
"Hey Honey, kamu sudah bisa bicara?" Tanya Tian pada bayi mungil yang sedang anteng berada di kereta bayi.
Sudah pasti bayi berumur enam bulan itu tidak akan menjawab. "Yes Uncle, Erra sudah bisa bicara sejak dalam kandungan."
"Singkirkan otak gilamu itu dari putriku, Tian!"
"Bee, jangan berteriak. Aku gak mau putriku jadi tarzan betawi asli."
"Bukannya onde-onde yang dari betawi, Sweety?" Tanya Erfan bingung.
"Itu ondel-ondel, Bee. Kamu kelamaan tinggal di London sampai boneka raksasa disamakan dengan kue yang bertaburan biji wijen itu." Ketus Hira, dia masih kesal karena dilarang pergi ke Lembang.
"Kenapa kalian jadi berdebat masalah boneka raksasa dan kue isi kacang itu?" Tian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu karena kau yang memulai, Tian!" Sarkas Erfan kesal, dia jadi berdebat karena keusilan Tian yang menanyakan putrinya sudah bisa bicara.
"Erra ikut Uncle, Honey. Biarkan Mommy dan Daddy-mu melakukan gulat di sini." Tian mengedipkan mata pada Erra kecil yang dijawab dengan senyuman dan celotehan. Gadis kecil itu menepuk-nepuk tangan riang. Tian mendorong kereta bayi keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Tian!" Teriak Erfan dan Hira bersamaan, Tian sampai menutup kedua telinganya. Melepaskan tangan dari kereta bayi.
"Katanya gak mau Erra jadi tarzan. Kalian sendiri yang berteriak seperti tarzan sesat di hutan," Protes Tian.
Tolong tanyakan pada Tian, kenapa tarzan sampai tersesat di hutan.
"Jangan bawa Erra ke ruanganmu. Aku tidak mau mata putriku ini tercemar karena kau bercinta dengan perempuan-perempuan gila itu di ruangan!" Sarkas Erfan menarik kereta putrinya.
"Aku tidak segila itu bercinta saat ada Erra, Erfan. Justru Erra akan membuatku jauh dari perempuan-perempuan yang kau sebut gila itu."
"Terserah apa katamu, aku tidak akan mengijinkanmu membawa Erra." Tegas Hira yang ikut bicara.
"Sudahlah, bawa Erra sana. Jangan sampai ada perempuan yang masuk ruanganmu dan menyentuh pipi putriku!" Peringat Erfan yang disanggupi Tian.
"Bee!" Hira tidak terima putrinya dibawa Tian.
"Biarin Sayang, siapa tau Tian bisa mengurangi kebiasaannya kalau disibukkan menjaga Erra." Bujuk Erfan, membawa Hira duduk di sampingnya. Ia sudah menyediakan dua kursi di meja. "Kamu bisa lebih leluasa bekerja, tanpa bolak balik menenangkan Erra."
__ADS_1
"Dan aku akan lebih leluasa mengganggumu," ucap Erfan dalam kalbu.
"Aku gak bisa jauh dari Erra, Bee." Rengek Hira manja, bukan Hira yang terganggu. Malah kerjaan Erfan yang akan terganggu kalau begini.
"Belajar Sayang, nanti kita juga akan cari babysitter buat bantu kamu menjaga Erra."
"Aku mau rawat Erra sendiri, Bee."
"Yang kamu rawat itu bukan cuma Erra, Sweety. Sudah jangan drama pagi dulu, Mas mau meeting. Nanti aja dilanjut ngambeknya." Ujarnya seraya mengecup kening Hira.
"Bee, aku mau ngambek sekarang. Gak mau ditunda, nanti expired date." Hira sengaja memanja-manjakan suaranya, membuat dua kepala Erfan pening.
"Bukan makanan, Sayang. Aku yakin gak akan expired date. Kesalahanku satu minggu yang lalu juga kamu masih ingat dan menyimpannya di sini." Dengan jahil Erfan menyentuh kepala Hira.
Hira melengos, "dah sana meeting. Cari uang yang banyak. Yayasanku masih butuh banyak uang."
"Emang kapan yayasan kamu kekurangan uang, Sweety." Erfan terkekeh geli, memberikan kecupan di bibir. Cara ampuh untuk menghentikan Hira mengomel.
__ADS_1
"Belum pernah." Jawab Hira jujur, sambil cemberut.
"Mas meeting dulu, jangan ditahan lagi. Kalau ditahan perdebatan kita ini bisa berakhir di kamar, Sayang." Goda Erfan genit, Hira menggembungkan pipinya, kesal.