
Mentari pagi begitu menyejukkan, bekas tetesan embun membasahi dedaunan hijau di taman. Di sana berdiri seorang perempuan sedang menatap kuncup-kuncup bunga yang bermekaran.
Dunia ini sangat indah kalau kita bisa memandangnya dari sudut pandang yang berbeda.
Hambatan-hambatan itu hanyalah kerikil kecil yang tercecer di jalanan mulus. Tapi bukan manusia namanya jika tak memiliki rasa mengeluh sedikitpun.
Kadang hidup ini terasa sangat lelah untuk dijalani, tapi nyatanya berhasil dilewati.
Hira menarik napas panjang untuk menghirup udara pagi yang begitu menyegarkan. Ia perempuan kuat, hanya saja sering menjadi lemah ketika bersama suaminya.
"Anak Papa lagi berjemur." Lelaki itu pengecup perut lalu beralih ke pipi sang istri.
"Kepagian kalau berjemur Bee. Mataharinya belum muncul," Hira meluruskan.
"Kalau kamu terus berdiri di sini matahari gak akan muncul, Sweety."
"Kenapa?" tanya Hira polos.
"Matahari takut kalah bersinar sama kamu." Goda Erfan lalu mengunyel pipi Hira karena gemas.
"Bee, aku bukan Hero jadi Matahari gak perlu takut kalah saing." Erfan memutar bola mata malas, niat menggombalnya jadi redup. Kenapa juga jadi nyangkut ke matahari yang bersemayam di mall. Salahkan Erfan yang selalu belajar bisnis sampai istrinya jadi ketularan mikirin persaingan bisnis orang.
"Iya, kamu Fakhira Shakira istrinya Erfan Bumi Wijaya." Ucap Erfan akhirnya, Hira tertawa geli membawa suaminya duduk di gazebo taman.
"Bee mending rumah kita dijual, beli apartemen lalu disewakan, bisa jadi penghasilan tambahan. Kita bisa tidur dimana-manakan?" Sindir Hira, Erfan melotot. Benarkah, Hira menganggap pemilik EXTNET dan pewaris tunggal Digitech sepertinya perlu penghasilan tambahan lagi.
"Sweety nyinyirnya pedas banget." Rengek Erfan, Hira terkikik mengelus rahang tegas milik suaminya.
"Habisnya drama banget hidup kita, Bee."
"Kamu mau rumah yang seperti apa? Nanti kita beli. Lagian rumah yang kita diami itu uangnya dari papi, jadi harus aku kembalikan."
"Yang kecil aja, tapi nyaman."
"Okey, nanti kita cari rumah baru ya."
__ADS_1
"Bee, kamu mau beli rumah kayak beli gorengan di pinggir jalan aja. Enteng banget ngomongnya."
Erfan terkekeh, ocehan istrinya lucu sekali.
"Sweety, kamu lupa siapa suamimu ini?"
Hirang menggeleng, "Erfan Bumi Wijaya," ujarnya, "aku belum amnesia, Bee."
"EBW ini pemilik EXTNET London dan Indonesia, Sweety. Sekarang menjadi pewaris tunggal Digitech Indonesia." Jelasnya dengan arogan, "kamu mau beli pulau sekalipun akan kubelikan," lanjutnya.
Hira geleng-geleng kepala, "sombong sekali anda, Tuan. Kalau masuk liang lahat mau pakai jas yang harganya miliaran, terus peti matinya dipahat dan ditempeli berlian." Sarkas Hira, Erfan langsung menciut. Siapa suruh menyombongkan diri di depan emak-emak.
"Enggak Sweety, gak sombong. Ampun." Cicit Erfan merengkuh pinggang istrinya. "Cuma bercanda, Sayang."
"Bercandamu itu bisa menyakiti perasaan orang yang tidak mampu, Bee." Tegas Hira.
"Iya-iya, maaf. Gak gitu-gitu lagi deh." Duh, Erfan gagal menyombongkan diri di depan istri sendiri.
***
Ia bukan artis yang harus muncul di depan televisi. Sombong saja tidak boleh apalagi harus berlagak hebat di depan wartawan, Erfan bisa dicincang Hira. Mengingat omelan istrinya pagi tadi membuat Erfan tersenyum geli.
Pria itu seperti tak terganggu di hadang wartawan. Ia menggunakan kacamata hitam saat keluar dari mobil. Mengabaikan para wartawan yang sangat kepo dengan kehidupan orang lain.
Erfan berhasil masuk gedung kantornya dibantu dua orang security. Ia mengucapkan terimakasih sebelum memasuki lift. Erfan jadi berpikir ingin punya pengawal pribadi kalau seperti ini. Selama ini ia menganggap hidupnya aman-aman saja.
