
Hira ragu mau masuk ke kamar, setelah sholat isya tadi ia langsung menonton televisi di ruang tengah. Ia takut Erfan meminta haknya malam ini. Rasanya ini terlalu cepat, Hira belum siap.
Anehkan, orang pacaran biasanya cari kesempatan agar bisa melakukan. Sedang ia merasa gelisah malam ini, tak mungkin beralasan lelah. Seharian Hira hanya diam di rumah tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Pekerjaan rumah sudah dibantu Bi Atun.
"Hira, masih marah?"
Hira melirik Erfan yang keluar dari kamar. Ia bukannya marah, hanya ingin menghindar. Kejadian Erfan memgecup bibirnya di depan kolam siang tadi membuatnya takut. Ia tidak benar-benar marah dengan suaminya itu.
"Sayang, ada apa?" Erfan duduk di samping Hira, "kalau marah ungkapin aja. Jangan dipendam."
Pengen terus diam tapi Hira tidak tega, ia merentangkan tangannya. Erfan dengan sigap menyambut.
"Kita ke kamar ya Sayang, sudah malam." Hira mengangguk, Erfan mengambil remot mematikan televisi lalu menggendong Hira seperti bayi kanguru. Kegemaran istrinya itu.
"Hira kenapa? Marah?" Tanya Erfan setelah mendudukkan Hira di sisi tempat tidur. Lagi-lagi Hira tidak menjawab, Erfan dapat melihat kegelisahan di wajah cantik itu.
"Kalau gak cerita aku gak tau apa yang kamu rasakan Ra." Bujuk Erfan lembut, melepaskan jilbab Hira.
"Takut...!" Cicit Hira, Erfan mengernyit. Apa yang membuat istrinya ketakutan, seharian ini tidak ada kejadian aneh.
"Takut apa Sayang?" Erfan menarik Hira dalam pelukannya, aroma rambut Hira mampu membuat gairahnya meronta. Jantungnya berdebar kencang. Lagi-lagi juniornya ingin bermain-main.
"Takut sama kamu." Lirih Hira seperti bisikan. Jantungnya tidak bisa dikondisikan sekarang. Ingin menghindari Erfan tapi tidak bisa. Pelukan itu membuatnya nyaman.
"Sayang, Sayang." Erfan menangkup kedua pipi Hira menatap teduh mata sendu itu. Apa Hira masih trauma? "Aku tidak akan melakukannya, kalau kamu belum siap. Aku tidak akan memaksa Sayang. Kita bisa tidur seperti kemaren." Erfan memberikan kecupan singkat di kening Hira.
"Kamu masih takut, kejadian di toilet waktu itu?" Tanya Erfan hati-hati, Hira mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Tenang Sayang." Erfan menenangkan Hira dengan pelukannya, tangannya mengusap lembut dari kepala ke punggung. Dilakukannya berulang kali. Istrinya memang sudah lebih tenang tapi sekarang juniornya yang tidak bisa tenang.
__ADS_1
"Apa yang bikin kamu takut saat itu, Ra?" Erfan tidak menjauhkan tatapannya dari Hira untuk memberikan kekuatan. Sudah beberapa kali ke psikiater, trauma Hira belum benar-benar sembuh. Hira menutup dadanya dengan kedua tangan.
"Aku bantu hilangin traumanya mau?"
Tuh 'kan si Erfan memang licik. Apalagi yang sedang dipikirkan otaknya. Berbagai cara dilakukan untuk membuat Hira bertekuk lutut. Gadis itu mengangguk pelan.
"Oke, tapi jangan marah. Janji." Hira lagi-lagi mengangguk, "sekarang tutup matanya." Gadisnya menurut, Erfan menyandarkan Hira di kepala ranjang.
"Rileks Sayang. Jangan takut, ingat ini Erfan suamimu. Bukan lelaki brengsek itu." Bisik Erfan lembut di telinga Hira. Desiran panas sudah memenuhi jiwanya. Erfan tak tahan lagi, juniornya sudah merontak ingin dilepaskan. Tapi ia harus sabar agar Hira terpancing gairah sama sepertinya. Licikkan.
Erfan membuka kancing piyama Hira. Ah, dia lupa berdoa. Takkan rela jika setan ikut serta membersamai kenikmatannya nanti. Erfan meletakkan tangan kirinya di puncak kepala Hira.
Diciuminya Hira dari kening, mata, pipi dan bibir. Erfan menyesap bibir itu dengan lembut, tidak ada perlawanan. Erfan memegang tengkuk Hira agar semakin dekat, terus ******* dan sesekali menggigit pelan bibir bawah Hira. Ia mengambil kesempatan menjelajah mulut Hira saat terbuka. Oh, tidak. Rasa ini membuat Erfan gila. Napas Hira terengah sesekali mengerang. Membuat Erfan semakin menggila.
