
Dua kali hari ini Hira mengalami ketakutan. Setelah lebih tenang Erfan membawanya ke rumah sakit bertemu dengan dr. Erika, psikiater yang menangani Hira beberapa bulan ini.
"Sayang, aku ada urusan sebentar. Kamu berani kutinggal sendirian di rumah." Erfan melirik istrinya dari balik kemudi. Mereka baru pulang dari rumah sakit, berat ia meninggalkan Hira saat keadaannya seperti ini.
"Berani kok Bee." Erfan menatap Hira penuh selidik, bukan jawaban jujur yang dikatakan gadis itu. Dari matanya masih terpancar wajah ketakutan.
"Mau main sama baby Key, nanti kalau urusan sudah selesai aku jemput."
"Boleh?" tanya Hira dengan raut berbinar.
"Boleh Sayang." Erfan tersenyum sembari mengusap puncak kepala Hira dengan tangan kirinya. Semanis itu perlakuan Erfan, masih ada gak yaa di dunia nyata.
Setelah menitipkan Hira ke rumah Abi Nazar, ia pergi kerumah orang tuanya. Erfan tidak suka dengan apa yang sudah Mami Reny lakukan pada istrinya.
"Erfan kamu pulang?" Reny menyambut Erfan di depan pintu dengan senyuman lebar. Erfan menyalami sang ibu tanpa banyak bicara, ia berlalu menuju ruang kerja papi. Hari ini ia dapat info dari mantan seketarisnya Ressa, kalau papi tidak ke kantor.
"Anak Papi pulang juga, istrimu gak dibawa?" Sapa papi, melihat anaknya sudah berdiri diambang pintu. Erfan menggeleng lalu duduk di kursi depan meja papi.
"Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan keluarga kita ini Pi, sekarang aku merasa sangat muak dengan kelakuan orang-orang yang katanya keluarga." Entah sejak kapan Erfan jadi lebih suka berkeluh kesah pada sang ayah.
"Maksud kamu apa?" Papinya—Wijaya mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan Erfan.
"Mami tadi datang kerumah memaki dan mengancam Hira, tidak jauh beda dengan anak kesayangan Papi. Aku tidak suka ada orang yang mengganggu kesayanganku Pi."
"Kamu ingin marah dengan Mami, tapi masih waras karena dia orang yang sudah mengandungmu." Tebak Wijaya, Erfan mengangguk.
"Entah sampai mana nanti batas kesabaranku. Kalau kesayanganku sampai terluka, bisa saja aku sudah tidak bisa waras lagi."
"Lalu, untuk apa kamu datang ke sini?"
__ADS_1
"Papi bisa menasehati Mami juga Fany, jangan sampai kesalahan mereka nanti menjadikan sebuah penyesalan." Pembicaraan mereka terjeda kala suara pintu di ketuk. Reny masuk membawakan dua buah juah jus jeruk.
"Kamu ke sini pasti ingin membicarakan dokter tidak tau diri itu 'kan. Kamu sudah sadar kalau dia bukan pendamping yang baik buatmu." Erfan memahan diri untuk tidak mengumpat pada sang mami, berulang kali ia menarik napas agar tidak terpancing emosi.
"Sudah puas bicaranya Mi? Erfan ke sini untuk menegaskan, jika sekali lagi Mami menyakiti Hira maka akan menyesal seumur hidup."
"Erfan!" Sentak Reny tidak terima anaknya lebih membela Hira. "Mami gak nyangka kamu berubah karena perempuan itu."
"Erfan lebih gak nyangka Mami bertindak serendah itu." Ucap Erfan dengan nada rendah lalu menerbitkan senyuman miring.
"Pokoknya Mami gak akan pernah terima perempuan itu menjadi menantu Mami." Tegas Reny dengan wajah merah padam. Emosinya memburu, Erfan tidak menanggapi dengan emosi yang sama.
"Maka selama itu juga aku gak akan anggap Mami sebagai ibuku lagi." Ucapan Erfan bagai petir disiang bolong. Anak yang sangat disayanginya mampu mengatakan semua itu. "Itukan yang Mami mau?"
Wijaya mendengarkan perdebatan antara ibu dan anak di depannya. "Apa benar itu yang Mami mau?"
