambruk.
"Dokter!" Pekik asistennya kaget, lalu menangkap tubuh itu.
"Hira!" Ringgo yang berpapasan dengan perempuan itu segera membantu perawat. "Biar saya gendong sus." Izin Ringgo, perawat itu melepaskan Hira dari rangkulannya.
Setengah berlari Ringgo membawa Hira ke ruang IGD dan meletakkannya di atas brangkar. Erfan yang tadi menyusul Hira terlambat menolong istrinya. Hanya mengikuti dari belakang.
"Ringgo, Hira kenapa?"
Lelaki yang disebutkan namanya tenjingkat kaget melihat Erfan ada di sampingnya.
"Sorry Fan, tadi reflek." Erfan hanya mengangguk lalu tersenyum, "sepertinya Hira kelelahan, gue pamit dulu Fan."
"Thanks Go."
"It's okay." Ujar Ringgo kemudian pergi dari hadapan Erfan. Ia tidak ingin menambah beban Hira dengan kesalahpahaman yang baru.
Erfan terduduk di kursi tunggu, gara-gara keusilan gadis yang ditolongnya rumah tangganya jadi semakin rumit. Padahal ia cuma bertanggung jawab sampai gadis itu keluar dari rumah sakit.
Hira sudah dipindahkan ke ruang rawat, syukur istrinya hanya kelelahan.
"Assalamualaikum Sweety." Senyuman paling manis Erfan berikan saat menyapa. Hira menjawab lalu membuang muka. "Sayang, jangan dengerin anak kecil itu. Istri aku cuma kamu." Erfan duduk di kursi samping brankar menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Kamu kelelahan, malam tadi gak bisa tidur ya." Usapan lembut mendarat di pipi Hira, perempuan itu setia dalam bungkamnya mengabaikan sang suami.
Erfan membenamkan wajahnya di sisi ranjang beralaskan tangan kanan. Ia bingung harus bagaimana bersikap sekarang.
__ADS_1
"Aku juga lelah Sweety. Aku juga sakit saat kamu pergi, setiap malam aku gak bisa tidur. Aku gak tau dengan cara apalagi agar rumah tangga kita bisa berlanjut. Aku gak bisa menuruti kemauanmu agar kita berpisah. Aku capek, aku ke sini buat nyari kamu." Akunya dengan suara lirih yang pilu terdengar di telinga Hira.
"Di sini sesak Sweety." Erfan meletakkan tangan kiri Hira tepat di dadanya. "Aku gak tau rasanya mengandung, tapi aku ikut kehilang saat calon anak kita pergi. Aku memang bukan suami dan calon ayah yang baik. Aku minta maaf, Sayang. Tolong kasih aku kesempatan kita perbaiki semuanya."