Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
98


__ADS_3

Erfan meletakkan piring ke atas nakas lalu meraba bekas jahitan Hira dan menciuminya di sana.


"Maafin aku Sayang, aku nyesel banget sudah mengabaikanmu dulu." Hati Erfan berdenyut nyeri melihat bekas luka itu. "Kamu gak akan mengalami ini kalau bukan karena aku. Tapi aku malah mendiamkanmu sendirian di rumah sakit."


"Suami brengsek seperti aku ini gak pantes dimaafin. Tapi aku juga gak bisa jauh dari kamu Sweety." Adu Erfan, membenamkan wajahnya di perut Hira. Hira tau suaminya menangis karena perutnya terasa basah. Tangannya otomatis menyapu lembut kepala sang suami.


"Aku nyesel Sweety, nyesel banget sudah jadi lelaki bodoh."


"Bee, semua sudah berlalu Sayang." Hira mengecup samping kepala Erfan. Membuat suaminya bangkit dan merengkuh tubuhnya erat.


"Aku gak bisa lupa dengan kebodohanku itu Sweety. Aku akan selalu ingat agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Aku gak sanggup kehilangan kamu."


"Makasih Bee."


Erfan sangat mencintainya, itu alasan yang cukup untuk membuat Hira kembali berada di sisi suaminya sekarang.


"Jangan pergi lagi, jangan bosan mengingatkan kalau aku berbuat salah. Aku akan belajar terbuka apapun sama kamu." Erfan mengurai pelukannya, menatap lekat netra bundar sang istri.


"Iya Bee, aku bukan cenayang yang bisa tau sebab kamu marah. Kalau kamu marah sama aku kita bicarakan berdua." Ucap Hira seraya tersenyum manis. Erfan mengangguk, sudah cukup kehilangan istrinya beberapa bulan ini dijadikan sebagai pelajaran.


***


"Sudah sehat Sayang?" Sapa Btari, setelah bedrest selama tiga hari akhirnya Hira bisa keluar dari kamar juga. Suaminya sangat protektif, ia tak boleh melakukan apapun selain rebahan.


"Alhamdulillah sudah Mah. Hari ini aku ikut Mas Erfan kerja ya." Izin Hira pada mertuanya, mereka berdua sedang menyiapkan sarapan.


"Iya, biar kamu gak bosan di rumah. Jangan terlalu capek dulu Sayang."


"Siap Mah, paling cuma rebahan di sana." Selesai menyiapkan sarapan, Hira kembali ke kamar untuk menyiapkan segala keperluan suaminya.


"Belum siap-siap, Bee." Tegur Hira, suaminya itu masih sibuk dengan laptop di pangkuan.


"Belum, Sayang. Sini dulu." Erfan meletakkan lapotop dan menarik Hira untuk duduk di pangkuannya.


"Mama sudah nungguin Bee, kita sarapan dulu."


"Sarapan ini dulu Sayang." Erfan mengusap bibir Hira lembut dengan jemarinya.


"Nanti kamu kebablasan Bee, aku gak mau mandi dua kali pagi ini." Tolak Hira lembut, suami mesumnya ini selalu membuatnya tak berdaya untuk berkata tidak.


"Enggak, bentar aja. Gak nyampe lima menit." Bujuk Erfan dengan mengerling manja, tanpa persetujuan pun ia sudah beraksi. Awalnya pelan tapi semakin lama semakin dalam. Hira segera menjauhkan kepalanya kala sang suami sudah berkabut gairah.

__ADS_1


"Tuhkan, udah dibilangin kebablasan ngeyel. Itu tangan kemana-mana." Hira memukul kedua tangan Erfan yang nakal.


"Gak kuat." Cicit Erfan membenamkan kepala di ceruk leher Hira.


"Udah Bee, pagi-pagi jangan manja." Ujar Hira lalu beranjak dari pangkuan suaminya.


"Sweety, mau." Rengek Erfan, Hira menggoyangkan jari telunjuknya dengan tersenyum jahil.


"Aku tunggu di bawah, kita sarapan." Ucap Hira sebelum meninggalkan kamar. Mengabaikan wajah kesal sang suami. Dia cekikikan setelah berhasil keluar dari kamar dengan selamat.


Usai sarapan dan berganti pakaian mereka berangkat ke kantor.


"Sweety mobil kamu aku bawa ke rumah Mama, gak papa. Apa mau ditaroh di apartemen?" Tanya Erfan, mereka sudah berada di mobil menuju gedung EXTNET.


"Gak papa Bee."


"Itu mobil lama gak diurus ya?"


