
Hardiyata termenung memikirkan ucapan perempuan yang sedang hamil muda itu. Kalau benar Erfan putranya, jadi selama ini anaknya itu sudah terancam. Siapa orang yang mengetahui cerita masalalu nya. Bahkan sampai anak kandungnya yang hilang.
Getaran posel yang tergeletak di atas meja mengalihkan atensi Hardiyata. Pria itu membuka sebuah video yang baru masuk di ponselnya dari nomor tak di kenal.
"Btari?" Paniknya, setelah menonton video yang merekam istrinya sedang disekap dengan kaki tangan terikat dan mulut di lakban.
"Ikbal!" Teriak Hardiyata, asistennya itu segera datang. "Lacak posisi orang ini, dan hubungi pihak kepolisian." Ia memberikan ponselnya, dengan cepat Ikbal menyalin nomor yang tertera ke ponsel pintarnya.
Baru juga perempuan itu mengatakan untuk menjaga istrinya, semua sudah kejadian. Hardiyata menekan nomor yang tertulis di kartu nama. Setelah Ikbal meninggalkannya.
Hardiyata mencoba berulang kali namun tak ada jawaban. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan sang istri. Kalau sedang kalut begini otaknya tak bisa berpikir cerdas.
Di dalam ruang operasi Hira baru selesai membantu kelahiran seorang bayi mungil laki-laki. Pikiran berkelana membayangkan bagaimana nasib Erfan kecil yang sejak bayi kehilangan orang tua kandungnya.
Pasti sangat berat apa yang di lalui Pak Hardiyata dan istri selama ini, kehilangan putranya sejak bayi. Hira tak berani membayangkan bagaimana jika ia berada pada posisi itu.
Dokter muda itu melepas handscoon lalu mencuci tangan di wastafel. Ia kembali keruangannya, dua operasi sore ini sudah selesai. Hira bisa langsung pulang, mungkin suaminya sudah menunggu.
Benar saja prianya itu sudah tersenyum manis merentangkan tangan. Segala lelahnya hilang setelah mendapat tatapan teduh dari suami tercinta. Satu kecupan mendarat di kening, kemudian turun ke bibir.
"Sweety, hpmu bunyi terus dari nomor tak di kenal." Adunya degan wajah tak bersahabat dipelukan Hira.
"Kenapa gak dijawab, Bee."
"Males." Jawab Erfan ketus, Hira mengurai pelukannya sambil geleng-geleng kepala. Cemburu tak jelas, gumamnya lalu mengambil ponselnya di meja.
Sembilan belas panggilan tak terjawab. Tak perlu berpikir lama Hira langsung menelepon balik nomor itu.
"Assalamualaikum." Ucapnya setelah tersambung.
"Wa'alaikumsalam, kamu baik-baik saja, Nak." Tak butuh waktu lama untuk Hira mengenali suara itu.
"Iya, saya baik-baik saja Pak. Maaf, baru selesai operasi." Hira menatap Erfan yang memberikan tatapan elang padanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah," terdengar suara helaan napas berat, "Ibu diculik Nak." Seketika Hira menegang. Secepat ini, batinnya.
"Jaga diri Pak, saya akan mencari bantuan. Saya tutup dulu teleponnya." Kata Hira setelah bisa mengembalikan dirinya. Ia mengucapkan salam dan memutus sambungan telepon.
"Siapa?"
"Pak Hardiyata, istrinya diculik." Lirih Hira, detik itu juga napas Erfan tercekat. Ia belum pernah melihat ibunya, belum pernah memeluknya. Kejadian ini sudah meyakinkannya bahwa mereka orang tua kandungnya.
"Tenang Bee, kita pulang dulu ya." Hira segera membereskan meja dan mengambil tasnya.
"Sweety, apa kita harus menemui Pak Hardiyata?"
Sembari menyetir mobil, tangan kiri Erfan tetap menggenggam Hira untuk mendapatkan ketenangan. Jiwanya dilanda kegelisahan, mereka benar-benar bertindak. Erfan tidak dapat berpikir, siapa orang yang sangat ingin Azmi bebas. Pasti ada benang merahnya dengan penculikan Btari.
"Sebaiknya begitu Bee, beliau perlu dukungan, dan aku..." Hira menjeda kalimatnya, menghirup udara yang banyak. Tidak boleh suuzon 'kan, tapi sungguh hatinya tak tenang. "Ragu dengan asistennya."
