
Malas ke kantor Erfan berangkat ke yayasan siang ini, istrinya masih betah dalam mode senggol bacok. Ia sudah minta Mama Btari untuk menemani istrinya di rumah.
"Pak Erfan sendirian, Ibu Hira mana?" Sapa Yeni yang sekarang menjadi asisten Ratna. "Sella nanyain Bapak dari kemaren, mungkin ada yang mau dia kasih tau. Anaknya seperti ketakutan gitu." Jelas gadis itu, Erfan mengernyit.
"Dimana dia sekarang?" Erfan penasaran, siapa tau mendapatkan petunjuk dari gadis itu.
"Ada di ruangannya, ayo saya antar." Ujar Yeni, Erfan mengikuti gadis itu ke sebuah ruangan yang memang ia buat seperti studio. Di sana ada beberapa orang yang membentuk tim.
"Sel, ada Pak Erfan." Gadis yang di panggil menoleh takut.
"Kalian bisa tinggalin kami berdua dulu," pinta Erfan. Entah gadis itu takut padanya karena apa. "Ada apa?" Tanyanya saat hanya tinggal mereka berdua di sana.
"Bapak janji jangan marah kalau saya kasih tau ya?" Ucap Sella dengan bibir bergetar, dia takut bosnya itu sangat mengerikan kalau marah. Erfan mengangguk kaku, walau sebenarnya ingin tertawa.
"Aku gak sengaja lihat ini kemaren, jadi aku fotoin. Sekarang fotonya gak buram lagi, hp yang bapak kasih bagus." Kata Sella lugu memberikan ponselnya pada sang bos.
Erfan mengumpat saat melihat foto itu, "kamu kirim foto ini sama saya." Sella mengangguk takut. "Jangan keluar sendirian, tentang foto itu kamu cukup diam. Kamu dalam bahaya kalau mereka tau."
"Bapak gak marah sama saya?"
Erfan terkekeh kecil, "ngapain saya marah sama kamu, makasih informasinya. Ingat apa yang saya ucapkan tadi. Kamu hati-hati." Ujarnya lalu pergi dari sana.
Shitt, pantas saja semuanya terasa janggal dari yayasan sampai urusan Salwa. Argh, Erfan masuk perangkap sekarang. Belum terlambat, lelaki itu melajukan kuda besinya menuju gedung Emeral Corp.
Ia harus cepat bertindak sebelum semuanya tambah fatal. Istrinya yang jadi sasaran dari semua ini, walau bukan menyerang fisik tapi menyerang psikis ibu hamil itu.
Erfan tanpa permisi masuk keruangan Tomi, sudah jadi kebiasaannya bersikap begitu lalu membanting tubuh di sofa. Tangannya mendial nomor Guntur agar masuk keruangan itu.
"Ada masalah apa?" Tanya Tomi santai, tanpa beralih dari aktivitasnya. "Bukannya masalah yayasan sudah clear?" Lanjutnya.
__ADS_1
"Hira marah, gue dijebak Salwa..." kalimat yang Erfan ucapkan terpotong oleh teriakan Guntur. "Woy, lo kalo perintah orang kayak yang punya perusahaan aja." Lelaki itu berdecak, ikut membanting pantat di sofa.
"Anggap aja saham Emeral Corp milik gue, gak susahkan." Katanya dengan tersenyum miring.
"Muka lo kusut amat, habis tidur di luar?" Selidik Guntur sambil tertawa gelak.
"Bukan tidur di luar, tapi tidur di lantai." Jujurnya, "badan gue serasa remuk. Hira gak bisa dibujuk."
"Istri lo yang gak bisa dibujuk kenapa lapor ke sini? Ini bukan yayasan ibu hamil yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah," sinis Guntur.
"Gue kemaren dijebak Salwa. Semua laporan gue dianulir, malah gue yang dilaporkan dengan tuduhan pelecehan. Nyentuh dia aja gue gak pernah. Pagi-pagi datang ke kantor minta pertanggung jawaban. Ya jelas gue tidur di lantai jadinya." Jelan Erfan singkat, ia yakin dua orang itu sudah mengerti tanpa harus menceritakan seluruh permasalahannya.
"Terus yang membuat lo datang ke sini?" Selidik Tomi.
"Gue tau penyebab semuanya, dari tuduhan pada Hira dan berita yang tersebar itu. Sampai kenapa laporan gue dianulir. Ini inti semuanya." Erfan menunjukkan sebuah foto pada Guntur, lelaki itu tercengang kaget. "Bantu selidiki ini orang," lanjutnya.
