
"Oh Tuhan, Erra. Sungguh mommy dan daddy-mu bercinta tidak tahu tempat!" Teriak Tian sok histeris, mendorong kereta bayi mendekati meja Erfan.
Erfan menyapu bibir Hira yang masih basah dengan lembut menggunakan jempolnya. "Nanti lagi, Sayang. Pengganggu sudah datang!" Sindirnya pada sang sahabat, lalu mendekati kereta bayi dan mengangkat putrinya.
"Uncle Tian nakal gak, Sayang. Kalau nakal ditendang aja." Erfan sengaja menendangkan kaki mungil itu ke pipi Tian.
"Kalau daddy sama mommy suka nyuekin Erra malam-malam telepon Uncle, Honey. Nanti Uncle jemput." Tian tersenyum miring, mengecup pipi Erra.
"Kalian bicara apa sih, lihat putriku hanya bisa mengoceh dan tersenyum. Tidak perlu kalian cemari otak sucinya ini. Cukup harga minyak goreng melejit yang mencemari otak emak-emak." Hira mengambil putrinya dari gendongan sang suami, lalu membawanya ke kamar untuk diberikan ASI.
Tian dan Erfan saling pandang, terbengong-bengong dengan tingkah Hira.
"Ada apa gerangan dengan minyak goreng, kenapa jadi mencemari otak. Apa minyak goreng ada kandungan dexlitenya, sehingga menimbulkan pencemaran?" Tanya Erfan polos pada Tian.
"Entahlah," Tian mengendikkan bahu tak mengerti. Tangannya menanyakan pada google saking penasarannya.
Tiba-tiba mulutnya berdecak, "wooowww. Kalau kita bisa membeli saham perusahaan-perusahaan kelapa sawit. Kita bisa menjadi pengusaha terkaya di Indonesia."
Otak bisnis Tian langsung bekerja, "harga minyak goreng mahal dan stoknya langka. Sedang di negara upin-ipin harga minyak goreng tidak mencapai sepuluh ribu rupiah. Apakabar negara penghasil kepala sawit terbesar di dunia ini," ucapnya menggebu-gebu.
__ADS_1
Erfan menghela napas panjang, kenapa semakin ngalor-ngidul masalah minyak goreng. Ia langsung mengambil ponsel Tian dan menggaruk kepala.
"Jadi kalau minyak goreng mahal, ikan tinggal di bakar. Kalau BBM mahal, tinggal jalan kaki. Itu akan jadi penghematan, uangnya bisa ditabung buat naik haji. Sungguh solusi yang menghibur umat." Erfan berdecak mengembalikan ponsel Tian, kepalanya jadi pusing karena tercemari minyak goreng.
"Benar juga, mulai sekarang kita jual saja mobil dan jalan kaki." Ujar Tian sambil tertawa gelak meninggalkan ruangan Erfan.
Erfan geleng-geleng kepala, masuk ke kamar memeriksa istrinya, "Sweety mau makan siang di sini apa di luar?"
"Di sini aja Bee, Erra tidur lagi nih." Ujar Hira membenarkan posisi tidur putrinya. "Bisa minta tolong ambilin pompa ASI, Mas. Malas jalan." Katanya sambil nyengir, Erfan mengambilkan peralatan Hira.
"Sini Mas bantu, Sayang." Erfan mengeluarkan pompa ASI elektrik dari tempatnya.
"Enggak, ini tulus bukan modus Sayang. Kamu bersandar, cari posisi nyaman." Katanya seraya memasangkan corong pompa ASI. "Bikin gemas banget sih, kalau penuh gitu."
"Selesai," katanya lalu keluar kamar mengambil makanan yang sudah dipesannya.
"Sambil makan Sweety, aku suapin." Erfan menarik kursi dan duduk di depan Hira.
"Aku bisa sendiri, Bee." Tolak Hira, kedua tangannya masih berfungsi normal.
__ADS_1
"Tangan kamu kerjanya nanti malam aja, Sweety. Jadi jangan banyak bergerak, nanti kelelahan." Erfan mengerling jahil, sambil menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya.
"Kalau aku kerja malam, nanti kamu lembur jaga Erra sendirian, Bee."
"No problem, Sweety."
Hira mendengus, "itu lebih dari sekedar modus, Bee."
"Ya, itu ngumpulin pahala namanya Sweety. Mana ada nyari pahala seenak itu. Kalau ibadah lain mungkin berat, tapi ibadah ini yang paling menyenangkan, Sayang."
"Aku bisa apa kalau kamu sudah ngomong gitu, Bee." Jawab Hira cemberut.
"Hei, jangan cemberut. Kalau kamu lelah aku gak maksa. Makan yang banyak Sayang, biar ASI-nya melimpah." Erfan merapikan rambut Hira.
"Kamu emang gak maksa Bee, tapi licik!"
Gelak tawa keluar dari mulut Erfan, istrinya manis sekali kalau terus cemberut seperti ini.
...πΈπΈπΈ...
__ADS_1
Kata Erra, jangan lupa mampir ke lika-liku hidup Uncle Tian di AKSARA CINTA π