Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
37


__ADS_3

Erfan sudah membuat janji bertemu dengan dr. Sutomo. Syukur-syukur kalau bisa bertemu Hira, pikirnya saat berada di lift. Yeah, ia bukannya secepat itu melupakan Bilqis calon istrinya. Adanya dokter muda itu bisa menghilangkan sebagian kesedihannya.


Gadis menyebalkan yang selalu terlihat ceria di mata Erfan, kecuali saat sedang kumat. Kalau ia ingin mendapatkan Hira berarti harus mengalahkan Ringgo dan Guntur, gumamnya. Guntur, bisa melepaskan Hira dengan mudah tapi kalau Ringgo, Erfan tidak yakin lelaki itu menyerah begitu saja.


Ia mengetuk pintu ruangan dr. Sutomo lalu masuk, seperti petunjuk Zaky diminta menunggu dulu. Kenapa Hira tidak terlihat batang hidungnya. Erfan mencari-cari keberadaan Hira sepanjang koridor tadi.


"Pak Erfan..!" Panggil seorang dokter laki-laki paruh baya, yang mendekati sofa tempatnya duduk, pria paruh baya itu baru masuk ruangan. "Sudah lama menunggu Pak?"


"Baru saja dok," Sahut Erfan sopan.


"Apa yang bisa saya bantu Pak?" Tanya dr. Sutomo serius, ia tidak suka basa-basi walau sudah tau tujuan pengusaha muda ini datang untuk apa. Mereka juga sudah sering bertemu.


"Saya berharap bisa mendapatkan informasi dari dokter yang bisa digunakan sebagai petunjuk." Erfan mengucapkan sesantai mungkin, seakan tidak ada luka yang sedang di sembunyikannya. Kehilangan Bilqis, jelas sebuah luka baru untuknya.


"Sebisa mungkin saya akan mencoba membantu berdasarkan apa yang saya ketahui."


Erfan berbincang lama dengan dr. Sutomo, ia mendapat sedikit pencerahan. Mengingat tidak ada cctv di sekitar taman, itu menyulitkan pencariannya. Ia kembali ke kantor setelah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Erfan tidak bertemu dengan Hira hari ini. Entah dimana gadis itu bersembunyi.


Mungkin tidak bersembunyi tapi sekarang bersemayam di hatinya. Tidak, Erfan tidak jatuh hati dengan dokter jutek itu.


Hari-hari Erfan habiskan dengan pekerjaan yang setumpuk. Ia masih dibantu Ressa, kalau keadaan Hira stabil. Ya, Erfan masih memantau Hira melalui Ressa.


***


Huft. Hira menarik napas panjang. Malam ini ia diajak bertemu dengan orang tua Ringgo. Hatinya gelisah, ia takut. Ringgo selalu meyakinkan semua akan baik-baik saja. Tetap saja Hira tidak bisa tenang.


"Sa, gue takut!" Hira berdiri di depan cermin menatap pantulan wajahnya yang sangat cantik. Pashmina brown yang dikenakan Hira membuatnya tambah manis.


"Kalau ada apa-apa lo hubungi gue ya Ra. Lo kendalikan diri lawan ketakutan. Jangan sampai kalah." Pesan Ressa, sahabatnya itu belum bisa menerima tekanan yang berlebihan saat ini. Hira mengangguk lemas. Lima menit kemudian bel berbunyi, Ringgo sudah menunggunya di depan pintu. Setelah berpamitan dengan Ressa ia meninggalkan apartemen bersam pria tengil itu.


Sebuah bangunan megah sekarang sudah berada di depan Hira, membuatnya berpikir ulang untuk masuk ke dalam. Ia takut tak bisa diterima oleh keluarga Ringgo. Begitu banyak ketakutan yang ada dalam dirinya.


"Hira, jangan takut. Tidak akan ada yang menyakiti lo di sini." Ringgo membukakan pintu mobil, membawa Hira masuk ke rumah. Ia mengucapkan salam, mama papa sudah menunggunya di ruang tamu.


"Mah Pah, Ringgo bawa calon mantu." Ucapnya dengan ceria, Hira menyalami kedua orang tua Ringgo.


"Kalau gak salah kita pernah bertemukan Nak?" Sapa Papa Ringgo hangat.

__ADS_1


"Iya Pak, kita pernah bertemu di acara yang diselenggarakan Pak Emran dua minggu yang lalu." Jawab Hira canggung.


"Oh ya, saya hampir lupa kamu dr. Fakhira Shakira?" Hira mengangguk pelan dengan tersenyum.


Tapi aura mama Ringgo tidak ramah padanya, memberikan senyuman mengejek pada Hira.


"Dokter yang terlibat skandal dengan pengusaha muda itu 'kan." Wanita paruh baya itu menatap putranya tajam. "Mama sudah bilangkan Go, dari dulu Mama gak suka sama dia." Tunjuknya tepat di depan wajah Hira yang sudah tertunduk malu.


Setiap kali mendapat penghinaan seperti itu hatinya sakit seperti diremas. Kalau tidak suka tinggal bilang tidak perlu menghinanya dengan merendahkan. Ia bahkan tidak punya muka lagi untuk menatap wajah orang tua Ringgo.


"Mama, jangan bicara seperti itu. Kita semua tau kebenaran berita itu." Papa Ringgo berujar, membujuk istrinya yang tidak suka pada Hira.


"Perempuan yang sudah jadi korban pelecehan itu gak pantas menjadi menantu kita Pah, masih banyak gadis lain yang belum disentuh orang untuk dijadikan menantu. Dia jaga diri sendiri aja gak bisa, gimana nanti menjaga anak-anaknya."


