
"Emang rumah kalian kemana?" tanya Ummi mewakili pertanyaan semua orang yang ada di sana. Hira dan Erfan kembali terkekeh bersama. Kehadiran mereka cukup menghibur Hira. Ruangan jadi ramai, untung luasnya seperti lapangan futsal.
"Aku kembalikan sama Mami, daripada di jual Hira. Katanya buat beli apartemen biar disewakan untuk penghasilan tambahan. Habisnya rumah jarang ditinggali." Jelas Erfan dengan polosnya yang mengundang tawa. Mata Hira membola tidak percaya suaminya bicara seperti itu.
"Kalian kenapa jadi melawak di sini sih." Kesal Hira, "akukan gak bisa ketawa." Ucapnya sendu sambil menunjuk perutnya yang masih terbalut perban walau tertutup.
"Maaf Sayang, maaf. Sakit ya kalau dibawa ketawa." Erfan mengusap lengan istrinya dengan manja. Semua orang tersenyum geli melihat pasangan itu.
"Baru tadi malam kami berencana bertemu kalian, eh ketemu di sini juga. Kita jadi kayak reunian ya Pah." Ucap Btari setelah menyalami Abi Nazar dan Ummi Ulfa.
"Udah lama banget gak ketemu ya, terakhir mereka berdua masih kecil," ujar Abi Nazar.
"Iya, ternyata kita bisa masih ketemu lagi." Sahut Hardiyata.
"Dunia Erfan masih dekat sama kita ya Pah, tapi dari dulu gak pernah ketemu di cari." Ungkap Btari sendu, Hardiyata merangkul istrinya untuk menenangkan.
Hira menatap suaminya yang kembali diam. Ia memberikan usapan lembut di tangan sang suami. Setiap mendengar itu hati Erfan rasanya marah. Tapi tidak tau ingin marah sama siapa. Tidak tau siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya ini.
"Allah masih menjaganya. Andai kami tau itu anak kalian, kami sudah memberitahunya sejak pertama kali bertemu Erfan." Ujar Ummi, ruangan yang tadinya penuh tawa mendadak jadi sendu.
"Erfan sudah ada di sini, Mah. Erfan baik-baik aja." Erfan mendekati sang ibu lalu memeluknya erat. "Erfan sudah kembali, anak mama yang hilang sudah kembali. Sekarang dia ada di sini. Dipelukan Mama." Erfan menatap lekat perempuan yang baru seminggu ini di kenalnya. Perempuan yang ternyata sudah melahirkannya ke dunia ini. "Jangan sedih lagi, Erfan di sini." Ulangnya.
"Iya anak Mama sudah pulang, Erfan jangan benci Mama ya." Erfan menggeleng, "Erfan gak pernah membenci Mama." Pria itu menyeka air mata yang terjatuh di pipi sang ibu.
Pemandangan itu membuat haru siapapun yang melihatnya. Hira bersyukur Erfan mau belajar memengerti perasaan ibu kandungnya.
***
"Morning Sweety." Sapa Erfan, suami Hira itu sudah berpakaian rapi dan tampan.
"Morning Bee, udah siap ngantor hari ini?"
Erfan mengangguk. "Kamu gak papa aku tinggal, aku minta Bi Atun nemenin di sini ya Sayang."
"Gak usah Bee, aku bisa sendiri. Nanti bisa minta bantu Lela kalau mau ke toilet."
"Kalau kerjaan selesai aku usahain cepat pulang Sayang."
"Gak perlu buru-buru, Bee."
"Iya Sayang, ayo sarapan dulu." Erfan mengambil makanan di atas nakas lalu menyuapi istrinya.
__ADS_1
"Pantesan banyak pasien yang ngeluh Bee, rasanya gini banget." Ujar Hira susah payah menelan nasi yang sudah masuk mulutnya.
"Sesuai kebutuhan pasienkan?" Goda Erfan menaik turunkan alisnya, Hira hanya mengangguk terpaksa mengiyakan.
"Gak enak jadi pasien Bee." Keluh Hira lagi.
"Biar cepat sembuh jadi harus dimakan Sayang."
Yah dengan sangat terpaksa Hira menghabiskan makanan rumah sakit itu. Biar cepat sembuh katanya.
Seperginya Erfan, Hira hanya main ponsel tanpa bisa bergerak kemana-mana. Perutnya masih sakit. Sampai siang suaminya belum ada menghubungi. Hira bosan sendirian, huft. Apa yang bisa dilakukannya selain berdiam diri.
"Sendirian Ra, gak ada yang nemenin."