Tangannya sudah menjelajah pada bagian yang paling menonjol, lalu memutar tangannya kebelakang melepas kaitan penutup si kembar. Pelan tapi pasti Erfan melakukannya agar trauma gadisnya itu bisa hilang. Diremasnya pelan sampai keluar ******* dari mulut Hira yang membuat Erfan semakin menggila lagi. Desakan hadir untuk melakukan sekarang. Juniornya sudah tidak bisa diajak diam.
"Sekarang masih takut Sayang? Kalau mau berhenti di sini aku tidak akan melanjutkan." Erfan menjauhkan kepalanya dari Hira, merapikan piyama yang sengaja dibukanya. Hira membuka mata, terpancar kekecewaan saat Erfan berhenti melakukan.
Hira menggeleng. Artinya tidak mau berhentikan? Ups taktik Erfan berhasil. Dengan senang hati ia akan melanjutkannya, memberikan surga dunia untuk sang istri tercinta. Erfan tersenyum semangat, membaringkan Hira di atas bantal. Melanjutkan adegan yang tadi terhenti.
"Setelah ini jangan pernah jauh dariku lagi, Sayang. Aku takkan sanggup jauh darimu. Tetaplah di sisiku, dampingi aku. Seluruh cinta ini aku serahkan untukmu. Hanya kamu satu-satunya kekasihku dunia akhirat." Mata Hira berkaca-kaca bahagia, kupu-kupu berterbangan di perutnya. Allah memberikannya lelaki sesempurna Erfan. Lelaki yang rela memberikan pelukannya saat terlelap. Lelaki yang rela memberikan segalanya untuknya.
Merangkai kisah cinta mereka yang tiba-tiba tak dapat ditembus nalar. Dipertemukan dengan cara tak biasa. Menikah dalam keterbatasan, meski begitu Hira sangat bahagia. Menikmati malamnya yang begitu panas dengan seorang lelaki yang baru beberapa bulan dikenalnya.
Hira terbangun dalam keadaan terbungkus selimut, mereka melakukannya sampai lupa diri. Jam di atas nakas menunjukkan pukul empat subuh, ia harus mandi dan melaksanakan sholat.
"Aauw, sakit." Hira meringis saat ingin menurunkan kakinya dari ranjang, Erfan mengerjap mendengar ringisan istrinya. "Kenapa Sayang?" tanyanya walau belum membuka mata secara sempurna.
__ADS_1
"Sakiit." Cicit Hira pelan, Erfan paham ia segera bangkit untuk duduk.
"Mau kemana?" Ia melirik jam di atas nakas.
"Mandi, mau sholat." Erfan tak mendebat, apa yang harus dilakukannya untuk mengurangi rasa sakit akibat keganasan juniornya tadi malam. Ia bangun menggendong tubuh Hira ke kamar mandi meletakkannya dalam bathtub lalu mengatur airnya agar tidak terlalu panas.
"Mau ditemani mandinya?" Erfan menggoda dengan kerlingan manja. Salahkan juniornya yang juga ikut bangun.
"Itu maumu, dah sana keluar." Usir Hira, masih subuh Erfan tidak akan cari masalah sekarang. Ia menyiapkan pakaian ganti Hira. Hira adalah ratunya sekarang. Erfan mengganti seprai, merapikan tempat tidur. Lalu menggelar dua sajadah dan meletakkan mukena Hira di salah satu sajadah.
Ia mandi di kamar sampingnya biar lebih cepat agar sempat sholat bersama Hira. Hira sudah menunggu di atas sajadah saat Erfan kembali ke kamar. Senyuman Hira menghipnotisnya. Manis sekali istrinya ini.
Selesai sholat shubuh dan tadarusan Erfan membawa Hira ke bawah untuk sarapan. Ia ingin mengajak istrinya jogging tapi kasian jalan aja masih susah. Sebegitu ganas juniornya.
"Sayang minum obat dan vitamin ya, biar cepat hilang sakitnya." Erfan memberikan obat yang di dapatnya dari Zaky. Bisa-bisanya Zaky mengirim obat itu agar ia bisa tempur setiap malam katanya. Tak lupa obat lain yang diselipkan sahabat lucknutnya itu sampai membuat istrinya susah jalan.
Ia menggendong Hira ke taman setelah selesai sarapan. Gemas lihat istrinya jalan seperti kura-kura. Kenapa sih mereka suka banget main gendong-gendongan.
"Maaf sudah membuatmu kesakitan." Erfan memeluk Hira dari belakang, mereka sedang berdiri di depan kolam ikan. Melihat berbagai macam ikan yang berenang dengan lincah.
Hira hanya mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih Mas." Ia menyandarkan kepala di dada Erfan, "aku bahagia bersamamu." Hira mengecup pipi Erfan singkat.
Erfan tidak salah dengarkan, Hira memanggilnya Mas. Kenapa ia jadi bucin begini.
"Sama-sama Sayang, Mas juga sangat bahagia ada kamu di sini. Jangan pernah lelah mendampingi Mas ya, Sayang." Hira membalikkan badannya, memeluk dari depan. "I Love You."
"I Love You too Fakhira-ku Sayang." Satu kecupan mendarat di kening Hira. Uh pengantin baru dadakan.
__ADS_1