
"Allah," lirih Erfan menatap bayi mungil perempuan yang berada dalam inkubator NICU Hatinya berdenyut nyeri, istrinya belum sadarkan diri setelah melahirkan.
"Sayang, doain mommy cepat bangun. Kamu juga cepat besar ya, daddy sayang kalian." Ucapnya, ia bersyukur anaknya bisa bertahan. Tapi istrinya masih mengalami kritis, semoga Hira kuat dan bisa berjuang untuk bangun.
Dua orang kesayangan Erfan itu belum ada yang bisa didekap sekarang. Hanya bisa diamati dari jauh.
"Ma, Pa. Aku titip anak dan istriku sebentar ya. Aku harus menyelesaikan masalah di kantor." Dua orang paruh baya itu setia menemani Erfan berjam-jam, sampai bayi mungilnya berhasil dilahirkan.
"Kamu hati-hati, kami akan jaga mereka." Ujar Hardiyata menepuk punggung putranya untuk memberikan kekuatan.
Erfan mengangguk, bersama mama papa ia tak perlu mengkhawatirkan Hira. Orang tuanya tidak mungkin berbuat jahat pada istrinya. Sungguh Erfan benci pengkhianatan seperti ini. Sejak awal ia sudah berusaha mewanti-wanti dirinya sendiri. Tapi ternyata masuk perangkap musuh juga.
"Galih, bagaimana dengan laporan Salwa. Apa sudah bisa diatasi?" Tanya Erfan seperti biasa.
"Belum bos, sepertinya Salwa membackup lebih kuat." Lapor Galih, Erfan hanya bisa mendesah berat.
"Salwa harus bertanggungjawab atas semua ini. Dia sudah membuat Hira masuk rumah sakit." Tegas Erfan sembari mengamati raut wajah Galih yang berubah cemas sebentar. Lalu kembali tenang. "Saya tidak akan memenjarakan perempuan iblis itu, tapi saya akan melakukan lebih dari itu." Desis Erfan garang.
"Kalau kamu tidak bisa mengatasi perempuan itu, saya akan melakukannya sendiri."
"Saya akan pastikan membuat perempuan itu menyesal, bos." Ucap Galih dengan yakin.
"Bagus, buktikan segera." Ujar Erfan tersenyum bangga pada asistennya itu.
"Saya akan lakukan segera." Galih meyakinkan bosnya, lalu meninggalkan ruangan. Jantungnya sudah ketar-ketir, mendengar Erfan berucap seperti itu.
"Bagaimana?" Tanya Tian setelah Galih pergi.
"Kita lihat sebentar lagi, aku muak mendengar kalimat manis yang keluar dari mulutnya." Desis Erfan seperti ingin memangsa hidup-hidup orang yang ada di depannya.
"Hei, musuh lo bukan gue. Mengerikan tuh muka." Tian tidak terima ditatap seperti penjahat saja. "Gimana keadaan Hira?"
Erfan menggeleng lemah, "masih belum bangun. Gadis kecil gue juga terbaring lemah dengan berbagai alat di tubuhnya," ucapnya sendu.
__ADS_1
Tian turut prihatin dengan penderitaan temannya itu. Kalau sudah berurusan dengan Tuhan dia tidak bisa membantu apa-apa. Untuk dirinya sendiri saja ia tak berani meminta, takut jadi tidak tau diri.
"Bos, ada Salwa. Boleh masuk?" Ujar Ressa meminta izin pada bosnya.
"Tumben dia tau diri, biasanya main nyelonong." Sambar Tian, gadis itu mengendikkan bahu merasa tidak punya urusan dengan bosnya yang satu itu.
"Suruh masuk." Ujar Erfan, Ressa mengangguk patuh. Lelaki itu melirik temannya, "kalian kenapa?"
"Masih marah kali," jawab Tian acuh.
"Lo belum minta maaf?"
"Sudah, tapi jadi canggung ya gitu. Dia udah gak nyaman sama gue. Tuh tamu lo dah datang gue pamit undur diri." Ujar Tian meledek, "selamat bersenang-senang, bro." Teriaknya nyaring, lalu mencolek dagu Salwa kala berpapasan dengan gadis itu.
"Hallo cantik, mau coba tanda yang aku kasih gak. Dijamin lebih nikmat dari ini." Sindir Tian melihat tanda memerah yang gadis itu tutupi dengan rambut.
Tian menyeringai licik, mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu. Salwa mematung di tempat, pesona Tian sungguh tak bisa di tolak. Aroma parfum lelaki itu dapat menghipnotis hidungnya.
