Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
Bonchap 6


__ADS_3

"Abang Arraz..!!" Erra berlari kecil mendekati bocah laki-laki yang sedang bermain pedang-pedangan bersama kakak sepupunya.


"Erra," Arraz melepas pedang mainan di tangannya menyambut gadis kecil itu. "Sama siapa?" Tanyanya sudah seperti orang dewasa, padahal baru berusia empat tahun. Bocah kecil itu mengambil tangan Erra lalu membawa keluar dari area bermain.


"Sama daddy dan mommy. Bang Airil ditinggal?"


"Bang Airil sudah besar tidak akan menangis kalau kita tinggal." Ujar Arraz sambil berlarian kecil mencari sang bunda.


"Bundaa, Abang minta cokelat." Pinta Arraz mengulurkan tangan pada sang bunda.


"Arraz sudah banyak makan cokelat hari ini, gak boleh makan cokelat lagi." Beritahu sang bunda.


"Bukan buat Arraz, buat adek." Katanya seraya mencubit pipi Erra genit.


"Arraz, Ayah bilang gak boleh sentuh perempuan sembarangankan." Ghani mengingatkan.


"Erra bukan perempuan sembarangan, Ayah." Protes Arraz mencium pipi Erra. "Dia spesial."


Khalisa membulatkan mata mendengar kalimat yang diucapkan putra kecilnya.


"Tetap gak boleh!" Peringat Ghani tegas, walau dalam hati ingin tertawa.


"Terus kenapa ayah sama bunda boleh pegangan, hm." Arraz tetap protes, sedang Erra masih mencerna apa yang bocah laki-laki itu ucapkan.


"Ayah sudah menikah sama bunda jadi boleh pegangan tangan, kalau Arraz masih kecil dan belum menikah. Jadi gak boleh," jelas Ghani.


"Arraz sudah besar Ayah, kalau begitu Arraz mau menikah sama Erra."

__ADS_1


Ghani geleng-geleng kepala mendengar jawaban putranya. Sedang yang lain sudah tertawa gelak.


"Sini anak pintar," panggil Erfan pada Arraz. Bocah laki-laki itu menuru, Erfan memangkunya. "Kalau besarnya masih seperti Arraz ini belum boleh menikah, Sayang. Nanti kalau sudah sebesar Ayah baru boleh menikah," jelas Erfan.


"Bee, jangan ngajarin yang enggak-enggak!" Peringat Hira.


"Aku ngasih tau yang benar, Sayang."


"Kalau Arraz sudah besar boleh menikah dengan Erra?"


"Of course, Sayang." Jawab Erfan, sang istri sudah memelototkan mata.


Gadis kecil itu juga memang centil, sukanya mencium orang tapi kalau melihat orang dewasa yang berciuman dia akan protes.


"Arraz, ini cokelatnya Sayang." Khalisa memberikan beberapa cokelat koin kesukaan Arraz.


"Ini buat Erra dan ini buat Abang, ayo kita makan di taman." Ajak Arraz, Erra kecil menurut berlari lagi mengikuti Arraz. "Nanti kalau sudah besar Arraz mau menikah dengan Erra." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan para orang dewasa yang melongo.


"Kalian jangan berpikir mau main jodoh-jodohan pada anak kecil itu. Aku tidak akan tinggal diam. Cukup bundanya saja yang menderita menikah karena dijodohkan." Seru Khalisa, menatap tajam sang suami dan Erfan secara bergantian.


"Kha, siapa yang mau main jodoh-jodohan. Lihat putramu yang sudah berani mencium anak gadis orang." Ghani semakin menggoda istrinya.


"Dan yang dicium juga tidak menolak," sambung Erfan dengan tawa.


"Jangan meracuni otak polos mereka dengan otak mesum kalian!" Hira ikut memberikan peringatan.


"Bundaaa, adek jatuh main ayunan." Teriak Arraz sambil menangis ketakutan karena Erra yang tidak berhenti menangis.

__ADS_1


Hira segera bangkit, putrinya itu sangat sensitif. Jatuh sedikit saja bisa langsung tergeser tulangnya.


"Kenapa bisa jatuh, Sayang?" Khalisa menggendong Arraz untuk menenangkan dan menyusul ke taman. Juga diikuti dua orang pria yang bersatus ayah itu.


"Sayang, apa yang sakit?" Erfan mengangkat Erra yang masih menangis di tanah, membawanya duduk di gazebo.


"Mommy lihat, Sayang." Hira membersihkan lutut dan telapak tangan Erra yang kena tanah. "Cuma lecet, sepertinya gak ada yang terkilir, Bee."


"Tangan Erra sakit Mommy." Rengek Erra, tangannya memang baru pulih dari terkilir.


"Kita periksa ke rumah sakit, Sayang."


"No Daddy, Erra gak mau ke rumah sakit!" Teriaknya menangis semakin kencang.


"Bunda, adek kenapa masih menangis? Apa tangannya sangat sakit." Ujar Arraz yang sudah berhenti menangis.


"Coba Arraz bujuk adek, Sayang." Khalisa menurunkan putranya.


"Tangan Erra sakit?" Tanya Arraz kecil, gadis kecil itu pun mengangguk lucu.


"Sini, Abang tiup biar sakitnya hilang." Arraz mengambil tangan kiri Erra meniup kemudian mengecupnya.


"Kata bunda kalau sakit, ditiup lalu dicium pasti langsung sembuh." Jelas bocah laki-laki itu dengan sangat yakin.


"Sekarang masih sakit?" Tanyanya.


"Sudah sembuh," jawab Erra langsung turun dari pangkuan Erfan. Mengajak Arraz bermain lagi.

__ADS_1


"Ya Salam, anak siapa itu? Bikin khawatir orang tua aja." Seloroh Ghani yang hampir menelpon dokter untuk datang ke rumahnya. Pasangan suami istri itu hanya bisa tertawa melihat tingkah putra-putrinya.


__ADS_2