
Erfan mengetuk-ngetukkan jemari ke meja pikirannya melanglang buana. Seorang Erfan ternyata bisa galau sampai hampir gila begini.
"Ressa...!!"
Panggil Erfan, seketarisnya itu sudah tidak menemani Hira 24 jam lagi. Setelah menyatakan keinginannya pada Hira, ia tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu.
"Ya Bos!" Ressa menyempil dibalik pintu, tersenyum menampilkan deretan gigi yang putih lalu duduk di kursi depan meja Erfan.
"Gimana keadaan Hira?"
Ya Hira, hanya Hira yang ingin ia tanyakan pada Ressa. Erfan rindu dengan gadis itu. Perasaan apa sebenarnya yang ia miliki pada Hira, masih terlalu ambigu.
"Seminggu terakhir lebih baik, Hira juga rutin terapi. Bos gak mau bertemu dengannya?" Erfan tersenyum lalu menggeleng.
"Untuk apa gue bertemu dengannya Sa, yang ada nanti dia tambah tertekan." Erfan bersandar di kursi, matanya menerawang. Ia sangat ingin bertemu Hira, memastikan keadaannya baik-baik saja. Kalau ia muncul dihadapan Hira, gadis itu bisa saja merasa takut dan tertekan.
"Bos gak mau memperjuangkan Hira, setelah bisa move on, apa sekarang ingin menyerah begitu saja." Pancing Ressa, ia tau Erfan dan Hira saling menyimpan perasaan. Hanya saja Hira masih terlalu takut tidak diterima.
"Keadaannya sekarang tidak semudah itu Sa, kalau gue terlalu gencar mengejarnya yang ada dia tambah takut. Psikisnya akan terganggu."
"Kalau Hira sudah lebih kuat, bagaimana?" Pria seperti ini yang tidak boleh dilewatkan. Erfan sangat menjaga perasaan Hira, Ressa akan mencari cara agar mereka berdua bersatu.
"Sa, Hira gak mau nikah kalau gak dapat restu orang tua gue. Lo paham itukan? Mami gencar mau gue nikah sama adik Bilqis. Kalau Hira mau nikah diam-diam dulu, gue udah lakuin."
Berat, yang dikatakan Erfan benar. Hira terlalu trauma dengan kata orang tua yang tidak merestui.
"Jadi bos siap melepas Hira menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya?"
__ADS_1
Pertanyaan Hira membuat Erfan memijat kepala. Hal itu juga yang mengganggu pikirannya setelah mencuri dengar curhatan Hira pada ummi.
"Kapan rencana pernikahan mereka?" Erfan menegakkan tubuh menatap Ressa dengan serius.
"Saya dengar akhir bulan, masih ada tiga minggu lagi." Yes, pancingan Ressa berhasil, tinggal menghasut Hira setelah ini.
"Berapa banyak uang yang dijanjikan orang itu? Berikan dua kali lipat Sa. Bantu gue ketemu orang tua Hira." Tanpa banyak berpikir Erfan mengatakannya, kebebasan Hira lebih penting. Ressa meneguk ludah, mulutnya tercekat. Berarti Erfan akan mengeluarkan uang satu miliyar untuk membeli Hira.
"Serius mau memberikan dua kali lipat, itu satu miliyar bos."
"Lakukan Ressa sebelum terlambat, jangan ada yang tau selain kita berdua. Kalau Pak Emran tau beliau bisa memberikan lima kali lipat demi menjadikan Hira sebagai istri Guntur. Lo pahamkan?" Ressa mengangguk lemas, lima kali lipat. Itu duit semua. "Gue bakal kalah telak kalau pemilik Emeral Hospital itu turun tangan."
"Siap bos, kita bisa berangkat siang ini, biar pulangnya gak terlalu malam." Ujar Ressa dengan sangat bersemangat. Walau Guntur bisa memberikan kemewahan lebih pada Hira tapi ia lebih memilih Erfan yang bersanding dengan sahabatnya. Bukan karena Erfan bosnya. Tapi karena Ressa tau, Hira bahagianya bersama Erfan.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, mereka sampai dikediaman Hira. Rumah mungil yang sangat sederhana tapi bersih, itu yang pertama kali mereka tangkap. Erfan disambut baik oleh ayah dan ibu Hira, karena dia membawa orang dalam, tentu saja si Ressa.