"Pagi Bos, ganteng banget pake kacamata hitam. Aura-auranya keluar." Sapa Ressa, ikut masuk ke ruangan sang bos. Erfan melepas kacamatanya lalu memelototi seketaris kurang ajarnya itu. Untung sahabat sang istri.
"Usir wartawan-wartawan itu Sa." Katanya sembari menghempaskan bokong di kursi kejayaan.
"Sudah bos, sejak datang tadi diusir. Tapi gak pulang-pulang juga."
"Gue perlu asisten kalau gini Sa." Erfan menatap lelah dokumen-dokumen di mejanya.
"Mau perempuan atau laki-laki?" Goda Ressa
__ADS_1
"Laki-laki lah, bisa tidur di luar gue kalau kemana-mana berdua sama perempuan. Tadi pagi aja rumah mau di jual Hira." Adunya, Ressa tertawa gelak.
"Pakai ajian apasih anak itu bisa beruntung banget sampai bisa jinakin bos gue yang astaghfirullah ini."
"Apa kata lo, hah." Ujar Erfan tak terima, Ressa bukannya takut malah tambah tertawa.
"Makanya bos, jadi orang jangan sombong-sombong amat jadinya takluk sama istri sendirikan." Ujar Ressa, setelahnya ia berlari keluar dari ruangan bosnya itu sebelum kena serangan di jidat.
Erfan geleng-geleng kepala, sudah berbuat dosa apa Erfan jadi pagi ini dapat serangan dari emak-emak.
Erfan membereskan pekerjaannya sebelum meeting. Belum satu jam berpisah sudah kangen dengan Hira. Lelaki itu membaca dokumen seraya senyum-senyum sendiri. Hira sudah merubah kelamnya hidup Erfan menjadi berwarna-warni. Dulu yang ia tau warna hanyalah hitam dan putih. Semenjak Hira hadir ada begitu banyak warna yang bisa ia lihat.
Selesai memeriksa beberapa dokumen Erfan beranjak ke ruang meeting. Di sana sudah hadir para pelaku industri game Indonesia.
Pada meeting ini mereka membahas program yang akan diadakan dalam waktu dekat. Program yang dijadikan sebagai wadah para pegiat industri game untuk menunjukkan karya. Serta meningkatkan kesadaran dan menjadikan produk game lokal sebagai pilihan utama yang patut didukung dan diapresiasi.
Industri game kian berkembang di Indonesia. Para pelaku industri game bisa berkreasi dan berinovasi memajukan industri game sebagai bagian dari perekonomian nasional. Seiring beragam dukungan kebijakan pemerintah dari segala sektor sehingga memungkinkan perkembangan industri tersebut di tanah air.
Dengan dukungan semua elemen dalam industri game, mulai dari developer, investor, publisher, hingga esports dapat bekerja bersama dan berkolaborasi dengan lebih baik dan mempersiapkan diri untuk masuk ke pasar game global.
Tercatat dalam beberapa tahun terakhir sejumlah program dikembangkan antara pemerintah dengan asosiasi dan pelaku industri game di tanah air. Itu artinya game bisa menjadi peluang untuk memajukan negeri ini.
"Sa setelah ini ada meeting lagi?" tanya Erfan pada seketarisnya sekarang sudah jam sebelas. Meeting tadi menghabiskan waktu dua jam.
"Gak ada bos." Ujar Ressa setelah memeriksa buku ponsel pintarnya.
"Oke, gue mau ke rumah sakit. Kerja dari sana. Kalau ada urgent telepon aja atau minta supir gue antar berkasnya ke sana."
Ressa mengacungkan jempolnya, enak ya jadi bos bisa kerja darimana saja, gumamnya. Tanpa tau pusingnya jadi bos memikirkan nasib-nasib para karyawan.
Erfan memasukkan laptop dan dokumen yang belum sempat diperiksanya dalam tas. Ia sudah tak bisa menunda waktu untuk bertemu istrinya lagi. Mungkin si baby lagi pengen ketemu sang papa.
Mobil dikemudikan Erfan dengan kecepatan sedang. Ia tak perlu buru-buru, para wartawan yang menghadang di depan gedungnya pagi tadi juga sudah bersih.
Ia harus mencari kandidat asisten yang benar-benar lurus. Agar kejadian pada Digitech tidak ia alami. Pekerjaannya semakin padat, sedang istrinya juga butuh perhatian lebih. Erfan harus bisa mengatur semuanya agar tetap berjalan baik antara perusahaan dan keluarga.
__ADS_1