Hira menoleh ke arah suara, suara yang sangat familiar di telinganya. Gadis mengangguk melihat Guntur datang membawakan buah-buahan.
"Mau duduk?" tawar Guntur, Hira menggeleng.
"Bosan," keluhnya.
"Aku temenin." Ujar Guntur sambil tersenyum, "mau buah?"
"Boleh," ujar Hira bangkit dari tidurnya.
"Kamu gak kerja?" tanya Hira melihat lelaki yang rapi dengan stelan jas itu malah menemaninya di sini.
"Gampang, ada Tomi di sana?"
"Enak ya kerja bisa sesuka hati," sindir Hira.
"Kamu ini sakit tapi masih bisa nyinyir, ya." Kesal Guntur sambil menyuapkan potongan apel ke mulut Hira.
"Yang sakit perutnya bukan mulut, Guntur." Balas Hira tak kalah kesal.
"Habiskan dulu makannya baru ngomong, keselek tau rasa."
"Ih, gak ada manis-manisnya sama orang sakit."
"Mau nyoba yang manis?" Goda Guntur, menaik turunkan alisnya menunggu jawaban. Hira memutar bola mata malas.
***
__ADS_1
Erfan baru selesai meeting, ia harus segera ke rumah sakit. Istrinya pasti belum makan siang. Mama papanya sudah mengabari kalau siang ini tidak bisa ke rumah sakit. Siapa lagi yang menjaga istrinya kalau bukan Erfan.
"Bos ada surat, barusan di kirim." Ujar Ressa, Erfan segera mengambil surat itu.
Ia membuka amplop setelah seketarisnya keluar, bukan surat isinya tapi foto. Kedua alis Erfan bertaut melihat foto yang ada di tangannya. Ia percaya dengan istrinya, ia juga percaya dengan Guntur. Tapi apa yang mereka lakukan sampai sedekat itu.
Erfan menatap lekat foto Guntur yang hampir mencium istrinya. Guntur memang pernah mencium kepala Hira saat di kantor Ilmi dulu. Waktu mereka belum menikah, ketika Hira histeris setelah mengalami pelecehan. Tapi sekarang. Erfan menggeleng pelan, bagaimana ia bisa mentoleransi ini.
Argh, niat merawat istrinya jadi malas. Pasti ada Guntur di sana yang sudah menjaga Hira. Erfan lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya. Menemui Hira saat ini malah membuatnya jadi bertengkar. Ia harus bersikap biasa-biasa saja. Huhh, kenapa dadanya terasa panas.
Erfan sudah melakukan interview kandidat asisten. Tapi belum menemukan yang cocok untuknya. Tunda sajalah dulu, pikirnya. Sekarang pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
Sebelum azan maghrib Erfan ke rumah sakit, malam ini ia akan menginap di kantor saja. Belum bisa rasanya melihat Hira terlalu lama. Bayangan Guntur dan Hira berciuman itu sangat menyakitkan.
"Bee! Sibuk banget ya." Hira mengecup punggung tangan suaminya.
"Iya."
"Gak mau peluk aku, kangen Bee." Rengek Hira manja seperti biasanya.
"Aku capek Ra." Ujar Erfan lalu beranjak duduk di sofa.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Sudah makan?" tanya Hira lembut, walau ia bingung dengan sikap suaminya.
"Sudah."
Hira hanya mengangguk, seharian ia menunggu suaminya mengabari dan pulang. Tapi datang dalam keadaan cuek begini.
"Kamu sudah baikan?" Tanya Erfan dingin dengan sorot mata tajam yang sulit diartikan.
"Sudah, Bee."
Lukanya masih sakit banget loh ini, tapi Erfan bertanya dengan tidak peduli begitu. Jadilah Hira menjawab seolah baik-baik saja.
"Aku kembali ke kantor kalau kamu sudah baikan, ada kerjaan."
"Iya. Hati-hati." Ucap Hira lalu tersenyum, Erfan langsung keluar tanpa mencium atau memeluknya.
"Aneh banget sih."
Ya sudahlah, mungkin suaminya banyak kerjaan di kantor. Tadi Hira juga sudah makan dibantu Lela. Syukur ia kenal perawat-perawat di sini.
__ADS_1
Hira bisa bersikap santai, tapi tetap saja hatinya terasa sakit. Malam ini ia tidur sendirian di rumah sakit tanpa teman. Meski banyak tanya dalam benaknya. Efek minum obat membuatnya mengantuk jadi malam ini bisa tidur tanpa memikirkan perubahan suaminya.