"Jelas masalah lo gak beres-beres kalau biang keroknya si Galih." Guntur menggeleng tidak percaya.
"Galih punya hubungan dengan Salwa, pantas saja perempuan iblis itu dengan berani menunjukkan kiss mark. Padahal gue gak pernah merasa membuat itu."
"Di depan Hira juga?" Tanya Tomi, Erfan menggangguk lemas. Mengingat istrinya itu dia jadi sedih.
"Ikuti permainan Galih, jangan bongkar kedoknya sekarang. Kita siapkan rencana dulu untuk menjebak dua orang itu. Nanti gue selidiki hotel tempat mereka ngamar. Selama lo gak ada di kantor minta Tian yang mengawasi, jangan sampai kejadian Digitech terulang." Ujar Guntur bijak, otaknya lagi waras kalau ada masalah serius begini.
"Gue numpang tidur di sini sebentar." Erfan menanggapi ucapan Guntur sambil memejamkan mata.
Guntur berdecak, "ini bukan penginapan." Berangnya, datang bertamu mengganggu orang. Sekalinya hanya untuk numpang tidur.
Erfan mengabaikan ocehan Guntur, tetap fokus pada tujuannya. Tidur. Baru saja ingin terpejam ponselnya berdering nyaring. Lelaki itu menjawab telpon dari sang mama.
__ADS_1
"Cepat pulang Nak, Hira mengeluh sakit perut gak berhenti dari tadi." Ucap Btari lalu menutup telpon sepihak. Ini bukan pertama kalinya Hira mengalami seperti itu, saat jauh darinya.
"Gue pulang, anak gue gak bisa ditinggal jauh," ucapnya lalu bangkit dari sofa dan ngacir. Membuat dua orang yang ada di sana cengo dan mengeleng pelan.
Erfan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Kalau bisa terbang, ia ingin terbang sekalian agar bisa segera sampai di rumah.
Sesampainya di rumah Erfan langsung berlari mencari istrinya. "Kita harus ke rumah sakit Ma." Ini bukan sakit biasa, ia tak bisa melihat istrinya sampai kesakitan seperti ini.
Erfan tidak mau terlambat menolong anak dan istrinya. Mengingat kondisi Hira memang sedang stress. Calon ayah itu membawa tubuh Hira dalam gendongan. "Bertahan Sayang, kamu kuat ya. Maafin Mas." Ucapnya sambil mencium kening sang istri, lalu mendudukkan di kursi penumpang di temani Btari.
Hira tak menjawab, merasakan rasa sakit yang menguasai dirinya. Ia tetap berusaha sadar dan berdzikir dalam hati.
Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istrinya, Erfan berjanji akan membuat dua manusia itu menyesal telah berurusan dengannya. Dia tidak akan memenjarakan. Tapi mengasingkan dua orang itu.
Mobil itu membelah jalanan ibukota yang mulai padat. Berkali-kali Erfan mengumpat karena terjebak macet. Ia tidak tau sudah berapa lama istrinya mengalami kesakitan seperti itu.
Sesampainya dirumah sakit, Erfan langsung menggendong Hira agar segera mendapatkan pelayanan.
"Pak, kondisi Ibu Hira dan janinnya sangat lemah. Kami harus melakukan operasi untuk menyelamatkan salah satu dari mereka." Ujar sang dokter saat Erfan berada di ruangan dokter itu. Jantung Erfan mencelos detik itu juga.
"Selamatkan istri saya apapun yang terjadi, dok." Potong Erfan sebelum dokter itu melanjutkan kalimatnya. Ia tak bisa kehilangan istrinya, Erfan tidak mau. Dokter memberikan surat persetujuan dilakukannya operasi.
Lelaki itu keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai.
"Aku gak akan maafin mereka kalau sampai Hira kenapa-kenapa Ma?" Ucapnya lirih dalam pelukan Btari, beberapa bulan ini ia menjaga Hira dengan sangat hati-hati.
"Lupakan mereka, sekarang fokus sama istri kamu, Sayang." Btari menenangkan putranya, "mama percayakan kalau aku gak menyentuh perempuan ular itu sedikitpun." Adu Erfan sendu berharap mendapat pembelaan.
"Mama percaya Sayang, kamu tenang. Fokus sama Hira dulu, dia butuh kamu." Btari membawa Erfan duduk di kursi tunggu, sembari menunggu suaminya datang.
__ADS_1
Argh, Erfan sangat ingin menghabisi para tikus-tikus busuk itu. Calon anak yang sangat ia jaga sekarang harus direlakan kembali. Apapun itu, Erfan ingin Hira tetap bertahan. Ia ingin selalu berada di sisi Hira.