
"Bee, aku banyak salah ya. Aku minta maaf." Kata Hira yang sadar Erfan mulai berubah, dua bulan ini ia merasakan hubungan mereka semakin dingin.
"Gak kok." Jawab Erfan kemudian membaringkan tubuh dan menarik selimut.
"Sekarang aku harus apa biar kita kayak dulu lagi?"
"Harusnya kamu tanya dirimu Ra, jangan tanya aku." Hira terdiam membisu, Erfan benar-benar marah padanya.
"Apa kamu mau aku pergi seperti yang mami minta Fan?" Hira menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia cuma menghabiskan waktu di rumah sakit dua bulan terakhir ini. Orang tua Erfan selalu datang ke rumah kalau suaminya tidak ada. Hira menghindari itu, bukan menghindari Erfan. Tapi ketika pulang Erfan sudah bersikap dingin padanya.
Tak ada jawaban, Hira ikut berbaring. Akhirnya air mata terjatuh juga. Pernah Mami Reny bilang kalau Erfan lebih pantas dengan Ressa. Suaminya itu juga sangat dekat dengan sahabatnya. Sekuat tenaga ia menahan isak tangis yang membuat dadanya sesak. Siapa Hira? Hanya perempuan yang Erfan beli 'kan? Tidak ada istimewanya sama sekali.
Paginya saat Hira turun mau sarapan, Ressa sudah ada di meja makan bersama Erfan. Ia kembali ke kamar mengambil tas, tidak jadi sarapan.
"Hira...!!" Panggil Ressa, si empunya tak bergeming. Pergi meninggalkan rumah menggunakan taksi online. Ressa menatap Erfan, pria itu hanya mengangkat bahu.
"Kalian kenapa sih? Bikin gue pusing juga." Ressa berdecak kemudian meninggalkan rumah Erfan.
Erfan juga bingung harus bagaimana, apa ada yang ia tidak tau tentang Hira. Apa yang sedang Hira rasakan. Mungkin mereka harus bicara dari hati ke hati. Meruntuhkan ego masing-masing. Selama dua bulan ini Hira jadi sangat pendiam dan jarang bicara.
Seharian ini Erfan tidak tenang, ia tau tadi malam sebelum tidur istrinya menangis. Itu sangat mengganggu pikirannya. Erfan bergegas pulang, ia akan menunggu Hira di rumah untuk memberikan kejutan.
Tapi bukan Erfan yang memberikan kejutan, tapi ia yang diberikan kejutan. Mami ada di rumahnya memaki Hira, pantas saja tadi malam istrinya berucap aneh. 'Apa kamu mau aku pergi seperti yang mami minta Fan?'
"Mami!!" Teriak Erfan murka, "jadi Mami yang membuat Hira tertekan selama ini." Ia memeluk istrinya yang membeku, tidak melawan ataupun membantah ucapan mami. Gadisnya itu terus diam tanpa ekspresi.
"Dia tidak pantas di sini Fan, biarkan dia pergi." Bentak Mami, Erfan ingin sekali menampar wajah sang mami sekarang juga.
"Tidak akan aku biarkan dia pergi. Sekarang lebih baik Mami yang pergi sebelum kuseret keluar!" Ucap Erfan murka dengan wajah yang penuh kemarahan. Ia meminta security untuk membawa sang mami pergi. Erfan menggendong Hira ke kamar. Sudah lama tidak menggendong bayi kangurunya seperti ini.
"Maaf mendiamkanmu Ra, maaf Sayang. Maaf!" Ucap Erfan membenamkan wajahnya di bahu Hira. "Kenapa gak bilang, kalau Mami sering datang ke rumah memarahimu."
Hira tak bergeming, Erfan memang tak pernah memeriksa cctv lagi. Selama ini ia menganggap semuanya aman, tidak ada laporan dari Bi Atun juga security.
"Sayang, mau maafin aku?" Erfan mengangkat dagu Hira lembut, gadis itu mengangguk. "Maaf sudah mengabaikanmu Sayang."
"Bee?"
"Iya Sweety."
"Jangan marah lagi, aku takut."
Jiwa keras Erfan terbawa saat ia marah atau acuh, itu membuat Hira terluka.
"Maaf sudah membuatmu takut. Kalau ada apa-apa cerita Sayang. Aku jadinya salah paham kalau kamu cuma diam."
Mereka sama-sama salah karena saling diam. Hira sadar itu, tapi ia juga takut kalau membuat Erfan semakin marah.
__ADS_1
"Apa kamu mau aku di rumah aja?" tanya Hira pelan.
"Apa Mami selalu datang saat aku tidak ada di rumah?" Erfan tidak menjawab pertanyaan Hira, istrinya mengangguk pelan. "Jadi karena itu kamu lebih suka di rumah sakit?"
Hira mengangguk lagi, oke, Erfan paham sekarang apa yang membuat istrinya jadi pendiam. Beruntung jiwanya sudah lebih kuat tidak kumat lagi, tapi jadi pendiam.
"Tenanglah, aku ada di sini. Nanti kita cari solusi sama-sama. Aku mau mandi dulu ya." Erfan tersenyum lalu mengecup kening Hira sebelum beranjak ke kamar mandi.
Malamnya Erfan mengajak Hira jalan-jalan ke pasar malam. Kasihan istrinya terlalu banyak pikiran, tangannya menggenggam erat tangan Hira saat menyisir pasar malam.
"Bee, mau itu!" Hira menunjuk ke arah penjual kentang spiral. Banyak anak-anak yang antri di sana.
