
"Erra, pelan-pelan Sayang." Peringat Erfan pada putrinya yang berusia tiga tahun. Gadis kecil yang baru lancar bicara itu berlarian dengan riang di ruang bermain rumahnya.
"Daddy, Erra bosan sendiri. Huhh. Minta dedek." Ucapnya polos melabuhkan kepala pada Erfan yang duduk di karpet menemaninya bermain.
"Tanya Mommy, Sayang. Boleh gak minta dedek." Erfan melirik genit pada istrinya yang sibuk memeriksa perkembangan pasien di Yayasan Kasih Erra.
"Erra mau punya dedek, Sayang?" Tanya Hira lembut.
"Yes, Mommy. Erra bosan main sendiri. Kalau ada dedek, ada yang menemani Erra main."
"Coba tanya Daddy Sayang, siap puasa lama lagi gak?" Hira mengulum senyumnya.
"Sweety," puasa satu minggu saja Erfan tidak tahan. Apalagi berbulan-bulan, itu sangat menyiksa.
"Kita main ke rumah Abang Key dan Kak Nasya, mau Sayang? Atau mau ke rumah Abang Arraz sekalian ke rumah Opa?" Tawar Erfan.
"Abang Key." Jawab Erra dengan semangat empat lima. Gadis itu sangat suka mengganggu putra Ken yang tidak ramah padanya.
"Hayuuk, Mommy mau ikut juga?" Ajak Erfan seraya menggendong Erra.
"Of course, Bee." Hira menutup laptop mengikuti suaminya, menggantikan pakaian Erra. Walaupun hari libur dia tetap memantau keadaan pasien-pasiennya di yayasan.
"Horeee, mau ketemu Abang Key." Teriak Erra girang di sepanjang jalan. Gadis itu tidak berhenti mengoceh sampai ke kediaman keluarga Nazar.
"Assalamualaikum," ucap Erra semangat membara. "Abang Key," teriaknya girang melihat bocah laki-laki yang sedang menonton kartun dengan serius.
Gadis kecil itu dengan girang naik ke sofa memeluk dan mencium pipi kanan Key.
"Erra, don't touch me!" Ucap Key dingin dengan tatapan tajam, dia tidak suka disentuh Erra apalagi dicium.
"Daddy," Erra turun dari sofa langsung menangis memeluk kaki sang daddy yang masih berdiri. "Erra mau ketemu Abang Arraz aja. Abang Arraz gak jahat seperti Abang Key," adu Erra sambil terisak. Mengundang tawa di bibir orang dewasa.
"Kita baru sampai, Sayang. Erra main dulu sebentar ya. Nanti pulang dari sini kita cari Abang Arraz." Bujuk Erfan mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri, "anak pintar masa nangis, hm."
"Abang, kasih tau adeknya gak boleh gitu. Harus lembut," nasihat Ken pada putranya sambil mengusap di kepala.
"Abang gak sudah disentuh perempuan, Abi!" Ucap bocah laki-laki berusia empat tahun itu.
"Ya, tapi ngasih taunya gak boleh gitu, Abang. Adeknya jadi nangiskan." Beritahu Ken, tapi anak kecil itu tak peduli.
"Erranya aja yang cengeng!" Cibir Key tidak suka, meninggalkan ruangan itu. Sang abi hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Persis Abinya, awas aja nanti kalau besar sampai bucin sama Erra." Ujar Elvina tertawa gelak.
"Kok bawa-bawa aku sih, Sayang. Itu yang bikin ulah Key loh bukan aku." Protes Ken karena dirinya dibawa-bawa.
"Nasya, bujuk adek Erra, Sayang." Perintah Adnan pada putrinya yang sangat lembut dan penyayang seperti ummi-nya.
"Iya Abi," anak perempuan yang baru masuk sekolah taman kanak-kanak itu mendekati Erra.
"Erra, ayo ikut kakak kita main." Ajak Nasya, Erra mengusap air matanya lalu mengikuti Nasya ke kamar.
"Kalau nangis gak cantik lagi," Nasya menghapus sisa air mata di pipi Erra. "Erra mau main boneka?" Tanyanya lembut.
