
"Adalagi?" Tanya Hira tak percaya, hari ini ia mendapatkan banyak kejutan.
"Iya, tutup dulu matanya." Ujar Erfan setelah berada dalam mobil. Ia menutup mata Hira dengan sapu tangan. "Siap-siap ya, jangan sampai jantungan."
"Apasih Bee, bikin penasaran aja."
"Sabar Sweety." Erfan membawa kuda besinya meninggalkan perumahan elit itu. Ia menghentikan mobilnya di sebuah komplek yang berada di belakang rumah sakit umum.
Dengan hati-hati Erfan menuntun istrinya turun dari mobil. "Siap-siap buka mata Sayang, baca Bismillah dulu." Perlahan Erfan membuka penutup mata Hira. Di depan sebuah rumah besar terdapat tulisan Yayasan Kasih Erra, beserta mobil ambulan yang terparkir cantik di garasi.
"Mau masuk?" Tawar Erfan, Hira mengangguk. Rumah besar itu seperti bekas kamar kost. Ada sepuluh kamar di dalamnya yang sudah tersedia kasur di sana. Satu kamar berisi dua kasur kecil. "Cuma rumah ini yang paling besar di daerah sini, Sweety. Aku siapin buat kamu satu kamar untuk ruang kerja dan tempat istirahat. Perlengkapan kesehatan juga sudah ada, kamu bisa cek lagi apa aja nanti yang dibutuhkan."
"Rumah ini gak dijual pemiliknya, jadi kita cuma ngontrak. Lihat perkembangannya ke depan, kalo ada yang jual tanah sekitar sini kita bisa bangun gedung sendiri. Untuk sementara di sini dulu." Jelas Erfan seraya mengajak istrinya memeriksa tempat itu.
"Bee, ini sudah lebih dari cukup." Hira sangat terharu dengan kejutan yang suaminya berikan. "I love you Sayang."
"I love you more istriku, jaga kesehatan. Aku senang kalau bisa bikin kamu bahagia gini." Erfan melabuhkan satu kecupan yang penuh cinta di kening sang istri.
Hira menjadi perempuan yang paling bahagia saat ini. Dibalik sikap dingin Erfan tersimpan kelembutan.
"Aku gak mau lama-lama di sini sekarang kita pulang." Erfan membawa istrinya kembali ke mobil.
"Kita pulang kemana Bee?"
"Pulang ke apartemen dulu Sayang. Besok baru kita pindahan."
"Siyap tuan." Hira mengangkat tangannya hormat.
***
Yayasan Kasih Erra sudah resmi di buka, sudah ada beberapa pasien yang tinggal di sana. Kebanyakan mereka yang singgah merupakan pasien yang sedang menunggu antrian pelayanan kesehatan dari luar kota. Karena rumah mereka jauh untuk bolak-balik.
Selain itu juga ada pasien yang menunggu jadwal operasi ditemani keluarganya. Yayasan Kasih Erra membantu masyarakat pra sejahtera yang memiliki keterbatasan dana untuk biaya berobat juga transportasi.
__ADS_1
Sudah seminggu ini Hira disibukkan dengan kegiatan di yayasannya. Ia dibantu asisten dan dua orang perawat. Hira juga membantu pasien yang tidak bisa membeli obat-obatan.
"Bu, jamnya istirahat." Ujar Yeni, asistennya itu selalu mengingatkan Hira untuk istirahat. Gadis berumur dua puluh dua tahun itu sangat cerewet. Ia tidak akan berhenti mengoceh sebelum Hira mengikuti jadwal yang suaminya buat.
"Sebentar Yen, saya harus negosiasi dengan pihak rumah sakit dulu untuk mempercepat jadwal operasi Bu Mirna," ujar Hira. Bu Mirna merupakan pasien yang mengalami kanker ovarium, harus segera dilakukan pertolongan.
"Setelah istirahat bisa Bu, nanti saya dimarahin Pak Erfan." Ujar Yeni dengan tatapan memohon, bosnya itu dingin dan galak.
"Iya-iya, lima belas menit lagi Yeni Sayang." Kesal Hira, "itu bosmu protektif amat." Yeni hanya senyum-senyum serba salah.
Hira segera membaringkan tubuh, negosiasinya tidak berhasil. Jadwal operasi tidak bisa dipercepat. Definisi istirahat suami Hira itu tidak boleh bergerak selain rebahan di kasur.
"Sweety, rileks jangan banyak pikiran." Hira melongo, pasti Yeni yang melaporkan kalau ia belum tidur jadi suaminya bisa ada di tempat ini sekarang. "Mikirin apaan sih?"