"Tolong Bapak rahasiakan semua ini, saya tidak ingin Hira ataupun tetangga tau. Cukup batalkan perjodohan mereka dengan alasan Hira lebih memilih lelaki lain. Kalau sampai bocor saya pastikan bapak dan keluarga akan menyesal." Tegas Erfan di depan ayah dan ibu tiri Hira. Ia sebenarnya muak berada di sini, setega itu ada ayah yang menjual anaknya sendiri. Erfan tidak habis pikir sampai segitunya.
"Baik Pak, kami akan merahasiakannya."
"Bagus." Erfan memberikan cek, "setelah saya menikahi Hira Bapak tidak punya hak lagi atasnya. Jangan memperlakukannya semena-mena, apalagi berniat menjualnya pada orang lain lagi." Erfan berucap dengan nada datar tanpa ekspresi tapi mampu menghunus lawan bicaranya. Ressa berkali-kali meneguk ludah kasar, berasa sedang berhadapan dengan mafia besar.
"Baik pak."
"Nanti akan ada yang menjemput Bapak kalau pernikahan sudah selesai saya siapkan." Setelah mengucapkannya Erfan dan Ressa berpamitan, mereka langsung pulang. Sepanjang jalan Erfan merenungkan apa yang sudah dilakukannya. Kalau Hira tau pasti akan sangat membencinya.
Ia cuma ingin melihat Hira bahagia, walau nanti gadis itu lebih memilih lelaki lain. Erfan memang punya hak atas Hira setelah melakukan transaksi. Ia tidak mau melakukannya sebagai senjata agar Hira menerimanya.
__ADS_1
"Sa, gue jahat banget ya. Kalau Hira tau dia pasti marah Sa."
Jelas, Hira akan sangat marah kalau tau Erfan sudah membelinya.
"Niat bos baik, bos ingin Hira bisa bebas dan bahagia. Kalau dia tau niat bos yang sebenarnya Hira pasti bisa terima."
Serius Ressa sama sekali tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Ia tau bagaimana keras kepalanya Hira.
"Lo jagain Hira ya Sa, gue gak akan gunain ini untuk mendapatkan Hira secara curang. Gue siap kalau dia membenci gue lagi."
"Tanpa bos minta saya akan jagain Hira, kami sudah seperti saudara. Satu sakit maka yang lain akan tersakiti. Kalau bos mau menjauh dari Hira, lalu siapa yang akan jagain dia. Boskan tau Hira takluknya cuma sama bos Erfan."
Erfan tersenyum getir, begitu beruntungnya ia punya seketaris yang bisa diajak curhat dan selalu mensupportnya.
"Kalau gue terlalu dekat dengannya sekarang, akan ada yang memanfaatkannya Sa. Gue gak mau Hira terluka, saat ini musuh gue bukan cuma dari pihak luar. Keluarga gue menentang keras kalau gue berhubungan dengan Hira."
Erfan ingat tiga hari yang lalu setelah mengatakan ingin menikahi Hira dan meminta restu Mami. Mami malah bertindak diluar dugaan. Mami menentang keras hubungannya dengan Hira, sampai mengatakan Hira perempuan murahan dan penggoda. Padahal sangat jelas tidak ada yang digoda, ia juga belum resmi menjadi suami Bilqis 'kan. Kalau gadis itu mendengar pasti akan kembali histeris.
"Rumit banget ya bos. Apapun yang terjadi nanti saya akan tetap support. Sebelum melakukan sesuatu bos pasti sudah mempertimbangkannya. Ini pasti jalan yang terbaik." Hanya dukungan yang bisa Ressa berikan, keadaan sangat rumit. Ingin bahagia saja sesulit ini.
"Thank Sa, lo selalu bantu gue. Lo bisa simpan rahasia ini baik-baik jangan sampai keceplosan ya. Mulut bar-bar lo itu ditutup sedikit." Ucap Erfan dengan senyuman mengejek. Ressa membanting setir.
"Astaga bos, masih bisa nyinyir ternyata. Tampang sangarnya sudah hilang." Geram Ressa
"Lo gak cocok kalau diajak ngomong serius Sa." Erfan tergelak.
Perjalanan panjang Erfan lalui hari ini, ia ingin bisa membawa Hira kembali ke rumah orang tuanya dengan hati yang ikhlas. Agar gadisnya itu tidak terus menyimpan dendam dan kebencian pada sang ayah.
__ADS_1