Hira hanya nyengir tanpa dosa, semenjak menikah mana ia sempat mengurus masalah mobil.


"Apa mau dijual ganti yang baru?"


"Gak usah Bee, aku gak kemana-mana juga. Kecuali nanti ada niat kabur lagi." Goda Hira, suaminya sudah memasang tampang masam.


"Ngeri banget jadi istri konglomerat." Hira mengangkat kedua bahunya menirukan gaya orang ketakutan. Lalu tertawa gelak.


"Aku serius Sayang, jangan coba main-main." Ucapnya dingin yang tak mampu menghentikan istrinya tertawa.


"Kamu marah gini, jatuhnya jadi lucu Bee. Gimana nanti anak aku ya kalau tampang bapaknya gini."


"Ya gantenglah niru bapaknya kalo laki-laki. Kalo perempuan cantik kayak istri aku." Erfan tersenyum menjawil hidung Hira, pipi perempuan itu bersemu merah.


"Istri yang mana Bee?"


"Istri aku cuma satu Sayang. Hanya Fakhira Shakira gak ada yang lain lagi." Erfan mengecup tangan sang istri.


"Kirain yang sering diajak makan siang itu. Atau yang di rumah sakit." Hira tersenyum geli bisa menggoda suaminya sampai wajah tampan itu berubah kecut.


"Gaklah, gak akan ada yang bisa menandingi dokter jutekku ini." Ucap Erfan lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Mereka sudah sampai di gedung EXTNET.


Tanpa ragu Erfan menggenggam tangan Hira memasuki lift. Pasangan serasi itu berjalan beriringan menuju ruangan kerja Erfan.

__ADS_1


"Hira!" Pekik Ressa mencegat pasangan yang tengah mengumbar kemesraan. Gadis pecicilan itu tak mempedulikan bosnya yang menatap tajam. Ia langsung menghabur kepelukan sahabatnya. "Kangen, kamu tega banget menghilang dariku," ucapnya dramatis.


Hira membalas pelukan sahabatnya. "Kangen juga, kangen banget malahan." Ucap Hira seraya tersenyum setelah mengurai pelukannya. Erfan masih berdiri di sana mengamati pergerakan kedua perempuan itu.


"Curhatnya di dalam aja." Ujar Erfan lalu beranjak lebih dulu keruangannya.


"Siyap bos." Ressa mengangkat jempolnya, "ayo Ra kita ngerumpi di dalam ruangan bos." Ajaknya dengan menggandeng istri sang atasan.


"Lo kemana aja sih Ra, bikin panik orang nyari aja." Ressa mendaratkan bokongnya lebih dulu di sofa. Hira hanya terkekeh kecil melihat sahabatnya yang terus mengoceh tanpa henti.


"Gue gak kemana-mana Sa, cuma ke Bandung." Jawab Hira santai.


"Heh, lo bisa sesantai itu. Bos gue sudah jadi orang gila di sini."


"Biarinlah salah dia sendiri." Hira tambah tersenyum melihat suaminya yang menatap tajam.


"Lo hutang cerita sama gue. Awas nanti kabur lagi."


"Iya-iya nanti gue cerita. Dasar kepo lo. Dah sana kerja sebelum bos lo jadi serigala," usir Hira.


"Sweety." Tegur Erfan, sungguh istrinya ini selalu menistakan dirinya.


"Lo urus suami lo. Gue kabur dulu." Ujar Ressa beranjak meninggalkan ruangan sang atasan.


"Iya Sayang. Kenapa, hm?" Hira mendekati suaminya yang masuk dalam mode ngambek.


"Jangan nakal." Erfan berujar datar tanpa ekspresi.


"Aku gak nakal, Bee." Perempuan itu tanpa permisi duduk di pangkuan sang suami.


"Tadi bilangin Mas serigala." Hira hanya nyengir kuda.


"Enggak kok, suamiku ganteng." Ujar Hira seraya mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Ganteng-gentengan kan serigala, Bee." Bisiknya usil.


"Sweety!" Geram Erfan.


"Apa, hm." Hira meniru gaya suaminya lalu mengendus leher Erfan. Lelaki itu merasa seperti mendapat sengatan listrik.


"Masuk kamar Sweety, udah bangun nih." Rengek Erfan dengan wajah memohon.


"Kerja Bee!" Titah Hira lalu beranjak dari pangkuan sang suami. Lebih aman duduk di sofa menikmati wajah kesal suami kesayangannya yang sekarang lebih manja.

__ADS_1


Erfan berdecak kesal karena di php, awas saja ia akan memberikan pelajaran untuk istri nakalnya itu.


__ADS_2