"Itu loh Bee, Bu Mirna sudah harus segera di operasi. Tapi nunggu gilirannya sebulan lagi. Aku sudah hubungi pihak rumah sakit, tapi tetap gak bisa."
"Bawa ke EMH aja, aku yang nanggung biayanya."
"Serius, dibawa ke Emeral Hospital. Itu rumah sakit swasta, Bee. Pelayanan terbaik, biayanya mahal banget." Hira dibuat melongo, ia bangkit dari tidurnya.
"Malaikat aku, sayang banget deh." Hira melingkarkan tangannya di leher Erfan. Memberikan beberapa kecupan di wajah tampan sang suami.
"Tidur Sweety!"
Erfan lebih baik jaga jarak aman sebelum alarm alaminya bangun. Ia sangat hati-hati memperlakukan sang istri. Mengingat kondisi kandungan Hira yang masih lemah.
"Temenin." Pintanya manja lalu kembali membaringkan tubuh. Erfan ikut berbaring, tangannya dengan setia mendekap sang pujaan hati.
Mereka terlelap bersama, untunglah kamar itu khusus Erfan desain kedap suara. Suara berisik dari luar tidak akan mengganggu mereka untuk tetap tidur dengan nyaman. Mengingat tidak hanya mereka yang ada di rumah itu.
Saat Hira terbangun, Erfan sudah tidak ada di sisinya. Ia membaca pesan sang suami, ada jadwal meeting katanya. Yeach, tidak masalah. Ia cukup mengerti, suaminya orang sibuk.
"Yeni infokan ke keluarga Bu Mirna kita akan membawa beliau ke Emeral Hospital agar bisa segera ditangani."
__ADS_1
"Untuk biayanya Bu?"
"Ada donatur yang mau membantu semua biayanya." Jelas Hira tanpa memberitahu kalau suaminya yang menanggung semua biaya.
"Pak Erfan?"
"Yeni, tugas kamu menyampaikan. Bukan kepo zeyeng." Hira sudah menganggap Yeni seperti adiknya sendiri, meskipun baru kenal satu minggu tapi mereka sudah akrab.
"Ih kalian manis banget."
"Kerja Yen, atau saya laporkan ke bosmu. Atau mau saya laporkan ke Galih, calon gebetan, hm."
"Duh Bu, jangan bawa-bawa calon gebetan yang belum jadi." Ucap Yeni malu-malu, Hira menggeleng pelan melihat kelakuan gadis labil itu.
Hira membaca laporan perkembangan pasien. Ada lima belas pasien yang sudah mengisi di rumah itu dari anak-anak sampai lansia. Ia juga berusaha memenuhi kebutuhan gizi para pasien. Semua pengeluaran yayasan itu dari uang pribadi.
Mengingat kondisinya yang sedang hamil, sang suami belum mau menambah rumah baru. Cukup satu rumah dulu katanya.
"Sudah siap Bu, kita tinggal berangkat," lapor Yeni.
"Kamu yang antar ke sana ya Yen sama suster Sarah. Saya sudah koordinasi dengan pihak rumah sakit."
"Siyap Bu Dokter, saya tinggal dulu. Ibu jangan kemana-mana. Nanti saya dipecat kalau ibu hilang." Ucap Yeni dramatis.
"Iya Yen, kalau pun saya hilang. Paling bosmu yang nyulik." Hira menanggapi seadanya, perutnya terasa kram. Ia beranjak ke tempat tidur.
Hira gelisah, bolak-balik tapi nyeri perutnya tak kunjung berkurang. "Adek kenapa Sayang, harus pintar ya dalam perut Mommy." Ia mengelus perutnya yang semakin kram.
Di usia kandungan yang memasuki minggu ke tujuh ini Hira tidak mengalami muntah-muntah atau morning sickness. Hanya respon tubuhnya yang sering cepat lelah.
"Ibu kenapa?" Panik Yeni kala mendapati Hira yang merintih kesakitan, ia baru kembali dari rumah sakit. Gadis itu langsung menghubungi bos besar.
"Cuma kram Yen." Jawab Hira pelan. Asistennya itu panikan sekali. Takut dipecat bos, dalihnya kalau tidak menjaga nyonya dengan benar.
__ADS_1
"Ini bukan cuma Bu, Ibu beneran sakit." Protes gadis itu, "aduh aku gak tau harus apa ini."
"Kamu diam sudah membantu Yen, kuping saya sakit kalau kamu terus ngomel." Sarkas Hira yang ditanggapi Yeni dengan cengiran.