
Hira menutup laptopnya, hari hampir senja tapi Erfan belum juga pulang. Ia sudah mencoba menghubungi, tapi tidak ada jawaban.
"Mungkin sedang sibuk," pikirnya lalu beranjak ke kamar mandi. Sampai malam pun suaminya belum juga pulang. Ia sudah menghubungi Galih tapi asisten Erfan itu tidak tau bosnya kemana. Tian pun sama, lelaki itu tidak sedang bersama Erfan.
"Non, ada surat dari kurir tadi sore." Ujar Bi Atun setelah mengetuk pintu kamar majikannya.
"Surat," gumamnya, "tanpa nama." Hira membolak-balik amplop, ia kembali ke kamar setelah mengucapkan terimakasih pada Bi Atun.
Hatinya menjadi tidak tenang, ia takut Erfan kenapa-kenapa. Ini mengingatkan Hira dengan kejadian penculikan mama mertuanya. Perlahan Hira membuka amplop, dia takut isi amplop itu berita buruk tentang suaminya.
"Astaghfirullah!" Isi amplop itu terlepas dari tangan Hira, wanita hamil itu menggeleng pelan. Itu tidak mungkin, suaminya tidak mungkin berbuat seperti itu.
Foto Erfan tidur dengan Salwa itu sangat jelas. Argh, bagaimana Hira bisa menerima ini. Berharap apa yang dia lihat tidak benar. Mereka tidur berbagi selimut dengan tanpa busana. Hira tidak bisa membayangkan semua itu.
"Haahh," Hira benci air mata lemah ini, ia menyeka air matanya dengan kasar. Ingin tidak percaya dengan semua itu, tapi bagaimana? Apa yang dia lihat nyata bukan editan.
Ibu hamil itu terduduk lemas di sisi tempat tidur. Hatinya berdenyut nyeri dengan pengkhianatan ini.
Di dalam kamar kantornya Erfan baru terbangun, ia melirik jam di tangan pukul sepuluh malam. Pria itu bergegas bangun, istrinya pasti cemas menunggu. Benar saja, banyak panggilan telpon dari Hira.
Erfan melajukan kendaraannya dengan cepat, agar segera sampai di rumah. Setelah meminta Galih menjemputnya di hotel tadi siang, ia tertidur pulas.
"Sweety," panggilnya saat sampai rumah. Istrinya sudah tertidur meringkuk di atas kasur. "Maaf Mas ketiduran di kantor, Sayang."
Hira belum tidur, tapi dia malas menanggapi ocehan suaminya. Tidur di kantor katanya, padahal di hotel sama perempuan. Siang tadi izinnya meeting sama klien, tapi ternyata bertemu perempuan lain. Ia sangat benci itu, Hira sudah mengingatkan Erfan untuk tidak bertemu Salwa dimanapun.
Erfan mengecup kening Hira, namun istrinya beringsut mundur. Belum tidur, gumamnya. Ada apa dengan Hira, marah karena ia telat pulangkah. Lelaki itu beranjak menjauh dari istrinya lalu ke kamar mandi, badannya sangat lengket.
Selesai mandi Erfan duduk di sisi ranjang. Saat meletakkan ponsel di atas nakas, netranya menemukan amplop. Ia bergegas membuka isinya.
Pantas saja marah, jadi ini ulah Salwa, desisnya meremas kuat foto-foto itu sampai uratnya menyembul keluar. Ingin ia bunuh detik ini juga perempuan iblis satu itu.
__ADS_1
"Sweety, ini gak seperti yang kamu lihat di foto. Demi Allah Mas gak ada janji bertemu dia. Mas di jebak Sayang." Jelas Erfan, istrinya pasti bisa mendengar suaranya.
"Saat Mas bilang ada meeting dadakan itu ternyata aku dijebak Sweety. Galih tidak ada menghubungi Mas, hp nya di sadap. Tian juga tetap meeting sama Ressa. Kamu bisa tanya mereka kalau gak percaya."
"Mas gak ingat apa-apa setelah sampai restoran itu, saat bangun udah di kamar hotel. Aku gak ngapa-ngapain, Sweety."
Hira bergeming, apa ia harus percaya dengan ucapan suaminya itu. Kesalahpahaman mereka dulu juga karena Salwa. Apa ia akan mengulangi kesalahan yang Erfan lakukan dulu karena tidak percaya dengannya.
"Demi Allah, Sayang. Kamu tanya Galih, dia udah Mas minta menyelidiki kejadian tadi siang. Pulang dari hotel pun Galih yang jemput, makanya Mas ketiduran sampai malam karena masih dalam pengaruh obat tidur."
