
"Hira, tenang Ra, tenang!"
Guntur sudah nenghubungi Erfan juga ayahnya. Ia mendekati Hira, melihat gadis itu terus berteriak histeris.
"Hiraa..!" Guntur mengangkat tubuh Hira mendekapnya kuat seperti yang Erfan lakukan. Tapi tidak mempan, Hira malah semakin meronta dan ketakutan. Dengan tangisan yang semakin nyaring.
"Kenapa Tur?" Tanya dr. Rizal yang datang dengan setengah berlari.
"Hira gak mau tenang Pah." Guntur frustasi menenangkan Hira, tubuhnya ikutan lelah terus dipukul Hira dengan kuat. Ia membawa Hira duduk di lantai masih memeluk tubuh yang terus meronta itu.
"Hira..." panggil dr. Erika, ia terpaksa meninggalkan pasien demi menyusul dr. Rizal.
"Tidaak, aku tidak melakukannya!" Teriak Hira histeris.
"Ra, jangan takut. Kamu tenang ya!" Bisik Guntur, bukannya tenang Hira malah semakin mengamuk.
"Berikan obat penenang dok." Titah dr. Rizal pada dr. Erika, Guntur menggeleng menatap tajam sang ayah. Hira tidak gila, Hira tidak perlu obat penenang. Guntur tidak rela gadisnya di anggap gila. Hira cuma perlu Erfan sekarang agar tenang.
Erfan yang mendapat panggilan dari Guntur langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Untungnya kantor Ilmi cukup dekat dengan rumah sakit, ia berlari mencari ruangan Hira.
"Hira..!!"
Teriaknya saat sampai di depan pintu, napasnya ngos-ngosan. Ya Allah, melihat Hira meronta seperti itu membuatnya semakin gila. Erfan mengambil tubuh Hira dari pelukan Guntur. Di dekapnya erat tubuh yang rapuh itu.
Ia tak mampu berkata-kata lagi, air matanya terjatuh mengikuti tangisan Hira. Tangannya membelai lembut kepala Hira.
"Kenapa seperti ini lagi Ra? Tenang Ra, tenang!" Bisik Erfan sangat lembut, Guntur yang duduk di samping Erfan mengusap kasar wajahnya.
"Sstt tenang Ra." Tangisan Hira mereda dalam pelukan Erfan, "jangan seperti ini lagi. Kalau masih seperti ini gue akan langsung nikahin lo." Bisik Erfan, lalu tersenyum manis.
"Siapa yang melakukannya Tur?"
"Orangnya ada di ruangan Papa, security tahan di sana." Jawab Guntur kepalanya masih pening, menenangkan Hira tak semudah itu. Pawangnya hanya Erfan yang bisa menenangkan.
"Bawa gue ke sana." Guntur mengangguk lalu mereka beranjak, dr. Erika kembali keruangannya, dia tidak diperlukan sekarang.
"Mami!"
__ADS_1
Erfan tersentak melihat Reny yang ditahan di sana. Seniat itu mami menyakiti Hira.
"Tolong Mami Fan, mereka jahat." Mohon Reny pada putra sulungnya, Erfan menggeleng kuat lalu tersenyum smirk.
"Sepertinya Mami tau siapa yang jahat di sini. Mami sudah membuat membuat keributan di rumah sakit, Erfan tidak bisa melakukan apa-apa." Ucapnya santai, "Mami lihat, kekasihku sampai menangis seperti ini karena ulah Mami. Jangan berharap aku kembali lagi Mi, setelah apa yang Mami lakukan." Erfan menatap Hira yang memeluknya seperti bayi kanguru. Posisi ternyaman gadis itu.
"Tur antar gue pulang, dr. Rizal terimakasih. Silahkan tindak lanjuti kasus ini sesuai prosedur karena Hira masih bekerja di sini." Erfan mengucapkannya tanpa beban, ia membawa Hira pulang kerumah Abi Nazar. Mami memang keterlaluan sudah melewati batas. Harusnya hal ini tidak terjadi.
***
Benci, satu kata yang Erfan rasakan saat memasuki kediaman keluarga Wijaya. Ia menitipkan Hira pada ummi sebelum berangkat ke sini.
"Mami ditahan polisi, kamu sudah tau Fan?" Papi menyambutnya di ruang tamu. Jadi papi memintanya pulang karena ini. Erfan duduk di samping sang papi.
"Pi, tadi pagi Mami sudah mengusirku dari perusahaan. Jadi aku mau mengembalikan ini sama Papi." Erfan meletakkan puluhan kartu di meja. "Aku tidak pernah menggunakan uang itu. Mami ditahan karena sudah membuat keributan di rumah sakit."
"Yang bisa membuat keputusan hanya Papi, bukan Mamimu Fan." Papi tidak terima anaknya ingin meninggalkan perusahaan.
"Harga diriku terluka Pi, orang yang kusayangi dihina Mami. Jadi tidak ada alasan lagi untuk aku tetap tinggal di rumah mewah ini." Erfan tersenyum manis, "aku tidak bisa membantu Mami, Papi bisa melakukannya tanpa melibatkan aku." Erfan beranjak ke kamar, ada barang-barang yang mau diambilnya. Mengabaikan panggilan papi.
