Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
115


__ADS_3

"Dah Sa, abaikan Tian. Lo tadi mau apa?" Panggil Erfan, temannya satu itu beneran lagi gak waras. Ressa beranjak duduk di depan Erfan memberikan berkas yang masih dipegangnya.


"Ressa, gue serius." Rengek Tian, memeluk Ressa dari belakang meletakkan wajahnya di ceruk leher Ressa. "Lo wangi banget, Sa." Gadis itu bergidik ngeri menepis tangan Tian.


"Tian, jangan melakukan pelecehan di depan saya!" Bentak Erfan geram, Ressa sudah ketakutan dengan tingkah Tian. Tian tidak peduli mengecup pipi Ressa lalu menyeringai pada sahabatnya.


"Lo kalau gak mau dengerin nasehat gue jangan nyakitin perempuan yang gak tau apa-apa." Geram Erfan menarik tubuh Tian lalu menghajarnya di perut. "Lo keluar Sa, biar gue urus dia."


Ressa mengangguk meninggalkan ruangan sang bos.


"Lo kenapa hah, ini kantor bego. Sella sudah bangunin belalai lo." Marah Erfan, "sudah sana cari pelacur terserah lo, gue gak peduli lagi."


"Gue serius Erfan, sakit nih." Ucap Tian sambil menahan perutnya yang sakit.


"Ngajak nikah bukan gitu caranya, lo ngelecehin dia tau gak sih Tian. Otak lo di mana narohnya sih."


"Aishh gue salah lagi kan. Tadi lo nyuruh gue nyari satu perempuan."


Erfan menepuk jidatnya lelah, kenapa Tian jadi oon begini. Apa ceramahnya tadi terlalu tinggi sampai membuat otak cerdas Tian tak mampu menggapainya.


"Terserah lo, pulang istirahat sana." Erfan menepuk pundak temannya. Lalu beranjak keluar ruangan. "Sa, lo pulang dulu."


"Iya." Ressa mengangguk lesu, dia bukannya tidak pernah pacaran. Tapi perbuatan Tian yang semena-mena tadi sudah membuatnya takut setengah mati. Di depan orang lain saja bosnya itu bisa bertingkah aneh.


Erfan khawatir Tian susah dikendalikan. Ia tidak mau mengambil resiko kalau temannya itu bertindak di luar batas.


Mengabaikan Tian yang tidak jelas, Erfan melanjutkan pekerjaannya. Suasana ruangan hening tidak ada keributan lagi. Ternyata si pembuat onar tertidur. Erfan merasakan kepalanya berat, ia belum makan siang.


"Bos Tian kenapa?" Tanya Galih penasaran, ia langsung duduk di depan Erfan memberikan paper bag.


"Habis membuat ulah sama Ressa." Ujar Erfan singkat, "kamu jaga dia jangan sampai jadi liar. Saya pulang dulu, kalau susah dikendalikan suntik penenang." Pesannya dengan tertawa jahat. Galih masih melongo di tempat, belum paham maksudnya.


Di dalam kamarnya Hira merasakan sangat bosan. Ia tidak peduli dengan peringatan Erfan yang melarangnya menonton televisi. Lantaran ponselnya dibawa sang suami, jadi jenuh sendiri.

__ADS_1


"Ngapain sih kabelnya pake dicabut segala. Kayak aku gak bisa masang aja." Keluh Hira mencolokkan kembali kabel-kabel itu ke televisi. "Suami aneh bin ajaib," decaknya kesal.


Setelah selesai Hira menekan tombol ON pada remot. Ia mengamati layar televisi dengan lekat yang menampilkan wajahnya dengan Erfan.


Seorang dokter cantik yang pernah bekerja di rumah sakit Emeral Hospital sekarang diyakini telah melakukan penipuan bernilai puluhan miliyar yang berkedok Yayasan.


Dikabarkan istri Erfan Bumi Wijaya ini juga tidak mengakui orang tua kandungnya setelah menjadi istri pengusaha kaya. Padahal orang tuanya sudah susah payah membiayai agar dia bisa menjadi seorang dokter.


Berita ini sudah mendapat klarifikasi dari sang ibu tiri sang dokter yang membenarkan semua itu.


Sejenak Hira mematung, apa yang di dengarnya tadi beneran nyata. Ia memindah channel tapi yang muncul berita yang sama. Ibu hamil itu menggeleng pelan, apa salahnya sampai di fitnah seperti itu. Mereka hanya bisa berkomentar pedas tanpa tau kebenarannya.


