
Ada sedikit unsur dewasa, singkirkan otak suci kalian kalau tidak mau tercemar 😅.
Mohon bantu karya ini agar dilihat pembaca yang lain.
🌹Happy Reading🌹
🌸🌸🌸
"Sweety," panggil Erfan pada istrinya yang baru selesai menidurkan Erra kecil. Bayi berumur enam bulan itu sudah anteng berada dalam box bayi.
"Ya Mas," Hira mendekati suaminya yang sudah menunggu dengan penuh persiapan. Hira sudah bisa menebak apa yang ada dalam otak besar suaminya itu.
"Ada yang mau ditidurin juga, hm." Erfan menarik Hira sampai terduduk di pangkuannya.
"Tinggal tidur sendiri, pake selimut Mas." Ujar Hira pura-pura tidak mengerti.
"Selimutnya ada di kamu, Sweety." Erfan melingkarkan tangannya di pinggang Hira dengan possesif.
"Hm, aku nengok Erra dulu, Bee. Takutnya digigit nyamuk." Hira mencari alasan untuk meloloskan diri dari sang suami.
"Di kamar kita gak ada nyamuk, Sweety. Adanya cuma satu nyamuk yang nakal." Erfan mengendus-endus leher jenjang sang istri.
"Bee, aku ngantuk, hm. Aku capek banget tadi keliling yayasan, bantu pasien-pasien." Ujar Hira sambil menahan bibir Erfan yang sudah ingin menghisap darahnya di leher seperti vampir.
"Mulai besok kamu gak boleh keluar rumah, nanti kelelahan. Yayasan bisa dipantau dari rumah. Aku gak mau istri cantikku ini kelelahan dan selalu menghindar kalau dimintai jatah olahraga." Sindir Erfan, terus berusaha menyingkirkan tangan Hira.
"Bee, aku gak menghindar. Beneran capek, kakiku pegal banget." Elak Hira, "gak bisa gitu dong kamu ngelarang aku memantau yayasan."
"Hm, ya sudah boleh keluar tapi aku pijatin setiap malam. Biar kakinya gak pegal lagi." Erfan menurunkan Hira dari pangkuan, membaringkannya dengan nyaman di tempat tidur.
"Mampuslah aku!" Teriak Hira frustasi, dalam hati.
__ADS_1
"Bee, kamu juga capek kan seharian kerja? Kita tidur aja yuk, gak usah dipijatin." Tolak Hira halus.
"Aku gak capek, Sayang." Erfan tersenyum smirk meluruskan kaki Hira dan mulai memijatnya, "mau alasan apalagi kamu untuk menghindar."
"Bee, geli. Aku gak biasa dipijat."
"Habislah aku, pijatan ini akan berakhir dengan pijatan plus-plus, sia-sia sudah mencari berbagai alasan."Â Hira mendesah frustasi.
"Awalnya geli, tapi nanti akan terbiasa Sweety." Erfan menyingkap daster Hira, pijatan dari mata kaki itu semakin naik. Membuat Hira panas dingin dengan jantung berdebar-debar.
"Stop Bee. Aku gak kuat, geli!" Mohon Hira.
Huh. Dia bukan tidak kuat karena geli, tapi karena panas dingin yang menjadi-jadi.
"Tahan Sayang, nanti akan terbiasa. Ini karena kakimu terlalu pegal kebanyakan jalan." Erfan semakin menikmati permainannya, melihat istrinya tersiksa itu sangat menggemaskan.
"Aaarggh, Bee sakit!" Teriak Hira dengan mata berkaca-kaca. Semoga aktingnya berhasil dan mendapatkan piagam award akting terbaik tahun ini.
"Ah, bukan. Bukan di sana, Bee. Tapi dibawah, ya di bawah." Hira berusaha menahan suaranya yang ingin mendesah. Ada yang sudah berkedut-kedut memanggil tuannya.
"Hm, di bawah. Yang ini." Erfan tepat menyentuh inti Hira yang membuat si empunya mendesah frustasi. "Aku pijat Sweety, biar sakitnya berkurang."
"Jaa—jangaan, Bee. Nanti sembuh sendiri, aarrgghhhh." Hira terpekik saat rasa itu menghampiri. Rasa ingin ada yang mengisinya.
"Berhenti berpura-pura, Sayang." Erfan tertawa gelak langsung menerkam istrinya.
"Aku menyerah, Bee. Selesaikan tugasmu sebelum aku gila," ucap Hira lemas.
"Tentu," Erfan tersenyum penuh kemenangan melanjutkan tugas negara. "Bersiap Sayang, kita buatkan Erra adik."
"Jangan gila Bee! Kamu mau aku berakhir di kamar mayat." Hamil Erra saja perjuangannya sangat berat sampai melahirkan prematur. Erra sekecil itu ingin dibuatkan adik, oh tidak.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan, Sayang." Erfan segera membungkam mulut Hira agar tidak berucap sembarangan dan bersiap melepaskan miliknya.
"Oeek... Oeek... Oeeeeeeekkk." Tangisan Erra menggema, membuat dua orang tua itu mendesah kecewa.
"Kita lanjut Sweety, jangan sampai gagal." Erfan tetap meneruskan misinya membuatkan adik Erra di tengah tangisan sang bayi. Walau tidak tenang ia tetap menyelesaikannya dengan sempurna. Erfan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri setelah menumpahkan bibit-bibit unggulnya.
Hira segera bangkit menenangkan Erra, "pasti kamu bangun karena Daddy nakal kan, Sayang. Daddy-mu gak bisa dibilangin. Sudah Mommy bilang capek, masih tetap mengganggu."
Erfan hanya tersenyum mendengar celotehan istrinya itu. Ia langsung bangun dan mandi agar lebih segar. Kalau tidak begitu Hira tidak bisa tidur. Sebab Erra rewel hampir setiap malam. Jadi mereka bergantian jaga malam, walau lebih banyak Hira yang lembur.
"Kamu istirahat, Sayang. Biar aku yang gendong Erra." Ujar Erfan yang baru selesai mandi, mengambil Erra dari sang istri. Hira membaringkan tubuhnya yang masih lemas. Itulah kenapa dia menghindari Erfan, kalau energinya habis ia tidak bisa menjaga Erra.
Erfan menggendong Erra sambil duduk. Satu tangannya membelai rambut Hira. Istrinya itu cuma sempat menutupi tubuh menggunakan handuk karena buru-buru.
Setelah Erra tertidur, Erfan memakaikan pakaian Hira agar tidak kedinginan. Lalu memeluknya, berharap Erra tidur dengan nyenyak malam ini.
"Morning Sweety," sapa Erfan kemudian memberikan satu kecupan. "Ayo mandi."
"Bentar Mas," Hira mengeratkan pelukannya pada Erfan.
"Mau dibantu mandi?"
Hira cepat menggelengkan kepala, "aku bawa Erra hari ini ke Lembang ya Mas."
"No, Sweety. Kamu gak kuizinkan perjalanan jauh, apalagi sendirian membawa Erra. Nanti kelelahan."
"Bee," rengek Hira dengan memelas berharap Erfan mengubah keputusannya.
"Sekali tidak, tetap tidak. Ikut Mas ke kantor, hari ini. Ini perintah, tidak boleh dibantah!" Tegas Erfan.
"Huh, possesif!"
__ADS_1
"Itu namanya peduli, Sweety." Erfan mencubit gemas pipi Hira yang cemberut. Perempuan itu aneh laki-laki peduli dianggap mengekang. Diberi kebebasan dianggap tidak peduli, serba salah.