Ringgo menggeleng-geleng dengan tingkah sang ibu yang terlalu kekananan. "Tolong jaga bicara Mama pada Hira!" Tegasnya tak lagi ramah.


"Mama tidak sudi kalau dia yang menjadi pilihanmu, Ringgo." Ucap mama, dengan raut seperti jijik menatap gadis yang masih berdiri dihadapannya.


Cukup, Hira sudah tidak sanggup mendengarnya. Kata itu sangat menyakitkan. Ia memang korban pelecehan, tapi apa harus itu dibesar-besarkan. Baru sebentar berada di sini hatinya sudah sangat sakit.


"Kamu membantah Mama Ringgo!"


"Mama cukup!!" Teriak Papa Ringgo, membuat istrinya terdiam. Hira merekam setiap teriakan itu ditelinganya. Ia menutup telinga semakin keras. Badannya luruh di lantai, meringkuk bersandar di sofa.


"Hira!"


Ringgo mendekati tubuh Hira yang sudah meringkuk ketakutan, gadis itu semakin meronta-ronta.


"Lihat, perempuan gila seperti itu yang Papa setujui untuk jadi menantu." Mama melenggang pergi dari ruang tamu.


"Cukup Mama menghina Hira!" Teriak Ringgo nyaring, ia sudah tidak tahan dengan tingkah sang mama yang menghina gadis pujaannya.


"Ra, tenang Ra." Ringgo membawa Hira dalam pelukan, tapi gadis itu semakin meronta dan berteriak histeris. Terpaksa Ringgo mengurai pelukannya, menarik rambut frustasi melihat keadaan gadis yang sudah sangat kacau.


Papa Ringgo berjongkok ikut menenangkan Hira. "Nak, Hira. Tenang ya!"


Hira menggeleng-geleng dan menangis semakin histeris. Tanpa pikir panjang Ringgo langsung mengabari Ressa keadaan Hira sekarang. Hanya Erfan yang bisa menenangkannya, ia tak punya kontak pria itu.

__ADS_1


"Hira, tenang Ra. Jangan takut!"


Ringgo mengusap tangan Hira lembut, Hira menarik tangannya dengan kasar. Ia meringkuk berbaring di lantai.


"Bawa dia ke rumah sakit Go." Saran papa yang sudah tidak tega melihat gadis di depannya.


"Gak bisa Pah, dia bisa semakin trauma kalau disentuh. Semua ini gara-gara Mama." Geramnya marah, melihat keadaan Hira seperti ini membuat hatinya hancur. Ringgo bersimpuh di lantai menatap wajah Hira yang sudah memucat, tatapannya kosong.


Lima belas menit kemudian Erfan datang bersama Ressa. Pria itu berlari menuju ruang tamu, dilihatnya Hira meringkuk di lantai. Ya Allah, hati Erfan seperti tercabik-cabik sekarang. Gadis ini sudah menjadi tanggung jawabnya, karena kesalahannya sudah membuat Hira seperti sekarang.


"Siapa yang bikin Hira seperti ini, SIAPA?" Teriak Erfan garang. Matanya menatap Ringgo tajam. "Lo tau, gue menjaganya dengan baik agar dia bisa sembuh. Tapi lo sudah membuat kesalahan."


Erfan mengangkat tubuh Hira, membawanya segera pergi. Ia dekap erat tubuh yang rapuh itu, keringat membasahi tubuh Hira. Erfan membawanya masuk ke mobil mendudukkan Hira dipangkuan. Hira masih meringkuk dipelukan Erfan dengan suara tangis yang sangat memilukan.


"Sa kerumah Abi Nazar, kita menginap di sana."


"Siap bos." Setelah menutup pintu mobil belakang, Ressa duduk dibalik kemudi melajukan mobil Erfan.


"Seminggu terakhir dia gak pernah kumatkan Sa?" Tanya Erfan, tangannya membelai pipi Hira lembut menghapus jejak air mata di sana.


"Dia baik-baik aja, gak pernah kumat. Tidur juga sudah gak sering mimpi buruk lagi."


"Sa, kalau gue nikahin dia gimana? Gue gak mungkin giniin dia teruskan. Nanti orang salah paham."


"Itu keputusan yang terbaik bos, saya mendukung. Kebahagiaan Hira adalah kebahagiaan saya juga."


"Apa Hira mau nerima gue?" Erfan ragu Hira mau menerimanya.


"Apa ada alasan untuk menolak, sedang dia butuh bos. Hira sadar, cuma dia gak bisa mengendalikan diri." Erfan mengecup puncak kepala Hira, gadis itu sudah tertidur. Tanpa ia bicara pun Hira bisa tenang dalam dekapannya.


"Ketika dia bersama gue hidupnya tidak mudah lagi Sa, kamu pahamkan?"


"Sesulit apapun kalau kalian bersama pasti bisa melaluinya. Tinggal yakinkan hati bos." Ressa sangat yakin bosnya itu menyayangi sahabatnya, kalau tidak mana mungkin mau repot-repot menikahi. Erfan bukan tipe orang yang peduli seperti itu.


"Gue gak tau Sa, baru satu minggu gue kehilangan Bilqis. Apa yang akan orang pikirkan nanti kalau gue langsung menikahi Hira. Mereka pasti akan membenarkan skandal itu, di sini Hira yang semakin dirugikan."


"Sejauh itu bos memikirkan Hira." Ressa tersenyum lebar dari balik kemudi. Erfan tidak menjawab, ia hanya bergumam dalam hati. Ya, sejauh itu ia memikirkan kebahagian Hira. Erfan ingin menebus kesalahannya dengan membahagiakan Hira.

__ADS_1


__ADS_2