Erfan berharap Hira mau mendengarkannya. Ia tak bisa membiarkan istrinya itu kepikiran dengan masalah ini dan stress. Keadaan janinnya bisa berbahaya.
"Sayang, percaya sama Mas. Mas sudah janjikan sama kamu untuk tidak bertemu dengannya lagi. Mas gak pernah mengingkari itu."
Hira membalikkan badan, ia tak menangis hanya hatinya saja yang serasa diremas-remas. "Beneran?" Satu kata Hira ucapkan tanpa ekspresi.
"Bener, Sayang. Kamu harus percaya sama Mas, dia memang mau melihat kita bertengkar. Coba kamu tanya Galih, Tian atau Ressa."
"Jangan terpengaruh apapun dengan ulah Salwa, Sayang. Sebentar lagi dia akan mendekam di penjara. Tinggal menunggu waktu polisi meringkusnya." Erfan memeluk istrinya erat, Hira tidak menghindar lagi.
"Mas gak sadar Sayang, kalau Mas sadar gak mungkin mau dekat sama dia. Mas bangun juga gak polosan."
"Bisa aja kan Mas."
"Sweety, cukup. Percaya sama Mas, Demi Allah. Mas gak lakuin itu, kita tunggu bukti dari cctv hotel yang diretas. Saat ini Mas cuma mau kamu percaya Sayang." Sakit rasanya saat Hira menganggapnya tidur dengan perempuan iblis itu.
"Dia beneran gak cium-cium kamu?" Tanya Hira tidak suka.
"Mas gak tau Sayang, gak sadar gimana bisa ingat."
"Gak ada bekas lipstik di sini?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Gak ada, Sweety. Kamu marah bikin gemesin banget."
"Aku masih marah loh, Bee!" Geramnya.
"Aku lapar, belum ada makan, Sweety. Astaghfirullah aku juga gak sholat dari dzuhur karena ketiduran." Pekiknya lalu melompat dari kasur, Hira cekikikan melihat tingkah suaminya. Ia beranjak bangun mengambilkan makan malam untuk Erfan.
***
"Mas, kamu harus tanggung jawab. Kamu sudah melecehkan aku." Ujar Salwa sambil menangis saat Erfan datang.
Erfan dikejutkan dengan kehadiran Salwa yang pagi-pagi sudah ada di kantornya. Ia takut Hira akan terpengaruh ucapan perempuan iblis itu. Lelaki itu menggenggam erat tangan istrinya.
"Maksud kamu apa Salwa, saya tidak pernah menyentuhmu." Desis Erfan dingin, dengan tatapan elang yang mampu mencongkel mata Salwa.
"Ini buktinya Mas," Salwa melemparkan foto kehadapan Erfan, "kalau kamu masih tidak percaya. Ini semua karena perbuatan kamu." Gadis itu membuka kancing kemeja, dan menunjukkan tanda merah-merah di bawah tulang selangka. Hira meneguk ludah kasar, mencoba mencerna ucapan Salwa.
"Kamu bilang, jangan kasih tanda di tubuhmu agar istrimu tidak tau. Aku sudah relain semuanya buat kamu Mas. Sekarang kamu harus bertanggung jawab, aku takut hamil Mas." Lirihnya, Hira bergeming di tempat. Siapa yang dapat ia percaya saat ini.
"Jangan asal bicara Salwa, menyentuhmu pun saya tidak sudi." Erfan tersenyum miring.
"Kamu harus bertanggung jawab Mas, kamu harus menikah dengan Salwa." Ucap Hira lalu meninggalkan dua orang itu masuk ke kamar.
"Sayang, kamu gak percaya dia kan." Erfan mengejar istrinya.
Blam
Pintu kamar dibanting keras sebelum Erfan masuk. Lelaki itu mematung di depan pintu sejenak lalu berbalik menatap Salwa. "Bukan saya yang harus bertanggung jawab, tapi kamu." Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Mas, kamu yang maksa aku untuk melayanimu." Lirih Salwa di tengah tangisnya. "Aku takut ada benih kamu di sini, Mas."
Erfan sudah sangat muak mendengar ocehan gadis di depannya ini. Jika halal membunuh akan ia mutilasi sekarang juga. "Teruslah mengoceh sesukamu, sebelum jeruji besi menjadi tempat tinggal ternyamanmu."
__ADS_1
"Kamu tidak akan tega membiarkanku di penjara kalau aku hamil anakmu nanti Mas, sekarang pun aku bisa memuaskanmu lagi kalau kamu mau." Ucapnya dengan tersenyum tanpa merasa takut dengan ucapan Erfan.
Erfan menghela napas kasar, lalu menarik perempuan itu agar keluar dari ruangannya.