"Erra mau main sama Abang Key," ujar Erra menangis lagi.
"Tunggu di sini, Kakak panggilin Abang Key." Bujuk Nasya, ia berlari kecil mencari Key ke kamarnya. Lalu menyeret bocah laki-laki itu. Hanya pada Nasya, Key tidak membantah. Kalau anak yang lain dia tidak akan suka.
"Kak, aku gak mau ikut!!" Tolak Key.
"Sebentar, temani Erra!" Perintah Nasya yang tak bisa dibantah.
"Enggak, aku gak mau menemani anak centil itu!! Gak mau, aku mau ke kamar!" Berontak Key.
"Iya, aku temani!" Katanya malas mengikuti Nasya masuk ke kamar.
"Abaaang!" Panggil Erra.
"Jangan dekat-dekat!" Key melipat tangannya di depan dada dengan tatapan mengintimidasi.
"Jangan marah, Erra gak nakal. Janji!" Ujar Erra sedih naik ke atas tempat tidur bermain dengan boneka.
"Key, jangan galak-galak!" Peringat Nasya.
"Hm."
"Ih dasar bisu!" Sarkas Nasya kesal mencubit pipi Key dengan sekuat tenaga tangan mungilnya.
"Saakiiiit," rengek Key sambil menangis. Erra kecil cepat turun mendekati Key yang berteriak kesakitan.
"Yang sakit dimana?" Tanya Erra polos, tidak takut lagi kalau Key marah.
"Di sini," jawab Key sambil mengusap pipinya.
__ADS_1
"Manja!" Cibir Nasya.
Erra kecil berjinjit meniup-niup pipi Key, "udah, sebentar lagi sembuh." Ujarnya lalu berlari keluar mencari sang mommy.
"Mommy, Abang Key nangis katanya pipinya sakit. Ayo Mommy obatin." Erra yang sudah tau sang mommy dokter langsung menarik dengan tangan mungilnya.
"Turunan siapa sih ceriwisnya?" Ken tersenyum melihat gadis kecil yang sangat aktif itu.
"Siapa lagi kalau bukan mommy-nya." Jawab Erfan dengan kekehan.
"Bee, gak mau tidur sama Erra kan malam ini?" Ancam Hira seraya mengikuti langkah mungil yang menariknya.
"Sweety!" Ringis Erfan karena salah bicara, gelak tawa meluncur dari mulut Ken dan Adnan.
"Abang Key gak sakit, Sayang. Pipinya cuma merah dikit. Bentar lagi sembuh." Hira menjelaskan pada Erra sambil mengelus pipi anak lelaki itu. Menggendongnya keluar, Erra mengikuti di belakang.
"Kok jagoannya nangis," Elvina mengambil putrinya dari Hira.
"Dicubit Kak Nasya," adu Key.
"Nasya!" Panggil Attisya. Gadis yang dipanggil mendekat takut pada umminya.
"Tangannya kalau dipake buat nyubit nanti gak suci lagi." Attisya mengecup tangan mungil itu, "kenapa dicubit?"
"Key nakal sama Erra, gak mau nemani Erra jadi Nasya cubit." Jelas Nasya, Attisya mengulum senyum melirik suaminya. Anak kecil ada-ada saja, kalau jauh kangen-kangenan. Sudah bersama selalu berantem.
"Daddy, pulang." Ajak Erra dengan wajah sedih.
"Abang nakal, jadi adek mau pulang." Sebut Elvina.
"Biarin aja, Abang gak suka Erra di sini!" Sarkas Key.
"Kalau adek pulang jangan dicari ya," goda Erfan mengusap kepala bocah itu.
"Gak akan, huhh." Key melengos membuang wajahnya.
Erfan terkekeh kecil, "Erra pamit dulu, Sayang sama om dan tante."
Gadis kecil itu menurut menyalami semua yang ada di sana kecuali Key. Karena Key tidak mau menoleh padanya.
"Abang Key jahat, Erra gak mau kesini lagi." Ucapnya sebelum pulang, Erfan menggendong putrinya yang sangat ceriwis ini sambil tersenyum geli.
__ADS_1