Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
124


__ADS_3

"Assalamualaikum Mami, apakabar? Akhirnya aku bisa mengunjungi Mami di sini." Ucap Erfan dengan tersenyum manis, "aku sebenarnya gak ada niat buat antar Mami ke sini. Tapi Mami terlalu rindu berkumpul dengan suami dan anak-anak Mami. Jadilah aku turuti keinginan Mami itu." Lanjutnya dengan tertawa jenaka.


"Selamat atas kelahiran putrimu." Ujar Reny, ada perasaan haru dan menyesal atas perbuatan yang sudah ia lakukan.


Erfan duduk di samping Reny lalu memeluknya, "aku gak pengen lihat Mami gini, tapi kenapa Mami gak pernah berhenti buat nyelakai istriku. Dia salah apa Mi." Lirih Erfan dengan suara sendu, "Mami lihatkan, dia gak pernah pelorotin harta aku sampai jatuh miskin. Justru dia yang ngajarin aku untuk berbagi Mi."


Reny tak menjawab, Erfan benar. Bahkan hidup dengan perempuan itu putranya jadi lebih baik.


"Aku sayang banget sama Mami, sama Papi. Sampai aku gak pernah mikir kalau kalian itu bukan orang tua kandungku." Curhat Erfan, "tapi kenapa jadi gini Mi, aku melihat sosok lain pada kalian setelah aku menikah. Aku cuma mau hidup bahagia Mi." Adunya dengan pilu, setetes butiran bening terjatuh di pipi Erfan. Reny segera menyekanya.


"Maafin kami, Nak. Maafin Mami, Papi, Fany dan Azmi. Mami sayang sama kamu."


"Maafin Erfan Mi, Erfan gak bisa nyabut tuntutan ini." Erfan bisa saja melakukannya, tapi ia takut Reny balas dendam kembali. Ia tak mungkin mengambil resiko yang bisa membahayakan keluarga kecilnya.


"Tidak perlu minta maaf, karena memang Mami salah. Mami salah menilai istrimu, Mami salah sudah membuatnya selalu menderita. Sampaikan maaf Mami sama dia."


Erfan mengangguk, "Mami jaga kesehatan, aku akan sering mengunjungi Mami ke sini." Ucapnya lalu pergi dari rumah tahanan itu. Lelaki itu kembali ke rumah sakit dengan wajah sayu.


"Ada apa?" Tanya Hira bingung, "kamu gak ke kantor, Bee?"


Erfan menggeleng lemah, "aku habis jenguk Mami, tadi malam polisi menangkap Mami," adunya.


"Kalau kamu gak tega lihat Mami di sana, kamu cabut tuntutan itu, Bee." Saran Hira.


"Aku takut Mami nyakitin kamu lagi dan anak kita, Sweety."


"Setiap orang berhak punya kesempatan untuk berubah kan, Bee. Hidayah itu kapan aja bisa datang menjemput. Bisa saja sekarang Mami benar-benar menyesal."


"Nanti aku pikirkan lagi, setelah Salwa tertangkap Sweety." Lelaki itu menangis dalam pelukan Hira. Entah apa yang membuat Erfan sampai sesedih itu, Hira tidak tau. Ia cuma bisa menenangkan suaminya.


"Aku jahat banget ya Sweety, semua keluarga angkatku mendekam di penjara karena aku." Erfan mengeluarkan kegundahan hatinya dan perasaan bersalah.

__ADS_1


"Kamu gak akan lakuin itu kalau mereka gak jahat, Bee. Kebenaran memang harus ditegakkan meski keluarga sekalipun." Ucap Hira berusaha memberikan ketenangan untuk Erfan.


"Sesak Sweety," Hira menatap wajah sendu itu. Menyeka air mata yang terjatuh di sana. "Aku bantu hilangin sesaknya," katanya lalu memberikan sentuhan dibenda kenyal itu. Menyesapnya lembut sampai napas mereka beradu, menepis jarak diantara keduanya. Menikmatinya lama sampai Hira kesulitan bernapas mengimbangi kelaparan suaminya.


Ibu muda itu tersenyum setelah menarik wajahnya, bukan ikut menjauh Erfan malah membenamkan wajah di ceruk leher Hira.


"Sweety, squishy-nya bengkak. Aku mau coba." Rengeknya manja, Hira memutar bola mata jengah pada suami mesumnya ini.


"Rumah sakit, Bee." Hira mengingatkan, jangan sampai suaminya lupa tempat.


"Pintunya bisa di kunci, Sweety." Ucapnya memelas.


"Nanti kamu gak bisa berhenti." Hira mencari seribu alasan untuk menolak.