Erfan mengusap puncak kepala Hira lembut dengan penuh kasih sayang. "Kita pulang dulu, baru kita ke rumah mereka. Kamu minta alamat rumah beliau." Pria itu belum menanyakan dari mana Hira mendapatkan kontak pemilik Digitech itu.
"Sudah, Bee. Rumahnya dekat kediaman Sultan Emran. Memang itu kawasan khusus untuk para sultan ya, Bee?" Erfan terkekeh kecil, istrinya itu masih bisa bercanda saat tegang begini.
"Bee, cukup begini sudah bikin aku pusing. Gak perlu jadi anak sultan lagi. Nanti aku keluar rumah harus dikawal bodyguard. Males banget kayak anak presiden aja. Aku terbiasa jadi rakyat jelata."
"Banyak yang pengen jadi anak sultan loh, masa kamu enggak sih, Sayang."
"Enggak sih."
"Enggak nolak juga." Lanjutnya, Erfan memasuki pintu gerbang rumahnya, menyapa security yang menjaga di sana.
"Sore Pak, ada dokumen yang dikirim gojek." Erfan mengambil dokumen itu, tanpa nama lagi. Pasti orang yang sama pengirimnya.
"Terimakasih Pak." Ucapnya lalu memarkirkan mobil di garasi.
"Orang yang sama, Bee?"
__ADS_1
"Sepertinya Sayang." Erfan keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk istrinya. "Kamu langsung mandi ya, Sweety. Kira harus cepat menemui Pak Hardiyata." Hira mengangguk, masuk ke rumah lebih dulu. Erfan menghubungi anak buahnya menanyakan perkembangan pencarian Btari, tapi hasilnya nihil.
SELAMAT BERSENANG-SENANG
Tak ada pesan lain selain itu. Erfan membolak balik kertas di tangan. Otaknya tak bisa berpikir jernih sekarang.
"Apa isinya, Bee?" Erfan memberikan kertasnya, lalu memeluk sang istri. "Lelah, Sayang?" Tanya Hira, pria itu mengangguk lemah.
Hira menyisir surai hitam suaminya dengan jari-jemari, membawa kekasihnya itu duduk di sisi tempat tidur.
"Semua akan berlalu, Bee. Kita lewati ini sama-sama, saling menguatkan."
"Apa benar mereka orang tuaku, Sweety?"
"Kita lihat nanti ya, Bee. Siapapun orang tuamu dan apapun alasan yang membuat kalian terpisah. Jangan benci mereka, Bee."
Erfan merenggangkan pelukan, menatap lekat setiap lekuk wajah istrinya. "Kamu bilang begitu, sedang kamu membenci Ayahmu, Sweety." Hira membisu ketika kenyataan kembali pada dirinya.
"Mereka menjualku, Bee."
"Bagaimana jika dulu aku juga dijual?" Hira tak bergeming, "kalau kamu meminta aku menerima orang tuaku. Maka kamu juga harus menerima orang tuamu, Sweety." Erfan kembali memeluk tubuh istrinya, ia tau ucapannya cukup keras kali ini. Erfan juga tak rela istrinya selalu diperlakukan seenaknya.
"Kamu mandi dulu, Bee. Kita mau ke rumah Pak Hardiyata." Hira mengurai pelukannya, menyiapkan pakaian Erfan. Tak membantah pria itu langsung beranjak ke kamar mandi.
Rumah mewah itu sedang ramai, banyak mobil yang terparkir. Juga beberapa buah mobil polisi di sana. Erfan dan Hira di sambut asisten rumah tangga, lalu dibawa menuju ruangan yang lebih privasi. Orang-orang di sana ada yang berdiskusi di ruang tamu, ada juga yang di ruang keluarga.
"Kalian sudah datang." Hardiyata menyambut keduanya ke depan pintu. Ternyata itu ruang kerja yang bisa dijadikan lapangan badminton. Hanya ada Ikbal dan dua orang polisi di ruangan ini.
"Iya, Pak." Hira dan Erfan bergantian menyalami Hardiyata.
"Ayo masuk." Ajak pria paruh baya itu, Hira lekas menggeleng. Erfan menggenggam erat tangan istrinya.
"Ada ruangan yang lebih privasi untuk kita bicara." Ucap Erfan dengan suara sangat pelan, hampir tak terdengar.
__ADS_1
"Kalian silahkan berdiskusi di sini ya, saya menemani mereka keliling dulu." Ucap Hardiyata lalu mengajak keduanya pergi dari sana. Mereka naik ke lantai dua, hanya ada tiga kamar di sana. Satu kamar utama dan dua untuk kamar tamu karena tidak ada yang menempati.