Berjam-jam Hira menunggu suaminya pulang tapi tidak ada hilalnya juga. Ia beranjak ke taman belakang mengamati bunga yang bermekaran.


"Kalian tau gak, jadi manusia itu berat. Makanya Allah berfirman, manusia itu makhluk yang paling sempurna yang Allah ciptakan." Curhat Hira pada kuncup bunga yang ada di sana.


"Tapi kebanyakan manusia kurang bersyukur selalu merasa kurang, selalu merasa yang paling menderita sendiri. Aku contohnya." Ucapnya lagi dengan senyum yang mengembang.


"Padahal kalau aku disuruh ganti oksigen yang aku hirup setiap hari ini aja, aku gak akan mampu membayarnya. Tapi lihat kalian, kalian diam begitu saja, tapi selalu mengagungkan dzikir pada Allah. Sementara kami masih sering lalai dalam berucap."


"Aku denger kok." Ucap Erfan, memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup singkat di pipi. Ia tau Hira pasti sedang sedih. Erfan melihat televisi di kamar menyala.


"Bee, ngagetin tau. Aku pikir bunga bisa ngomong." Candanya, padahal Erfan tau betul mata itu sedang menyiratkan luka.


Hira tidak akan menunjukkan kesedihannya dihadapan sang suami. Ia sekarang mengerti kenapa Erfan melarangnya menonton televisi dan membawa ponselnya.


"Bunga emang bisa ngomong Sayang. Ini buktinya bunga yang paling cantik di depan Mas bisa ngomong." Erfan memutari tubuh istrinya lalu menautkan kening dan hidungnya pada sang istri.


"Kamu keindahan yang tidak pernah tergantikan dalam hidup Mas, Sweety. Apapun yang terjadi kita akan tetap berjalan beriringan mengarungi samudra kehidupan ini. Percaya sama Mas, tidak akan ada yang bisa menyakitimu selama Mas masih ada di sini. Jangan dengarkan apapun dari orang lain."


Sedetik kemudian air mata Hira menetes, ia tak mampu menyembunyikan segala lukanya pada sang suami.


"Apa aku sejahat itu Mas, bahkan mereka tidak pernah tau dengan apa yang aku alami selama ini. Tapi mereka membeberkan semua itu seakan kebenarannya memang begitu."

__ADS_1


"Mereka hanya melihat seorang Hira yang kuat dan angkuh di luar sana. Tanpa tau apa yang ada di sini." Hira menekan dadanya yang menyembunyikan sesak.


"Apa memang sejahat itu seorang Hira yang sekarang sedang berdiri di hadapan Mas ini." Rintih Hira pelan.


"Andai kamu memang sejahat itu, Mas akan tetap mendampingi kamu Sayang." Erfan merengkuh tubuh sang istri, tak bisa menempel sempurna karena terhalang perut buncit Hira.


"Apalagi semua itu hanya sebuah fitnah, Mas akan menjadi pelindung buat kamu. Percaya sama Mas, semua akan baik-baik aja." Padahal Erfan sudah membungkan media. Tapi ternyata masih ada berita yang mencuat ke permukaan.


Hira mengangguk, tanpa Erfan bilang pun ia sudah sangat percaya dengan suaminya itu. "Hpku mana Mas," ibu hamil itu menyeka air matanya lalu mengurai pelukan.


"Hp yang mana nih, baru atau lama?" Goda Erfan, seraya membawa istrinya kembali ke kamar.


"Dua-duanya." Ucap Hira dengan cemberut, "Mas dilarang ngambil barang orang tanpa izin." Omelnya, Erfan tersenyum geli memberikan paper bag yang belogo gerai ponsel ternama.


"Hp lama mana?"


"Buat Mas, kan kamu gak mau yang bekas Mas pegang."


Hira memberengut kesal, "bukan gitu, sini balikin ponselnya."


"Mas kasih tapi ada syaratnya."


"Apaan?"


"Sini Mas kasih tau syaratnya."


"Ogah, Mas mau modusin aku. Ayo Bee mana hpnya."


"Gak mau, kasih hadiah dulu sini." Erfan menunjuk bibirnya.


"Gak mau!" Kesal Hira lalu memanggil Bi Atun untuk ke kamar.


"Ngapain manggil Bibi Sayang?"

__ADS_1


"Buat kasih kamu hadiah." Hira tersenyum licik, Erfan mendengus kesal mendapati perbuatan jahil sang istri.


__ADS_2