"Adek belum bisa gunain, pasti squishy-nya sakit." Bujuk Erfan dengan berbagai alasan. Huh bayi besar Hira ini susah di tolak. "Boleh ya," ucapnya dengan tangan yang sudah kemana-mana.


Hira hanya bisa pasrah, salah tadi dia sudah memancing suami mesumnya ini. Niatnya hanya untuk menenangkan malah jadi kemana-mana.


"Saya sudah membuat laporan pada Salwa dan dia sekarang ditahan polisi. Kamu sudah tau berita itu?" Tanya Erfan santai pada Galih tanpa membawa emosinya.


"Belum tau kabarnya, Pak." Jawab Galih berusaha tenang, pantas saja sejak pagi tadi Salwa tidak ada menghubunginya lagi.


"Saya juga sudah tau siapa orang yang berada dibalik Salwa. Salah kalau dia pikir setelah masuk ke kandang serigala, masih bisa keluar dalam keadaan hidup." Erfan tersenyum devil.


"Mungkin kamu penasaran siapa orang yang berada di belakang, Salwa." Erfan memutar laptopnya setelah menekan play. "Kamu kenal siapa orang itu?"


Lelaki itu berdiri lalu menutup laptopnya, setelah Galih dapat mengenali wajah dalam rekaman cctv. Erfan sekarang duduk di ujung meja tepat menghadap mangsanya. Galih memucat di tempat, kedoknya sudah terbongkar. Ia belum menyiapkan rencana apapun.


"Saya ingin sekali membunuh seorang pengkhianat. Tapi Hira melarang saya untuk menjadi seorang pembunuh."


"Menurutmu pengkhianat pantasnya diapakan?"

__ADS_1


"Maafkan saya bos." Mohon Galih dengan suara bergetar. "Maaf, saya salah."


"Mulai detik ini kamu bukan asisten saya lagi." Erfan berucap dingin lalu menepuk tangannya dua kali. Pintu ruangan terbuka, Tian masuk diikuti dua orang polisi.


"Selamat bro, sudah berhasil masuk kandang serigala." Ucap Tian dengan setengah tertawa, "gimana rasanya tubuh Salwa. Hm, gimana rasanya liat pacar lo berciuman di depan mata lo sendiri." Bisiknya, kemudian menepuk kedua bahu Galih.


Galih ingin marah, tapi tak kuasa berbuat apa-apa. Ternyata mereka sudah tau kedoknya sebelum ini.


"Silahkan dibawa Pak," ujar Tian pada dua petugas itu. "Kasihan, sayang pacar sampai harus ikut ke penjara juga. Cinta memang bullshit." Makinya setelah tiga orang itu hilang dibalik pintu ruangan.


"Gak se-bullshit itu kalo lo bisa memaknainya dengan benar." Erfan kembali ke kursinya, "kita gak mengalami kebocoran datakan Yan."


"Enggak, semua aman. Bukan itu tujuan Galih, dia hanya ingin mendapatkan info pribadi lo."


"Bodoh banget gue, padahal sudah waspada. Beruntung cepat terendus, perusahaan yang membatalkan kerja sama pada gak mau balik sama kita ya." Ucap Erfan dengan penuh sesal.


"Ya udahlah biarin aja, nanti ada aja rezekinya lagi." Tian ikut pasrah, mereka rugi triliunan. "Yang penting anak dan istri lo selamat."


"Gitu aja bentukannya, bisa bikin gue hampir melarat." Erfan menggeleng pelan.


"Kekuatan media media memang lebih bahaya dari hasutan sejuta umat." Terang Tian, "bayangin aja satu orang punya puluhan juta follower yang nyebarin, apalagi akun gosip. Hancur lebur kalau lo buat masalah sama mereka."


"Sanksi banget gue kalau belum bunuh tuh orang." Kesal Erfan, ia belum bisa ikhlas setelah hampir gulung tikar, perusahaannya juga di cap buruk.


"Dah lah ngapain mikirin itu, kita fokus kedepan ngembaliin nama baik kita yang tercoreng ini." Ujar Tian menyemangati.


"Sorry, gara-gara masalah pribadi perusahaan kena imbasnya."


"Ngapain sih mikirin itu, dah kita ke rumah sakit jenguk Hira. Dia udah bangun kan?" Mau marah juga gak akan ada gunanya, yang ada malah hubungan mereka tambah rumit.


"Udah, ajakin Ressa gak?" Goda Erfan.

__ADS_1


"Serah lo." Tian mendengus kesal, melenggang lebih dulu meninggalkan daddy-nya Erra itu.


__ADS_2