Erfan mengacak-acak seisi kamar tidak menemukan notebook yang dicarinya. Padahal isinya bukan curhatan, tapi ada hal penting dalam notebook itu. Lemari, laci sudah dibuatnya berantakan, tapi tidak ada. Ia selalu meletakkannya di laci, tidak mungkin bisa jalan sendiri.
Mata Erfan tertuju pada notebook pink dalam laci Fany, membuka lembar demi lembar membacanya hanya berisi curhatan adiknya. Sampai pada pertengahan halaman, Erfan menemukan hal yang mengejutkan.
Target :
Membuat Nana gila — gagal
Membunuh Bilqis — berhasil
Membunuh Hira — proses
Salwa?
__ADS_1
Erfan mengambil notebook itu lalu kembali ke kamar. Mengangkat koper segera, ia tidak tau siapa orang di belakang Fany sampai rencananya bisa serapi ini. Ia perlu pengamanan ekstra untuk Hira. Abaikan Salwa, selama Erfan tidak mendekati gadis itu, Fany tidak akan mengganggunya.
"Papi, Erfan berangkat." Erfan menyalami papi, "Pi, tolong awasi orang-orang di rumah ini. Papi nanti akan mengerti apa maksud Erfan, aku tidak bisa menjelaskan sekarang." Ucapnya lalu meninggalkan papi yang masih keheranan.
Di ruang keluarga rumah Abi Nazar Erfan membaca setiap lembar tulisan di notebook. Ada apa sebenarnya, rahasia apa selama ini yang disembunyikan darinya.
"Assalamualaikum." Suara Adnan baru pulang dari kantor, Hira sedang bermain dengan Key dan Nasya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Erfan, "sendirian, Ken mana?"
"Ken sama Abi di belakang, lo gak ngantor?" Adnan duduk di samping Erfan, "baca apaan, pink lagi." Ia menilik sampul notebook.
"Gue udah dipensiunin Mami." Erfan tersenyum getir, menunjukkan catatan yang membuat Adnan tersentak kaget.
"Punya Fany?" Erfan mengangguk, lalu menutup bukunya. "Apa rencana lo?"
"Belum tau, gue pengennya nikah." Erfan terkekeh kecil.
"Bahaya banget." Adnan tidak menanggapi bualan Erfan. "Lo sama Hira di sini?"
"Iya, tadi Mami bikin kekacauan di rumah sakit. Sekarang ditahan polisi. Mami juga mengambil perusahaan kembali, dengan senang hati gue melepaskannya. Semua semakin rumit sekarang Nan."
"Lo gak bisa biarin Hira berkeliaran sendirian, gue pernah jadi penguntit Fany. Tau seberapa gilanya adik lo itu."
Erfan menemukan jalan buntu, ingin melarang Hira tapi tak punya hak apa-apa. Hanya kondisi Hira yang bisa membuat Erfan mendekatinya. Setelah itu mereka seperti orang asing.
Malam ini Guntur dan Zaky mau datang menjenguk Hira. Erfan sudah meminta Ressa membawakan pakaian dan segala keperluan Hira. Erfan sudah memberikan pengertian pada gadis itu agar mau menginap. Rumah Abi Nazar lebih aman untuk Hira.
Ia beranjak saat bel berbunyi. Erfan membuka pintu, yang datang bukan hanya Guntur dan Zaky. Mereka membawa pasukan. Erfan menepuk jidatnya.
"Kalian mau menyerang rumah orang, lancang banget gue sebagai tamu mengundang orang yasinan." Erfan berdecak pasti ulah Ghani yang memaksa ikut. "Ayo masuk di rumah majikan gue." Seru Erfan kemudian.
Bagaimana Erfan tidak pusing, Guntur datang bersama Zaky dan antek-anteknya. Ghani dan istri, Zaky dan istri beserta anak, Tomi dan istri, hanya Guntur yang jomblo. Mereka memang niat mengusik rumah orang.
"Ummi banyak tamu tak di undang nih!" Pekik Erfan setelah mengajak semua tamunya duduk. "Suguhin minum gak, apa mereka beli sendiri aja ya, kan mereka lebih kaya."
"Hust, gak sopan banget sama tamu." Ummi muncul dari arah belakang, diikuti Attisya. "Sya, panggil yang lain sekalian minta mbok bikin minuman." Pinta ummi, Attisya mengangguk.
__ADS_1
"Jangan lupa cemilannya yang banyak Mi, kalau ada sekalian jodoh juga buat saya. Nasib jadi obat nyamuk melulu." Gurau Guntur, Ummi terkekeh.
"Kalau minta jodoh bukan sama Ummi, tapi sama Allah." Guntur meneguk ludah, ummi tega banget sama jomblo. Suasana rumah Abi Nazar jadi ramai malam ini setelah kedatangan anak-anak konglomerat yang tak diundang.