"Lo suka bau tubuh gue? Semua yang ada di diri gue bisa jadi milikmu semuanya." Ucapnya lalu mengecup pipi Salwa, Tian tersenyum smirk kala Galih menatap tajam ke arahnya menyaksikan adegan singkat itu.
"Mau apa datang ke sini?" Tanya Erfan dingin, "mau minta pertanggung jawaban gue atas tanda di leher lo yang gue buat lewat mimpi?" Lanjutnya dengan tersenyum mengejek.
"Berapa orang yang sudah meniduri tubuh lo, lalu lo bilang gue yang melakukan pelecehan?"
"Atau lo mau minta gue yang bertanggung jawab atas perbuatan yang Tian lakukan tadi?"
Salwa mendadak jadi buntu. Ia datang ke sini ingin mendesak Erfan untuk menikahinya. Tapi malah rencananya berantakan gara-gara lukisan percintaannya tadi malam terlihat Erfan dengan jelas.
"Hm, lo bingung mau jawab apa? Coba tanya Tian dulu gih. Atau lo minta vitamin sama dia biar otak lo bisa encer lagi ngibulin gue." Tanpa ragu lelaki itu meminta temannya untuk datang keruangan juga Galih.
"Galih, kira-kira Salwa mau kamu apakan, sebagai bukti ucapan kamu tadi yang ingin segera bertindak." Belum Galih menjawab Erfan tersenyum pada temannya yang baru masuk. "Tolong kasih Salwa vitamin, sepertinya dia lemas karena lo tinggal gitu aja." Ucapnya dengan tersenyum licik.
"Dengan senang hati, ayo Nona." Tian menarik lembut Salwa, membawanya menuju sofa dan memangkunya. Kalau Tian dikasih tugas seperti ini, dia tidak akan menolak.
__ADS_1
Galih sudah menggenggam tangan untuk menahan hawa panas dalam tubuhnya. Tidak rela kekasihnya disentuh lelaki lain.
Gadis itu tidak dapat berkutik di depan Tian. Lelaki itu sungguh dapat membius para wanita dengan sekali sentuh.
"Mau dimana, hm?" Tian menyapu lembut bibir gadis itu dengan jemarinya. Lelaki itu tersenyum jahat, belum diapa-apakan Salwa sudah merespon liar.
"Galih kamu jaga dua orang ini," pesan Erfan sebelum keluar ruangan. Ia sempat mengedip pada Tian sebelum pergi.
Erfan tak sebodoh itu menyaksikan tindakan Tian yang liar. Ia hanya ingin bermain-main dengan dua orang itu. Sebelum memberikan peringatan.
Kalau tidak ingin menjebak agar Galih terpancing emosi mana mungkin Erfan membiarkan Tian berbuat di ruangannya. Ia sudah memperingatkan Tian agar tidak keterusan.
"Ada apa bos?" Tanya Ressa bingung, bosnya itu tumben duduk di depan mejanya.
"Lagi ada adegan panas di dalam lo jangan masuk nanti sakit hati." Ujar Erfan, sepertinya dia punya dua orang untuk dikerjai hari ini.
"Tian?" Tanya Ressa tidak suka.
"Siapa lagi, kalau bukan dia." Erfan mengamati wajah Ressa yang berubah cemberut masam, "lo kenapa? Cemburu."
"Eh, apa? Cemburu sama siapa?" Tanya Ressa balik.
"Lo gak usah ngelak deh sama gue, kalau cemburu ya bilang aja cemburu. Garis wajah lo itu gak bisa bohong," terangnya.
Ressa tertawa kecil, "sejak kapan bos jadi peramal?"
"Sejak lo pelukan sama Tian di ruangannya." Jawab Erfan dengan terkekeh kecil, wajah Ressa memerah menahan malu. "Lo masih mau bohong sama gue, hm."
"Nyaman-nyaman aja, tapi lo harus siap terluka kalo menyerahkan hati lo sama Tian. Gue cuma ngingetin, selebihnya terserah lo." Ucap Erfan tulus, dia kasihan kalau Ressa cuma dimainin Tian seperti perempuan-perempuan yang dekat dengan temannya itu.
Ressa tak menjawab, pura-pura sibuk dengan layar komputer.
"Hati memang gak bisa dipaksa, tapi lo bisa memilih waspada sebelum terluka." Ujar Erfan sebelum melangkah pergi dari meja seketarisnya.
__ADS_1
Gadis itu mencoba mencerna setiap ucapan Erfan. Apa benar dia sudah nyaman dengan Tian? Itu tidak mungkin, gumamnya. Ressa hanya kagum dengan pesona lelaki itu.