"Ayo," Erfan antusias mengajak Hira antri di tengah anak-anak.
"Kamu pernah ke sini Bee?" tanya Hira sambil menyaksikan keseruan anak-anak berdesak-desakan.
"Baru pertama kali." Erfan nyengir, sampailah pada gilirannya. Ia membeli empat kentang spiral, kemudian beralih ke penjual gula kapas.
"Bee mau naik biang lala?"
"No Sweety!" Teriak Erfan cepat.
"Takut ya, ayo kita coba." Hira menarik tangan Erfan sambil tertawa, lalu membeli dua tiket.
"Kamu aja, aku jagain dari sini." Bujuk Erfan dengan memelas.
"Udah beli dua tiket Bee, sayangkan kalau gak digunain. Ayo naik." Paksa Hira dengan senyuman jahil, terpaksa Erfan mengalah. Tubuhnya panas dingin dengan keringat yang mulai berkucuran.
"Bee, ini belum balon udara lho. Padahal aku pengen banget nyobain naik balon udara sama kamu." Goda Hira dengan gelak tawa, Erfan sudah pucat pasi.
"Minta yang lain aja ya Sayang. Kita keliling dunia, jangan minta naik balon udara." Bujuk Erfan.
"Kalau aku ngidamnya balon udara nanti gimana, Bee."
"Sweety!" Rengek Erfan, ia benar-benar merasakan ketakutan saat berada di atas.
"Sini aku peluk, biar gak takut." Ujar Hira dengan tersenyum, "gak bakal jatuh karena jomplang kok Bee."
"Kamu tau dari mana?" Sahut Erfan ketus, walau akhirnya ia menikmati pelukan Hira.
"Gak bakalan jatuh kalau kamu gak maksain seperti orang belajar terbang dari atas tower, Bee."
"Sayang, gak ada orang belajar terbang, yang ada belajar berenang." Erfan berdecak kesal.
"Oh iya, kenapa ya Bee. Orang maunya belajar jadi seperti ikan gak mau seperti burung biar bisa terbang bebas. Kan hebat."
"Semua akan hebat pada porsinya masing-masing Sayang. Ikan di air, burung di udara gak bisa dituker. Kalau dituker bisa mati."
__ADS_1
"Otakmu masih bisa mikir Bee kalau lagi ketakutan." Pekik Hira girang.
"Sayang, jangan banyak gerak." Berang Erfan, napasnya seakan berhenti saat biang lala tak berputar lagi. Ia baru sadar kalau sudah selesai. Hira menarik tubuh suaminya yang bergetar.
Erfan bisa bernapas lega sekarang, tapi perutnya mual.
"Sayang, mual." Rengek Erfan, Hira langsung menuntun Erfan menuju tempat yang sepi. Pria itu memuntahkan seluruh isi perut, Hira dengan sigap memijat tengkuk suaminya.
"Ayo pulang, Bee." Ajak Hira setelah Erfan lemas karena isi perutnya terkuras habis. Ia ingin tertawa tapi tak tega melihat wajah pucat Erfan.
"Hati-hati Sweety." Ucap Erfan lemas, Hira mengangguk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Biar tidak membuat Erfan mabuk lagi.
"Maaf, jadinya bukan senang-senang." Erfan berbaring di ranjang, Hira melepaskan alas kaki dan jaket suaminya.
"Masih mual Bee?"
"Udah enggak, tapi perutnya gak enak banget." Hira mengambil air hangat dan minyak kayu putih untuk membaluri perut Erfan.
"Coba tadi kamu gak maksa naik, kita masih bisa main." Keluh Erfan, Hira hanya tersenyum geli berbaring di samping suaminya. "Puas ya bisa nertawain suami sendiri."
"Maaf Bee." Kali ini Hira benar-benar merasa bersalah.
"Dah, jangan minta maaf. Sini peluk!" Hira beringsut mendekat. "Suka nakal sih, jadi repot sendirikan." Goda Erfan mengecup kening istrinya.
"Bee kapan naik balon udaranya?" Hira balik menggoda, Erfan mencubit gemas pipi gadisnya.
"Kamu mau cepat jadi janda, hah?" Hira tertawa gelak, cuma mau naik balon udara kenapa ditawari jadi janda. Kan jadinya lucu.
"Kalau sudah jadi janda, aku bisa punya suami lebih kaya dan tampan dong ya."
"Ih, nyebelin banget sih punya istri. Untung Sayang."
"Kalau gak sayang emang mau dirongsokin?"
"Enggak, aku jual kiloan sekalian."
"Murah dong, aku cuma empat puluh lima kilo Bee, kalah jauh sama sapi."
"Iya ya, aku rugi jadinya beli kamu mahal-mahal." Erfan dan Hira tergelak bersama, absurd banget obrolan mereka efek biang lala. Saraf Erfan langsung tergumpal sempurna. Eh tapi tadi encer kok.
"Bee, kayaknya kamu besok harus ketemu Ringgo deh."
"Kenapa?" Erfan menatap istrinya serius.
"Coba periksa saraf otakmu, banyak yang putus atau tergumpal." Ucap Hira cekikikan, Erfan kesal dengan kenakalan istrinya menggigit hidung Hira gemas.
"Sadar gak sih Ra, sejak ketemu kamu sarafku jadi banyak yang konslet."
__ADS_1
"Enggak, soalnya aku bukan tukang kabel Bee."
"Huuhhh, beneran. Untung aku sayang Ra, kalau gak kamu udah kulempar jauh." Kekeh Erfan, Hira hanya terkikik geli.