Reny menggeleng, "Mami tetap gak suka dengan perempuan itu!"
"Dia perempuan murahan, perempuan gila yang hanya ingin harta anak kita." Seru Reny dengan suara nyaring, Erfan mengernyit.
"Selama itu uang dari kerja kerasku sendiri tidak masalah, aku tidak minta uang sama Mami. Hira bukan perempuan murahan seperti yang Mami bilang." Erfan berulang kali beristighfar agar kali ini tidak terpancing emosi.
"Kamu kami besarkan dari kecil Erfan, sekarang ingin menjadi anak membangkang karena perempuan." Pekik Reny, sekarang ia sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi.
"Cukup Mami!" Wijaya berteriak.
"Rupanya Mami menyesal sudah memungutku! Aku minta maaf karena tidak bisa menjadi anak yang seperti kalian mau." Erfan tersenyum miring lalu beranjak dari kursi.
Jedar!!
__ADS_1
Pernyataan Erfan mampu membuat sepasang suami istri itu membeku, sampai tidak menyadari kepergian Erfan.
Sesakit ini ternyata mengetahui kenyataan. Siapa ia sebenarnya, dimana orang tua kandungnya? Banyak pertanyaan yang berputar dibenak Erfan belum sempat ia utarakan.
Sebelum menjemput Hira, Erfan sudah menyelesaikan urusan perizinan yang pagi tadi tertunda dan bertemu beberapa orang kolega untuk kelancaran pembukaan kantor cabang EXTNET. Ia sampai di rumah Abi Nazar sebelum azan maghrib berkumandang.
Erfan memencet bel, disambut Adnan di depan pintu. Pria itu sudah siap dengan pakaian rapi untuk berangkat ke mesjid.
"Mandi sana, gue tunggu. Kita ke mesjid bareng." Erfan mengangguk tidak banyak bicara lalu beranjak ke kamar tamu. Pakaiannya dan Hira memang sengaja di tinggal di rumah ini, karena keseringan bolak-balik menginap.
Adnan mengangkat alisnya heran, apa mungkin Erfan kebanyakan makan es hari ini jadi sikapnya dingin. Tidak seperti biasa asal bicara. Memang pria itu cuek kalau berhadapan dengan orang luar.
"Malam ini nginap di sini?" Tanya Ken pada Erfan, selepas sholat isya mereka makan malam bersama. Sejak berangkat ke mesjid pria yang ditanya itu hanya bungkam, seperti orang merajuk saja.
"Pulang!" Jawab Erfan singkat, Ken menatap Erfan dan Hira bergantian. Hira hanya diam, ia tau saat ini suaminya sedang tidak baik-baik saja. Tapi ia tidak tau penyebabnya apa.
"Sebaiknya nginap aja Fan, perasaan Ummi gak enak." Sela Ummi yang lebih peka dengan keadaan. Walau Erfan bukan anak kandungnya tapi ia sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Erfan menggeleng lalu memberikan senyuman tipis pada ummi. "Kami pulang aja Mi."
"Kalian berantem?" tanya abi, Hira dan Erfan menggeleng bersama.
"Aku gak berantem sama Hira, Bi!" Jelas Erfan kemudian, "lalu?" tanya Adnan yang sudah penasaran sejak tadi sore. Erfan menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Tidak ada yang memperpanjang pembahasan di meja makan. Selesai makan Erfan mengajak Hira pulang ke rumah. Ada banyak ketakukan yang bersarang di kepalanya, terutama keselamatan Hira.
"Bee, ada masalah apa?" tanya Hira, mereka sudah sampai di rumah. Hira mendekati Erfan yang baru selesai mandi, memeluknya dari belakang. Erfan berbalik, tangannya masih memegang kaos yang baru diambil dari lemari. Bibirnya tersenyum melihat kekhawatiran Hira.
"Gak ada Sayang." Erfan balas memeluk Hira erat. Ia sangat takut kehilangan istrinya.
__ADS_1
"Mas gak bohong?"
"Enggak Sayang." Erfan membawa Hira ke balkon melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit. Mengabaikan kegundahan yang hatinya rasakan.